
“Mata Pemimpin Bu Xu masih terbuka saat dia meninggal, saya sudah mencoba membuatnya memejamkan matanya tapi tidak bisa!”
Kurniawan tidak berani menatap langsung ke arah Pemimpin Bu Xu dan berkata dengan wajah sedih!
Aron berjongkok perlahan dan menggunakan satu tangannya untuk mengusap pelan wajah Pemimpin Bu Xu : “Pemimpin Bu Xu, tenang saja, saya pasti akan membalaskan dendammu!”
Dan setelah Aron menarik tangannya kembali, sepasang mata Pemimpin Bu Xu sudah terpejam.
Aron berdiri dan melihat ke sekeliling aula utama dan tidak menemukan mayat lainnya, lalu bertanya : “Dimana Wenny, putrinya Pemimpin Bu Xu?”
Kurniawan menggelengkan kepalanya, sedangkan Willy membuka mulut : “Tidak tahu kemana perginya, saat kami mendapatkan kabar, kami langsung mengunci TKP dan tidak ada orang lain yang menyentuh TKP, keadaan terlihat sama seperti saat ini!”
“Sebenarnya siapa yang begitu kejam dan sadis sampai-sampai bisa membantai sebuah Kuil Tao!”
Kurniawan berkata sambil menggertakkan giginya.
Pada saat itu di benak Aron sudah terpikirkan satu orang, namun karena belum memiliki bukti, Aron juga tidak berani memberi komentar!
“Tuan Kurniawan tenang saja, saya sudah meminta Departemen Investigasi untuk memeriksa, tidak lama lagi kita akan tahu siapa pembunuhnya!”
Willy juga berkata dengan wajah sedih.
“Walikota Willy, minta semua orang untuk berhenti menyelidiki masalah ini, ada beberapa masalah yang tidak akan bisa diselidiki oleh orang biasa, masalah ini serahkan saja kepadaku!”
Aron tahu kalau ini bukan perbuatan yang dilakukan oleh orang biasa!
Willy seketika tercengang dan setelah menatap Aron dia menganggukkan kepalanya : “Baik, kalau begitu saya akan menyuruh orang-orang dari Departemen Investigasi untuk bubar!”
Tepat ketika Willy selesai berbicara, ada suara keras di luar.
Aron dan yang lainnya bergegas keluar, dan saat tiba di depan pintu Kuil Tao, mereka melihat seseorang yang mengenakan jubah Tao, Pemimpin Wu Wei yang basah kuyup sedang berunding dengan detektif!
“Biarkan dia masuk…..”
Bentak Aron!
“Adik seperguruan, adik seperguruan………”
Pemimpin Wu Wei berteriak dengan sedih dan bergegas masuk ke dalam kuil!
Aron yang melihat Pemimpin Wu Wei begitu sedih juga merasakan kesedihan dalam hatinya!
Aron dan Kurniawan mengikutinya ke dalam, sedangkan Willy hanya membiarkan beberapa orang yang membersihkan TKP untuk tetap tinggal, dan membubarkan yang lainnya, lalu dia juga berpesan kepada mereka agar tidak membocorkan kejadian hari ini!
“Adik seperguruan, adi seperguruan…..bangun, bangunlah…..”
Di tengah aula utama, Pemimpin Wu Wei memeluk mayat Pemimpin Bu Xu dan menangis tersedu-sedu!
Aron dan yang lainnya berdiri dengan diam di samping, tidak ada yang berbicara, karena kata-kata penghiburan juga tidak ada artinya saat ini.
Setelah cukup lama menangis, Pemimpin Wu Wei melepaskan mayat Pemimpin Bu Xu, aura pembunuh terlintas di matanya, dia menggertakkan giginya dan berkata : “Baka, saya tidak akan pernah berdamai denganmu, kalau tidak membunuhmu saya bersumpah tidak akan menjadi manusia…….”
Mendengar Pemimpin Wu Wei mengungkit Pemimpin Baka, Aron sudah membuat kesimpulan dalam hatinya, orang yang terlintas di pikirannya tadi juga Pemimpin Baka, saat membunuh Riko dan mendapatkan Papan Tujuh Bintang, dia tahu kalau Pemimpin Baka tidak akan tinggal diam karena benda pusaka seperti Papan Tujuh Bintang sangat jarang ditemui di dunia manusia.
Namun Aron tidak menyangka Pemimpin Baka akan begitu sadis, dan tidak mencari masalah dengan dirinya melainkan langsung membantai seluruh Yayasan Sahara!
“Pemimpin Wu Wei, bagaimana kamu bisa tahu kalau Pemimpin Baka yang melakukan ini?”
Kurniawan bertanya dengan waspada.
“Adik seperguruanku yang berkhianat itulah yang memberitahuku, kalau tidak saya juga tidak akan bisa sampai secepat ini, kita membunuh Riko, jadi adik seperguruanku yang berkhianat itu mempengaruhi Pemimpin Baka untuk membantai seluruh Yayasan Sahara untuk membalaskan dendam muridnya, dan setelah itu dia memberitahukan padaku dan menyuruhku membereskan mayat…..”
Pemimpin Wu Wei menggertakkan giginya dan tatapannya dipenuhi dengan keinginan membunuh.
“Benar-benar kehilangan akal sehat, ini bukan lagi perbuatan yang dilakukan oleh seseorang yang mengaku sebagai pemimpin kuil!”
Willy yang mendengarnya juga kaget.