
Aron menelpon Jekson dan meminta Jekson untuk menjemput dirinya, dia juga sekalian memberikan Pil Peremajaan kepadanya, lalu berangkat ke Restoran Daffa untuk memesan tempat!
Jekson segera tiba dan langsung mengantar Aron ke Restoran Daffa, dan didalam ruangan Jekson, Aron memberikan dua puluh butir Pil Peremajaan kepadanya!
“Ini total ada 20 butir, uang yang kamu keluarkan untuk membeli bahan obat adalah harga modalnya, bisa dijual berapa dan bagaimana kamu memasarkannya saya tidak peduli, kamu saja yang mengambil keputusan atas hal itu, kalau responnya bagus kita tingkatkan lagi pembuatannya.”
Aron berkata pada Jekson.
“Baik saya mengerti!” Jekson menerima Pil Peremajaan itu dan berkata : “Penguasa, saya sudah menyiapkan ruangan VIP King untuk Anda, tidak akan membuat Anda kehilangan muka!”
Aron yang mendengarnya langsung menggelengkan kepala : “Tidak usah sebagus itu, ruangan biasa saja sudah boleh, kedepannya kita masih memerlukan banyak uang untuk pengeluaran lain!”
“Baik baik!” Jekson segera mengangguk!
Perasaan Aron terhadap Paman kedua serta keluarganya tidak terlalu dalam, bahkan bisa dibilang dia membenci mereka!
Dulu Aron dan keluarganya tinggal di pedesaan, dan saat jabatan Wahyu perlahan-lahan naik, Aron dan keluarganya pindah dari pedesaan ke kota, dan sejak saat itu Paman keduanya selalu datang ke kota untuk mencari Wahyu saat memerlukan bantuan!
Dan saat itu Wahyu membantu paman kedua Aron untuk pindah ke kota dan mencarikan Bibi keduanya pekerjaan, namun pada saat jabatan paman keduanya berangsur-angsur naik, mereka mulai memandang rendah Aron sekeluarga.
Dan saat Aron Di buang ke jurang, Wahyu kehilangan pekerjaannya, Paman kedua Aron semakin memandang rendah mereka, mereka bahkan tidak pernah berkunjung sekalipun, sama sekali tidak peduli, sama sekali tidak memiliki rasa kekeluargaan sama sekali!
Kali ini Sheli menghubungi paman kedua Aron dan mengatakan kalau mereka sudah tinggal di rumah besar juga bisa dibilang untuk pamer, untuk membuat paman kedua Aron dan keluarganya terkesan!
Pada saat siang, Paman Aron dan sekeluarganya langsung datang ke rumah mereka!
Dan saat Aron membawa mereka memasuki ruangan VIP, bibi kedua Aron seketika mencibir : “Tinggal di rumah sebagus itu hanya membawa kami ke ruangan VIP seperti ini untuk makan? Benar-benar tidak menganggap kerabat miskinnya sebagai keluarga ya!”
Kakak sepupu Aron melirik Aron dan berkata.
“Kekeke, oh iya saya sampai lupa, dipinjami ya!”
Bibi kedua Aron terkikik-kikik!
Segera beberapa orang itu duduk di kursi dan menyisakan kursi di tepi untuk Aron sekeluarga!
Sedangkan kursi utama diduduki oleh paman kedua Aron, Erwin, wajahnya datar dan santai, matanya sedikit menyipit dan tatapannya penuh penghinaan!
Sekarang Erwin sudah menjabat sebagai Direktur di salah satu Kantor Balai Pemerintahan, koneksinya luas dan membuatnya mengembangkan kepribadian yang bisa meremehkan orang lain!
Di samping kiri Erwin, bibi kedua Aron, Dora yang mengenakan perhiasan di sekujur tubuhnya, warna lipstiknya membuat dia terlihat seperti habis memakan tikus mati, riasannya tebal dan sangat jelek.
Putranya, Darrel, duduk disamping Dora, Darrel hanya lebih muda beberapa bulan dibandingkan dengan Aron, dan sewaktu itu kakek mereka memilihkan nama yang memiliki arti yang sama, dan mirip untuk mereka berdua, yang satu bernama Aron, dan yang satu lagi bernama Darrel!
Hanya saja Darrel ini bodoh dan belum menikah, sedangkan Aron kalau tidak masuk penjara, pasti sudah menikah sejak awal!
Di samping kanan Erwin, seorang pemuda dengan setelan jas duduk, wajahnya terlihat sangat sombong, dia adalah Charles, suami dari kakak sepupunya Aron, ayah Charles adalah seorang Kepala Dewan Dinas Kesehatan, yang juga merupakan atasan langsung dari Erwin!
Dan kakak sepupunya Aron, Gemma, duduk disamping suaminya Charles, dia mengenakan pakaian dari merek-merek ternama, kukunya juga sangat panjang dan terawat , tampak seperti seorang nyonya dari keluarga kaya!
“Aron, sejak kapan kamu mengenal teman yang begitu kaya? Bisa tinggal di villa diatas gunung Perumahan Bumi Sejuk dan meminjamkannya dengan royal kepada kalian, teman seperti ini harus kamu kenalkan pada paman keduamu ini, saya dengar kata ibumu, temanmu itu seorang wanita, nona muda dari keluarga mana? Sekalian kenalkan pada Darrel!”
Setelah mereka semua duduk, Erwin bertanya pada Aron dengan nada formal.