Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Hanya Manusia Biasa



Aku berjalan dengan perlahan dan sesekali menyembunyikan diriku dibalik kegelapan malam.


Entah apa yang orang-orang itu cari, Apakah mereka menemukan keanehan? atau apakah Xiu Huanran meninggalkan celah saat memasuki wilayah Nanbao yang menimbulkan kecurigaan?


Tetapi, tidak mungkin. Kakak keduaku itu sangat teliti dan berhati-hati dalam setiap tindakannya. Nanbao memang wilayah kecil yang dijaga ketat dan tidak dapat diremehkan pertahanan diwilayah ini. Itulah sebabnya Nanbao masih berdiri kokoh walaupun dikelilingi oleh tiga Kekaisaran besar yang notabennya memiliki kekuasaan dan sumber daya yang lebih melimpah.


Iklim dan medan diwilayah Nanbao sangat rumit, curam dan tidak dapat diprediksi, membuat ketiga kekaisaran juga berpikir dua kali sebelum berperang untuk merebut wilayah Nanbao.


Salah satu keistimewaan Nanbao yang memiliki wilayah kecil ini adalah sangat makmur dan terstruktur dengan rapih daripada ketiga kekaisaran yang memiliki wilayah luas tetapi tingkat kemiskinan masih tersebar disetiap wilayah.


Sejauh ini aku lebih menyukai Nanbao. Bukan berarti aku tidak menyukai Shen, hanya saja Shen terlalu rumit untukku yang memang lebih menyukai kebebasan dan hal sederhana.


Aku terus berkelok dan memutar arah saat melihat orang-orang itu bersembunyi diatas atap bangunan ataupun tenda besar. Tidak ingin mereka mengenaliku karena aku sangat yakin orang yang mengirim mereka memiliki kekuasaan di Nanbao yang seharusnya sudah mengenali wajahku saat diperjamuan.


Berjalan cepat kemudian mengedarkan pandanganku kesekitar jalan dengan raut kebingungan, "Tidak boleh nyasar, tidak boleh nyasar~" Gumamku pelan dengan berulang kali mengucapkan kalimat itu sembari mengingat arah jalan yang sebelumnya kulewati.


Beginilah rumitnya saat aku yang memang buta arah sangat sulit mengingat arah jalan pulang.


"Kiri-kanan, Utara-selatan, Timur-barat, Tenggara-barat laut, Timur laut-barat daya." Gumamku pelan dengan sedikit bernada seperti mengabsen arah mata angin.


"Tadi aku keluar dan pergi lewat gerbang utara, berarti aku harus menuju keselatan untuk kembali." Ucapku pelan kemudian melanjutkan langkahku.


Menggunakan jurus peringan tubuh yang-ku miliki, aku dengan cepat menuju arah selatan.


'Gotcha,' Akhirnya setelah beberapa saat aku melihat dinding pembatas gerbang yang menjulang tinggi.


Sangat mudah bagiku melewati gerbang itu dengan menggunakan sedikit tipuan kepada prajurit yang sedang menjaga gerbang tersebut.


Aku menggunakan batu besar yang sengaja kulempar jauh kearah berlawanan untuk menimbulkan suara, memang benar prajurit penjaga tersebut mengecek keadaan seperti yang seharusnya kurencanakan tetapi aku tidak mengira mereka akan membagi tugas mengecek keadaan dan tetap diam menjaga. Aiya! Ternyata tidak mudah, aku sudah sangat mengantuk.


Aku berlari sangat kencang dan cepat setelah memukul tengkuk prajurit yang menjaga itu hingga pingsan. Kemudian berlari sembari menggunakan ilmu peringan tubuh dan kecepatan istimewa milik Baijin Hu, sampai hanya terlihat bayanganku saja. Beberapa orang yang kulewati mungkin hanya merasakan similir angin yang menerpa mereka.


Sesampainya diruangan tempat yang akanku tinggali selama di Nanbao, aku terduduk jatuh dilantai—sebentar saja aku butuh untuk menetralkan napasku yang memburu hebat. Melirik ruangan untuk memastikan lagi bahwa aku tidak memasuki ruangan yang salah, karena aku tahu bahwa diriku ini sangat ceroboh. Menghela napas panjang saat melihat ruangan ini masih sama seperti sebelumnya.



Beranjak berdiri dengan cepat aku berganti pakaian tidur dan langsung menjatuhkan diri keatas ranjang saat mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat.


POV END.


•••••••••••••


"Lapor! Tuan muda, penyusup menyelinap melalui gerbang utara. Saat ini kami mengerahkan pasukan untuk menangkap penyusup tersebut," Jelas seorang yang diperkirakan adalah komandan militer dari cara ia berpakaian.


Sima Junke yang memang tidak beristirahat karena sedang menunggu kabar terbaru dari Kangjian yang sedang menelusuri pusat ibukota Nanjing untuk suatu urusan. Pria itu menolehkan wajah menatap tajam komandan militer yang melaporkan mengenai penyusup tersebut.


"Bagaimana bisa anak buahmu begitu lalai? Kemana arah perginya penyusup tersebut?" Tanya Sima Junke dengan tajam.


"Menurut informasi dari beberapa kesaksian—penyusup tersebut mengarah tepat ketempatmu ini, Tuan Muda. Itulah yang membuatku tergesa menemuimu untuk memastikan kau baik-baik saja," Jawab Komandan Militer itu terkesan menjilat memang.


Sima Junke memasang wajah malas sembari melambaikan tangan menyuruh komandan militer itu untuk pergi. Kemudian dia berucap, "Aku tidak apa, kau—" terjeda.


'Xiu Qixuan,' batinnya mengingat gadis pembuat onar yang hinggap dibenaknya.


Letak tempat tinggal gadis itu sangat dekat dengan bangunan tempat tinggalnya. Penyusup yang tidak diketahui itu mengarah ketempat ini, membuat Sima Junke mencemaskan keadaan gadis itu yang sedang terluka. Tidak tahukah dia—penyusup itu adalah Xiu Qixuan sendiri!


Berjalan cepat menuju bangunan tempat tinggal Xiu Qixuan, saat Sima Junke memasuki pintu bangunan tersebut terlihat ruangan luas yang juga didalamnya terdapat ranjang yang terbaring gadis cantik diatasnya.


Melangkah perlahan agar tidak menimbulkan suara yang akan menganggu tidur gadis itu.


Kening Xiu Qixuan sedikit mengerut karena gadis itu sebenarnya memang tidak tertidur, tetapi Sima Junke yang melihat itu tersenyum kecil mengira bahwa Xiu Qixuan sedang bermimpi hal rumit, kemudian pria itu mengelus perlahan kening Xiu Qixuan.


"Kau begitu berkeringat, apakah kau demam seperti yang sebelumnya dikatakan dukun itu?" Gumam Sima Junke yang tanpa sadar perlahan mengelap keringat yang mengalir dari kening Xiu Qixuan dengan lengan bajunya.


'Demam apanya? aku habis berolahraga dengan berlari cepat, kau tahu?' Eluh Xiu Qixuan dalam benaknya.


Sima Junke mendudukan diri disisi ranjang dan membenarkan posisi selimut yang menutupi tubuh Xiu Qixuan.


Sesekali pria itu mengecek suhu tubuh Xiu Qixuan dengan cara menempelkan telapak tangannya ke dahi Xiu Qixuan untuk mengetahui apakah ada perubahan suhu tubuh yang drastis.


Tanpa disadari Xiu Qixuan yang sedang berpura-pura malah jatuh tertidur dengan sungguhan karena tidak bisa menahan lagi rasa kantuk-nya.


Selama beberapa saat Sima Junke terdiam dengan memandangi wajah Xiu Qixuan.


Kemudian Sima Junke beranjak dan melangkah pergi setelah memastikan bahwa Xiu Qixuan nyaman, aman dan tenang dalam tidurnya.


••••••••••••


Pagi Harinya.


"Hoaam," Xiu Qixuan merenggangkan tubuh kemudian beranjak dan melangkah dengan sempoyongan karena masih mengantuk, tetapi dia memaksakan diri karena harus bersiap menemui Nyonya Tua.


'Krieet,' Suara pintu terbuka.


Dengan kasar dirinya membuka pintu untuk memanggil dan meminta bantuan gadis pelayan seperti hari sebelumnya.


Betapa terkejutnya ia saat melihat Sima Junke berdiri diambang depan pintu menatap tampilan bangun tidurnya yang sangat kucel ini.


"Kau—sedang apa disini?" Tanya Xiu Qixuan sedikit tergagap karena terkejut.


"Tidak usah bertanya, bersihkan saja terlebih dahulu kotoran disudut bibir dan pipimu itu. Memalukan," Ucap Sima Junke dengan sarkas.


Xiu Qixuan reflek menutup mulut dan pipinya dengan salah satu lengannya kemudian gadis itu dengan cepat masuk dan kembali menutup pintu.


'Brakk,' Suara pintu yang terbanting keras.


'Sangat memalukan, bercak ilerku terlihat didepan pria menyebalkan itu. Tidak apa, ini sangat manusiawi. Ya benar sangat manusiawi,' Gumam Xiu Qixuan dalam benaknya berusaha menenangkan dirinya, sembari gadis itu meraba bagian pipi dan sudut bibirnya.


"Hei, ini tidak memalukan ya! karena aku hanya manusia biasa, ini terlihat sangat manusiawi!" Ucap Xiu Qixuan dengan keras dari balik pintu kepada Sima Junke yang sejak tadi berusaha menyembunyikan tawanya.


••••••••••••