
“Tuan Jekson, saya benar benar tidak berbohong, saya memang tidak bisa menghubunginya, saya berani bersumpah…..” Nandar ketakutan sampai wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetaran dengan sangat hebat!
“Jejson, lepaskan dia!”
Aron dapat melihat bahwa Nandar memang tidak berbohong!
Jekson melepaskan Nandar, hingga dia dapat bernafas lega, kemudian dengan hati-hati dia bertanya: “Tuan Aron, Tuan Jekson, apa yang telah diperbuat anak durhaka itu kepada kalian?”
“Huh, Ronal bukan hanya menyinggung kami saja, dia juga telah menyinggung Keluarga Utomo, dia telah menyandera Nona Utomo……”
Jekson mendengus dingin!
BANG………
Nandar hampir terjatuh ketika mendengar berita ini!
“Ini……anak durhaka ini mempunyai nyali sebesar itu, berani menyandera Nona Utomo?”
Pandangan mata Nandar penuh dengan amarah, siapa yang tidak tahu hubungan antara Nuri Utomo dengan Aron? Lagipula Keluarga Utomo adalah orang kaya di Kota Sanur, di hari biasa hubungan dua keluarga kurang harmonis, tidak mau saling mengalah, tetapi sekarang anaknya menyandera putrinya Jhonatan Utomo, keluarga Utomo pasti akan berusaha sekuat tenaga, akankah keluarga Jhonson langsung dihabisi oleh mereka?
“Sudah ada saksi yang mengakui, masalah ini memang dilakukan anakmu Ronal, tidak mungkin salah……”
Jekson berkata dengan wajah yang dingin.
“Durhaka, Anak durhaka……” Nandar Jhonson langsung lemas, dia berkata terhadap semua hadirin: “Kalian tolong saya hubungi anak durhaka ini, suruh dia cepat pulang, akan saya patahkan kakinya!”
Semua orang yang berkumpul tadi langsung menghubungi Ronal, dan pada saat ini ponsel Aron juga berdering.
Setelah diangkat, terdengar suara Ronal yang angkuh dan arogan: “Aron, sekarang Nuri berada di tangan saya, kalau kamu ingin dia selamat maka kamu harus datang sendiri ke sebuah pabrik bekas yang berada di bagian barat Kota Sanur, ingat kamu harus datang sendiri, kalau kamu melanggarnya saya tidak akan menjamin keselamatannya!”
“Baik, jika kamu berani menyentuhnya, saya akan membawa semua Keluarga Jhonson untuk dikubur bersamanya!”
Raut wajahnya dingin dan kelam, dengan pandangan penuh hawa nafsu membunuh dia menyapu seluruh anggota Keluarga Jhonson!
Tubuh Nandar gemetaran merasakan hawa nafsu membunuh yang terpancar dari tubuh Aron, dengan keras dia berteriak memarahi Ronal: “Binatang, cepat kamu lepaskan Nona Utomo, dan pulang untuk menerima hukuman!”
Ronal tertegun sejenak, lalu dengan tegas dia berkata: “Ayah, kamu tidak usah mencampuri urusan ini, Aron tidak akan berani bertindak kepada Keluarga Kintan karena kita sekarang sudah mempunyai dukungan!”
Aron yang mendengarnya tertawa dingin: “Dukungan yang kamu maksud adalah Keluarga Wisono dari Kota Taka? Hari ini biarpun ada Dewa langit yang datang juga tidak bisa menolongmu!”
Ancaman Ronal ini sebenarnya tidak ada artinya sama sekali karena dia sama sekali tidak ada kemampuan untuk mewujudkannya, sekarang dia hanya bisa mengandalkan Keluarga Wisono.
“Kamu berani!” Aron menggertakkan gigi dan menyebutkan dua kata itu, matanya mulai menjadi merah!
“Ha Ha Ha, kamu mau coba melihat apakah saya berani berbuat seperti itu, sekarang Nuri berada di tanganku, saya bisa berbuat apa saja terhadapnya, bagaimana, kamu memohon kepada saya, jika kamu memohon sekarang mungkin saya masih bisa pertimbangkan untuk menunggu kamu datang menolongnya!”
Ronal tertawa terbahak bahak dengan nada bicara yang sangat arogan.
Aron menggertakkan gigi, sesaat kemudian baru buka mulut: “Saya mohon, mohon kamu jangan menyentuh Nuri!”
“Ha Ha Ha, begitu baru benar, cepatlah datang, kesabaranku ada batasnya!”
Selesai berbicara, Ronal memutuskan sambungan teleponnya.
Hawa nafsu membunuh di tubuh Aron sudah mencapai titik *******, dia berkata kepada Jekson: “Awasi baik baik, jangan biarkan seorangpun meninggalkan tempat ini!”
“Tuan Aron, saya akan pergi bersamamu?”
Jekson merasa khawatir!
Walaupun dia tahu kemampuan Aron sangat hebat, tetapi lawan sudah membuat persiapan yang khusus menunggunya datang, sehingga kepergiannya ini sangat berbahaya!
“Tenanglah, hanya beberapa badut kecil, bukan merupakan ancaman bagiku!”
Habis berkata, dia memutar badan dan meninggalkan tempat itu!
Nandar jatuh terduduk diatas tanah sambil menatap bayangan tubuh Aron yang meninggalkan tempat itu, dia tahu anaknya bakal tamat riwayatnya kali ini.
“Tuan…..”
Bawahannya maju untuk memapahnya!
Nandar mengayunkan tangannya: “Pergilah, persiapkan upacara pemakaman untuk Tuan Muda!”