ARON

ARON
Kakak sepupu yang menentang



Melihat Yumi yang tiba-tiba menentangnya, Aron terlihat putus asa dan tidak tahu bagaimana menjawabnya!


“Yumi, siapa yang dinafkahi oleh wanita? Di zaman seperti ini masih ada pria yang dinafkahi oleh wanita?”


Saat itu, seorang pria tampan dengan tinggi 1,8m berjalan menghampiri.


“Kak Tedi, kenapa kamu baru datang? Kamu selalu terlambat!”


Yuri seketika tersenyum saat melihat pria itu.


“Tadi ada urusan bisnis yang harus dibicarakan, jadinya terlambat, seperti biasa, karena saya datang terlambat hari ini saya yang akan membayar, pesan saja sesuka kalian!”


Pria itu berkata sambil tersenyum lalu melirik Nuri sekilas.


“Ini adalah kakak sepupuku, Nuri, dan ini adalah pacarnya Aron….”


Yuri memperkenalkan mereka pada pria itu!


“Nama saya Tedi Irawan, pacarnya Yumi!”


Tedi mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Nuri serta Aron!


Yuri merelakan tempat duduknya agar Tedi bisa duduk disamping Yumi!


“Apa yang sedang kalian bicarakan tadi? Sampai membahas masalah dinafkahi oleh wanita!”


Setelah duduk, Tedi bertanya pada Yumi.


“Hanya bicara asal, adik sepupuku ini merupakan putri dari orang terkaya di Kota Sanur, dan malah mendapatkan seorang pacar yang malas dan pengangguran, tidak memiliki pekerjaan, bahkan pakaiannya juga harus dibelikan oleh adik sepupuku, bukankah ini namanya dinafkahi oleh wanita?”


Yumi berkata sambil menghela nafas, dan di wajahnya terlihat semacam kebencian!


Raut wajah Aron juga mulai berubah, meskipun Yumi melakukannya demi kebaikan Nuri, tapi dia berulang kali mencemooh dirinya dan membuat Aron mulai marah!


Tedi menyadari perubahan ekspresi Aron, dan berkata pada Yumi : “Kamu tidak boleh berkata seperti itu, di dunia ini mana ada begitu banyak pasangan serasi, menurutku saudara Aron ini juga luar biasa, asalkan punya kemampuan dan mau berusaha, bisa saja suatu hari nanti keadaan akan berbalik, oleh karena itu tidak boleh memandang rendah orang lain!”


Setelah selesai berkata, Tedi menatap Aron dengan tatapan bersalah dan menundukkan kepalanya : “Saudara Aron, jangan diambil hati ya, kakak beradik ini memang suka berbicara blak-blakan dan mudah menyinggung perasaan orang!”


Kemarahan Aron mereda setelah mendengarkan perkataan Tedi yang tulus.


“Ayo kita pesan makanan, hari ini saya yang bayar, jangan ada yang mencoba menghemat uangku!”


Tedi berkata sambil memanggil pelayan dan mulai memesan hidangan!


Tidak lama kemudian, meja itu sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan, beberapa orang itu makan sambil mengobrol, dan saat mengobrol Aron baru menyadari kalau Tedi memang terlihat sederhana tapi statusnya bukan orang biasa, dia adalah putra dari Teras Obat yang terkenal di Kota Namae!


Perlu diketahui bahwa Teras Obat menempati posisi tiga besar di Kota Namae, mereka memiliki 18 toko obat yang khusus memasok dan menjual obat herbal dan cukup berpengaruh di Kota Namae!


Mendengar ucapan Tedi, Aron merasa kalau kata ‘konglomerat generasi kedua’ tidak hanya istilah yang digunakan untuk menghina, tergantung kepada siapa istilah itu ditujukan.


“Saudara Aron, kedatangan kalian kali ini ke Kota Namae hanya untuk berjalan-jalan?”


Tedi bertanya pada Aron.


Dua orang itu bisa saja menjadi sepupu ipar, jadi harus banyak berkomunikasi!


“Saya berencana untuk membeli sejumlah bahan obat di sini!”


Aron mengatakan yang sebenarnya.


“Bagus kalau begitu, katakan saja bahan obat apa yang kamu perlukan padaku, kami Teras Obat memiliki bahan obat apa saja, dan semua kualitasnya juga terjamin, dengan hubungan kita, saya bisa memberikan harga terendah padamu, sebenarnya kalau kamu ingin terjun ke industri ini, menjual kembali bahan obat juga bisa menghasilkan banyak uang!”


Tedi salah paham pada Aron dan mengira Aron ingin menjadi penjual bahan obat!


“Bukan itu maksudku, saya berencana membeli bahan obat untuk dipakai sendiri, paling tidak bahan obat itu harus berusia ratusan tahun, misalnya Lingzhi berusia ratusan tahun, kalau bisa mendapatkan yang sudah berusia ribuan tahun maka itu akan lebih baik lagi!”


Aron berkata sambil tersenyum.


Tedi tertegun sejenak, sedangkan Yumi mulai mencibir : “Otakmu kemasukan air ya, apa kamu tahu bahan obat yang kamu katakan itu memerlukan uang sebanyak apa untuk mendapatkannya? Terutama ginseng dan lingzhi berusia ribuan tahun, harganya selangit, kalaupun dijual padamu takutnya kamu tidak sanggup membelinya!”


Aron tidak mengatakan apapun dan merasa tidak perlu menjelaskan apapun!