
“Baik!”
Tanpa Jhonatan memintanya pun Aron tidak akan membiarkan para investor itu berhasil, ini menyangkut kepentingan seluruh Kota Sanur!
Melihat Aron menyetujuinya, Jhonatan juga merasa lega, dia sudah pernah melihat kehebatan Aron, itu sudah setara dengan kehebatan seorang titisan dewa!
Aron turun di pertengahan jalan, dia tidak ikut ke kediaman Keluarga Utomo, namun dia menghubungi Jekson dan memintanya membawa beberapa anggota!
Tidak lama kemudian, Jekson membawa belasan bawahannya dengan mobil yang tangguh!
“Tuan Aron, ada masalah apa?”
Tanya Jekson.
“Jangan tanyakan lagi, ikuti saja saya!”
Aron membawa Jekson dan yang lainnya menuju rumah Willy untuk berjaga-jaga!
“Ini….bukankah ini rumah Walikota Aston? Tuan Aron, apa….apa yang sedang kamu lakukan?”
Wajah Jekson terlihat kebingungan!
Jangan lihat dia yang mendapat panggilan Ketua Mafia di kota Sanur, itu tidak ada gunanya, karena sehebat apapun ketua Mafia, dia juga harus takut pada Willy, Ketua kalangan atas di Kota Sanur!
“Sudah kubilang jangan tanyakan lagi!”
Aron sedikit tidak sabar dan menurunkan kursi penumpangnya, lalu memejamkan matanya dan beristirahat!
………………
Didalam kamar hotel terpencil di Kota Sanur!
Tiga orang investor tadi sedang berada didalam, kualitas lingkungan hotel itu sangat buruk, dan tidak cocok dengan status mereka bertiga yang merupakan investor dari Futuwa, tidak ada yang tahu kenapa mereka bertiga memilih tinggal disana!
Di dalam kamar, investor berjanggut itu duduk diatas ranjang sedangkan dua orang lainnya berdiri disampingnya dengan wajah hormat!
Menatapi investor berjenggot itu duduk bersila dan memejamkan matanya sedikit, jari-jarinya tidak berhenti bergerak dan mulutnya terus melafalkan mantra!
“Dewa bumi dan tanah, dewa lima gunung, dewa delapan arah, awan pembawa keberuntungan, datanglah dengan cepat…….”
“Sudah!”
Investor berjenggot itu tersenyum sinis!
“Hahaha, ada Guru Yura yang turun tangan, rencana kita tidak mungkin tidak berhasil!”
Seorang pengusaha gemuk dari Futuwa tertawa terbahak-bahak.
Sebenarnya pria berjanggut itu bukanlah investor, diantara mereka bertiga, hanya seorang yang gemuk dan seorang yang kurus lah yang benar-benar investor dari Futuwa, sedangkan pria berjanggut itu adalah seorang ahli sihir!
Perlu diketahui kalau diluar negara ini, masih banyak orang-orang yang percaya pada hal seperti ini, dan banyak ahli sihir yang berkeliaran!
Diluar sana, entah itu permasalahan mengenai tata letak perusahaan, nama anak, atau ketika pesta makan malam dapat mengarah pada negosiasi bisnis, banyak yang akan menanyakan pada ahli sihir untuk diramal!
Meskipun ada banyak orang yang tidak tahu apa-apa dan hanya menipu uang, tetapi masih ada beberapa ahli sihir yang benar-benar memiliki keterampilan nyata, mengobati beberapa penyakit yang sulit disembuhkan.
Oleh karena itu diluar sana, ahli sihir semakin terkenal dan banyak orang yang mengundang mereka dan memperlakukan mereka seperti tamu kehormatan!
Dan Guru Yura ini adalah salah satu ahli sihir yang berada di luar negeri, ilmu sihirnya sangat luar biasa, dan dua orang investor Futuwa ini menghabiskan banyak uang untuk mengundangnya.
Si kurus dan si gemuk yang merupakan investor dari Futuwa ini sudah sejak lama tertarik pada Kota Sanur, mereka ingin membangun beberapa pabrik yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi tapi sangat mencemari lingkungan, dan mereka juga sudah mendengar kalau walikota Kota Sanur ini terkenal akan kejujurannya dan ini akan sulit untuk dibicarakan, jadi mereka mengundang Guru Yura untuk turun tangan!
“Saya sudah menyiapkan surat perjanjiannya, setelah Willy menanda-tanganinya, dan kita berhasil mendapatkan surat perjanjian itu, dia tidak akan bisa menyangkal lagi!”
Dua investor itu mengeluarkan surat perjanjian yang sudah disiapkan sejak awal, dan tersenyum licik!
Mereka sudah menggunakan cara seperti ini untuk menangani beberapa kontrak yang sulit didiskusikan, sudah dicoba dan diuji!
“Setelah masalah selesai, transfer 50 miliar ke rekeningku, saya mau mata uang Futuwa…..”
Guru Yura berkata dengan tenang.
“Baik, pasti pasti……”
Dua investor Futuwa itu mengangguk, dan berkata dengan menyanjung.