ARON

ARON
Pengangu



Tetapi saat Lily mendengar itu dia seketika berhenti : “Evan, dasar brengsek, saya ini bukan pacarmu, lagipula kamu mana bisa menghidupiku, orang tuamu sangat pelit, satu sen pun tidak diberikan kepadamu, mana bisa kamu mendapat pacar!”


Perkataan Lily membuat Evan malu, tapi dia juga tidak tahu bagaimana membantahnya!


Aron melihat Evan dan tersenyum tak berdaya, dia akhirnya tahu kenapa orang tuanya tidak mau memberikan uang kepadanya.


Segera, Aron dan yang lainnya sampai di Haru Bar, banyak mobil mewah yang terparkir di depan baru, sedangkan Evan hanya bisa memarkirkan BMW bekasnya di ujung.


“Kakak ipar, ini adalah bar terbaik di Kota Taka, saya akan membawamu minum di dalam…..”


Setelah memarkirkan mobilnya Evan berkata pada Aron dengan semangat.


“Jangan panggil saya kakak ipar, saya bukan kakak iparmu, panggil saja saya Kak Aron!”


Aron melihat Evan yang terus memanggilnya kakak ipar merasa lebih baik kalau dia memperingatkannya.


“Ini sudah zaman apa, kenapa masih begitu kolot? Cepat atau lambat kamu akan menjadi kakak iparku, saya hanya menggunakan sapaan itu lebih dulu, jangan begitu kolot, ayo masuk…..”


Evan seolah tidak peduli dan menarik Aron masuk ke dalam bar!


“Evan, kamu baru keluar untuk memungut uang ya, tumben sekali datang bermain ke tempat seperti ini?”


Lily yang berjalan masuk ke bar bertanya pada Evan dengan nada mengejek.


“Saya tidak memungut uang, tapi kakak iparku punya uang, saya beritahu ya, di dalam ponsel kakak iparku saldo rekeningnya mencapai puluhan miliar, saya sudah melihatnya…….”


Evan berbisik pada Lily dan tatapan Lily terhadap Aron seketika berubah.


Meskipun Evan berbisik tapi Aron bisa mendengarnya dengan jelas, melihat anak itu terus pamer Aron kehilangan kata-kata, kalau tahu seperti ini dia tidak akan memperlihatkannya.


Setelah mencari tempat duduk Evan langsung memesan dua botol Remy Martin, yang satu botolnya saja sudah mencapai ratusan juta, tapi karena ada Aron disini, Evan tidak takut sedikitpun!


Tangan Lily tidak berhenti menyentuh tubuh Aron, Aron mengernyitkan keningnya dan bergeser ke samping!


“Lily, saya sudah bilang, dia itu kakak iparku, lagipula saya membayarmu untuk menemaniku, cepat kemari!”


Evan melihat Lily bersikap seperti itu dan menjadi marah.


“Cih, hanya membayar lima puluh juta per jam, kamu kira saya peduli padamu, paling-paling saya tidak mau menerima uangmu, saya mau menemani siapa itu terserah padaku!”


Lily memutar matanya malas, dan tidak berniat pergi menemani Evan!


Menurut Lily, orang seperti Aron adalah orang dari desa yang kaya mendadak, namun tidak tahu bagaimana cara membelanjakannya, dan saat melihat kehidupan di kota mereka tidak tahu harus melakukan apa!


Orang seperti ini paling gampang diperdaya, asalkan mereka masuk perangkap maka dia bisa memeras mereka hingga tuntas, satu sen pun tidak akan tersisa oleh karena itu Lily lebih memilih membuang Evan dan menemani Aron!


Dan itu membuat Evan sangat kesal, saat alkohol yang dia pesan diantarkan dia langsung meneguk habis semuanya sendiri!


​“Bukankah ini Tuan Muda Evan? Kenapa punya uang untuk bermain di tempat seperti ini? Memesan Remy Martin pula?”


Saat itu, beberapa pemuda yang sedang berkeliling datang menghampiri, dan seorang pemuda yang mengenakan Armani sedikit kaget saat melihat Evan.


Evan melirik pemuda itu dan berkata dengan sedikit tidak senang : “Edo, disini tidak ada urusanmu jangan menggangguku…..”


Evan yang suasana hatinya sudah buruk menjadi lebih kesal setelah mendengar perkataan pemuda itu.


Tapi tidak disangka Edo tercengang dan tertawa terbahak-bahak : “Tuan Muda Evan ternyata sudah punya nyali ya, berani berbicara seperti itu padaku?”