
Ronal memandang kesana, ternyata benar orang itu adalah Aron, dan berjalan kesana dengan mata bersinar dingin!
Melihat ini, Santi segera mengikutinya, matanya penuh rasa benci menatap Aron, kejadian di mal tadi, Santi masih tidak bisa melupakannya!
“Aron, orang sepertimu layak berada disini? Tahu tidak siapa orang-orang yang datang kesini?” Ronal menatap Aron, dengan gaya arogan: “Mengenakan baju baru, kamu mengira diri sendiri kalangan atas?”
Aron menatap dingin Ronal sekilas, tidak menghiraukannya.
“Aron, mana gayamu yang brutal seperti waktu di mal? Mana Nona Nuri yang cantik, mengapa dia tidak membawamu masuk? Apakah dia sendiri juga tidak bisa masuk? Puih…” Santi kembali meludahi Aron dengan kasar, kali ini ada Ronal, dia tidak percaya ada yang berani menyuruhnya mengelap lagi!
Air muka Aron mendingin: “Ingat, sebentar lagi saya akan menyuruhmu menjilat kembali seperti seekor anjing!”
“Hahaha, puih…” Santi tertawa terbahak-bahak, lalu meludah sekali lagi: “Kamu kira siapa kamu, menyuruhku menjilat kembali, kamu hanyalah seorang tahanan kerja, apa hebatnya.”
“Semuanya lihatlah, seorang Gembel mengenakan pakaian rapi ingin menghadiri pesta, tidak bercermin dulu!
Santi berteriak, menarik perhatian banyak orang yang menonton!
Wajah Aron datar, hanya diam melihat Santi yang berakting!
“Ronal, siapa orang ini, terlihat asing!”
Saat ini, seorang pemuda seumuran Ronal bertanya.
Perlu diketahui orang yang datang kesini adalah tokoh-tokoh terkenal dan berpengaruh di kota Sanur, atau anggota keluarga mereka, yang saling mengenal ataupun pernah bertemu muka!
Tapi Aron terlihat asing, tidak seperti orang dari kalangan atas, sehingga penasaran dan
bertanya pada Ronal!
“Oh dia, dia adalah mantan dari kekasihku, menjadi anjing peliharaan kekasihku selama tiga tahun, bergandeng tangan saja tidak pernah, kemudian ku jebloskan dia ke dalam penjara, mendekam di penjara selama tiga tahun, dua hari yang lalu baru saja dibebaskan!”
Ronal menjelaskan dengan tawa dingin.
Penjelasan Ronal, menyebabkan orang-orang di sekeliling memandang Aron dengan tatapan muak, orang-orang yang berstatus seperti mereka, tidak sudi berdiri bersama dengan tahanan kerja.
Semua orang menjauhi Aron, berbisik sarkas, ekspresi Aron cuek, seperti tidak mendengar semua ini!
“Aron, kamu belajar menebalkan muka di dalam penjara ya, sudah seperti ini, mau punya muka berada disini?
Sana melihat Aron cuek saja, segera berkata dengan ekspresi dingin.
“Aron!”
Saat ini, Nuri sudah selesai mengatur, berjalan kemari, ketika melihat Santi dan Ronal, langsung mengernyit alis: “Untuk apa kalian berdua disini?”
“Tentu saja untuk menghadiri pesta!”
Santi berkata dengan sombong.
Ada Ronal yang mendukungnya, dia tidak perlu takut Nuri lagi.
“Puh…” mendengar perkataannya, Nuri tidak dapat menahan tawanya, “Menghadiri pesta, mengapa kalian tidak masuk? Apakah karena tidak memiliki undangan, tidak bisa masuk?”
Santi membuka mulut, tapi tidak bersuara, karena mereka memang tidak memiliki undangan, tidak bisa masuk!
Melihat sikap Santi yang mengempis, sudut bibir Nuri terangkat, menarik tangan Aron berkata: “Ayo, kita masuk kedalam!”
Melihat Nuri dan Aron yang bersiap masuk, Santi langsung terpana: “Memangnya kalian memiliki undangan?”
“Rahasia!” Nuri tertawa senang!.
Santi hampir mati karena kesal, tetapi ketika dia melihat Nuri dan Aron berjalan menuju pintu belakang, segera tersadar dan berkata: “Kak Ronal, mereka berencana diam-diam masuk dari belakang, mereka juga tidak memiliki undangan!”
Ronal juga menyadarinya, segera maju menghadang Aron dan Nuri: “Kalian berdua tidak memiliki undangan, mana boleh diam-diam masuk dari pintu belakang, ku laporkan kalian!”
“Ronal, kamu bodoh ya? Hotel Sadewa ini milik keluargaku, saya suka masuk dari mana terserah saya, melompat masuk dari jendela, apa urusanmu?”
Tatapan Nuri menyapu Ronal sekilas, seperti melihat orang bodoh dan berkata.
Aron langsung tersedak, tidak mampu berkata apapun!
“Kalian awasi dua orang ini, kalau mereka berani masuk dari pintu belakang, usir mereka!”
Beberapa Penjaga Keamanan langsung mengawasi Sana dan Ronal!
Nuri menggandeng Aron memasuki hotel dari pintu belakang, melihat punggung mereka berdua, Ronal dan Santi menghentak kaki kesana.
Setelah Aron memasuki hotel, dia mengirim pesan kepada ada Jekson, supaya dia mengusir Nandar Jhonson, dia tidak ingin duduk makan bersama dengan keluarga Jhonson, lagi pula dia tidak ingin keluarga Jhonson mengetahui terlalu banyak tentang identitasnya, dia ingin melihat sampai kapan Ronal dan Santi bersikap arogan.
Di dalam hotel!
Semua orang mengelilingi Kurniawan, wajah mereka terlihat menaruh hormat, ada yang mengetahui Kurniawan suka mengoleksi barang antik, sehingga mencarinya kemana-mana, lalu menghadiahkan kepadanya!
Disamping Kurniawan, seorang pria paruh baya yang berperawakan tegap, air muka dingin, bersikap waspada setiap saat, dia adalah Benny, pengawal pribadi Kurniawan mantan personil Pasukan Nagasaki, ketika Kurniawan masih berada disana, dia sudah menjadi pengawalnya, sekarang Kurniawan sudah pensiun, Benny ikut pensiun, senantiasa menjaga keselamatan Kurniawan!
Benny selalu berada disisi Indrawan setiap kali dia muncul dihadapan orang banyak, untuk melindunginya!
“Para hadirin, hari ini saya mengundang kalian, pertama-tama tidak menerima hadiah, kedua tidak membahas tentang hal apapun, hanya ingin memperkenalkan seorang teman baru, kalian jangan terlalu waspada!”
Kurniawan melambaikan tangannya, memberi kode supaya para hadirin tenang, dengan suara keras berkata.
Sebenarnya banyak orang yang sudah mendengar kabar, hanya saja sekarang kabar ini disampaikan langsung oleh Indrawan sendiri, banyak yang terkejut, tidak tahu apakah orang yang akan dikenalkan Kurniawan memiliki latar yang menakutkan, kalau tidak Kurniawan tidak akan begitu gembar-gembor!
“Mengapa Tuan Aron belum datang?”
Kurniawan memeriksa jam, lalu bertanya pada Jekson.
“Mungkin hampir tiba!” Jekson juga tidak tahu mengapa Aron belum tiba, kemarin sudah diberitahu dengan jelas.
Begitu selesai berkata, ponsel Jekson berbunyi, pesan dari Aron, Jekson memberikan ponselnya kepada Kurniawan.
Kurniawan membaca pesan itu, lalu mengangguk sedikit: “Pantesan Tuan Aron belum muncul, ternyata begitu, saya yang kurang cepat tanggap!”
Selesai berkata, Kurniawan menatap sekilas Nandar yang berada tidak jauh dari sana, yang sedang menunggu kemunculan pemuda yang dibicarakan Kurniawan, bisa dianggap penting orang Indrawan, pasti bukan orang biasa, jika bisa mendapat koneksi dari orang seperti ini, mungkin saja Keluarga Jhonson akan mengalahkan keluarga Utomo!
Nandar sedang berpikir ketika Kurniawan menatapnya dan berkata: “Tuan Jhonson…”
“Tuan Kurniawan…” Nandar melangkah maju dengan cepat begitu mendengar panggilan: “Tuan Kurniawan ada pesan apa?”
“Pesta hari ini, tidak cocok untukmu, pulanglah…”
Kurniawan langsung mengusir Nandar di hadapan banyak orang!
Mendengar itu, Nandar terpana, menatap tidak percaya pada Kurniawan: “Tuan Kurniawan, saya…”
Tetapi Kurniawan tidak mendengar dia selesai berkata, langsung melambai tangan: “Antar tamu!”
Melihat situasi seperti ini, meskipun merasa heran, tapi dia tidak mungkin bersikeras tetap berada disini, tak punya pilihan dia berbalik meninggalkan tempat itu.
Kali ini, semua orang menebak-nebak, apakah keluarga Jhonson telah menyinggung Kurniawan?
Saat ini Nuri diam-diam membawa Aron masuk, kedua orang itu sedang mengintip dari pojok ruangan!
“Kita sembunyi dulu, nanti jika pesta dimulai, kita baru keluar, dengan begitu tidak akan mudah ketahuan!”
Nuri berkata sambil melongok kepalanya keluar mengintai.
“Mengapa harus sembunyi? Kalau memang sudah masuk, kita keluar saja terang-terangan.!
Selesai berkata, langsung berjalan keluar!
Nuri kaget, segera maju untuk menarik Aron, tapi tidak berhasil!
“Sudah datang!”
Setelah melihat Aron, Jekson berseru gembira!
Kurniawan mengangkat pandangan matanya melihat Aron, air muka langsung berubah gembira, melangkah cepat berjalan kearah Aron!
Saat ini Jhonatan yang berada di dalam kerumunan melihat kemunculan Aron, lalu Kurniawan berjalan mendekatinya, langsung kaget sampai berkeringat dingin.
Dia yang menyuruh Nuri diam-diam membawa Aron masuk, sekarang jika ketahuan Kurniawan, bukankah gawat.