ARON

ARON
Cantik-cantik Judes



Saat Aron baru keluar dari pintu, deretan mobil penjemput pengantin langsung memblokir jalan keluarnya!


Seorang pria muda yang mengenakan setelan jas dan sepatu kulit turun dari mobil pengantin dan membawa buket bunga ditangannya, pria itu adalah Ronal!


Ronal yang melihat Aron sedikit terkejut, tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak.


“Aron., kamu belum mati..?? benar-benar kebetulan sekali, bagaimana kalau kamu ikut menghadiri acara pernikahanku dan Santi?”


Ronal menatap Aron dengan penuh penghinaan, tatapan mengejek terlihat di matanya!


Aron melirik Ronal dengan dingin, dia berbalik dan ingin pergi, dia tidak ingin menghabiskan waktu untuk mendengar omong kosong orang seperti ini!


“Jangan pergi !” siapa sangka Ronal menghalangi Aron : “Apa kamu tidak punya uang untuk memberi amplop ? Tidak apa-apa, kamu tidak memberi kami amplop pun kamu boleh makan dan minum sepuasnya, acara pernikahan kami dilangsungkan di Hotel Sadewa, kalau kamu tidak menggunakan kesempatan ini mungkin seumur hidup ini kamu tidak akan punya kesempatan untuk makan disan lagi!”


Ronal berkata sambil tertawa, dia bahkan mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk wajah Aron.


Aron menepis tangan Ronal dengan kuat!


“Bodoh, bisa-bisanya merasa puas menikahi barang bekas, bekas mainan ku pula.”


Aron mencibir.


Walaupun Aron tidak pernah menyentuh Santi, bahkan bergandeng tangan saja tidak pernah, tapi dia sengaja mengatakan hal itu agar membuat Ronal merasa jijik sekalian menjatuhkan Santi.


Ronal yang mendengar itu langsung terkejut dan menatap kearah Santi!


Santi pernah berkata padanya kalau dia dan Aron bahkan tidak pernah berpegangan


​tangan, lalu apa maksud dari ucapan Aron?


Sana yang melihat Ronal berjalan kearahnya langsung panik, dia berteriak pada Aron : “Aron, bicara apa kamu? Siapa yang kamu maksud mainan bekasmu? Dengan sifat sok sucimu itu, saya bahkan enggan memegang tanganmu!”


Jessi juga panik, dia langsung memaki Aron : “Aron, jangan berkata sembarangan karena kamu tidak bisa mendapatkan Santi, dengan sifat sok sucimu mana mungkin putriku disentuh olehmu!”


“Ronal, jangan percaya pada omong kosongnya, dia hanya sedang mencoba membuatmu jijik.”


Jessi langsung menjelaskan pada Ronal, dia dengan susah payah mendapatkan seorang menantu emas, tidak boleh sampai perkataan Aron merusak semuanya.


“Bibi, tenanglah, saya tidak akan percaya padanya.”


Ronal juga bukan orang bodoh, tentu saja dia tidak akan percaya begitu saja pada omongan Aron!


“Percaya atau tidak, terserah kamu!”


Aron malas berbasabasi dengan Ronal, dia langsung pergi melewatinya begitu saja!


“Tunggu!”


Ronal berteriak pada Aron : “Sebaiknya kamu jaga mulutmu itu, jangan berani berkata sembarangan tentang istriku, atau rasakan akibatnya!”


Ronal takut Aron akan berkata sembarangan diluar dan merusak nama baik keluarga Jhonson!


“Hehe…ini mulutku, berkata apa tentu saja terserah padaku, kenapa kamu yang ribut?”


Aron menatap Ronal dengan dingin : “Sebaliknya, kamu lah yang harus berhati-hati, jangan sampai suatu hari nanti kamu bahkan tidak tahu kenapa kamu mati!”


Ronal yang melihat tatapan sedingin es dari Aron langsung gelisah, hatinya merasakan sedikit ketakutan.


Tapi dalam sekejap, Ronal merasa dirinya sedang dipermalukan, kedua matanya langsung memelototi Aron : “Bajingan, kalau


​kamu tidak takut mati, coba saja, jangan sampai pada akhirnya kamu malah bersujud memohon ampun padaku!”


Wajah Ronal dipenuhi dengan amarah, kalau saja hari ini bukan hari pernikahannya dia pasti sudah menghabisi Aron!


“Siapa yang akan bersujud memohon ampun masih belum bisa dipastikan kan? Kita lihat saja nanti!”


Aron menatap Ronal.


“Ronal, waktunya sudah tiba, sudah, kita tidak usah hiraukan si miskin ini lagi, dasar sinting!”


Jessi memelototi Aron dengan kejam!


Dan Ronal yang memegang buket bunga berjalan masuk kedalam rumah diikuti sebaris orang!


Aron yang menatap punggung Ronal tiba-tiba menjentikkan jarinya, seberkas cahaya perak tiba-tiba masuk ke tubuh Ronal.


Ronal gemetar sesaat , tapi dia tidak memperdulikannya, dan melanjutkan melangkah masuk kedalam rumah.


​“Saya ingin lihat apakah kamu akan datang bersujud memohon padaku!”


Aron menyeringai, dia membalikkan badannya dan pergi menuju Hotel.


………………


Didepan pintu utama Hotel Sadewa!


Jhonatan berdiri didepan pintu dan dia sendiri yang menunggu Aron secara langsung, orang-orang yang memasuki Hotel Surya dan melihat Jhonatan langsung membicarakannya.


“Bukankan itu Tuan Utomo, kenapa berdiri didepan pintu hotel? Sepertinya sedang menunggu seseorang, entah siapa orang hebat yang akan datang sampai-sampai Tuan Utomo sendiri yang menunggunya langsung!”


“Dengar-dengar putra Keluarga Jhonson akan menikah dan diselenggarakan disini, apakah Tuan Utomo menunggu Keluarga Jhonson?”


“Bisa jadi, lagipula Keluarga Jhonson juga termasuk orang kaya, mereka bisa saja mempunyai kehormatan semacam ini.”


Orang-orang yang lewat berjalan memasuki hotel sambil membicarakan hal ini,


​sedangkan Jhonatan masih berdiri didepan pintu, dia terus menatap arlojinya berulang-ulang, wajahnya sudah terlihat tidak sabar.


“Ayah, saya rasa bocah itu hanya omong kosong, dia berkata kalau paru-paru kirim terluka, dan akan membahayakan nyawamu, jelas-jelas itu hanya omong kosong kan, kamu itu hanya batuk pilek, paling-paling hanya radang paru-paru , sudahlah jangan ditunggu lagi, saya temani kamu ke rumah sakit saja yuk!”


Nuri terus berusaha membujuk Jhonatan.


Jhonatan sudah menunggu hampir setengah jam disini, tapi Aron masih belum kelihatan, Nuri merasa Aron hanya omong kosong, dan Jhonatan pun tidak pernah menceritakan tentang luka di paru-paru kirinya pada mereka, dan sebelumnya hal seperti ini tidak pernah terjadi.


“Nuri, kamu tidak mengerti hal ini, lukaku ini bahkan rumah sakit pun tidak bisa menanganinya, penyakit tersembunyi ku ini sudah ada hampir dua puluh tahun lebih, dan saya tidak pernah menceritakannya kepada kalian karena takut kalian akan khawatir….”


Jhonatan menghela nafas, wajahnya tampak serius.


Nuri yang mendengarnya langsung tercengang, dia segera menarik tangan ayahnya : “Ayah, ini….apa yang terjadi sebenarnya? Kamu jangan menakutiku, jangan menakutiku…..Saya sudah menelpon Dokter Haris, dia akan segera kemari.”


Nuri panik, disaat dia masih sangat kecil dia sudah tidak pernah bertemu dengan ibunya, dia dibesarkan langsung oleh ayahnya, mereka saling bergantung satu sama lain, kalau Jhonatan sampai kenapa-kenapa, maka Nuri pun tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidupnya.


“Terlalu panjang untuk diceritakan, kalau ada waktu ayah akan menceritakan pelan-pelan padamu…..”


Selesai berkata, Jhonatan kembali melirik arloji ditangannya, dan celingak-celinguk menatap disekitarnya.


“Adik, akhirnya kamu datang juga, ayo ayo silahkan masuk….”


Jhonatan menarik tangan Aron, hatinya merasa lega.


“Pak Jhonatan, saya sudah berjanji padamu, tentu akan menepatinya.”


Aron tahu kalau Jhonatan takut Aron tidak akan datang.


Jhonatan terlihat sedikit canggung, dia tersenyum-senyum : “Ayo, dik, silahkan, silahkan…..”


Jhonatan membungkukkan badannya cukup rendah, membuat orang-orang yang ada di Hotel menebak-nebak status Aron.


Nuri melihat punggung Aron yang masih lurus, sedangkan ayahnya membungkukkan punggungnya begitu rendah, dia langsung mengamuk : “Apa masalahmu sebenarnya bajingan? Ayahku sudah menunggumu di luar


​selama setengah jam lebih, dan coba kamu perhatikan raut wajah ayahku, semakin lama semakin jelek, sebenarnya kamu bisa menyembuhkannya atau tidak?”


Nuri memang sudah memiliki kesan pertama yang buruk terhadap Aron, awalnya saat Aron mengontrol penyakit Jhonatan, Nuri masih merasa kaget, dia mengira kalau Aron memang punya keahlian.


Tapi tidak berselang lama, rona merah di wajah Jhonatan semakin lama terlihat semakin jelas, hal ini membuat Nuri merasa kalau Aron adalah seorang penipu, dan bisa saja dia berniat menipu uang.


“Nuri, jangan berkata seperti itu, cepat minta maaf pada Adik…..”


Jhonatan menatap Nuri dengan wajah serius, dan memarahinya.


“Saya tidak mau meminta maaf kepadanya, lihat saja perawakannya itu, sama sekali tidak terlihat seperti seorang tabib, saya rasa dia ini memang seorang penipu…..”


Nuri menatap Aron dengan tatapan serius, dia merasa Jhonatan menolak untuk pergi ke rumah sakit dikarenakan oleh Aron, Jhonatan yang melihat putrinya Nuri tidak mematuhinya menjadi marah, wajahnya semakin memerah dan nafasnya mulai terengah-engah.


“ uhuk..huk…huuk…”


Jhonatan bahkan tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun, dan langsung terbatuk-batuk!


“Ayah…….”


Nuri menjadi panik dan langsung memapah Jhonatan!


Tapi Jhonatan malah batuk darah, Nuri yang melihat segumpal darah berwarna kehitaman langsung terkejut.


Aron yang melihat gumpalan darah itu mengernyitkan keningnya, sepertinya luka dalamnya Jhonatan lebih parah daripada yang dia bayangkan, Aron tidak tahu bagaimana cara Jhonatan bisa bertahan sampai sekarang ini dengan luka separah itu.


“Cepat bawa Ayahmu ke kamar…..”


Aron berkata pada Nuri yang sudah panik.


Tapi Nuri tercengang, dia sama sekali tidak


​bergerak karena dia tidak mempercayai Aron!


Aron yang melihat Nuri membatu mengernyitkan keningnya, dan berkata dengan tegas : “Kamu ingin melihat Ayahmu mati begitu saja ya?”


Nuri terkejut oleh perkataan Aron, dan segera memapah Jhonatan dan membantunya memasuki kamar VIP di hotel!


Setelah memasuki kamar VIP, Aron langsung mendengarkan denyut nadi Jhonatan, wajahnya langsung menjadi serius.


Dan saat Aron baru hendak mengobati Jhonatan, pintu kamar VIP terbuka, seorang dokter yang mengenakan jubah putih dan berkacamata melangkah masuk.


“Dokter Haris, cepat, cepat periksa ayahku, dia baru saja batuk darah!”


Nuri yang melihat haris seketika seperti melihat dewa penolongnya.


“Apa? Coba saya periksa…..”


Dokter haris terkejut, dia segera membuka tas dokternya dengan panik!


“Minggir….”


Nuri mendorong Aron ke samping, lalu berkata kepada Dokter haris: “Dokter haris, sekarang hidup dan mati ayahku ada di tangan mu, kamu harus menyelamatkannya!”


Saat ini, Jhonatan sudah mulai kehilangan kesadarannya, nafasnya sudah sangat lemah.


“Nona Nuri, tenanglah, saya akan melakukan yang terbaik!”


Dokter haris berkata sambil mulai memeriksa denyut nadi Jhonatan!


Namun raut wajahnya semakin lama semakin serius, Nuri yang melihat perubahan ekspresi Dokter haris langsung panik, tapi dia juga tidak berani bersuara.


“Nona Nuri, paru-paru dan limpa Tuan Jhonatan sudah terluka, dan menyebabkan penyakit tersembunyi, penyakit kronis seperti ini hanya bisa disembuhkan dengan perlahan-lahan, namun tampaknya ada orang yang merangsang kekebalan tubuh Tuan Jhonatan, meskipun tampaknya efektif untuk sementara, namun sebenarnya malah memperparah kondisi Tuan Jhonatan, bisa


disimpulkan sekarang Tuan Jhonatan sedang berada dalam masa kritis, apakah sebelum saya datang, ada orang yang membantu Tuan Jhonatan memeriksakan penyakitnya?”


Dokter haris berkata dengan serius.


Mendengar hal itu Nuri langsung mengamuk dan langsung menatap kearah Aron yang ada disamping, tadi Aron yang membantu ayahnya memeriksa penyakit, dan seperti yang dikatakan oleh Dokter haris, ayahnya memang terlihat lebih baik untuk sementara, namun tidak disangka itu malah memperparah penyakitnya.


“Dasar penipu, kalau sampai terjadi apa-apa pada ayahku, saya tidak akan mengampuni mu!”


Nuri berteriak pada Aron, wajahnya terlihat penuh amarah, kalau bukan karena masih memapah ayahnya, dia pasti sudah turun tangan memukuli Aron!


“Atas dasar apa kamu mengatakan saya penipu? Apa saya menipu uangmu? Kalau bukan karena saya, ayahmu sudah sejak tadi menjadi mayat, tidak punya etika!”


Aron mendengus, dia sangat tidak menyukai


Nuri, padahal Nuri seorang gadis dari keluarga terkemuka, tapi yang keluar dari mulutnya semua adalah perkataan yang tidak baik, sama sekali tidak memiliki etika dan klemah lembutanseperti seorang Nona Muda!


“Kamu……..”


Nuri sudah sangat kesal, tapi saat ini dia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan Aron, keselamatan ayahnya jauh lebih penting.


“Dokter haris, kumohon padamu cepat pikirkan cara untuk menyelamatkan ayahku, kumohon…..”


Nuri sudah hampir menangis.


Dokter haris membuka tas dokternya dan mengeluarkan sebuah pil berwarna hitam dan memasukkannya ke mulut Jhonatan, lalu mengeluarkan sebungkus jarum perak dan menusukkannya di beberapa titik akupunktur pada tubuh Jhonatan!


“Kamu melakukan ini, bukan membantunya, malah sedang membahayakannya…..”


Aron memperhatikan teknik akupunktur Dokter haris dan berkata dengan tenang.


Dokter haris mengernyitkan keningnya : “Apa maksud mu? Kamu sedang meragukan ku? Lantas apakah kamu juga bisa akupunktur?”


Akupunktur adalah pengobatan tradisional yang berasal dari negeri China, bukan pengobatan ala Barat, yang bisa dikuasai dalam beberapa tahun, pengobatan akupunktur dan pengobatan tradisional sulit untuk dikuasai, bahkan dipelajari selama belasan tahun pun tidak menjamin akan bisa menguasainya, bisa saja menghabiskan puluhan tahun, bahkan ada orang yang mempelajarinya seumur hidup, dan mereka juga tidak berani mengatakan diri mereka mahir!


Tapi, Aron yang terlihat masih berusia dua puluhan tahun malah berani meragukannya, walaupun Aron mempelajari akupunktur bahkan sejak berada di rahim ibunya, bisa sehebat apa teknik pengobatannya.