ARON

ARON
Mantan Minta Balikan



Aron berencana memutuskannya setelah dia kembali dari pulau tak bernama pada bulan tujuh hari ke lima belas, dia ingin melihat apakah akan ada peluang besar, dan mungkin dia juga bisa membawa Nuri berjalan menuju dunia kultivasi.


“Kenapa? Saya Nona Muda dari Keluarga Utomo sudah terburu-buru ingin menikah denganmu, lantas kamu tidak bersedia?”


Melihat Aron yang terdiam, Nuri sedikit tidak senang.


“Bukan!” Aron menggelengkan kepalanya : “Saya yang miskin ini kalau bisa memperistri wanita sepertimu, sudah boleh segera membakar dupa besar, hanya saja saya ini seorang pria, mana boleh membiarkan kamu yang menafkahiku, saya harus berusaha sendiri, agar bisa menjadi orang yang kamu kagumi di masa depan!”


Saat mendengar ucapan Aron, Nuri merasakan kehangatan didalam hatinya dan tersenyum bahagia : “Tidak disangka kamu bisa berkata semanis itu, hanya saja kamu memang tidak perlu berusaha, saya akan mengatakan pada Ayah untuk mengalihkan seluruh kekayaan Keluarga Utomo kepadamu, lagipula perusahaanku juga sudah diberikan padamu, dan kamu juga sudah menjabat sebagai Presiden Direktur, dia juga tidak akan peduli tentang perusahaan lain, lagipula dia hanya memiliki saya, satu-satunya putrinya!”


“Huh……….” Aron kehilangan kata-kata, apa bedanya ini dengan menafkahinya?


“Sudahlah, mari bicarakan hal yang serius, bagaimana dengan bahan-bahan obat yang saya minta tolong kamu carikan, ini sudah beberapa hari.”


Aron tahu kalau dia tidak bisa memperdebatkan masalah pernikahan dengan Nuri lagi, bisa-bisa gadis ini akan langsung menariknya ke KUA untuk membuat surat nikah besok!


“Seharusnya sudah hampir rampung, besok saya akan mendesak mereka lalu memberikannya kepadamu!”


Karena beberapa bahan obat yang diperlukan Aron sangat berharga dan membutuhkan waktu untuk mendapatkannya, dan Nuri tidak menemui Aron belakangan ini karena sibuk mencari bahan-bahan obat itu!Tepat saat Nuri berbicara, hembusan angin tiba-tiba menyapu, dan bulan mulai tertutup oleh awan hitam!


Sepertinya hujan deras akan turun!


Ctarr……


Buam duar duar……..


Setelah kilatan petir, terdengar bunyi guntur yang bergemuruh!


…..


“Ah……..”


Nuri berteriak kaget, tangannya gemetaran dan langsung mengarahkan mobilnya menuju parit!


Aron sigap dan segera meraih kemudi mobil, dan Nuri langsung memeluk Aron!


Tubuh Nuri gemetaran!


Aron tidak menyangka Nuri yang sudah dewasa masih takut pada petir, lalu menertawainya : “Kalau kamu ingin memelukku, katakan saja, untuk apa membuat alasan seperti ini?”


“Cih, siapa yang ingin memelukmu!”


Nuri langsung melepaskan diri dan memelototi Aron, dia membuka sabuk pengamannya dan berkata : “Kamu saja yang menyetir, saya tidak mau menyetir lagi!”


Aron tidak berdaya dan mengambil alih menyetir, saat itu hujan deras mulai turun!


Dan saat Aron sampai di Perumahan Bumi Sejuk, dan sudah hampir mencapai puncak gunung, dia menemukan seorang wanita yang memegang payung, seperti sedang menunggu seseorang!


Aron menyetir mendekat dan saat membuka jendela, dia baru menyadari orang itu adalah Santi!


Saat itu, Santi memang memegang payung tapi seluruh tubuhnya sudah basah kuyup, dan saat melihat Aron pulang, dia langsung menghampiri!


“Aron, akhirnya kamu pulang juga, saya sudah menunggumu seharian Santi memegangi kaca mobil : “Saya salah, saya sudah tahu saya salah, semua ini terjadi karena Ronal memaksaku, kalau saya tidak menikah dengannya, dia akan mencari orang untuk membunuh Paman dan Bibi, saya tidak punya cara lain!”


“Dan saya bersikap seperti itu padamu juga karena Ronal yang menghasutku, saya salah, saya benar-benar menyesal…..”


“Didalam hatiku hanya ada kamu, saya hanya menyukaimu seorang, apa kamu sudah lupa saat kita kuliah, kita pergi melihat Teratai putih bersama, lalu melihat bintang?”


“Saat itu kamu memegang tanganku, dan berkata akan menjagaku seumur hidup, kita tidak akan berpisah seumur hidup, apa kamu sudah lupa?”


Santi menatap Aron dengan tatapan menyedihkan, tetesan air diwajahnya tidak jelas entah hujan atau air mata!


Aron melihat Santi yang seperti itu malah merasakan jijik, dia sudah kehilangan seluruh perasaannya terhadap Santi sejak awal, bahkan dia tidak merasa benci padanya, orang seperti ini tidak layak untuk mendapatkan sedikit perasaan pun darinya, meskipun perasaan itu adalah kebencian!


Bagi Aron, Santi seperti seekor semut, siapa yang akan membenci seekor semut?


“Sudah selesai bicara? Kalau sudah, saya mau pulang!”


Aron menatap Santi dengan dingin.