
Melihat sikap Nuri, Aron merasa tidak berdaya, kadang kala pikiran wanita benar-benar tidak bisa ditebak oleh pria!
“Saya hanya penasaran, kenapa dia tidak menemanimu?”
Aron menjelaskan.
“Lina punya pekerjaannya sendiri, tidak bisa menemaniku setiap hari, demi menemaniku selama beberapa hari ini dia bahkan tidak berangkat kerja!”
Nuri berkata dengan wajah pahit : “Kalau urusan di Kota Taka sudah diselesaikan, besok kita kembali ke Kota Sanur ya, ayahku sendirian di rumah, saya sedikit khawatir!”
Aron mengernyitkan keningnya, saat ini uangnya belum terkumpul, bahan obatnya belum didapatkan, Aron tidak tenang pergi begitu saja, lagipula akan ada Pertemuan Seni Bela Diri dalam seminggu lagi, dan Aron berencana untuk berkeliling!
“Kalau kamu masih ada urusan, tidak apa-apa menetap beberapa hari lagi, saya hanya mengatakannya saja!”
Melihat Aron serba salah, Nuri segera mengubah kata-katanya.
“Tidak masalah, besok saya akan menemanimu pulang, tapi saya tidak bisa tinggal terlalu lama di Kota Sanur, saya masih harus kembali dan menangani sesuatu!”
Aron tersenyum ringan.
Dia kebetulan mengantar Nuri kembali ke Kota Sanur, karena disana akan jauh lebih aman, kalau di Kota Taka, orang-orang dari Kota Taka, dan Lembah Ilusi bisa saja datang untuk mencari masalah, Nuri tidak aman berada di sini!
“Baik!” Nuri mengangguk.
Keesokan harinya, pagi hari Aron menelpon Lyla dan mentransferkan uang yang ada di tangannya pada Lyla, dia berkata pada Lyla dia akan memikirkan cara untuk sisa uangnya, dan meminta Lyla berusaha berbicara pada Istana Raja Obat, dan memberikan waktu beberapa hari lagi!
Saat tahu Aron dan Nuri hendak pulang ke Kota Sanur, dia bergegas mengendarai mobil dan menjemput Aron!
“Jekson, kamu tidak perlu pulang, cari saja seseorang yang bisa dipercaya untuk mengurus Geng Sanur!”
Aron tahu saat ini Jekson dan Lyla berada di saat yang sangat penting, jadi dia ingin mereka berdua bersama dan menumbuhkan lebih banyak perasaan!
Jekson tahu maksud Aron, dan wajahnya sedikit memerah : “Tuan Aron, kali ini saya pulang juga sekalian mengurus Geng Sanur, dan saat kamu kembali ke Kota Taka, saya akan ikut bersamamu!”
Aron tersenyum dan tidak mengatakan apapun lagi.
Jekson menyetir, dan membawa Aron serta Nuri kembali ke Kota Sanur!
Sesampainya di Kota Sanur, hari sudah sore, Aron dan Nuri tidak pergi ke Perumahan Bumi Sejuk, namun langsung pergi ke villa kediaman Keluarga Utomo!
Jonathan sedang minum teh di halaman, dan saat mendengar teriakan Nuri wajahnya tiba-tiba tersenyum!
“Ayo, ayo duduk disini!”
Jonathan melambaikan tangannya!
Aron membawa beberapa souvenir dari Kota Taka dan meletakkannya di atas meja batu : “Paman, saya tidak tahu kamu menyukainya atau tidak, saya membelikanmu beberapa souvenir!”
“Hahaha, saya suka, semua yang kalian beli saya suka, ayo duduk!”
Jonathan menuangkan segelas teh untuk Aron!
Aron duduk di hadapan Jonathan, sedangkan Nuri duduk di samping Jhonatan dan memeluk lengan Jhonatan seperti seorang anak kecil!
“Aron, kali ini di Kota Taka, pasti bertemu banyak masalah ya?”
Tanya Jhonatan.
“Tidak juga, semuanya sudah diselesaikan!” Aron tersenyum.
“Kalau ada masalah, jangan dipikul sendiri, sekarang kita sudah menjadi satu keluarga, kamu tidak perlu sungkan.” Kata Jhonatan.
“Ya!” Aron mengangguk!
Jhonatan memasukkan tangannya ke dalam saku, lalu mengeluarkan selembar kartu bank dan meletakkannya di depan Aron : “Aron, ada lima triliun di dalam sini, memang tidak banyak, tapi kamu bisa memakainya dulu, saya tahu belakangan ini kamu sedang kekurangan uang!”
Aron tercengang, lima triliun itu sudah hampir setara dengan seluruh kekayaan bersih milik Keluarga Utomo.
“Paman, saya tidak bisa menerima uang ini, bisnis Keluarga Utomo sudah kamu bangun selama ini, saya tidak bisa menerimanya!”
Aron mengira Jhonatan menjual seluruh aset Keluarga Utomo!
“Aron, saya sudah mendengarnya sejak awal saat kamu sedang menelpon, dan tahu kalau kamu sedang kekurangan uang, oleh karena itu saya mengabari ayahku, cepat ambillah, lagipula ayahku hanya punya satu orang putri, barang-barang keluarga Utomo cepat atau lambat juga akan menjadi milikku!”
Nuri berkata pada Aron.