ARON

ARON
Julio menemui Nuri



Tantono tidak berani mempercayai apa yang baru didengarnya, tapi dia juga tidak bisa tidak percaya.


Gedebuk….


Tantono tidak bisa menahan dirinya dan langsung berlutut dihadapan Aron.


“Tuan Aron, saya tidak mempunyai mata, mohon Tuan Aron ampuni saya sekali ini…”


Tantono bersudut dan memohon pengampunan!


Kalau Aron hanyalah pacarnya Nuri, dia tidak akan setakut ini, lagipula dia berani berhutang kepada Keluarga Utomo, itu menunjukkan dia tidak terlalu takut pada mereka, meskipun Keluarga Utomo adalah orang terkaya di Kota Sanur, tapi mereka hanyalah pebisnis, kalangan mafia tidak akan pernah takut kepada mereka!


Tapi, Aron bukan hanya pacarnya Nuri yang diperkenalkan secara umum, dia juga merupakan tamu kehormatannya Jekson dan Kurniawan, dan mereka bukan orang yang bisa disinggung olehnya!


Melihat ekspresi Tantono, Aron hanya mencibir lalu pergi meninggalkan tempat itu!


Setelah Aron pergi, Tantono terduduk dilantai, dan celananya terlihat basah, dia mengompol!


Aron berjalan kearah jalan raya, dan sedang bersiap memanggil taksi untuk kembali ke perusahaan, namun dia melihat Yenni yang sedang menyebrang kearahnya!


“Kak Aron……”


Melihat Aron keluar dari tempat itu dengan selamat, Yenni bersemangat dan bergegas berlari kearahnya!


Aron yang menemukan Yenni tidak pergi dan malah menunggunya merasa sangat tersentuh!


Namun saat Yenni menyebrang, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya, Yenni yang menyadari hal itu seketika tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya kosong!


Supir yang menyadari ada orang yang sedang menyebrang juga berusaha keras untuk menghentikan mobilnya, dia menginjak pedal rem hingga ban yang bergesekan dengan tanah mengeluarkan asap dan mengeluarkan bunyi decitan!


Melihat situasi itu, Aron menarik nafas dalam satu helaan dan langsung berlari kehadapan Yenni, kedua tangannya menahan mobil yang melaju kearah mereka dengan sekuat tenaga!


Dalam sekejap, mobil itu terhenti, Yenni berdiri linglung, kedua matanya dipenuhi rasa kaget!


“Yenni, tidak apa-apa….”


Aron menarik Yenni menuju ke sisi jalan!


“buta ya! Bagaimana caramu menyebrang?”


Pengemudi mobil menurunkan kaca mobilnya dan mulai memaki, dan mengumpat dengan keras, dia juga sangat terkejut!


Dan saat Aron membawa Yenni berjalan ke sisi jalan, pengemudi itu turun untuk memeriksa mobilnya, dan saat dia melihat jejak telapak tangan yang terukir dimobilnya dia kaget hingga mengeluarkan keringat dingin, dan bergegas kembali ke mobilnya lalu kabur!


“Yenni, kenapa kamu tidak kembali ke perusahaan?”


Aron bertanya dengan cemas.


Saat ini, Yenni sudah kembali tersadar, dia tidak tahu bagaimana dia bisa menghindari tabrakan itu, dan saat Aron menanyainya, dia bergegas menjawab : “Saya khawatir padamu, makanya saya menunggu diluar, Kak Aron tidak apa-apa kan?”


Yenni menatap Aron dengan cemas.


“Jangan khawatir, mereka hanya menggertak, dan langsung ketakutan saat digertak balik, ayo kita pulang…”


Aron memanggil taksi dan kembali ke perusahaan bersama dengan Yenni!


Dan pada saat itu, para karyawan departemen pemasaran sedang duduk bersama dan mendiskusikan sesuatu diam-diam!


“Bernyali sekali Aron, dia malah pergi menagih hutang kepada Pak Tantono, dia tidak tahu ya semua orang yang menagih hutang kesana selalu kembali dengan babak belur!”


“Benar, Yenni kenapa ikut juga? Pak Tantono itu sangat genit, dia pasti akan mencabuli wanita-wanita cantik yang dilihatnya, ingat tidak sales wanita kita yang dulu, dia langsung mengundurkan diri setelah pulang menagih dari sana, dengar-dengar dia sampai hamil anaknya Pak Tantono!”


“Kita tunggu saja, Aron pasti akan kembali dengan babak belur!”


Banyak yang mulai berbisik dan mendiskusikan masalah ini, sedangkan Mona mengernyitkan keningnya dan merasa khawatir pada Yenni!


Dia tidak mengkhawatirkan Aron, meskipun Aron dipukuli hingga cacat, dia juga tidak akan mengkhawatirkannya, tapi Yenni hanyalah seorang gadis kecil, dia bahkan belum melihat cara kerja dunia, kalau sampai dicabuli oleh Pak Tantono, akan sangat disayangkan!


Sekarang Mona merasa sedikit menyesal, seharusnya dia melarang Yenni dan tidak mengizinkannya untuk pergi bersama Aron!


Saat itu, Billy berjalan keluar dari ruangannya, dan meneriaki segerombolan karyawannya!


Para karyawan pun bergegas kembali ke meja masing-masing, dan ada seorang karyawan yang berkata kepada Billy : “Pak Billy, Aron dan yang lainnya pergi menagih ke tempat Pak Tantono…”


Billy yang mendengarnya tercengang, dia terlihat berbahagia diatas penderitaan orang lain : “Bocah itu, demi membuktikan diri sendiri, bahkan rela kehilangan nyawa ya, kalau dia bisa menagih hutang Pak Tantono, saya akan meminum air toilet…”


Dan begitu perkataannya selesai, Rico terlihat kembali dengan sekujur tubuhnya yang sudah dipenuhi keringat, dan ada sebuah kantongan hitam di tangannya!


Melihat Rico kembali, Mona bergegas bertanya : “Rico, mana Yenni?”


Rico meraih air yang ada di meja dan langsung menghabiskannya, dia menarik nafas lalu menceritakan kembali kejadian tadi!


Mereka yang mendengar kalau di kantongan hitam itu berisi 1 miliar, langsung menunjukkan ekspresi luar biasa kaget!


Billy merobek kantongan itu dan membuat setumpuk demi setumpuk uang berjatuhan ke lantai!


Seketika, raut wajah Billy menjadi sangat muram, dia tidak menyangka Aron akan berhasil menagih hutang Pak Tantono, dia tadi sudah mengatakan kalau dia akan meminum air toilet kalau Aron berhasil melakukannya, ini benar-benar memalukan!


“Yenni, bocah itu benar-benar terobsesi, entah apa yang dia lihat dari Aron…”


Ivanna yang mendengar kalau Yenni tidak ikut kembali demi menunggu Aron langsung mencibir!


Mona juga sangat mengkhawatirkan Yenni, tidak ada seorang pun yang memperdulikan hidup matinya Aron!


Dan saat mereka sedang mengasihani Yenni, Aron dan Yenni melangkah masuk ke ruangan!


Melihat sekujur tubuh Aron tidak lecet sedikitpun, mereka semua sangat kaget!


“Aron, kamu tidak dipukuli?”


Billy bertanya dengan heran.


“Membayar hutang, adalah hal yang tepat untuk dilakukan, kenapa malah mereka yang memukuli ku? Mereka tidak kupukuli saja sudah bersyukur…”


Aron tersenyum sinis!


Sedangkan Mona bergegas menghampiri Yenni : “Yenni, kamu tidak apa-apa kan? Kenapa wajahmu pucat sekali? Lain kali kamu jangan pergi dengannya lagi…”


“Kak Mona, saya tidak apa-apa!” Yenni tersenyum!


“Aron, karena kamu begitu handal dalam menagih hutang, kalau begitu, seluruh piutang di perusahaan ini kamu saja yang urus, itu akan menjadi tanggung jawabmu!”


Billy langsung memindahkan tanggung jawab untuk menagih hutang perusahaan kepada Aron!


Aron tidak menolak, meskipun Billy tidak memberi tanggung jawab itu kepadanya, Aron juga akan berinisiatif untuk menagih, karena bagaimanapun itu adalah uangnya!


Melihat Aron tidak menolak, Billy merasa heran, tapi didalam hatinya merasa sangat senang, kalau seluruh hutang itu bisa ditagih oleh Aron, maka sebagai manajer departemen pemasaran, dia juga akan diuntungkan!


Siang itu, direstoran makanan barat dekat kantor PT Damai Kimia!


Junior terlihat sedang duduk di meja dekat jendela dan menunggu seseorang dengan bahagia!


Sesaat kemudian, Nurj terlihat menenteng tasnya dan berjalan masuk ke restoran, Junio yang melihatnya sibuk melambaikan tangan padanya : “Nuri, disini…”


Nuri menghampiri, raut wajah malas terlihat diwajahnya, dia duduk dihadapan Junio : “Ada urusan apa mencariku..!


“Nuri, saya hanya merasa sudah lama tidak bertemu denganmu, jadi mengajakmu keluar untuk makan bersama…”


Junio berkata dengan sanjungan!


“Kalau tidak ada urusan, saya pergi dulu…” Nuri berkata dan hendak berdiri!


“Ada, ada urusan….” Junio yang melihatnya sibuk menahan Nuri : “Nuri, kamu tahu perasaanku padamu, tidak pernah berubah sejak dulu, saya tidak pernah menyukai siapapun selain kamu, bisa tidak kamu….”


“Tidak bisa…” Nuri langsung menyela tanpa menunggu Junio menyelesaikan ucapannya : “Junio, saya harap kamu sadar akan statusmu sendiri, kamu hanyalah manajer yang dipekerjakan dan dibayar oleh Keluarga Utomo, saya bisa menggantimu dengan orang lain kapan saja, sebaiknya kamu fokus saja pada pekerjaanmu, dan jangan habiskan tenagamu untuk memperhatikanku!”


Nuri berkata dengan dingin, kata-katanya sedingin es, membuat raut wajah Junio juga mulai berubah..