
Arka tertegun sejenak, dia tidak percaya Jekson berani berbicara kepadanya dengan nada seperti itu, raut wajahnya berubah menjadi dingin: “Kamu seorang Jekson tidak pantas dianggap sebagai tuan rumah, bagiku kamu hanyalah sampah masyarakat!”
Selesai berkata dia memukul meja, meja yang keras seketika hancur berkeping keping!
Kali ini, raut wajah semua orang berubah, Jekson mengkerutkan keningnya, dia juga sama sekali tidak menyangka Arka mempunyai kekuatan yang begitu mengerikan!
“Hari ini saya harus membawa pergi orang yang membuat cacat kaki putraku, sekarang saya kasih kalian waktu 5 menit untuk berpikir, serahkan orang, atau mati…..”
Ketika kata mati keluar dari mulutnya, suhu ruangan menurun secara drastis, menyebabkan Juan dan lainnya terlibat perang dingin!
“Tuan Utomo, saya sudah menghubungi Tuan Aron, jika Arka bertindak sebelum Tuan Aron sampai disini, kamu duluan melarikan diri, saya akan membawa orang untuk menghadangnya sekuat tenaga, orang orang saya sudah hampir lengkap berkumpul disini!
Jekson berbisik kepada Jhonatan.
“Kamu……..” Jhonatan yang mendengar Jekson telah menghubungi Aron, seketika merasa tidak berdaya: “Jika Aron datang kesini bukankah menghantar nyawa, karena dilihat dari situasinya Arka tidak akan puas kalau belum membunuh orang!”
“Tuan Utomo, kamu tidak usah khawatir!” Jekson menghiburnya, dia sangat yakin dengan kemampuan yang dimiliki oleh Aron.
Di sisi lain, Aron yang sedang makan tiba tiba menerima sebuah pesan yang dikirim oleh Jekson, setelah Aron melihat isinya, seluruh tubuhnya memancarkan hawa nafsu membunuh yang sangat mengerikan!
“Aron, ada apa denganmu?”
Nuri bertanya dengan hati hati, sepertinya sudah merasakan hawa pembunuhan yang terpancar dari tubuh Aron.
“Saya tidak apa apa, kamu makan duluan!”
Aron bangkit dan memakai baju jaketnya lalu berpesan kepada pembantu rumah: “Awasi Nona, jangan biarkan dia keluar rumah!”
“Baik Tuan!” Pembantu rumah Utomo menjawab dengan hormat.
Aron tertegun, dia tersenyum tak berdaya menatap pembantu rumah Utomo yang begitu hormat kepadanya!
Dia dan Nuri belum berhubungan secara resmi, hanya saling menyukai dan memahami dalam hati, tetapi di dalam pandangan orang bawahan Keluarga Utomo, dia sudah dianggap sebagai teman pria Nona Nuri, ini dapat juga dikatakan ketika kondisi matang, kesuksesan secara alami tercapai!
“Nanti pulang, saya akan beri hadiah…….”
Aron menepuk pelan pundak pembantu itu, selesai berkata dia langsung meninggalkan rumah.
Sebuah sapaan sebagai pasangan Nuri telah membuat hatinya merasa nyaman!
………………
“Waktunya sudah habis, bagaimana keputusan kalian? Serahkan orang, atau mati?”
Begitu Arka selesai berbicara, sepuluh jagoannya telah siap memasang ancang ancang, mereka sama sekali tidak takut menghadapi puluhan orang yang dibawa Jekson, satu persatu bermata tajam dan membawa hawa nafsu membunuh!
Di dalam pandangan mereka orang orang yang dibawa Jekson hanyalah cecunguk kecil, dapat dibasmi dengan mudah!
“Arka, saya pasti tidak akan menyerahkan orang!”
Jhonatan Utomo menjawab dengan tegas!
“Baiklah, jika tidak mau menyerahkan orang maka pergi matilah!”
Raut wajah Arka berubah menjadi dingin: “Turun tangan!”
Sepuluh orang jagoan yang mendapat perintah seketika berubah menjadi harimau ganas yang baru turun gunung menyerbu kearah Jekson dan orang orangnya!
“Saya yang mematahkan kaki anakmu, kalau berani hadapi saya……”
Pada saat inilah Aron sudah berjalan masuk!
“Aron……” Jhonatan menunjukkan perasaan sangat cemas melihat kehadiran Aron!
“Paman, tenanglah, tidak akan terjadi sesuatu pada saya!”
Aron memandang kearah Jekson dengan pandangan penuh rasa terima kasih, dia tidak mengira Jhonatan akan mengorbankan diri sendiri demi melindunginya!
“Tuan Aron…….”
“Tuan Aron…….”
Melihat kedatangan Aron, Willy Aston dan Kurniawan Prata menyapanya dengan hormat
Aron berkata dengan perasaan sangat berterima kasih.
Willy Aston dan Kurniawan Prata menunjukkan perasaan canggung: “Kami tidak sanggup membantu, mereka sama sekali tidak menghargai kami!”
“Masalah ini biar saya yang bereskan sendiri, waktu sudah larut, Pak Aston, Prata, kalian lebih baik pulang untuk beristirahat!”
Aron berkata sambil tertawa.