ARON

ARON
Ketakutan Arka



“Tuan Besar, semua bawahan sudah bersiap dan seluruh vila sudah dijaga dengan ketat, bahkan seekor lalat pun tidak akan bisa keluar masuk, selain itu beberapa ahli dari Keluarga Rangga juga sudah bersiap, Tuan Besar tidak perlu khawatir!”


Pengurus rumah berjalan memasuki vila dan berkata pada Arka.


“Baik, saya sudah tahu!” Arka duduk di sofa dan melambaikan tangannya!


Pengurus rumah itu juga keluar dengan patuh, sedangkan Dian turun dengan masker wajahnya!


“Lihatlah betapa pengecutnya dirimu, bagaimana kamu bisa ditakut-takuti oleh bocah ingusan seperti itu? Saya rasa kamu semakin tua semakin penakut…..”


Dian mengomeli Arka dengan tidak puas!


Arka mengernyitkan keningnya dan melirik sekilas pada Dian namun tidak berani mengatakan apapun!


Hanya saja dia sendiri tahu, orang yang bisa membunuh Paman Joni dengan satu pukulan pasti bukanlah orang biasa, semalam setelah bawahannya membawa pulang kepala Paman Joni dan memberitahukan kejadian itu kepadanya, dia mulai merasa cemas.


Dia berpikir kalau Aron benar hanya seorang bocah ingusan, kenapa Jekson, Kurniawan serta Willy begitu segan kepadanya?


Lalu, Jhonatan sebagai orang terkaya di Kota Sanur apa mungkin membiarkan putrinya berpacaran dengan orang biasa?


Oleh karena itu Arka semakin merasa ada yang tidak beres, dan memerintahkan bawahannya untuk meningkatkan kewaspadaan mereka!


Melihat Arka tidak berbicara, Dian mendengus dingin : “Saya akan pergi melihat Erick, agar dia lebih banyak makan, dan menambah nutrisinya!”


Dian berkata sambil berjalan menuju villa Erick sendirian!


Saat itu, Erick sedang berada di dalam kamar, Yumi sedang berbaring di atas ranjang tanpa mengucapkan sepatah katapun, air matanya sudah membasahi selimut di atas ranjang namun dia tidak berani berkata-kata!


Erick menatap Yumi dengan bersemangat, dan kedua tangannya perlahan-lahan membuka kancing baju Yumi!


Mata Erick memerah saat kulit putih Yumi terekspos!


“Memang barang berkualitas!” Erick menjilat bibirnya dan air liurnya hampir mengalir keluar!


Yumi mengigit bibirnya dan memalingkan kepalanya ke samping, air matanya bagaikan sungai yang tidak berhenti mengalir!


Bang………


Pada saat itu pintu kamar Erick dibuka dengan keras oleh seseorang!


Erick terkejut dan raut wajahnya menjadi dingin : “Sialan, siapa yang tidak tahu cara mengetuk pintu, cari mati ya?”


Erick baru saja selesai mengumpat dan saat berbalik dia melihat ibunya sendiri sedang berjalan masuk, dia seketika kaget dan segera bangkit dari tubuh Yumi.


“Ibu…….kamu, kenapa kamu kemari?”


Erick berkata dengan canggung


Dian melihat Yumi yang ada di atas ranjang lalu melihat Erick dan berkata dengan marah : “Dasar anak nakal, tidak mau hidup lagi ya? Sekarang ini kamu sedang cedera, apa pesan dokter kepadamu? Kamu malah berani melakukan hal seperti ini?”


“Ibu, kakiku ini tidak akan bisa disembuhkan lagi, lagipula saya hanya……….”


“Diam kamu, sekarang kamu sudah bisa membantah ya?” Dian memelototinya dan membuat Erick terkejut hingga tidak berani mengeluarkan sepatah katapun, Dian kembali melihat Yumi yang ada di atas ranjang dan berkata dengan sinis : “Masih tidak mau keluar, lihat kelakuanmu itu, mana terlihat seperti seorang Nona muda, entah apa yang membuat Erick tertarik padamu!”


Dian mengira kalau Yumi adalah Nuri, dan dia sama sekali tidak tahu kalau Delfin salah menangkap orang!


Yumi seolah mendapat keajaiban dan segera bangkit berdiri, meraih pakaiannya dan bergegas keluar, hanya saja dia tidak berencana kabur, saat ini halaman utama Kediaman Keluarga Wisono sudah dijaga sedemikian ketat, seorang wanita seperti dia mana bisa kabur!


Setelah Dian memarahi Erick dia berjalan keluar lalu melirik Yumi sekilas, dan melambaikan tangannya kepada dua orang bawahannya : “Perhatikan dia dengan baik, jangan sampai Tuan Muda kembali mendekatinya, mengerti?”


“Baik Nyonya.” Dua bawahan itu segera mengangguk mereka tahu kekejaman Dian dan tidak berani menyinggungnya.