
“Kak Aron?” Shella meraih lengan Aron dengan gugup!
Aron tersenyum kecil : “Jangan khawatir, karena kakak iparmu memang nona besar dari Keluarga Utomo!”
Shella yang mendengarnya seketika tercengang!
Pada saat ini, telepon Nuri sudah terhubung, dan dia langsung berkata : “Ayah, pengembangan di Kota Tuba, apakah kamu mengutus seseorang bernama Wendy untuk mengaturnya?”
“Saya tidak tahu, masalah ini diurus oleh Paman Jeffry, ada apa?” Jhonatan bertanya dengan bingung.
Beberapa waktu ini Jhonatan sudah sangat jarang mengurus masalah perusahaan, dan fokus merawat kesehatannya, kalau bukan karena Aron waktu itu, dia pasti sudah kehilangan nyawanya!
“Tidak masalah, saya akan menelpon Paman Jeffry!” Nuri menutup telepon.
Saat ini, raut wajah Manajer Wendy sudah jelek, karena atasan langsungnya memang bernama Jeffry!
Yudas melihat raut wajah Manajer Wendy yang menjadi jelek bergegas menghiburnya : “Manajer Wendy, tidak usah takut, saya yakin gadis ini hanya berakting!”
Tapi Manajer Wendy tidak memperdulikan Yudas, melainkan menatap Nuri dengan erat, dan keningnya berkeringat dingin!
Melihat Nuri kembali menelpon, tidak lama kemudian suara hangat terdengar dari balik telepon : “Keponakanku, apa kamu menelpon paman karena merindukan paman?”
Paman Jeffry adalah seorang veteran yang bertarung untuk waktu yang lama bersama dengan Jhonatan, dia juga orang yang paling Jhonatan percayai, kalau tidak bagaimana mungkin dia menyerahkan perusahaannya kepadanya begitu saja!
Dan saat Manajer Wendy mendengar suara dari balik telepon itu, kakinya lemas dan dia hampir pingsan!
“Aduh, aduh, aduh, Manajer Wendy kamu tidak apa-apa kan!” Yudas yang ada di sampingnya tidak menyadari apa yang sedang terjadi dan segera memapah Manajer Wendy.
Manajer Wendy itu gemetaran dan tidak bisa berkata-kata!
“Paman Jeffry, apakah kamu mengutus seseorang bernama Wendy untuk mengurus pengembangan di Kota Tuba?”
Nuri bertanya pada Paman Jeffry.
“Benar, ada apa?” Paman Jeffry berkata.
“Pecat dia sekarang juga, orang itu menganiayaku, dan memaksaku menuangkan arak untuknya, dan memintaku untuk menemaninya tidur!” Nuri berkata dengan marah.
“Apa? Bajingan itu berani memintamu menuangkan arak, dan menemaninya tidur, ini benar-benar salah, saya akan membantumu membereskannya!”
Segera, telepon Manajer Wendy berdering, dia menatap ponsel yang ada di tangannya sendiri dan kedua tangannya bergetar dan tidak berani mengangkatnya!
Yudas yang di sampingnya juga mulai menatap Nuri dengan heran saat ini!
Akhirnya, Manajer Wendy itu mengangkat telepon dengan tangan gemetar!
“Wendy, bajingan sialan kamu berani menyuruh Nona Besar untuk menuangkan arak dan menemanimu tidur, bajingan, kamu sudah hebat ya!”
Begitu telepon itu terhubung, raungan Paman Jeffry terdengar!
“Pak….Pak Jeffry, saya….saya tidak tahu, saya tidak tahu dia adalah Nona Besar!”
Manajer Wendy rasanya ingin menangis!
“Tidak usah bicara lagi, kamu dipecat, besok saya akan mengutus seseorang untuk menggantikanmu, sekarang kamu kembali untuk menerima hukumanmu, lihat bagaimana saya akan mematahkan kakimu……”
Paman Jeffry langsung menutup telepon setelah selesai berbicara!
“Pak Jeffry, Pak Jeffry……..”
Manajer Wendy masih ingin mengatakan sesuatu tapi lawan bicaranya sudah tidak bersuara!
Nuri menatap Manajer Wendy dengan setengah tersenyum dan berkata : “Kenapa, masih ingin saya menemanimu?”
Bam…….
Manajer Wendy langsung berlutut di hadapan Nuri : “Nona Besar, saya pantas mati, saya salah, mohon ampuni saya, saya salah……”
“Cuih, bajingan sepertimu, bagaimana mungkin saya akan mengampunimu…..”
Nuri meludah dengan keras!
Manajer Wendy berlutut di atas lantai, dengan wajahnya yang pucat pasi.
Beberapa orang yang minum bersama dan melihat adegan ini langsung kabur, dan Yudas juga bersembunyi di kejauhan!
Nuri berbalik dan berjalan keluar, saat melewati Shella, dia tersenyum tipis : “Shella, ayo kita pergi!”