ARON

ARON
Ronal Datang



Ronal belum selesai berkata, dan saat mendengar nama Aron, sebuah ide tiba-tiba terlintas di benaknya, dia akan berpura-pura takut pada Aron, dengan begitu Aron akan lengah, dan saat dia memiliki kemampuan nanti, dia akan menagih kembali penghinaan ini berkali-kali lipat.


Setelah menanyakan alamatnya, Ronal bergegas menuju Restoran Daffa.


“Dia akan segera sampai!”


Santi kembali ke tempatnya dan berkata dengan suara kecil pada Aron.


Aron tidak menjawab, ekspresinya juga tidak berubah, sedangkan Benhard yang melihat Aron seketika menyeringai : “Bajingan, kamu sedang berlagak hebat ya? Lihat nanti setelah Tuan Ronal datang, kamu mungkin akan menangis!”


“Saya akan menangis atau tidak, belum tentu, tapi kamu pasti akan menangis!”


Aron menatap Benhard dan berkata dengan sinis.


“Apa katamu? Saya akan menangis? Sekarang juga saya akan membuatmu menangis…….”


Benhard berkata lalu kembali meraih botol anggur dan mengangkatnya!


“Benhard, kamu gila ya, letakkan botol anggur itu!”


Santi yang melihatnya kaget dan langsung berteriak pada Benhard.


“Santi, untuk apa takut pada orang ini? Walaupun dia belajar beberapa jurus, dia juga tidak perlu ditakuti, ini adalah wilayah kekuasaan Tuan Jekson, dia tidak akan berani!” Benhard berkata lalu menempatkan wajahnya didepan Aron dan memprovokasinya : “Aron, kamu kan hebat sekali, bisa mematahkan kaki Jacky, sekarang saya disini, apa kamu berani menyentuhku?”


Piak!


Benhard yang baru selesai bicara langsung ditampar oleh Aron!


Benhard terdorong dan dua giginya sampai lepas, separuh wajahnya seketika bengkak.


“Saya sudah hidup selama ini, ini pertama kalinya ada orang yang memintaku untuk memukulinya, apakah tamparan itu menyenangkan? Mau lagi?”


Aron menatap Benhard dengan tatapan mengejek.


Benhard merasa kalau bintang-bintang bermunculan dimatanya, dia hampir pingsan!


“Benhard, kamu tidak apa-apa?”


Sofie segera memapah Benhard, wajahnya terlihat khawatir!


“Kak Aron, kenapa kamu memukulnya, gawat lah sudah!”


Wilfred seketika panik, dia tidak tahu harus berbuat apa!


“Aron, kamu sudah gila? Kenapa berani memukul Benhard!”


​“Tunggu saja, kamu pasti tidak bisa keluar dari sini, rasakan saja!”


Teman-teman itu mulai mencemooh Aron!


Bam……………..


Aron memukul meja dengan keras, meja yang terbuat dari marmer itu seketika kehilangan sebagian potongannya!


Saat itu, semua orang tercengang dan langsung menutup mulut mereka!


“Tadi Benhard yang mengantarkan wajahnya sendiri dan memintaku memukulnya, apa kalian buta?”


Aron menyapu seisi ruangan dengan matanya.


Tidak ada yang berani berbicara, dan raut wajah mereka menjadi aneh!


“Benar, Benhard yang memintanya, kenapa kalian malah menyalahkan Aron!”


Santi berdiri dan membantu Aron berbicara!


Teman-temannya melihat Santi dengan kebingungan, mereka benar-benar tidak mengerti peran apa yang sedang dimainkan oleh Santi.


Benhard yang tersadar juga mengernyitkan keningnya dan menatap Santi, lalu menatap Aron dengan marah : “Aron, bajingan kau, berani memukuliku, kupastikan kamu tidak akan bisa keluar dari pintu ini, tunggu saja!”


Benhard berkata lalu hendak membanting pintu dan pergi mencari kakak sepupunya!


“Kak Aron, segera minta maaf padanya, kalau tidak kita berdua pergi saja dulu!”


Wilfred menarik lengan baju Aron, wajahnya terlihat panik.


“Wilfred, kamu duduk saja, hari ini saya akan memberimu kesempatan!”


Aron tersenyum pada Wilfred.


Dan saat Benhard hendak membanting pintu dan keluar, pintu ruangan dibuka oleh seseorang, Ronal terlihat berkeringat dan bergegas masuk!


Benhard yang melihat Ronal segera menyambutnya dengan senyuman : “Tuan Ronal, akhirnya kamu datang, ayo duduk!”


Benhard berkata dengan wajah menyanjung, dia juga mempersilahkan Ronal untuk duduk dan teman-teman lain juga bangkit berdiri dan menyapa dengan senyuman diwajah!


Namun Ronal tidak memperdulikan mereka, dia bahkan tidak melirik Santi dan langsung menyapu seisi ruangan, dan saat melihat Aron, tubuhnya bergetar dan segera menghampiri Aron!