ARON

ARON
Nuri Malu-Malu Manja



Sekarang hari sudah sore, secara logika saat ini akan ada lebih banyak orang yang turun gunung dibandingkan dengan orang yang mendaki, namun saat Aron dan yang lainnya mendaki, mereka juga mendapati banyak turis yang sedang bergegas mendaki kearah gunung.


“Ayo cepat, katanya hari ini Pemimpin Bu Xu mengundang saudara seperguruannya, Pemimpin Wu Wei ke Yayasan Sahara, dia itu reinkarnasi titisan dewa, kemampuannya sangat hebat, kita harus bergegas agar bisa bertemu dengan Pemimpin Wu Wei!”


“Katanya tahun lalu Pemimpin Wu Wei juga pernah datang sekali, dan hanya memilih 10 orang untuk menarik ramalan dan diramal, ramalannya juga sangat akurat, ada sepasang suami istri yang sudah menikah selama belasan tahun dan belum mempunyai anak, saat diperiksa oleh Pemimpin Wu Wei, tahun depannya mereka sudah melahirkan seorang bayi menggemaskan!”


“Itu masih belum seberapa, saya dengar ada seseorang yang sudah lumpuh sepanjang hidupnya, dan disembuhkan oleh Pemimpin Wu Wei, kita harus bergegas menuju keatas!”


“Dengar-dengar kedatangan Pemimpin Wu Wei kali ini adalah untuk menyembuhkan penyakit putrinya Pemimpin Bu Xu, dan bahkan membawa sebuah benda pusaka bersamanya!”


Para turis yang mendaki terus mendiskusikan dan menambah kecepatan mendaki mereka.


Aron yang mendengar pembahasan para turis itu akhirnya menyadari kenapa masih banyak orang yang mendaki di sore ini, dan mereka semua juga terlihat sangat buru-buru!


“Tuan Aron, Pemimpin Wu Wei adalah saudara seperguruannya Pemimpin Bu Xu, dulu dia merupakan Penjaga dari Yayasan Sahara, yang kemudian dialihkan kepada Pemimpin Bu Xu karena Pemimpin Wu Wei hendak berkelana, tahun lalu dia juga pernah pulang sekali, dan turun tangan mengobati penyakit putrinya Pemimpin Bu Xu, hanya saja tidak berhasil, dan dia akhirnya pergi, dan kali ini seharusnya juga kembali karena putrinya Pemimpin Bu Xu!”


Kurniawan menjelaskan pada Aron!


“Oh, sekarang bagaimana? Kita harus bergegas, kalau sampai Pemimpin Wu Wei berhasil menyembuhkan penyakit putrinya Pemimpin Bu Xu maka kita tidak akan bisa mendapatkan Kuas Spiritual dan Batu Sinabar lagi!”


Nuri yang mendengarnya mendesak dengan panik!


Semua yang mendengarnya juga berpikiran sama, dan mulai mempercepat langkah mereka!


Hanya Aron yang tetap terlihat tenang dan tersenyum : “Tenang saja, Pemimpin Wu Wei itu tidak akan bisa menyembuhkannya!”


“Bagaimana kamu bisa tahu dia tidak bisa menyembuhkannya?”


Nuri bertanya pada Aron dengan kebingungan.


“Saya bilang tidak bisa, pasti tidak bisa, lihat saja nanti!”


Aron tersenyum dan tidak menjelaskan pada Nuri!


Saat mereka berjalan hingga pertengahan gunung, langkah Nuri melambat dengan drastis, dia mulai berkeringat dan terengah-engah!


“Tidak sanggup lagi, saya perlu istirahat, saya sudah tidak bisa berjalan lagi!”


“Apa yang saya katakan padamu tadi? Kamu tidak mau mendengarnya, sekarang sudah tahu rasanya kan?”


Jhonatan menceramahi Nuri!


Tidak peduli apapun kata Jhonatan, Nuri memang sudah tidak sanggup bergerak lagi!


“Tuan Kurniawan, kalian naik saja dulu, saya akan menemani Nuri istirahat sebentar lalu menyusul kalian!”


Aron melihat Nuri memang sudah tidak sanggup berjalan, tapi tidak mungkin membiarkan semua orang menunggunya, jadi dia berkata kepada Kurniawan.


“Baik, kalau begitu kami akan naik dulu dan memberitahukan kepada Pemimpin Bu Xu!”


Kurniawan mengangguk.


Jhonatan melirik Nuri sekilas lalu tersenyum dan berkata pada Aron : “Tuan Aron, kalau begitu, Nuri saya serahkan kepadamu ya.”


Selesai berkata, yang lain melanjutkan perjalanan mereka keatas, dan Aron duduk disamping Nuri!


“Saya sudah tidak bisa bergerak, bagaimana kalau kamu menggendongku?”


Nuri mengedipkan matanya sambil tersenyum.


“Saya tidak mau, kamu masih punya tenaga!”


Aron menggelengkan kepalanya.


“Sudah tidak ada tenaga, benar-benar sudah tidak bertenaga lagi!” Nuri mulai bersikap manja kepada Aron.


Jantung Aron berdegup kencang melihat Nuri yang bersikap seperti itu, tidak bisa dipungkiri kalau Nuri memang sangat cantik!


Meskipun terkadang emosinya meledak-ledak, namun dia orang yang sangat baik hati.


Aron menggenggam tangan Nuri dan membuat Nuri terkejut, namun Aron memegangi tangannya dengan erat, Nuri juga tidak bisa melepaskannya!


Wajah Nuri seketika merona merah, dia mengigit bibirnya dan tidak berani melihat Aron!