
Kekacauan besar yang sebelumnya terjadi menimbulkan guncangan dalam pemerintahan Nanbao.
Semua pejabat mengirim petisi untuk mempercepat penobatan Kepala Suku yang baru atau mereka akan menemukan kandidat lain dari kalangan bangsawan murni untuk dipilih menjadi Kepala Suku karena Aisin Tianyi sang pewaris masih terbaring koma.
Betapa kejamnya mereka tidak memikirkan sedikitpun kondisi pewaris dan keluarga -nya yang terluka.
Nyonya tua tidak memiliki tindakan apapun, dia seperti kehilangan separuh hidupnya, selama dua hari ini hanya diam termenung seperti mayat hidup, bahkan diupacara pemakaman dia menggila terus meraung tidak ingin Sima Hong dimakamkan.
Sedangkan untuk Sima Junke, pria itu jatuh kedalam bawah sadar dan tidak mengetahui kapan dia akan terbangun, Xiu Qixuan sudah menyembuhkan luka yang diderita pria itu dengan mengalirkan duapuluh persen aura kehidupan yang dia miliki untuk menarik pria itu keluar dari lubang surga dan neraka.
Menurut dukun yang memeriksa, Sima Junke memiliki trauma yang mendalam, dia jatuh kedalam bawah sadar, otak yang memerintahkan sistem gerak menjadi malfungsi, tidak ada yang mengetahui kapan pria itu tersadar kecuali pria itu yang memang menginginkan untuk terbangun kembali.
Dalam kurun waktu dua hari ini, hanya Xiu Qixuan yang masih memiliki kewarasan dan berdiri kokoh, tetapi dia hanya orang luar yang tidak boleh banyak terlibat.
Selama dua hari ini Xiu Qixuan dengan sabar merawat Sima Junke, dia selalu berada disisi pria itu, mengajaknya berbicara sesekali dengan jahil memencet hidung pria itu untuk memaksanya bangun tetapi tidak memiliki keberhasilan sedikitpun Sima Junke hanya diam tak bergerak.
Tuoba Lie dan antek-anteknya ditangani dengan tepat oleh Petinggi Zhai karena hanya petinggi itu yang memiliki otoritas dan status penuh. Dalam beberapa kali Petinggi Zhai akan menyuruh orang untuk melaporkan beberapa hal kepada Xiu Qixuan, Zhai Dawai sepertinya sudah menaruh kepercayaan penuh kepada Xiu Qixuan.
Pada saat ini Xiu Qixuan bergegas untuk melihat kondisi Aisin Tianyi, situasi semakin kacau dikalangan pejabat membuat Xiu Qixuan yang memiliki keistimewaan harus segera bertindak untuk menyembuhkan Aisin Tianyi. Apalagi, kondisi pewaris itu semakin menurun karena Jìshēng jí menggerogoti sistem syarafnya.
Semburat emas samar dari matahari menyinari wajahnya yang cantik, dia tersenyum ramah yang menyejukan hati saat para pelayan yang menyapa-nya, para pelayan itu lebih menghormatinya karena saat bencana pemberontakan terjadi Nona Xiu menyelamatkan mereka dengan begitu heroik.
Du Hui yang melihat kedatangan Xiu Qixuan dengan hormat dan sungkan mempersilahkannya masuk.
Saat memasuki ruangan, semerbak aroma herbal yang menusuk masuk kedalam indra penciuman.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Xiu Qixuan dengan melihat Aisin Tianyi yang terbaring tak berdaya.
Betapa menyedihkannya saat melihat kondisi pria yang suka mencibir dan jahil menjadi diam dan kaku.
"Jawab, Nona. Tidak memiliki kemajuan," Jawab Du Hui dengan lesuh.
"Baik, tinggalkan kami. Kau dapat berjaga diluar," Perintah Xiu Qixuan dengan tegas.
Du Hui terlihat ragu meninggalkan mereka karena tidak begitu pantas tetapi dia tidak memiliki pilihan lain dan dengan cepat menuruti perintah.
Setelah Du Hui pergi, Xiu Qixuan mendudukan diri disisi ranjang dan mengulurkan lengan untuk menempelkan telapak tangannya diatas dahi Aisin Tianyi.
Cahaya menyilaukan bewarna putih ungu dan keemasan menyinari tubuh Aisin Tianyi.
Dahi Xiu Qixuan terlihat mengerut dan keringat terus membasahi tubuhnya selama beberapa saat. Dia begitu keras memaksa untuk mengalirkan aura kehidupan.
Koneksi telepati dari Baijin Hu dan Lao Yong terus dia tolak, kedua hewan surgawi itu pasti ingin memperingatinya dengan omelan.
Setelah selesai Xiu Qixuan menarik tangannya dan tubuhnya limbung seakan dunia berputar dikepalanya, pandangannya menggelap kemudian terjatuh tak sadarkan diri.
*********
Sepasang mata yang indah dengan bulu mata panjang perlahan mengerjap dan terbuka.
"Kau sudah terbangun," Suara serak seorang pria membuatnya menolehkan wajah.
Senyum manis menghiasi wajah Aisin Tianyi yang terduduk disisi ranjang sementara dia terbaring, bukankan ini menjadi terbalik.
Dengan cepat Xiu Qixuan meloncat dan berdiri dengan limbung membuat Aisin Tianyi memegang lengannya untuk menopang.
"Hati-hati," Ucap Aisin Tianyi
Xiu Qixuan menepis dan melangkah mundur untuk menjauh. Dia tidak menginginkan kesalahpahaman terjadi.
"Baiklah, kondisimu sudah pulih, aku akan kembali untuk menjaga A Jun." Ucap Xiu Qixuan berbalik untuk melangkah pergi.
Baru beberapa langkah menjauh suara Aisin Tianyi mengintrupsi.
"Bagaimana kau menyembuhkanku?" Tanya Aisin Tianyi dengan serius. Dia mengetahui dari Du Hui bahwa dirinya sudah berada diambang kematian karena Jìshēng jí menggerogoti tubuhnya. Tiba-tiba Nona Xiu datang dan dirinya terbangun dalam kondisi pulih, sangat mengherankan.
Xiu Qixuan berbalik dan menatap Aisin Tianyi, "Langit belum mengizinkanmu mati, dan aku adalah perantara langit yang bertugas untuk menyembuhkanmu. Jelas?" Ucap Xiu Qixuan dengan sedikit karangan.
"Alasan bodoh apalagi itu." Cibir Aisin Tianyi
"Humph, sudahlah tidak perlu dibahas. Lebih baik kau segera menangani para pejabat menyebalkan itu dan segera naik ketakhta Kepala Suku." Ucap Xiu Qixuan dengan lugas
Aisin Tianyi terdiam sejenak menatap dalam seakan ingin menembus tubuh Xiu Qixuan.
"Ada apa?" Tanya Xiu Qixuan dengan polos menaikan sudut alisnya.
Aisin Tianyi beranjak mendekati Xiu Qixuan dan berdiri dengan jarak dekat didepan gadis itu.
"Kau ingin aku menjadi Kepala Suku?" Tanya Aisin Tianyi dengan suara rendah tetapi menyiratkan ketajaman.
Xiu Qixuan mendongak dan mengerutkan kening bingung, "Tentu saja, bukankan kau pewaris sah. Kalau bukan kau siapa lagi?" Ucapnya.
"Tunanganmu, Sima Junke." Jawab Aisin Tianyi dengan mendengus masam.
"A Jun tidak menginginkannya." Balas Xiu Qixuan dengan menatap dalam Aisin Tianyi.
Xiu Qixuan akhirnya mengerti saat melihat tatapan itu, Aisin Tianyi memiliki banyak keluhan dan dendam dibalik sifat menyenangkannya.
"Baiklah, aku akan segera menyelesaikan semua ini. Dan kau akan menjadi pendampingku diacara penobatan," Ucap Aisin Tianyi dengan seringai licik, memberi pernyataan yang bersifat perintah mutlak.
"Tidak!" Balas Xiu Qixuan dengan keras menatap tajam Aisin Tianyi.
•••••••••••
Kecantikan itu memasang wajah mengerut kesal dan masam menghentakan kakinya ketanah berpasir.
Wajah cemberutnya membuat orang yang melihatnya menjadi gemas dan terkekeh.
Ditangannya terdapat kotak kayu berisi beberapa makanan ringan. Dia melangkah kearah bangunan besar dan mewah, membawakan jenis makanan lezat itu untuk seorang wanita tua yang sedang berduka.
Memang sejak awal dia memiliki niat dan keharusan untuk menjenguk dan menghibur wanita tua itu karena kesedihan mendalam mengenai kepergian kakek tua yang hangat.
Sesampainya dia diambang pintu besar yang memiliki ukiran rubah dan elang terukir indah diatas batu permata lapis lazuli yang memancarkan cahaya karena terpaan sinar matahari.
Bangunan besar lebih mewah daripada bangunan lainnya diwilayah Nanbao. Para pelayan dan penjaga bertugas beberapa meter lebih jauh karena majikan mereka menginginkan kesunyian dan ketenangan untuk berduka, membuat suasana disekitar gadis itu terasa sunyi karena keheningan, bahkan dia dapat mendengar suara langkah kakinya sendiri.
Saat membuka pintu itu secara perlahan, Xiu Qixuan mendongakan wajah untuk terlihat sesuatu yang mengejutkannya.
'Brakk,' kotak kayu yang berisi makanan itu jatuh dan tercecer.
Xiu Qixuan dengan cepat berlari dengan panik saat melihat wanita tua itu berusaha bunuh diri dengan pedang panjang.
Nyonya tua menggengam pedang panjang dan menepatkan dibatang lehernya. Darah sudah mengalir ketika pedang itu menekan lehernya, hanya tinggal sekali hentakan kesamping dia akan menyusul sang suami.
Xiu Qixuan berlari dan menahan pedang itu dengan lengannya, tidak perduli lagi bahwa tangannya juga akan ikut terluka karena mata tajam pedang melukainya.
"Hentikan, apa yang kau lakukan?!" Teriak Xiu Qixuan dengan mata yang berkaca-kaca.
Nyonya tua membuka kelopak matanya yang sendu dan linglung berucap, "Aku ingin bertemu A Hong. Siapa kau?! Berani menghentikanku!"
Xiu Qixuan menggeram marah dan menangkis pedang itu dengan telapak tangannya yang sudah mengalir darah segar.
'Trang,' Suara pedang yang jatuh terbentur lantai.
Kemudian Xiu Qixuan menempatkan kedua tangannya dibahu Nyonya tua dan mengguncangkan perlahan. "Sadarlah, kau tidak dapat seperti ini! Suami mu menginginkanmu hidup, kau mengecewakannya." Ucap Xiu Qixuan dengan napas yang tersendat karena emosi.
"Tidak, A Hong sudah menungguku." Balas Nyonya tua mendorong tubuh Xiu Qixuan dengan keras. Entah dia mendapatkan darimana kekuatan itu.
Xiu Qixuan terjatuh dan menimbulkan suara yang berderak dilantai, dengan cepat Nyonya tua berjongkok untuk mengambil pedang tetapi Xiu Qixuan merangkak menghalanginya dengan cara memeluknya.
"Nenek, kau tidak boleh seperti ini. A Jun akan sedih, A Jun akan menderita kehilangan lagi. A Jun sangat menyayangimu dan kami juga menyayangimu terlepas dari semua penderitaan dalam hidup ini kamu tidak boleh mengecewakan orang yang menyayangimu. Nenek, mengertilah." Ucap Xiu Qixuan dengan terisak pelan mendekap tubuh tua Aisin Fei.
Dia tidak akan membiarkan Sima Junke menderita kehilangan lagi, betapa menyedihkannya kala kehilangan dua sosok penting disatu waktu secara bersamaan.
Xiu Qixuan memanggil Aisin Fei dengan sebutan nenek mewakilkan Sima Junke yang sedang terbaring koma. Dia yakin kalau Sima Junke berada disini, pria itu juga akan mengucapkan hal yang sama.
Aisin Fei membeku dan termenung, "A Jun?" Gumamnya pelan
"A Jun -ku yang baik. Cucuku?" Lanjutnya dengan linglung
Xiu Qixuan menganggukan wajah dengan masih mendekap tubuh Aisin Fei, "Iya, Cucumu yang begitu menyedihkan sedang terbaring menunggumu untuk merawat dan menjenguknya. Nenek, apakah kau ingin melihatnya?" Ucap Xiu Qixuan dengan sedikit tersendat.
Tubuh Aisin Fei jatuh meluruh dan terduduk dilantai, airmata mengalir deras dari kedua bola mata yang sebelumnya kosong, sekarang terpancar sedikit demi sedikit kehidupan.
Xiu Qixuan melepaskan dekapannya dan tersenyum lembut mengusap pipi nenek tua itu saat airmata terus membanjirinya.
Tiba-tiba Aisin Fei mendongakan wajahnya untuk menatap Xiu Qixuan, "Mengapa?" Tanyanya
"Mengapa kau menghentikanku?" Lanjutnya dengan sendu tetapi pancaran mata ini lebih baik daripada yang sebelumnya kosong.
"Bagaimana dengan A Hong jika diriku terlalu lama disini untuk merawat A Jun?" Lanjutnya lagi, dia masih memikirkan suaminya.
Xiu Qixuan menyurutkan senyum dan menatap lelah kearah Aisin Fei,
"A Hong menginginkan A Fei untuk tetap hidup, A Hong akan menunggu A Fei dipemberhentian selanjutnya." Ucap Xiu Qixuan dengan dalam
Aisin Fei kembali membeku menatap Xiu Qixuan, tiba-tiba dia tersenyum dengan lembut dan berucap , "Ya, benar. A Hong -ku akan selalu menunggu dan mencintaiku."
"Gadis kecil, terimakasih." Lanjutnya dengan lembut mengelus wajah Xiu Qixuan.
Terimakasih karena Xiu Qixuan menyadarkannya atau dia akan menyesal meninggalkan cucunya dan mengecewakan suaminya. Tidak perduli selama apapun dia akan bertahan diusia tua ini untuk hidup, sekarang nyawanya ini pemberian cintanya.
Kerinduan tertanam diantara hidup dan mati, A Hong mari bertemu lagi dikehidupan selanjutnya.
•••••••••••••
Bab bonus untuk permintaan maaf author karena membuat kesalahan di bab sebelumnya haha, takut dikira php sama kalian karena up ngulang cuz error sistem, baiklah sebagai permintaan maaf aku up bab ini ngebut ngerjainnya.
Eh kalian malah seneng, 'sering-sering aja thor buat kesalahan biar selalu dapat bab bonus sebagai permintaan maaf.' jgn begitu juga dung haha.