ARON

ARON
Bukan Anak Kandung



“Ibu, saya baik-baik saja!”


Aron berkata sambil memaksakan sebuah senyuman!


Sekeluarga duduk dan makan di meja makan, tidak ada yang berbicara, suasana berubah menjadi sedikit aneh!


Mereka menyadari sikap anehnya, sehingga hanya makan beberapa suap, lalu bergegas meninggalkan meja makan!


Sheli dan Wahyu saling berpandangan, lalu keduanya menghela nafas dengan berat.


“Hal ini cepat atau lambat akan tiba!”


Wahyu menghela nafas sambil berkata.


“Beberapa tahun ini, saya sudah menganggap Aron sebagai anak kandung sendiri, bahkan sudah lupa bahwa dia adalah anak pungut, mengapa, mengapa Erwin sembarangan bicara…”


Mata Sheli memerah sambil berkata: “Sekarang Aron sedang bimbang, sepertinya kita tidak bisa merahasiakannya lagi!”


“Aron sudah dewasa, kita juga harus memberitahunya, dia juga berhak mengetahui asal-usulnya, kita tidak boleh terlalu egois!”


Wahyu duduk di samping Sheli, merangkul ringan bahu Sheli sambil berkata.


“Tapi saya takut, setelah mengetahui kebenaran ini, Aron akan meninggalkan kita, pergi mencari orangtua kandungnya, sekarang saya tidak sanggup kehilangan dirinya…”


Setelah menjadi seorang ibu selama 20 tahun lebih, mendadak tidak lagi memiliki anak, dia tidak sanggup menanggungnya!


“Apakah dia akan mencari orangtua kandungnya, terserah dia, bahkan jika Aron pergi meninggalkan kita, saya juga akan selalu berada di sisimu, kita bersama-sama menjalani sisa hidup kita…”


Wahyu berusaha menghibur Sheli, mengucapkan kata-kata gombal yang membuat orang merinding!


​Sheli bersandar di bahu Wahyu, air matanya berderai!


Setelah beberapa saat, Sheli bangkit dan mengusap air matanya, lalu berkata pada Wahyu: “Panggil Aron datang!”


Wahyu mengangguk, lalu berjalan ke kamar tidur Aron dan mengetuk pintu kamarnya!


Selesai berkata, Wahyu berjalan pergi!


Di dalam kamarnya, detak jantung Aron hampir terhenti, dia bisa menebak apa yang ingin dibicarakan orangtuanya!


Benak Aron berkecamuk, dia tidak ingin mengakui dirinya adalah anak pungut, tapi hatinya juga ingin mengetahui siapa orangtua kandungnya!


Setelah ragu sejenak, Aron berjalan keluar!


Saat ini Sheli dan Wahyu sudah duduk di sofa, mereka tidak bersuara, suasana sedikit menegang, di hadapan Sheli terdapat sebuah kotak kayu kecil yang indah, hanya sebesar telapak tangan!


“Ayah, Ibu…”


Aron memanggil ayah ibunya!


“Duduklah!” Wahyu mempersilakan Aron untuk duduk, lalu menghisap rokok dengan kuat, sambil berkata: “Aron, kamu sudah dewasa, sehingga ada beberapa hal yang harus kita beritahu padamu.”


Sampai disini, Wahyu tidak lagi bersuara, dan mengalihkan pandangannya pada Sheli yang duduk di sampingnya, dan tatapan Sheli malah menghindarinya, dia juga tidak ingin dirinya yang memberitahu Aron!


Tidak ada yang ingin membuka suara, sehingga saling berdiam diri!


“Ayah, Ibu, tidak peduli apapun itu, kalian tetaplah orangtuaku, saya juga tidak akan pernah meninggalkan kalian, saya akan merawat kalian di hari tua, saya akan memberikan kalian cucu yang gemuk…”


Aron berkata, dan langsung berlutut di depan Wahyu dan Sheli!


Sheli tidak tahan lagi, air matanya langsung berderai, bergegas memapah Aron untuk bangkit, lalu memeluk Aron erat: “Anak baik, anak baik…”


“Ibu, jangan menangis, tidak peduli apakah saya adalah anak kandungmu atau bukan, kamu selamanya adalah ibuku, beberapa tahun ini kamu mendidikku, saya masih ingat saat saya berumur 5 tahun, kamu menggendong saya menerobos hujan deras mengantarku ke rumah sakit!”


Aron mengusap air mata Sheli!


Ucapan Aron membuat Sheli menjadi lega, menatap Aron sambil berkata terhibur: “Anakku, kamu memang bukan anak kandungku, tubuhku bermasalah, tidak bisa melahirkan anak, kamu dipungut ayahmu dari pinggir jalan, saat itu kamu sangat kecil, dan cuaca sangat dingin, sekujur tubuhmu memerah karena kedinginan…”