ARON

ARON
Mengunjungi rumah mantan gubernur



Jak tertegun untuk sementara waktu. Dia perlahan-lahan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jekson. Dia tidak tahu siapa Aron, tapi dia tidak berani memintanya untuk menelepon Jekson!


Tak lama kemudian, telepon itu terhubung, dan suara malas Jekson datang dari sisi yang berlawanan. Jelas, sudah waktunya. Jekson masih belum bangun!


“Tuan Jekson, ada seseorang membuat masalah di Pasar Antik Kota Sanur. Dia mengatakan bahwa dia mengenalmu, dan menyuruhku untuk menghubungimu!”


Jak berkata dengan hati-hati.


“Siapa orangnya? Namanya?”


Jekson berkata.


“Saya tidak tahu siapa namanya, tapi dia memiliki cincin tembaga di tangannya dengan lambang naga diatasnya. Sepertinya masih ada tanda di atasnya, dia bertanya kepadaku apakah saya mengenal itu!” Jak berkata.


“Sial!” Mendengar itu, Jekson melompat dari tempat tidurnya dengan gemerisik: “Jak, saya beritahu kepadamu, sebaiknya kamu melayani orang ini dengan baik. Jika kamu berani untuk membuatnya tidak senang, saya akan membunuh keluargamu. Ingat itu……”


Setelah Jekson selesai berbicara, dia langsung menutup teleponnya, memakai baju dan bergegas pergi ke Pasar Antik Kota Sanur.


Jak mendengar suara sibuk di seberang telepon. Wajahnya seketika berubah. Dia telah bersama Jekson selama 10 tahun. Dia belum pernah melihat Jekson panik seperti ini sebelumnya!


Meletakkan teleponnya, Jak menatap Aron. Seluruh orang gemetar seperti saringan!


“Kak Jak, orang ini hanya berbicara omong kosong. Bagaimana Tuan Jekson bisa mengenal orang bodoh seperti itu? Dia pasti berbohong kepadamu. Cepat ambil giok itu kembali!”


Pemilik kios gemuk itu masih belum menemukan kelainan di mimik wajah Jak. Dia menatap Aron dengan jijik dan berkata.


Piak!


Setelah selesai berbicara, Jak menampar pemilik kios gemuk itu dengan keras: “Sial, omong kosong apa! Kamulah yang bersikeras membeli dan menjualnya. Jangan berpikir saya tidak tahu. Saya berpikir kamu tidak ingin tinggal di sini lagi!”


Pemilik kios gemuk itu ditampar oleh Jak, dan dia langsung merasa pusing. Tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi beberapa orang yang cerdas tampaknya tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tahu pasti Aron memliki dukungan yang kuat!


“Tuan, saya meminta maaf atas kejadian tadi. Silahkan istirahat sebentar, Tuan Jeskon akan segera datang!”


Jak berkata dengan Aron dengan wajah menyanjung.


Dia tidak mengenal Aron. Dia tidak tahu bahwa Aron adalah penguasa dari Istana Naga. Bahkan banyak dari anggota Geng Sanur bahkan orang dalam juga tidak tahu. Ini semua adalah rahasia. Hanya beberapa orang dalam yang tahu.Begitu Aron mendengar bahwa Jekson akan datang, dia berencana untuk menunggu. Jika dia terus mencari dengan membabi buta, tidak tahu kapan baru bisa menemukan kuas spiritual dan batu sinabar. Karena Jekson yang menjaga Pasar Antik, dia pasti lebih kenal dengan hal-hal disini, jadi Aron berencana untuk bertanya kepada Jekson!


“Cepat datang bawa kursi untuk Tuan ini sekarang juga!”


Jak menendang pemilik kios gemuk itu.


“Oh!” pemilik kios gemuk itu seketika membodoh, dia bergegas memindahkan kursi dari dalam ruangan dan membiarkan Aron untuk duduk.


Sekitar sepuluh menit kemudian, suara rem mobil tiba-tiba terdengar. Jekson membuka pintu dan bergegas kemari!


Melihat Jekson datang, semua orang menundukkan kepala mereka, dan tidak ada yang berani untuk mengangkat kepala mereka. Jekson berlari ke arah Aron, terengah-engah: “Tuan….Tuan Aron, kamu datang ke sini mengapa tidak memberitahuku sebelumnya. Saya bisa menemanimu. Saya familiar dengan daerah ini!” “Saya hanya melihat-lihat!” Aron berkata ringan.


Jekson melihat Jak dan bertanya: “Jak, apa yang telah terjadi?”


Jak juga tidak terlalu jelas. Dia hanya bisa mengatakan apa yang dia tahu. Jekson tidak bodoh. Dengan hanya menerka saja dia tahu apa yang telah terjadi.


“Sial, mengambil namaku dan berani untuk menipu di sini. Benar-benar cari mati!” Jekson mengutuk: “Hancurkan tempatnya, keluarkan orang ini dari tempat ini, jangan biarkan dia kembali ke Pasar Antik lagi!”


Pemilik kios gemuk itu mendengar, dia seketika terkejut dan seketika bersujud di atas lantai: “Tuan Jekson, tolong maafkan saya…..”


Pemilik kios gemuk itu terus memohon belas kasihan, tapi itu tidak ada gunanya sama sekali. Segera, terdengar tangisan yang menyedihkan, dan pemilk kios gemuk itu pun dibawa pergi!


Semua orang terlihat ketakuan, terutama para penjual yang baru saja berteriak pada Aron. Beberapa dari mereka takut sampai terkencing kencing di celana.


“Jak, usir mereka semua dari sini, apa yang perlu dilihat lagi?”


Jekson berbicara kepada Jak.


Jak meraung kearah kerumunan, semua orang takut dari berlari keluar!


“Tuan Aron, apakah ada yang anda sukai? Disini tidak ada barang-barang yang menarik, semuanya hanyalah barang jalanan. Barang-barang yang baik ada di dalam!”


Jekson berbicara kepada Aron.


“Saya hanya ingin membeli kuas spiritual dan batu sinabar, apakah disini ada?”Aron bertanya pada Jekson.


Jekson tertegun. Dia tidak tahu apa arti sebenarnya dari kuas spiritual dan batu sinabar yang dicari Aron, bukankah itu ada dimana-mana?


Tapi Jekson tidak berani bertanya, jadi dia hanya bisa berkata, “Tuan Aron, saya akan membawamu ke beberapa tempat antik untuk melihat, anda dapat melihat siapa tahu barang yang anda cari ada disana. Saya juga tidak begitu tahu banyak tentang bisnis ini!”


“Baiklah. Kamu saja yang memimpin jalannya!”


Jekson mengangguk!


Jekson secara pribadi memimpin jalan. Para pemilik toko barang antik pun mengeluarkan semua harta karun mereka yang mereka simpan, tapi tak satupun yang menarik perhatian Aron.


Pada saat ini, Jekson terlihat sedikit bingung: “Tuan Aron, Pasar Antik hanya sebesar ini, semua barang-barang yang bagus ada di sini. Jika Tuan tidak mendapatkan barang yang anda cari, bagaimana jika saya mengirim anak buahku untuk mencarinya di tempat lain?”


“Tidak perlu. Barang semacam ini tidak gampang ditemukan. Walaupun kalian menemukannya, tidak ada gunanya jika kalian tidak mengerti tentang barang itu!”


Aron melambaikan tangannya, bahkan jika dia membiarkan lebih banyak orang untuk pergi mencarinya, itu akan sia-sia saja!


“Benar juga!”


Jekson mengangguk!


“Pergi dan tunjukkanlah pekerjaanmu. Saya juga sudah harus kembali!”


Jika tidak ada, Aron juga tidak ingin untuk berada disini lebih lama lagi!


Tapi ketika Aron hendak pergi, Jekson tampaknya memikirkan sesuatu. Dia segara menghentikan Aron dan berkata: “Tuan Aron, tunggu sebentar!”


“Apa lagi?” Aron bertanya.


“Tuan Aron, tiba-tiba terpikir olehku bahwa mungkin ada satu tempat yang sepertinya memiliki barang yang anda cari.”


Setelah Jekson selesai berbicara, memerintahkan orang untuk segera membawa mobil kemari dan meminta Aron untuk naik ke dalam mobil!


Di dalam mobil, Jekson memperkenalkan sedikit kepada Aron. Ternyata tempat dimana dia membawa Aron adalah sebuah vila. Pemilik dari vila itu adalah Kurniawan, yang pernah menjadi pejabat pemerintah provinsi yang sekarang sudah pensiun!


Setelah pensiun, Kurniawan membangun sebuah vila di sebuah tempat yang indah di kota Sanur,dan kemudian menikmati hari pensiunnya disana.


Namun, Kurniawan mempunyai hobi untuk mengoleksi barang antik. Di dalam vila Kurniawan, dapat terlihat barang antik memenuhi villanya, dan beberapa diantaranya berasal dari luar negeri. Kalau dibandingkan dengan vila Kurniawan, Pasar Antik tidak ada apa-apanya!


Aron tidak menyangka Kota Sanur sekecil ini, ada orang besar yang menikmati masa pensiunnya disini. Jika bukan karma mengikuti Liu Khang selama tiga tahun, orang biasa seperti Aron tidak mungkin bisa mempunyai hubungan dengan orang-orang besar.


Tak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah vila antik. Seorang pelayan bergegas datang, dan berbisik beberapa kata dengan Jekson, dan bergegas lari kembali ke dalam rumah. Tak lama kemudian. Seorang pria tua dengan jenggot putih dan tongkat keluar dari rumah. Ketika dia melihat Jekson, orang tua itu tertawa dan berkata: “Sangat jarang tuan besar Jekson bisa datang berkunjung kesini!”


“Tuan, jangan begitu. Panggil saja saya Jekson. Saya tidak berani menyandang kata tuan besar didepan mu!”


Jekson bergegas maju dua langkah untuk bertemu dengannya, dan berkata dengan sopan.


Gubernur provinsi, meskipun dia sudah pensiun tetapi sepertinya kekuasaannya tidak kecil, jadi Jekson juga tidak berani untuk menyinggung perasaannya!


Kurniawan mengikuti Yansen dan berbincang beberapa kata. Melihat Aron yang ada di sebelah, dia menatap dan bertanya, “Tuan Jekson, pemuda ini sepertinya saya tidak familiar, dia……….”


“Oh, ini adalah tuan Aron. Kali ini saya mengajak Tuan Aron untuk datang mengunjungi tuan Kurniawan. Saya berharap tuan Kurniawan tidak keberatan!”


Jekson buru-buru menjelaskan Mendengar Jekson memanggil pria berusia 20-an tahun itu dengan sebutan Tuan, tatapan mata Kurniawan terlihat terkejut, tetapi itu hanya sesaat saja!