ARON

ARON
Arka Terguncang



“Apa?” Paman Joni kaget dan bergegas mundur!


Tapi sudah terlambat, kekuatan sengatan itu seolah memiliki kehidupan dan menyelimuti seluruh tubuh Paman Joni!


Lengan Paman Joni terkulai lemas, terlihat jelas sudah patah!


Piak piak piak…….


Setelah itu, ada suara berderak yang terdengar dan pakaian Paman Joni seperti dirobek oleh sesuatu dan seketika semuanya terlepas.


“Tidak, tidak mungkin, bagaimana mungkin……….”


Ketakutan dan kekagetan terlihat di mata Paman Joni, tapi belum sempat dia menyelesaikan perkataannya, dia memuntahkan seteguk darah yang bercampur dengan serpihan organ-organnya.


Bruak……..


Paman Joni terjatuh ke tanah dan meninggal, matanya terbuka lebar, dia bahkan tidak bisa menutup matanya sebelum mati!


Sampai pada akhirnya dia mati tanpa tahu bagaimana caranya dia mati, pada saat itu organ dalamnya sudah dihancurkan dan dirusak oleh kekuatan sengatan!


Empat ahli dari Keluarga Wisono yang melihat itu terkejut dan gemetar hebat, mereka bahkan tidak memiliki keberanian untuk kabur!


Kematian Paman Joni terlalu misterius dan membuat hati mereka sangat tertekan!


Aron bergerak maju, dia berjongkok dan memelintir kepala Paman Joni hingga lepas!


Dia melemparkan kepala paman Joni ke arah empat ahli itu dan berkata dengan dingin : “Bawa kepala itu kembali pada Arka, beritahu dia, cepat atau lambat saya akan pergi ke Kota Taka untuk memelintir kepalanya.”


Empat ahli dari Keluarga Wisono menganggukkan kepala mereka dan membawa kepala Paman Joni dan bergegas kabur!


“Ayo pergi!”


Aron menoleh ke arah Tedi.


Saat ini Tedi sudah tercengang, tatapan matanya kosong dan mengikuti Aron dari belakang.


Tedi baru bisa menghapus adegan yang dia lihat tadi setelah cukup lama, karena ini sudah diluar nalarnya dan otaknya tidak bisa menerimanya!


Setelah sampai di jalanan tempat menjual makanan ringan pun raut wajah Tedi belum membaik, mereka semua makan dan minum dan hanya dia sendiri yang tidak terlalu banyak bicara, sepertinya kejadian kali ini membuat dia cukup terguncang!


Setelah selesai makan, Aron kembali mengurung diri di dalam kamar, dan tidak tidur semalaman, dia berusaha keras membuat Pil Peremajaan, dia tahu kerja kerasnya saat ini adalah agar dia bisa lebih cepat mengetahui identitas aslinya sendiri, saat ini dia sangat ingin tahu, sebenarnya siapa ibu kandungnya? Lalu apa yang menakutkan dari Pulau Naga.


Sedangkan saat itu, di Kota Taka kediaman Keluarga Wisono, empat orang ahli dari Keluarga Wiaono sedang berlutut di atas lantai, mereka kaget hingga gemetaran, dan Arka menatap kepala Paman Joni yang ada di depannya dengan marah!


Ugh…….


Tiba-tiba, Arka yang terlalu marah memuntahkan seteguk darah!


“Tuan Besar…..”


Empat ahli itu bergegas berdiri dan memapah Arka duduk!


“Arka, kalau tidak punya kemampuan sebaiknya tidak usah membual, kalau membiarkan Keluarga Rangga yang turun tangan masalah ini pasti sudah selesai, sekarang bagus kan, bahkan Paman Joni juga mati…..”


​Dian yang belum memasuki ruangan namun suaranya yang marah sudah terdengar!


Dia bergegas datang setelah mendengar kabar bahwa Paman Joni dibunuh!


Tetapi baru melewati pintu, dia melihat darah segar di sudut bibir Arka dan tercengang, rasa sakit menjalar di hatinya!


Meskipun mereka biasanya bertengkar dan berkelahi, namun kalau sesuatu benar-benar terjadi pada Arka, Dian akan merasa sakit hati karena bagaimana pun mereka sudah menjadi suami istri selama bertahun-tahun!


“Nyonya….”


Melihat Dian datang, empat orang ahli dari Keluarga Wisono segera berteriak menyapanya dengan hormat!


“Saya tanya pada kalian, apakah Aron yang membunuh Paman Joni?” Dian berkata sambil melirik kepala Paman Joni.


“Benar!” salah satu dari empat orang ahli itu menjawab.


“Sepertinya Aron tidak membunuh kalian agar bisa menyuruh kalian membawa pulang kepala Paman Joni kemari?” Dian melanjutkan pertanyaannya.


​“Benar, dan dia juga menyuruh kami menyampaikan pesan, dia berkata kalau dia akan datang ke Kota Taka, dan memelintir kepala Tuan Besar!”


Salah satu dari empat orang ahli Keluarga Wisono berkata dengan gemetaran.


“Arogan……….” Dian menepuk tangannya dan kepala dari ahli itu langsung ditembak!