ARON

ARON
Dendam Keluarga Wisono



Brad gemetaran melihat tampang ayahnya, tetapi dia menganggukkan kepalanya juga.


“Bangsat, saya menyuruhmu instropeksi diri di rumah, kamu malah tidak berubah, akan saya pukul sampai mati…….”


Sambil memarahi anaknya dia mengambil sebuah bangku dan menghantamnya ke tubuh Brad, bangkunya juga hancur berantakan!


Aron sampai tertegun dibuatnya, dia juga tidak menyangka Willy akan memukul anaknya dengan begitu ganas, hal ini menyebabkan dia merasa serba salah.


“Suamiku, hentikan, anakmu bisa mati di tanganmu!”


Tiara mencegah suaminya dengan sekuat tenaga.


Tetapi Willy tidak mau mendengar kata katanya, terus memukul dengan bertubi tubi kepala dan wajahnya, sampai Brad menangis dan memohon ampun!


“Tuan Aron, untuk masalah ini saya akan memberimu pertanggung jawaban, selain itu masalah Keluarga Wisono, saya juga akan mencari jalan untuk mengatasinya!


Willy Aston menatap Aron sambil berkata.


“Masalah Keluarga Wisono, akan saya bereskan sendiri, Pak Walikota tidak usah khawatir!” Aron melirik sekejap kearah Brad yang sekarat, lalu melanjutkan kata katanya: “Untuk putramu, saya tidak akan permasalahkan lagi, hajaran ini agar dia senantiasa ingat!”


Semula Aron datang dengan emosi membunuh yang menggebu-gebu, tetapi sekarang melihat tindakan Willy kemarahannya sudah surut sebagian, hal ini boleh dikatakan Brad mempunyai orang tua yang sangat baik.


Meninggalkan rumah Willy, Aron kembali lagi ke kediaman Utomo, Nuri pasti membutuhkan perhatian lebih setelah mengalami masalah ini!


Di sisi lain di Rumah Sakit Sanur, pada malam hari Erick sudah mendapat kabar kepala Keluarga Wisono akan datang sendiri ke Kota Sanur dengan membawa sepuluh orang jagoan berilmu tinggi!


Sepuluh orang ini semuanya berpenampilan kuat, pelipis mereka menonjol menandakan orang orang yang berilmu tinggi!


Melihat putranya yang terbaring di ranjang rumah sakit, air muka Arka Wisono sangat tidak enak dipandang, di Kota Sanur yang kecil ini, ternyata masih ada orang yang berani turun tangan terhadap anaknya.


“Ayah, akhirnya kamu datang, saya sudah jadi orang cacat, kakiku sudah cacat, tidak bisa sembuh lagi!”


Melihat kedatangan ayahnya, Erick seketika mengadu sambil menangis.


Kelihatannya Arka telah mengetahui seluk beluk masalah yang terjadi.


Erick yang sudah dimarahi ayahnya tidak berani mengatakan apa apa, sedangkan Arka merasa sakit hati melihat penderitaan putranya, anak satu satunya kesayangan dia, di hari biasa mana pernah dia menderita seperti ini!


“Pergilah cari Direktur Rumah Sakit ini!”


Arka memerintah seorang anak buahnya.


Dengan cepat, anak buahnya telah membawa seorang yang berpakaian jas putih dan memakai kacamata, orang ini adalah Direktur Rumah Sakit!


“Kamu adalah Direktur di Rumah Sakit ini?” Arka bertanya dengan dingin.


“Tuan Wisono, saya adalah pemimpin di rumah sakit ini!”


Direktur rumah sakit itu ketakutan sampai kakinya lemas dan gemetar.


“Bagaimana keadaan kaki putraku?”


“Tuan Wisono, kaki putramu telah dihancurkan orang dengan tenaga luar sehingga seluruh tulang kakinya hancur lebur, tidak ada cara untuk menyambung kembali, untuk selanjutnya hanya bisa mengandalkan tongkat!” Dokter kepala itu menjelaskan dengan hati hati.


“Tidak berguna!” Arka memberi sebuah tamparan keras kepada Direktur Rumah Sakit itu: “Saya tidak mau tahu kamu menggunakan cara apa, pokoknya harus menyembuhkan kaki putraku, kalau tidak akan saya bunuh seluruh anggota keluargamu!”


BAM………


Direktur itu sudah berlutut diatas tanah, dan memohon dengan tampang memelas: “Tuan Wisono, rumah sakit kami benar benar tidak ada cara untuk memulihkan kondisi putramu, kamu bisa membawanya ke Rumah Sakit besar atau berobat ke Luar Negeri, semoga bisa ketemu caranya, walaupun kamu membunuh saya juga tidak ada gunanya!”


Arka melihat tampang Direktur itu, dia telah tahu rumah sakit ini memang tidak mampu mengobati putranya, sehingga dia pun tidak mempersulit Direktur itu lagi, tetapi dia memerintah anak buahnya: “Siapkan mobil, kirim Tuan Muda pulang ke Kota Taka untuk berobat!”


Dengan cepat, Erick sudah diantar pulang ke Kota Taka, sedangkan Arka sambil menatap pemandangan malam Kota Sanur, dengan mata yang dingin berkata: “Berani membuat cacat kaki putraku, maka saya akan membuat seluruh Kota Sanur menemaninya!