ARON

ARON
Ingin Menangkap Aron



“Aron?” Lina tercengang dan berkata dengan penuh keterkejutan : “Dia adalah pacarmu?”


“Iya, ada apa?” melihat Lina yang kaget, Nuri bertanya dengan bingung.


“Lina, ini adalah Tuan Aron, saat kamu menelponku kamu mencari tahu tentang Tuan Aron kan, sekarang kamu sudah bertemu dengannya!”


Pada saat ini, Kurniawan juga menghampiri dan berkata dengan senyuman di wajahnya.


“Kakek, kenapa saat itu kamu tidak memberitahuku kalau Aron adalah pacarnya Nuri?”


Lina mengernyitkan keningnya dan tampak sedikit kesal.


“Kamu juga tidak bertanya, lagipula kakek tidak tahu apakah Nona Nuri dan Tuan Aron memiliki hubungan yang resmi atau tidak, tentu saja saya tidak boleh asal bicara.” Kurniawan berkata dengan pasrah lalu bertanya dengan bingung : “Bagaimana kamu bisa kenal dengan Nona Nuri?”


“Kakek, saya dan Nuri adalah teman satu kuliah, tentu saja saling kenal!” jawab Lina.


Pada saat ini Nuri juga menatap Lina dengan kaget : “Lina, kenapa kamu memanggil Tuan Kurniawan dengan sebutan kakek? Sepertinya saat berkuliah saya tidak pernah mendengarmu membahas tentang dia?”


Pada saat itu Kurniawan adalah seorang pejabat di Kota Taka, siapa pun yang memiliki kakek seperti itu pasti akan memamerkannya pada seluruh kampus, tapi Nuri tidak pernah mendengar Lina membahas tentang itu!


“Saya tidak ingin orang lain tahu tentang identitasku, lalu saya juga ingin mengandalkan diriku untuk membuat beberapa pencapaian, saya tidak mau mengandalkan koneksi dan bantuan dari keluargaku!”


Lina menjelaskan.


“Lina ini adalah anak yang sangat kuat, dia tidak mau mengandalkan keluarganya dalam menghadapi apapun…..” Kurniawan berkata dengan nada menyayangkan.


​Aron kembali melihat Lina, dan sedikit mengagumi Lina, anak muda zaman sekarang kebanyakan hidup dengan mengandalkan orang tua, wanita seperti Lina ini benar-benar jarang ditemui.


“Kakek, lihatlah saya sekarang, walaupun tidak mengandalkan keluarga, kehidupanku juga tidak buruk kan, kamu tidak perlu khawatir!”


Lina berkata sambil tersenyum.


“Benar, sekarang ini juga sudah lumayan, bekerjalah dengan baik pada Ketua Detasemen, lalu kedepannya kamu bisa menggantikan posisinya!” Kurniawan berkata sambil tersenyum : “Sudahlah, kalian anak muda mengobrollah, saya mau menyapa orang lain dulu!”


Setelah Kurniawan pergi, Aron dan yang lainnya pergi mencari tempat duduk, Lina terus memperhatikan Aron, seperti ada yang ingin dia katakan tapi dia tidak bisa membuka mulutnya!


Saat itu, Jhonatan yang berada tidak jauh melambaikan tangannya pada Nuri, sepertinya dia memanggil Nuri untuk berkenalan dengan beberapa orang!


Nuri berdiri dan menatap Lina dengan rasa bersalah : “Lina, kamu tunggu sebentar disini ya, saya akan segera kembali!”


“Iya, pergilah!” Lina mengangguk!


Setelah Nuri pergi, hanya tersisa Aron dan Lina berdua, saat itu Aron membuka mulutnya : “Nona Lina, tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan.”


Lina tercengang, namun dia tetap membuka mulutnya : “Masalah Keluarga Wisono, kamu pelakunya kan?”


“Benar!” Aron tidak merahasiakan apapun dan menjawabnya dengan enteng!


Aron yang mengaku dengan enteng benar-benar diluar dugaan Lina, seketika itu Lina tidak tahu harus berkata apa.


Melihat Lina terdiam, Aron meneruskan perkataannya : “Kalian mengadakan perjamuan ini tujuannya adalah untuk menantangku kan?”


“Benar!” Lina melihat Aron yang begitu enteng juga menganggukkan kepalanya : “Kami akan menangkapmu kembali ke Kota Taka.”


Aron menyapu seisi ruangan, dan orang yang dibawa oleh Detasemen Perlindungan Hukum tidak lebih dari sepuluh orang, dan semuanya hanyalah detektif biasa, tidak ada ahli bela diri.


“Hanya mengandalkan orang kalian yang sedikit ini, kalau saya tidak bersedia apa kalian bisa menangkapku?”


Aron tersenyum santai, namun nada bicaranya tidak menunjukkan permusuhan


Lina terdiam sesaat, dia sangat mengerti orang yang bisa membakar habis puluhan orang dari Keluarga Wisono tidak akan bisa dibawa pergi begitu saja oleh mereka!


“Tidak peduli bisa atau tidak, saya pasti akan mencobanya, ini adalah kewajibanku!”


Lina berkata dengan tegas.