
Victor bergegas mengikutinya, dan Wanto tampak sudah menua dalam sekejap, dia berkata pada Victor : “Kamu undanglah Tuan Aron ke kamarku, saya tidak layak tinggal di kamar seperti ini!”
Victor mengangguk, dan kembali ke kamar Aron lalu menyampaikan perkataan Wanto kepada Aron, Aron tidak menolak, dan langsung pindah ke kamar yang ada di ujung koridor!
Langit menjadi semakin gelap, dan lampu-lampu neon di jalanan berkedip dengan sangat hidup!
“Victor, temani saya pergi berkeliling, saya mau melihat apakah ada barang bagus!”
Aron berkata pada Victor.
“Baik, saya akan membawa Tuan Aron berkeliling ke Jalan Simbara, di sana merupakan tempat yang dibangun sementara untuk memudahkan para ahli bela diri dari berbagai tempat yang ingin memperdagangkan harta karun di tangan mereka.”
Victor mengangguk!
Tidak lama kemudian, Victor membawa Aron ke Jalan Simbara, kedua sisi jalan dipenuhi dengan orang-orang yang berjualan bahan obat, pil obat, dan beberapa liontin giok, Pot Elixir dan sebagainya, lalu ada pedang, pisau dan senjata bela diri lainnya, semuanya hampir ada!
Aron berkeliling dan menemukan semua barang-barang itu adalah barang biasa, dan wajahnya terlihat sedikit kecewa, dia awalnya ingin menemukan senjata yang bisa dia ubah menjadi senjata perlindungan diri untuk Nuri!
Victor menyadari kekecewaan Aron, lalu berkata : “Tuan Aron, barang-barang bagus yang ada di sini sebagian besar akan diambil oleh Istana Raja Obat, mana bisa diedarkan di sini, dan ini juga salah satu alasan kenapa Istana Raja Obat mengadakan Pertemuan Seni Bela Diri!”
Aron mengangguk, dia mengingat dia membawa Pil Peremajaan, jadi bertanya pada Victor : “Kalau saya ingin menjual sesuatu di sini, apa ada prosedur yang harus saya lakukan?”
“Tidak ada, cari saja tempat kosong untuk mendirikan kios!” Victor menggelengkan kepalanya : “Lantas Tuan Aron ingin menjual sesuatu?”
“Benar, pil obat ini ingin saya jual!”
Aron berkata sambil mencari tempat kosong dan mengeluarkan Pil Peremajaan!
Victor melihat pil obat berwarna gelap di tangan Aron, dan bertanya dengan sedikit ragu : “Tuan Aron, apa pil obatmu ini punya nama?”
“Pil Peremajaan……..”
Aron berkata dengan santai.
Tapi saat Aron mengatakan Pil Peremajaan, seorang bawahan Istana Raja Obat yang ada di sampingnya mendengarnya, dan saat mendengar nama Pil Peremajaan, bawahan Istana Raja Obat itu melirik Aron tanpa sadar, lalu pergi dengan tergesa-gesa.
Tidak lama kemudian, pengurus rumah Istana Raja Obat, Budi, bergegas menghampiri dengan bawahan Istana Raja Obat!
Lucas meminta Budi untuk mencari tahu tentang Pil Peremajaan, namun karena masalah Pertemuan Seni Bela Diri, Budi belum sempat untuk pergi ke Kota Namae dan Kota Sanur untuk memeriksa, dan saat mendengar bawahannya berkata ada seseorang yang menjual Pil Peremajaan di Jalan Simbara, dia bergegas datang!
Budi melirik Aron lalu bertanya padanya : “Saudara, apa nama pil obatmu ini?”
“Pil Peremajaan!” Aron berkata dengan jujur.
Budi tidak mengatakan apa pun, dia mengambil pil obat itu dengan pelan, dan mengendusnya, lalu menghancurkan pil obat itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya untuk mencicipinya!
Aron yang melihat itu mengernyitkan keningnya : “Kamu belum mengatakan mau membelinya atau tidak, tapi sudah menghancurkan pil obatku?”
Saat ini, Victor bergegas mencondongkan tubuhnya dan berbisik pada Aron : “Tuan Aron, ini adalah pengurus rumah Istana Raja Obat, dia mungkin akan membeli semua pil obatmu ini.”
Aron yang mendengarnya seketika mengerti dan menganggukkan kepalanya!
Setelah mencicipinya, mata Budi tiba-tiba berbinar : “Saudaraku, berapa harga Pil Peremajaanmu ini per butirnya?”
“Dua miliar!” Aron berkata dengan enteng!
“Baik, saya akan membeli semuanya!” Budi berkata dengan santai, lalu memerintahkan orang untuk menghitung jumlahnya, lalu bertanya pada Aron : “Saya ingin bertanya pada saudara, siapa orang yang membuat pil obat ini?”
“Saya sendiri yang membuatnya!” kata Aron.
“Kamu yang membuatnya?” Budi menatap Aron dengan kaget, dan tatapannya penuh dengan ketidakpercayaan!