ARON

ARON
Memenangkan Pelelangan



“Bukankah waktu itu kamu mengatakan dia pria yang dinafkahi oleh wanita, kenapa sekarang malah mengatakan dia tampan!”


Nuri tersenyum namun dia juga sedikit terkejut bagaimana Aron bisa mempunyai banyak uang, namun dia sudah mempersiapkannya, apabila Aron tidak memiliki uang, setelah berhasil memenangkan pelelangan Teratai Salju, dia akan menelpon Jhonat untuk meminta uang, sebagai orang terkaya di Kota Sanur, Keluarga Utomo tidak akan kesulitan mengeluarkan beberapa ratus miliar.


Iman menatap Aron dengan tatapan kebencian, kedua matanya menyipit dan raut wajahnya mulai terlihat dingin.


“Dua ratus sepuluh miliar….”


Iman menggertakkan giginya dan menatap erat pada Aron!


“Tiga ratus miliar!” Tidak menunggu Iman selesai bicara, Aron kembali mengangkat papan nomornya!


Kali ini semua orang yang hadir tercengang, semuanya mulai penasaran dengan identitas Aron, sedangkan penyelenggara mulai tersenyum dan berkata dengan suara keras : “Tuan ini sudah menawar di harga tiga ratus miliar, tiga ratus miliar, apakah tidak ada lagi yang mau menawar? Saya lihat Tuan ini sepertinya tidak berasal dari Kota Namae, lantas penduduk Kota Namae tidak ada yang ingin berebut? Kalau sampai terdengar di luar maka tidak ada lagi yang mau menyebut Kota Namae sebagai Kota Obat!


Bisa dibilang penyelenggara ini sangat hebat, beberapa kata yang dia lontarkan berhasil memprovokasi Aron dan Iman, tadi Iman sudah mengatakan kalau dia takut Kota Namae akan dipermalukan, dan sekarang penyelenggara kembali membahasnya, kalau Iman tidak berebut bukankah itu mempermalukan dirinya sendiri?


Aron melirik penyelenggara yang ada di atas panggung dan mencaci maki dirinya dalam hati, orang ini benar-benar pintar membuat momentum untuk menabur perselisihan agar orang-orang bertarung dan dengan seperti itu dia baru bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan!


​“Tiga ratus sepuluh miliar…..”


Iman menggertakkan giginya dengan keras dan kembali mengangkat papan nomornya!


Aron tidak ragu-ragu, dan saat hendak mengangkat papan nomornya Tedi menghentikannya!


“Saudara Aron, bahkan jika Teratai Salju itu benar-benar berusia ribuan tahun ini sudah tidak sepadan dengan harganya, jangan ditawar lagi!”


Tedi membujuk Aron.


Harga pada saat ini sudah terlalu tinggi dan tidak lagi cocok untuk membelinya, kalaupun berhasil didapatkan akan menimbulkan kerugian!


“Kak Tedi, saya memerlukan Teratai Salju ini!” Aron berkata dan kembali mengangkat papan nomornya : “Tiga ratus lima puluh miliar!”


Wah…….


Meskipun orang-orang itu tidak terlalu paham dengan bahan-bahan obat tapi mereka tahu kalau harga saat ini sudah melebihi harga sewajarnya dan sudah terlalu mahal untuk membeli Teratai Salju itu, apalagi Teratai Salju berusia ribuan tahun itu sudah direndam menjadi arak.


Lantas pemuda ini memiliki dendam terhadap Iman dan sengaja melawan Iman?


Semua orang memiliki pemikiran seperti ini dalam hati mereka, karena selain alasan ini mereka tidak bisa memikirkan alasan lainnya!


Iman sendiri juga berpikir demikian, keningnya mengerut erat dan sepasang matanya menatap Aron dengan marah : “Bocah, kamu sengaja melawanku bukan?”


“Saya tidak memiliki dendam padamu, kenapa saya harus melawanmu? Ini adalah peraturan pelelangan, harga yang paling tinggi akan menang, kalau Tuan Hardi suka, kamu boleh terus meningkatkan harga!”


Aron berkata sambil tersenyum!


“Hm! Ini adalah Kota Namae, jangan merasa bangga….


Iman mendengus dan membawa orangnya dan pergi!


Iman pergi dengan marah, dan para hadirin menatap Aron dengan tatapan kasihan, berani menyinggung Iman di Kota Namae maka dia tidak akan berakhir dengan baik!


“Tiga ratus lima puluh miliar, Teratai Salju berusia ribuan tahun ini dimenangkan oleh Tuan ini……”


Penyelenggara mengetuk palu dengan bahagia dan menyerahkan Teratai Salju itu dengan sopan kepada Aron!


Aron meraih Teratai Salju itu dan mentransferkan uang itu ke rekening pelelangan, lalu dia, Tedi dan yang lainnya pergi, tujuannya datang kemari hari ini sudah berhasil dicapai dan tidak ada gunanya lagi tetap berada di pelelangan!


“Saudara Aron, kali ini kamu sudah menyinggung Iman, saya takut dia tidak akan membiarkannya begitu saja, selain itu transaksi kalian juga sepertinya tidak akan bisa dilanjutkan lagi!”


Setelah berjalan keluar dari pelelangan, Tedi berkata dengan cemas!