
Raffi sedikit tidak menyangka Billy akan langsung mengaku, dia kembali menilai Billy dan berkata : “Hebat juga bocah sepertimu, berani berbuat berani bertanggung jawab, saya juga tidak akan mempersulitmu, berlututlah kepada Pak Fitra dan minta maaf, maka masalah ini akan selesai sampai disini…”
Mendengar Raffi menyuruhnya untuk berlutut dan minta maaf, Billy keberatan, dia menggelengkan kepalanya : “Saya tidak akan berlutut kepadanya, dia yang duluan mencari masalah dengan kami!”
Melihat penolakan Billy, raut wajah Raffi menjadi dingin : “Belum ada satu orang pun yang berani membantah perkataanku!”
Sambil berkata, tangan Raffi tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mencengkram kerah baju Billy, dan mengangkatnya!
Melihat keadaan itu, karyawan lain berniat membantu Billy tapi setelah melihat belasan preman sangar yang ada dibelakang Fitra, mereka semua menciut!
“Billy…” melihat lawannya bertindak, Mona langsung berteriak dan menghampiri : “Lepaskan dia, saya putri dari Denny Sunarto, kami karyawan PT Damai Kimia milik Keluarga Utomo…”
Mona berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan Raffi, tapi tidak peduli sekuat apapun dia mencoba, dia tidak bisa menggerakkan tangan Raffi sedikitpun!
Wajah Billy menjadi memerah, dia mulai kesulitan bernafas, kedua matanya membelalak dan mulutnya terbuka sangat lebar….
Rasa takut akan kematian tidak berhenti menghampirinya!
Mona yang melihat Billy sudah seperti itu panik dan tidak berhenti berteriak : “Ini adalah wilayah Tuan Jekson, kalian berani membuat onar di wilayah Tuan Jeskon, Tuan Jekson pasti tidak akan membiarkan kalian, dia itu kenal dengan Tuan Jekson…”
Perkataan Mona membuat wajah Raffi berubah, dia mengernyitkan keningnya dan melepaskan cengkramannya.
“Uhuk uhuk uhuk…”
Setelah cengkramannya dilepaskan, Billy terbatuk-batuk dan bernafas sekuat tenaganya!
“Billy, kamu tidak apa-apa kan?” Mona bertanya dengan khawatir.
Ketika yang lain melihat Raffi langsung melepaskan cengkramannya setelah mendengar nama Tuan Jekson, mereka mengira kalau Raffi sangat takut pada Tuan Jekson, dan terus berteriak : “Pak Billy sangat akrab dengan Tuan Jekson, kalian berani menyentuhnya, Tuan Jekson pasti tidak akan mengampuni kalian…”
“Saya beritahu ya, hanya satu kalimat dari Pak Billy, Jekson pun akan langsung mematuhinya!”
“Kemarin, Pak Billy hanya menelponnya, Jekson sudah langsung membantu menagihkan hutang, sekarang kalian berani menyentuh Pak Billy, habislah kalian…”
Orang-orang dari departemen pemasaran yang merupakan bawahan Billy merasa kalau lawan mereka sangat takut dengan Jekson, dan terus meneriakkan betapa hebatnya Billy!
Aron yang duduk disudut ruangan menyeringai setelah mendengarnya, mereka yang tidak tahu apa-apa ini benar-benar sedang mendorong Billy lebih dekat ke kematian dengan tindakan mereka!
Billy yang mendengar bawahannya membual sembarangan menjadi sangat ketakutan, dia sangat ingin memaki mereka dengan kasar!
Mendengar ucapan mereka, raut wajah Raffi menjadi semakin jelek, tatapan matanya mulai menunjukkan aura pembunuh yang semakin terasa!
Meskipun Dexter berpesan agar dia tidak membunuh orang, tapi sekelompok orang ini menggunakan nama Tuan Jekson untuk menggertaknya, bagaimana dia bisa menahan itu!
Melihat raut wajah Raffi yang menjadi semakin jelek, bawahan Billy merasa kalau dia ketakutan, mereka mulai merasa bangga!
“Sudah takut? Sekarang enyahlah dari sini, kalau sampai kami menelpon Tuan Jekson, kalian satupun tidak akan bisa pergi dari sini…”
Mona juga berkata kepada Raffi dengan bangga. “Diam, diam kalian semua…”
Billy berteriak kepada Mona!
Hanya dia sendiri yang mengetahui kebenaran kalau dia sama sekali tidak mengenal Jekson, bahkan dia belum pernah melihat wajah Jekson sama sekali.
Melihat Billy yang tiba-tiba berteriak padanya, Mona kebingungan, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Billy, tapi dia pun tidak berani mengatakan apapun lagi!
“Kamu mengenal Tuan Jekson?” Raffi tercengan, dan bertanya pada Billy dengan wajah muramnya.
Billy yang saat ini sedang diperhatikan oleh mereka semua, sudah kehabisan cara, kalau dia mengaku tidak mengenal Tuan Jekson saat ini, pasti dia akan diolok-olok oleh mereka.
Sambil menggertakkan giginya, Billy hanya bisa mengangguk : “Saya pernah bertemu dengan Tuan Jekson…”
Kata-kata Billy ambigu, karena pernah bertemu belum tentu dia mengenal Tuan Jekson….
Kata-kata Raffi yang menakutkan membuat sekelompok orang-orang yang tidak tahu apa-apa itu merinding!
“Hahaha, dasar preman jalanan, apa kalian tahu siapa orang yang ada dihadapan kalian ini? Dia adalah pembunuh bayaran nomor satunya Dexter, tangan kanan dari Tuan Jekson, kalian malah membual dihadapannya dan mengaku mengenal Tuan Jekson, sepertinya kalian bosan hidup…”
Fitra mulai tertawa terbahak-bahak.
Sekelompok orang ini hanyalah orang biasa yang sangat biasa, mana mungkin mengenal Jekson, Fitra tahu kalau mereka pasti sedang berakting!
Tentu saja, setelah mendengar kata-kata Fitra, Billy langsung berkeringat dingin, dia tidak menyangka bualannya akan membuat dirinya berada di posisi terpojok!
Hanya saja, bawahan Billy benar-benar tidak banyak berpikir, mereka menganggap kalau Billy benar-benar mengenal Jekson!
Begitu juga dengan Mona yang mempercayai kebohongan itu, Billy pasti mengenal Jekson, bahkan jika Billy tidak mengenalnya pun, temannya Billy pasti kenal, kalau tidak bagaimana mungkin Tuan Jekson akan membantu keluarga mereka mendapatkan kembali piutang perusahaan mereka?
“Pak Fitra, tadi kami juga sudah minum banyak dan mabuk, sekarang kami akan meminta maaf padamu, semoga Pak Fitra….”
Billy menciut, dan mulai meminta maaf kepada Fitra!
Hanya saja belum sempat menyelesaikan ucapannya, Raffi langsung menyela : “Berani
menjual nama Tuan Jekson, minta maaf saja tidak akan cukup, bisa tetap hidup atau tidak, itu tergantung keberuntunganmu…”
Selesai berkata, Raffi melambaikan tangannya dan berkata : “Bawa mereka semua pergi, biarkan Kak Dexter yang mengadili…”
Segera, belasan preman berwajah sangar itu langsung mengepung mereka, membuat Billy, Mona dan yang lainnya terkejut setengah mati!
Rico yang ada dipojok ruangan juga ketakutan hingga sekujur tubuhnya gemetaran, celananya basah, dan kedua tangannya mencengkram erat lengan baju Aron!
Dia hanyalah seorang mahasiswa baru, belum pernah melihat kejadian seperti ini, dan sekarang dia sudah sangat ketakutan!
Melihat Rico ketakutan hingga seperti itu, Aron menepuk-nepuk pundaknya dan berkata : “Tenanglah, tidak aka nada masalah…”
Segera, mereka dibawa pergi menuju ruangan Dexter!
Saat ini Dexter sedang menyipitkan matanya dan menikmati pijatan sekretarisnya, dan saat melihat Raffi kembali dengan sekelompok bocah bocah, dia mengernyitkan keningnya dan berkata : “Raffi, untuk apa kamu membawa sekelompok bocah ini kemari?”
“Kak Dexter, mereka adalah orang yang memukuli bawahannya Pak Fitra…”
Raffi berkata.
“Saya kan sudah menyuruhmu mengurusnya, kenapa malah dibawa ke ruanganku?” Wajah Dexter terlihat tidak senang!
“Kak Dexter, bocah ini berkata kalau dia mengenal Tuan Jekson, dan sangat akrab dengan Tuan Jekson, maka saya membawanya kemari untuk Kak Dexter adili…”
Raffi sibuk menjelaskan!
“Apa?” Dexter yang mendengarnya langsung membenarkan posisi duduknya, dan menatap Billy dengan dingin : “Kamu mengenal Tuan Jekson?”
“Saya….saya….” Billy terbata-bata : “Teman saya mengenal…..”
“Siapa nama temanmu? Saya sudah lama ikut dengan Tuan Jekson, orang-orang yang dikenalnya, pasti saya tahu namanya…”
Dexter meneruskan pertanyaannya.
Saat ini, Billy sudah tidak bisa menjawab, dia sebenarnya tidak memiliki teman yang kenal dengan Tuan Jekson, dengan statusnya itu mana mungkin dia bisa mempunyai koneksi dengan Tuan Jekson!
Bam….
Tiba-tiba Dexter membanting mejanya dan bangkit berdiri : “Besar sekali nyali kalian, berani menjual nama Tuan Jekson sembarangan.