
Pria botak yang melihat situasi itu menyipitkan matanya, namun dia melihat kerumunan itu didominasi oleh anak muda, kalau sampai terjadi pertarungan bisa-bisa dia yang dirugikan, wajahnya menjadi serius dan berkata : “Tunggu saja kau bocah, kalau merasa hebat beritahu namamu, dan lihat bagaimana saya menghabisimu…”
“Nama saya Billy Indrawan, saya akan menunggumu disini, apa kamu kira saudara-saudaraku ini orang yang lemah?”
Seketika Billy merasa kalau dirinya mirip seperti bos mafia, perasaan itu sangat menyenangkan!
“Baik, baik, baik…”
Pria paruh baya itu mengulang kata baiknya sampai tiga kali, dan berbalik pergi dengan kedua pengawalnya!
Setelah pria paruh baya itu pergi, Billy menjadi semakin sombong lagi, dia belum pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya, begitu berwibawa dan keren….
“Pak Billy hebat sekali, tendangan tadi membuat mereka bahkan tidak berani kentut!”
“Gaya Pak Billy tadi sudah bisa membuat orang yang tidak tahu mengira dia adalah salah satu bos mafia!”
“Pak Billy hebat sekali, saya curiga Pak Billy pernah menjadi mafia sebelumnya…”
Sekelompok orang itu terus memuji Billy dan membuat Billy bagaikan terbang ke langit!
Dalam hati Billy merasa sangat puas, tapi dia mempertahankan ekspresi yang tenang dan berkata : “Ini semua karena dukungan kalian terhadapku, karena kalian juga menunjukkan ketulusan kalian maka saya juga tidak akan pelit, saya akan memesan beberapa botol Lafite untuk kalian semua…”
“Luar biasa…”
“Hidup Pak Billy…..”
Mereka yang mendengar akan dipesankan Lafite langsung berteriak semangat, perlu diingat kalau mereka hanyalah karyawan biasa, dan sangat jarang bisa menikmati anggur seperti itu. “Billy, kita pulang saja yuk, kalau mereka benar-benar memanggil orang kemari, bisa jadi gawat….”
Mona membujuk Billy.
Pada saat ini Billy yang masih sedikit mabuk ditambah dengan dukungan begitu banyak orang, tidak merasa takut pada pria paruh baya itu.
“Mona, tenang saja, ada saya disini kamu tidak perlu takut…”
Billy menepuk-nepuk dadanya sendiri.
“Pak Billy, saya dengar KTV ini bisnis milik Geng Sanur, artinya ini milik Jekson Herlambang, perbuatan kita tadi apakah….”
Seorang karyawan menyeletuk dengan hati-hati.
“Apa yang perlu ditakutkan, saya sangat akrab dengan Tuan Jekson, tenang saja!”
Billy membual dengan angkuh.
Mona yang mendengar KTV ini adalah milik Tuan Jekson menjadi lega dan berkata : “Kalau ini bisnisnya Tuan Jekson, maka tidak akan ada masalah, Billy dan Tuan Jekson sangat akrab, masalah piutang perusahaan keluargaku pun diselesaikan oleh Tuan Jekson hanya dengan satu kata dari Billy!”
Ucapan Mona membuat orang-orang menjadi semakin menunjukkan kekagumannya pada Billy, bisa mengenal Ketua Mafia di Kota Sanur benar-benar luar biasa, hal itu bisa dipamerkan seumur hidup!
“Pak Billy ternyata sangat misterius, bahkan bisa mengenal Tuan Jekson!”
“Karena mengenal Tuan Jekson, kita tidak perlu takut lagi, kalau mereka berani datang kita habisi saja mereka ….”
“Kita sudah minum, Pak Billy juga ada disini, siapa yang berani mengganggu kita…”
Setelah mendengar Billy mengenal Jekson Herlambang, sekelompok orang itu menjadi semakin sembrono!
Aron yang duduk di pojok ruangan menyeringai dan tersenyum santai!
Sepertinya Billy tidak akan tahu rasa kalau tidak diberi sedikit pelajaran untuk membangunkannya dari khayalanya!.
“Tersenyum apa kamu, masih punya muka untuk tersenyum? Tadi saat pria tua itu mau membawa kami pergi kamu juga ketakutan sampai tidak berani bergerak, bagaimanapun Yenni adalah pacarmu, pacarmu sendiri saja tidak bisa kamu lindungi, apa kamu masih seorang pria? Sekarang malah berani tersenyum!”
Ivanna yang melihat Aron tersenyum di pojok ruangan langsung menunjukkan ketidakpuasannya!
“Benar, apa kamu seorang pria? Pacarmu mau dibawa pergi oleh orang lain malah meratapinya begitu saja…”
“Kalau bukan berkat Pak Billy, kamu hari ini pasti dipermalukan!”
“Rico juga, hanya duduk disana dan tidak berani bergerak, sama sekali tidak memiliki rasa solidaritas!”
Semua orang mulai menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap Aron dan Rico, karena sejak tadi hanya mereka berdua lah yang duduk dan tidak berani bergerak.
“Sudahlah, tidak usah menghiraukan dua orang pengecut itu, satu orang pergilah keluar dan pesankan Lafite, kita minum-minum….”
Billy berkata sambil melambaikan tangannya!
Segera, seseorang keluar untuk memesan anggur, sedangkan yang lainnya menatap Aron dan Rico dengan tatapan dingin, tidak ada yang menghiraukan mereka!
…………
Pada saat itu, pria paruh baya botak itu membawa dua orang pengawalnya masuk kedalam ruang manajer Sanur Royal KTV.
Ruangan manajer didekorasi dengan mewah, seorang pria yang mengenakan jas duduk dibelakang sebuah meja kerja yang memiliki panjang hampir 3 meter, dan dibelakang pria itu terlihat seorang wanita yang mengenakan gaun dengan sisi gaunnya yang terbuka hingga ke bagian pinggang, memperlihatkan kulit putih halus, dengan riasan wajah yang tebal, sedang memijat pria bersetelan jas itu!
Pria bersetelan jas itu adalah manajer dari Surau Royal KTV, Dexter, dia juga bisa dianggap sebagai tangan kanannya Jekson, kalau tidak, Jekson tidak akan mungkin menyerahkan KTV ini untuk diurus olehnya!
“Pak Fitra, ada masalah apa yang membuatmu sampai datang keruanganku untuk mencariku?”
Dexter menyipitkan matanya dan bertanya dengan tenang.
“Pak Dexter, Sanur Royal KTV milik kalian ini sudah terlalu kacau, tadi ada segerombolan anak muda yang berani turun tangan memukuli bawahanku, bahkan jejak kakinya masih membekas di perut bawahanku!”
Fitra si pria paruh baya botak itu berkata sambil menunjuk-nunjuk bawahannya!
Di perut bawahan itu terlihat luka memar akibat tendangan itu!
“Terjadi masalah seperti itu ya?” Dexter membuka matanya, dan meluruskan duduknya : “Siapa yang melakukanya? Apakah orang-orang dari Geng Serigala Api?”
Menurut Dexter, hanya orang-orang dari Geng Serigala Api sajalah yang berani membuat keributan di wilayah mereka!
“Sepertinya bukan, mereka hanya sekumpulan anak muda, saya mendengar suara nyanyian merdu dari beberapa gadis yang ada diruangan mereka, dan ingin membawa mereka untuk bernyanyi diruanganku, tidak disangka mereka malah berani bertindak.” Tatapan Pak Fitra bagaikan kilat dingin, dia menggertakkan giginya dan berkata : “Karena saya masih menghormati tempat ini adalah milik Tuan Jekson, maka saya datang kemari untuk memberitahukan kepada Pak Dexter, kalau Pak Dexter tidak mau mengurusnya, jangan salahkan saya kalau memanggil orang untuk mengurusnya sendiri!”
“Hanya sekelompok bocah saja, untuk apa Pak Fitra marah-marah, saya akan mengutus orang untuk pergi bersama Pak Fitra ya…”
Dexter berkata lalu berteriak memanggil seseorang dari luar : “Raffi….”
Seketika, seorang pria yang berwajah sangar dengan lengan yang penuh tato berjalan masuk!
“Kak Dexter…” Raffi menjawab dengan penuh hormat!
“Barusan ada yang membuat keributan di KTV, kamu ikutlah dengan Pak Fitra untuk mengurusnya, yang terpenting jangan sampai ada yang kehilangan nyawa, belakangan ini Tuan Jekson sudah berpesan, kita harus merendah!”
Dexter berpesan kepada Raffi!
“Baik Kak Dexter, saya mengerti…”
Raffi menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih banyak Pak Dexter!” Pak Fitra juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Dexter!
“Pak Fitra mengalami kejadian tidak enak seperti ini di wilayahku, tidak perlu sungkan begitu, kedepannya bisnis kami masih memerlukan bantuan dari Pak Fitra….”
Dexter tersenyum tenang.
Segera, Fitra membawa Raffi menuju ruangan tempat Aron dan yang lainnya berada, diikuti oleh belasan preman KTV!
Pada saat itu di ruangan VIP, Billy dan yang lainnya sedang menikmati Lafite, wajah mereka memerah dan mereka berteriak dengan semangat, tiba-tiba pintu ruangan ditendang hingga terbuka!
Semua orang tercengang, dan saat melihat pria paruh baya itu kembali dengan membawa orang, wajah mereka satu per satu menunjukkan keterkejutan, karena kali ini mereka membawa belasan orang dengan wajah yang sangar!
“Pak Fitra, tadi siapa yang memukuli bawahanmu?”
Raffi bertanya kepada Fitra.
Fitra menunjuk Billy dan berkata : “Dia, bocah itu yang memukuli bawahanku!”
Raffi menatap dan menilai Billy sekilas, lalu menyapu seisi ruangan, dan langsung mengetahui kalau mereka hanyalah orang biasa, bukan preman ataupun anggota mafia.
“Kamu yang tadi memukuli bawahannya Pak Fitra?” Raffi berjalan kehadapan Billy dan berkata dengan tenang. Melihat wajah sangar Raffi dan tato yang ada di lengannya, Billy sedikit ketakutan tapi karena sudah mabuk, dia tetap mengangguk : “Benar, saya yang memukulinya, dia melecehkan pacarku!”