ARON

ARON
Kakak Ipar Salah paham



“Kak, kenapa kamu tidak bilang kamu sudah punya pacar, saya kan bisa memberimu nasihat, lihatlah pakaian anak ini, dia tidak terlihat seperti orang kaya!”


Evan melirik Aron lalu berkata dengan nada menghina.


Wajah Lina memerah dan berteriak marah pada Evan : “Diam, ini temanku bukan pacarku, jangan bicara sembarangan!”


“Akui saja, kalau bukan pacarmu mana mungkin kamu membawanya ke rumah?” Evan melirik malas kepada Lina : “Saya datang ke rumahmu saja sudah membuatmu marah, mana mungkin kamu membiarkan teman biasa masuk ke rumahmu, saya tidak peduli dia pacarmu atau bukan, pinjamkan dulu saya uang untuk bersenang-senang, saya sudah tidak punya uang!”


“Saya juga tidak punya, sudah berapa banyak uangku yang kamu pinjam?” Lina langsung menggelengkan kepalanya.


“Kak, kalau kamu tidak mau meminjamkan uang kepadaku maka saya akan memberitahu keluarga kita tentang pacarmu!” Evan berkata dan mengeluarkan ponselnya untuk memotret Aron, lalu berkata dengan bangga : “Saya akan meminta keluarga kita untuk memberimu sedikit nasehat, dan menilai pacarmu!”


“Hapus foto itu, saya sudah bilang dia bukan pacarku, dia hanya temanku!”


Lina hendak merebut ponsel Evan, tapi Evan tidak mau memberikannya, kedua kakak beradik itu kejar-kejaran di dalam rumah!


Aron menonton dari samping, rasa iri terlihat jelas pada wajahnya, terkadang dia juga berpikir betapa bagusnya kalau dia punya sepasang adik, dia pasti akan sangat memanjakan mereka.


“Sudahlah, kamu hapus fotonya dan saya akan memberikan uangnya padamu, katakan berapa yang kamu butuhkan kali ini?”


Lina berkata pada Evan dengan terengah-engah.


Sebenarnya dengan kemampuan Lina dia bisa merebut ponsel Evan dengan mudah, karena bagaimana pun Lina juga sudah terlatih!


Hanya saja Lina tidak mau turun tangan pada adiknya sendiri!


Evan tersenyum : “Tidak banyak, hanya seratus juta!”


“Berapa? Seratus juta?” Lina seketika berteriak kaget : “Apa kamu tahu berapa gajiku sebulan? Kamu berani meminta seratus juta dariku? Saya tidak punya!”


“Kalau kamu tidak punya, kakak iparku mungkin punya!” Setelah berkata Evan menoleh ke arah Aron : “Kakak ipar, apa kamu punya uang? Pinjamkan dulu seratus juta kepadaku, kalau saya tidak sanggup membayarnya, kamu potong saja dari mahar yang akan kamu berikan kepada kakakku!”


“Punya, berikan nomor rekeningmu padaku, saya akan mentransferkannya untukmu!” Aron mengeluarkan ponselnya : “Tidak usah pinjam, anggap saja saya memberikannya padamu!”


​Dengan hubungan Aron dan Kurniawan, memberi seratus juta untuk cucunya tidak termasuk apa-apa!


“Benarkah?” Evan tercengang.


“Tentu saja!” Aron memperlihatkan ponselnya kepada Evan : “Saya tidak kekurangan seratus juta itu!”


Bagi Aron saat ini uang seratus juta tidak seberapa!


Melihat saldo yang tertera di ponsel Aron, Evan seketika termenung, dan memeluk Aron dengan gembira : “Kakak ipar, kamu memang kakak iparku, ke depannya kalau kakakku berganti pacar saya tidak akan menganggapnya, saya hanya menganggapmu seorang sebagai kakak iparku!”


Lina menatap Evan dengan wajah kesalnya lalu berkata pada Aron : “Aron, jangan berikan dia uang, dia hanya tahu berfoya-foya!”


Hanya saja Aron tetap mentransfer seratus juta itu kepada Evam, dan itu membuat Evan sangat bahagia!


“Kakak ipar, ayo bertukar nomor ponsel, nanti malam saya akan mengajakmu keluar minum, saya sudah familiar dengan Kota Taka, lagipula kalau menyebut namaku, tidak ada orang yang tidak mengenalnya!”


Evan menambahkan nomor ponsel Aron dan pergi dengan senang!


Lina duduk di sofa dengan pasrah, dan menatap Aron dengan kesal : “Siapa yang menyuruhmu memberikan dia uang?”


“Hanya seratus juta, itu tidak banyak!” Aron tersenyum.


“Anak ini selalu bermain-main saat dia punya uang, oleh karena itu ayah dan ibuku selalu mengendalikannya dan tidak pernah memberi dia uang!”


Lina menghela nafas lalu menoleh ke arah Aron : “Saya pasti akan mengembalikan seratus juta itu kepadamu, semoga anak itu tidak berbicara sembarangan di luar!”