
"Cucu ini menyapa nenek dan kakek," Ucap Sima Junke dengan hormat menyapa, dia begitu tenang seakan kejadian sebesar ini tidak sedikitpun mempengaruhinya.
Melihat kedatangan cucu kesayangannya, Aisin Fei menjadi begitu membara untuk meluapkan keluhan amarahnya kepada Sima Junke.
"A Jun, lihatlah bencana ini pasti diperbuat oleh para badebah s**l*n itu, sungguh lancang!" Ucap Nyonya tua dengan amarah menunjuk kearah api yang sedang berusaha dipadamkan, banyak tambahan orang yang dibawa oleh Sima Junke membuat api dengan lebih cepat mengecil dan terkendali.
"Nenek, tenanglah!" Ucap Sima Junke mendekati dan mengelus punggung sang nenek.
"Lihat! Api itu tidak membakar semua isi lumbung, sebagian masih dapat diselamatkan." Lanjut Sima Junke dengan menolehkan wajah kearah letak lumbung pemerintah.
Asap hitam masih mengepul tetapi api yang membumbung tinggi sudah padam. Kemunculan api terletak dari arah barat dan disudut itulah yang memiliki ruang lebih lebar, hanya sedikit pangan yang dekat dari nyalanya api.
Tetapi, kemungkinan buruk yang dicemaskan oleh semua orang adalah lumbung pemerintahan hangus tak tersisa dan kebakaran menyebar jika saja kejadian seperti ini terjadi disiang hari dan air di oasis pemerintahan sedang kering.
"Dengarkan cucu -mu, sudah tua jangan membuat A Jun lebih repot disaat seperti ini dia juga harus menenangkan emosimu yang tak stabil itu." Cibir Sima Hong
"Humph, tidak bisakah kau diam? Selalu saja bilang aku ini tua, apakah kau lupa? kau ini juga kakek yang keriput." Sentak Aisin Fe mendengus kesal
Sima Junke hanya tersenyum tipis saat melihat interaksi kakek dan neneknya yang selalu berbeda pendapat tetapi saling mencintai.
"Tianyi menyapa Bibi dan Paman tua." Ucap Aisin Tianyi mengintrupsi, dia juga datang untuk melihat karena ini adalah kejadian besar yang mungkin dapat mempengaruhi Nanbao -nya.
Sima Hong menyambut dengan hangat, sangat berbeda dari Aisin Fei yang malah mendengus dan memalingkan wajah. Aisin Tianyi tidak terpengaruh dengan tindakan Aisin Fei, pria itu sepertinya sudah terbiasa dan dapat menahan emosi kekesalan kepada nenek tua ini.
Setelah beberapa saat Kangjian menghadap mereka untuk melaporkan situasi didalam isi lumbung pemerintahan.
"Bagaimana? Apakah sebagian pangan dapat diselamatkan? Berapa banyak kerugian dari pangan yang hangus terbakar?" Tanya Aisin Fei dengan tergesa disaat Kangjian baru selesai memberi hormat.
"Jawab, Nyonya tua. Sebagian besar pangan dapat terselamatkan dari nyala -nya api. Tetapi, ada sedikit keanehan dari pangan itu sendiri." Jelas Kangjian dengan lugas walaupun ada sedikit jejak keraguan terdengar jelas diakhir kalimatnya.
"Keanehan? Apa maksudmu?!" Tanya Nyonya tua dengan tidak sabaran.
Sima Hong dan Aisin Tianyi hanya diam untuk mendengarkan, tetapi tidak memungkiri bahwa kedua pria yang berbeda usia itu juga penasaran, dapat terlihat dari alis mereka yang bertaut bingung.
Sedangkan wajah Sima Junke sangat datar, dia begitu tenang seperti sudah mengetahui dengan jelas apa yang sedang terjadi.
"Salah satu karung yang seharusnya berisi pangan tidak sengaja terbuka oleh pengawal, dan isi didalamnya sangat mengejutkan kami. Karung yang berisi pangan berubah dengan ajaib menjadi pasir dan kerikil."Jelas Kangjian dengan lugas, pemilihan kata yang begitu cerdas menekankan beberapa sumber masalah dan tidak membawa nama seseorang tetapi perkataannya sudah cukup menanamkan benih kecurigaan.
"Bagaimana bisa?! Sudahkah kau memeriksa lebih jelas?" Sentak Nyonya tua dengan tajam, ekspresinya semakin suram karena amarah membuat Sima Hong memegang pundak istrinya untuk memberi sedikit ketenangan.
Kangjian menepuk tangannya pelan, memberi kode kepada para bawahannya untuk membawa barang bukti nyata dari ucapannya.
Beberapa karung diletakkan didepan mereka dan seorang pengawal menyobek satu per-satu karung kain itu dengan mata pedangnya. 'Pfst,' pasir dan kerikil kecil mengalir jatuh dari dalam.
"Kami semua berusaha menelusuri dengan membuka beberapa yang lainnya, sebagian besar diantara pangan-pangan itu berisi pasir dan kerikil." Ucap Kangjian dengan tenang
Tubuh Aisin Fei limbung kebelakang, hampir saja jatuh jika tidak ditahan oleh Sima Hong, sepertinya nenek tua itu sangat terkejut dengan mata yang terbelalak marah.
"Bagaimana mungkin?" Gumam Aisin Fei dengan pelan nyaris seperti bisikan.
Bagaimana mungkin lumbung yang berisi puluhan atau mungkin ratusan ton pangan darurat berubah menjadi pasir dan kerikil. Kecuali, seseorang menukarnya untuk mencari keuntungan.
"Cepat panggil—, Tuoba Lie untuk menghadapku! Bawa atau seret dia, Sekarang cepat!" Perintah keras Aisin Fei dengan tersedak amarah diucapannya yang nyaris menggila.
Tentu saja, orang pertama yang dicari mengenai masalah ini adalah Pejabat Tuoba yang menangani sumber daya dan pendapatan Nanbao.
Setiap tahunnya Tuoba Lie akan mengurus pangan yang akan masuk kedalam lumbung pemerintahan untuk dicatat kedalam laporan pendapatan keluar karena membeli pangan-pangan ini dari salah satu pedagang kaya membayarnya dengan uang pajak dari rakyat.
Saat Tuoba Lie datang menghadap, ekspresi tenang masih menghiasi wajah paruh bayanya, tidak ada jejak kekhawatiran membuat orang akan terheran bertanya-tanya, apakah dia belum mengetahui dengan jelas krisis yang menjulang ke cakrawala untuknya ini.
"Tuoba Lie, sudahkah kau mengetahui kesalahanmu?" Ucap Aisin Fei dengan rendah tetapi aura membunuh terpancar membuat seseorang yang mendengarnya bergidik ngeri.
Aisin Fei sedang duduk dengan angkuh diatas kursi kayu yang disiapkan untuknya karena nenek tua ini tidak dapat lagi menopang dirinya sendiri karena amarah.
Mereka semua masih berada tidak jauh dari bangunan lumbung yang terbakar.
"Mohon Nyonya jelaskan." Balas Tuoba Lie dengan sopan dan singkat meminta untuk dijelaskan letak kesalahannya. Benar-benar menjengkelkan!
"Setidaknya kau tidak langsung menyangkal," Ucap Sima Junke dengan tersenyum licik, dia sejak tadi dalam diam mengamati Tuoba Lie.
"Seseorang," Panggil Sima Junke memperintahkan pengawal membawa karung yang berisi pasir dan kerikil bebatuan itu.
Pancaran mata Tuoba Lie sekilas bergetar tetapi dengan mudah digantikan dengan ekspresi raut wajah kekhawatiran dan ketakutan. Seakan menjelaskan bahwa dia tidak mengetahui apapun dan takut untuk menanggapi tuduhan kejam ini.
'Brukk,' Tuoba Lie berlutut dan mengetukan dahinya ketanah yang keras selama beberapa kali membuat darah segar sedikit mengalir dari dahinya.
"Nyonya tua, saya tidak bersalah. Tuduhan kejam ini, saya tidak dapat menanggungnya." Ucap Tuoba Lie dengan keras untuk membuktikan ketidakbersalahan dirinya.
"Ku kira setidaknya kau memiliki harga diri yang tinggi untuk berlutut dibalik semua ambisi liarmu, tetapi sepertinya dugaanku salah." Ucap Sima Junke dengan menggelengkan wajah seakan kecewa, dia seperti menambahkan api untuk memprovokasi.
"Tuan muda, apa maksudmu?" Tanya Tuoba Lie dengan kebingungan yang pura-pura.
"Nenek, kita tidak dapat membiarkan ini dengan mudah, bukankah begitu Tianyi?" Ucap Sima Junke dengan menyeret Aisin Tianyi kedalam.
"Benar, kejadian ini terlalu rumit. Kita tidak dapat bertindak gegabah, mungkin kita dapat menahannya terlebih dahulu dan membahas saat pagi nanti didalam pengadilan dengan para pejabat lainnya." Ucap Aisin Tianyi dengan cepat menyesuaikan memberi saran yang bijak.
"Tentu saja, aku tidak akan melepaskan dengan mudah." Balas Aisin Fei dengan menatap tajam Tuoba Lie.
Menarik napas panjang Aisin Fei berucap dengan penuh kekecewaan dan juga amarah, "Tuoba Lie, kau sudah mengecewakanku. Semua otoritasmu sebagai pejabat Nanbao akan aku cabut kembali, dan saat ini kau berstatus sebagai tahanan. Bawa dia!"
Sejujurnya ada sedikit perasaan tidak rela untuk menghilangkan pejabat yang selalu menyokongnya ini.
"Nyonya tua, kau tidak dapat melupakan jasaku. Kau lupa? aku sudah membantumu untuk menghilangkan kekhawatiran terbesarmu yaitu Kepala Suku Aisin Boyu." Teriak Tuoba Lie karena potnya sudah pecah, dia akan melempar pot lain ke dalam kekacauan.
Ucapan Tuoba Lie membuat tubuh semua orang menegang dan pikiran menjadi linglung.
"Lancang! Seseorang, cepat bawa pejabat korup ini!" Teriak Aisin Fei dengan menggila beranjak dari duduknya dan menunjuk kearah Tuoba Lie.
Ekspresi ketakutan dan kekhawatiran menghilang dengan cepat dari wajah Tuoba Lie, digantikan dengan senyum miring dan mengejek.
Dengan cepat Tuoba Lie beranjak berdiri dengan keangkuhan yang tercetak jelas, tidak ada sedikitpun pancaran ketakutan.
"Aku tidak menyangka malam ini harus mempercepat semua rencanaku," Ucap Tuoba Lie terkekeh licik dengan santai sambil menyeka dahinya yang sedikit mengeluarkan darah dengan lengan bajunya.
"Kalian yang memaksaku," Lanjutnya dengan cepat mengambil suar dari dalam saku dan menyalakannya.
Semua masih terdiam mematung tidak mengerti karena ucapan Tuoba Lie mengenai Aisin Boyu yang sengaja dihilangkan mempengaruhi pikiran dan kesadaran mereka.
Kemudian dengan gerak cepat Tuoba Lie mengambil pedangnya yang memiliki panjang tiga kaki, empat inci, sangat tipis dan ringan. Itu bisa menekuk dengan mudah, dan biasanya itu dapat dipakai sebagai ikat pinggang.
Geraknya sangat cepat saat berlari dengan mengarahkan pedang itu untuk merobek jantung Nyonya tua.
Sima Junke adalah orang pertama yang kembali kedalam kesadaran penuh untuk bertindak menghalangi pedang yang akan menembus tubuh sang nenek.
'Trang,' Bunyi pedang yang saling berbenturan membuat semua orang tersadar.
Aisin Fei sang Nyonya tua membeku dan terjatuh duduk karena terkejut. Badannya gemetar ketakutan tetapi dia masih dapat berteriak keras untuk memperintahkan orang, "Cepat bunuh dia ditempat!"
Dia berubah pikiran untuk menangkap Tuoba Lie dalam keadaan hidup, saat ini dia hanya ingin melihat mayat Tuoba Lie terbujur kaku didepannya. Tidak perduli aturan yang mengharuskan hukuman mati harus memiliki bukti yang lebih kuat.
Sima Junke tidak menyangka Tuoba Lie akan kehilangan kendali dan sangat berani langsung bertindak. Sepertinya dia sudah meremehkan kemampuan Tuoba Lie.
Sima Junke dan juga para pengawal lainnya mengepung Tuoba Lie dari segala sisi, tetapi Tuoba Lie masih berdiri angkuh tidak sedikitpun memiliki jejak kekhawatiran.
Gerak Sima Junke sangat cepat dan tegas menyerang Tuoba Lie dengan pedang berat yang melengkung membentuk sabit. Siapa yang mengira bahwa begitu banyak pembunuh dari organisasi gelap akan tiba-tiba masuk kedalam pertempuran mereka, menghalangi tindakannya untuk menebas tubuh Tuoba Lie.
Para pembunuh dari organisasi gelap itu merengsek masuk dan membalikan keadaan dengan jumlah mereka yang sangat banyak. Sima Hong berusaha melindungi Aisin Fei dengan memegang tangan istrinya itu, sedangkan Aisin Tianyi ikut masuk kedalam pertempuran karena para pembunuh yang mengepung mereka tidak mengenal belas kasih mengayunkan pedang kearahnya untuk memotong tubuhnya menjadi dua bagian.
Sima Junke dengan kepayahan merengsek maju menebas tubuh para pembunuh. Namun, semakin banyak pembunuh bergegas masuk dan dengan liar menyerangnya. Meskipun seni bela dirinya luar biasa, ia kalah jumlah.
Orangnya berjumlah lebih sedikit dari para pembunuh ini, kening Sima Junke berkerut seperti sedang berpikir keras mengenai apa yang sudah dia lewatkan.
'Sret,' Tangan bagian atas Sima Junke tersayat oleh Tuoba Lie yang tiba-tiba menghampiri untuk membunuhnya.
Nyaris saja, sayatan itu mengenai dadanya kalau saja dia tidak cepat tersadar dan menghindar.
"Aiyaa, Tuan Muda Sima yang terhormat. Bukankah, tidak baik kehilangan fokusmu diarena pertarungan." Ledek Tuoba Lie
"Jangan banyak omong kosong," Dengus Sima Junke dengan amarah mengarahkan pedang kearah Tuoba Lie.
"Kau tidak berubah, masih sama emosionalnya." Ucap Tuoba Lie dengan smirk meremehkan dia menghindari serangan Sima Junke.
"Aku mengetahui apa yang kau pikirkan, kau pasti sedang bertanya-tanya, kemana perginya semua pengawal keamanan yang seharusnya menghalangi para pembunuh organisasi gelap ini." Lanjut Tuoba Lie dengan santai tak terpengaruh saat dirinya ditatap tajam oleh Sima Junke.
"Selama tiga hari ini aku memiliki otoritas kecil dalam menggantikan Kepala Pejabat Keamanan Nanbao." Jelas Tuoba Lie dengan senyum bangga.
Sepenggal kalimatnya sudah dapat menjelaskan bahwa semua bentuk keamanan diperlemah olehnya dan petugas keamanan diganti dengan orang dari organisasi gelap ini karena beberapa diantara pembunuh berpakaian layaknya pengawal ataupun prajurit didalam pemerintahan.
Urat kekesalan tercetak jelas ditubuh Sima Junke, tangan kokohnya menggenggam pedangnya dengan erat, napasnya memburu hebat.
Ternyata dia melewatkan sesuatu hal yang begitu penting, lagipula siapa yang akan menyangka dalam kurun waktu tiga hari Tuoba Lie dapat memegang kendali penuh dalam bidang keamanan.
Bagaimana jika dibiarkan selama hitungan tahun, mungkin Tuoba Lie akan menjadi penguasa dibalik layar pemerintahan Nanbao.
Seperti pepatah yang menjelaskan bahwa tidak ada bencana yang lebih besar daripada meremehkan musuh.
"Siapa kau?" Tanya Sima Junke dengan suram kearah Tuoba Lie. Karena dirinya mengetahui dengan jelas bahwa tidak ada seorang -pun termasuk pejabat yang mampu menggerakan organisasi gelap ini dengan mudah, apalagi para pembunuh ini jelas menuruti perintah Tuoba Lie.
"Tuwile dari kegelapan," Jawab Tuoba Lie dengan singkat mengandung keangkuhan dan ketajaman yang suram tak terdeskripsikan.
Tuwile, otak dan raga dibalik organisasi gelap yang menjadi salah satu terbesar didalam Nanbao. Orang akan menyebut pemilik dan penguasa organisasi gelap Nanbao dengan nama Tuwile yang berarti kematian itu suatu keniscayaan.
"Tuan Muda Sima, orangku mungkin sudah sampai untuk membawa tunangan tercinta-mu. Setidaknya gadis itu cukup cantik dan masih layak dipakai walaupun kondisinya mungkin sudah diambang surga dan neraka, tetapi kau bisa tenang karena aku dapat menariknya keluar, sekalipun itu surga atau neraka." Ucap Tuoba Lie dengan menyeringai kejam penuh nafus seakan membayangkan gadis yang dia maksud.
Sima Junke yang melihat seringai itupun menjadi semakin tak terkendali, Xiu Qixuan adalah titik sensitifnya. Siapa yang begitu lancang menyentuh gadisnya, dia akan memotong lengan dan tubuh orang itu tanpa belas kasih.
"Badebah akanku bunuh kau!" Teriak Sima Junke dengan amarah melanjutkan serangannya yang membabi buta.
•••••••••••
Karena potnya sudah pecah, dia akan melempar pot lain ke dalam kekacauan: Mengacu pada memperburuk situasi yang buruk.