ARON

ARON
Adik Ipar Jatuh Cinta



“Tuan, ampuni saya, mohon ampuni saya, saya bersedia menyerahkan semua bahan obat berusia ratusan tahun yang ada di toko saya pada Tuan!”


Iman tidak berhenti bersujud, dia berharap dia bisa menampar dirinya dengan keras!


Sejak awal dia sudah menyadari kalau Aron bukanlah orang biasa, seharusnya ada kekuatan besar yang mendukungnya di belakang, tapi tidak disangka kekuatannya begitu besar hingga Jekson pun merupakan pengikutnya, takutnya di seluruh Provinsi Canna juga tidak banyak orang yang memiliki kekuatan seperti ini.


“Saya tidak akan mengambil bahan obatmu begitu saja, sekarang uang yang saya miliki tidak cukup, saya bisa menggantinya dengan beberapa Pil Peremajaan denganmu, saya ingin kamu membeli seluruh bahan obat berusia ratusan tahun yang ada di Kota Namae, beli sebanyak yang kamu bisa dan berapa uang yang kamu butuhkan kamu bisa mencari Kak Tedi, dan menggantinya dengan beberapa Pil Peremajaan!”


Aron tidak berniat merampoknya, dia juga tidak mau membuat transaksi sekali saja, dan dia juga mengharapkan Iman bisa menyediakan bahan obat berharga untuk waktu yang panjang kepadanya!


“Pil…..pil peremajaan?” Iman mengangkat kepalanya dan menatap Aron dengan kaget : “Lantas…..lantas…..


“Benar, sayalah yang membuat Pil Peremajaan, jadi kalian juga tidak perlu menghabiskan waktu untuk meneliti Pil Peremajaan lagi, selain saya tidak ada orang lain yang bisa membuatnya!”


Aron tahu apa yang ingin Iman katakan, jadi dia langsung mengangguk.


“Tidak berani, tidak berani…..”


Wajah Iman menjadi merah!


“Sudah, bangunlah!”


Aron mengibaskan tangannya dan menyuruh Iman berdiri!


Iman bergegas menyuruh bawahannya membawakan seluruh bahan obat berusia ratusan tahun yang ada di tokonya kepada Aron, dan meminta Aron membawanya!


“Tu….tuan…..”


Setelah berjalan keluar dari Rumah Herbal, Tedi ingin berbicara pada Aron, tapi pada saat itu dia tidak tahu bagaimana dia harus menyapa Aron!


Sejak awal dia menganggap dirinya sebagai kakak dan menyapa Aron begitu saja, karena dia mengira ini adalah wilayahnya dan dia menjadi seorang saudara yang bisa membantu Aron!


Namun saat ini, Tedi sadar kalau kemampuannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Aron, dan saat itu dia menjadi canggung dan tidak tahu bagaimana cara memanggil Aron.


“Ada apa Kak Tedi?”


“Oh, saya…saya ingin bertanya, apa sebenarnya Pil Peremajaan, lalu…lalu orang ini benar-benar Tuan Jekson dari Kota Sanir?”


Tedi berkata dan melirik ke arah Jekson diam-diam.


Setelah sering menghabiskan waktu dengan Jekson, Tedi tidak menyadari kalau Ketua Mafia di Kota Sanur adalah orang yang begitu mudah didekati!


“Kenapa? Apa Saudara Tedi rasa saya tidak kelihatan seperti itu?”


Jekson tersenyum pada Tedi.


“Kelihatan, kelihatan…..” Tedi bergegas mengangguk, dan tidak berani bertatapan dengan Jekson!


Aron tersenyum dan memperkenalkan Pil Peremajaan pada Tedi, dan dia juga berencana menjadikan Tedi sebagai distributor Pil Peremajaan di Kota Namae, dan mengenai bahan obat untuk membuat Pil Peremajaan juga dia serahkan kepada Tedi!


Bahan obat umum seperti itu bisa ditemukan di setiap sudut Kota Namae, dan sangat mudah ditemukan!


​Setelah mendengarkan penjelasan Aron, Tedi seketika bersemangat, kalau dia bisa menjadi distributor Pil Peremajaan di Kota Namae, maka uang akan mengalir tanpa henti padanya!


“Saudara Aron, tenang saja, mengenai masalah bahan obat saya pasti akan menyediakan bahan obat dengan kualitas terbaik!” Tedi berkata dengan bahagia : “Sekarang sudah hampir jam makan siang, ayo kita makan bersama, saya akan mentraktirmu ke hotel terbesar yang ada disini….”


Selama perjalanan Yuri terus menatap Aron, di usianya saat ini adalah usia ketika perasaan dalam hatinya sedang tumbuh, dan dia menatap Aron seperti pria yang sangat spesial, sangat maskulin!


Kalau Aron bukan pacarnya Nuri, dia pasti berinisiatif mengejarnya!


“Kak Nuri, kamu benar-benar sangat bahagia, bisa mendapatkan pacar seperti ini…..”


Tatapan mata Yuri dipenuhi dengan kekaguman.


​Setelah tiba di hotel, Tedi memesan hidangan semeja dan menelpon Yumi agar dia ikut makan bersama sepulang kerja!


Yumi datang dengan pakaian formal dan menenteng tasnya, saat melihat meja yang penuh dengan hidangan dia mengernyitkan keningnya : “Hanya beberapa orang kenapa memesan begitu banyak hidangan, bukankah ini terlalu boros?”