Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Hidupku Bukan Takdir



Cahaya pagi dini hari begitu redup dengan bulan pudar yang dangkal di langit. Matahari masih belum terbit sepenuhnya.


Kelopak mata yang menyembunyikan sepasang bola kelereng sejernih batu obsidian kelam itu perlahan terbuka.


Ugh...


Dia terduduk bangun memijat kepalanya yang memberat pening. Tenggorokannya kering sampai terasa perih.


"Kau sudah bangun?" Bai Weiwei datang meliriknya sekilas, ia masuk melalui pintu dan berjlaan menuju kisi jendela untuk menyingkap tirai.


Xiu Qixuan menatapnya dengan wajah datar, tidak menunjukan minat untuk menjawab.


Bai Weiwei menolehkan wajah. "Datang dan segera mencuci dirimu, Nona. Aku akan membawamu menuju ruang doa."


"Apa?" Wajah Xiu Qixuan berkerut, memicingkan matanya.


"Anda adalah pengunjung yang datang untuk menyucikan diri dan memberi penghormatan pada sang dewi. Jadi, mari saya bantu." Bai Weiwei berkata lugas dengan menarik selimut yang Masih menempel di tubuh Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan menatapnya, setelah beberapa saat, dia tiba-tiba tertawa sampai mengeluarkan airmata. "Lelucon apa ini? Lucu sekali. Apakah Guru Biyan yang menyuruhmu?"


Bai Weiwei termangu skeptis.


"Aku ini tamu bukan pengunjung." Xiu Qixuan berekspresi mencibir, tiba-tiba raut wajahnya berubah mengerut menahan mual.


Bai Weiwei segera menyodorkan mangkuk berisi cairan hitam yang berbau herbal menyengat. "Minumlah, aku membuatnya untuk meredakan efek mabuk."


Pandangan Xiu Qixuan terangkat menatap Bai Weiwei dengan dengusan menyelidik. Tapi, ia menerima dan dengan patuh meminum herbal yang disediakan oleh Bai Weiwei.


"Terimakasih. Tolong pergilah dulu. Aku akan datang nanti untuk menemui Guru Biyan." Xiu Qixuan berkata tegas dengan suara datar yang malas. Karena dia tidak bisa menghindari apapun lagi. Dia akan datang sendiri.


Bai Weiwei tidak bisa membantah dan berkata; "Ya, kamu tidak membawa apapun kemari. Aku sudah menyediakan pakaian di atas bilik, bergantilah dengan leluasa." kemudian segera berbalik menuju ambang pintu.


Xiu Qixuan menatap kosong kearah pintu yang tertutup, setelah Bai Weiwei pergi—ruangan tersebut kembali sunyi.


Setelah itu, Xiu Qixuan memutuskan untuk bermeditasi sejenak, ia mengalirkan aura kehidupannya keseluruh tubuh agar pulih dari efek samping arak.


••••••••••••••••••


Tok...tok...


Suara pintu terketuk. Seorang gadis berdiri di ambang pintu dengan menunduk, dia terus menghela napas kasar. Seolah-olah yang sekarang dia hadapi adalah hal yang begitu berat sampai terasa menyesakkan.


"Guru... saya,—Xiu Qixuan datang untuk berbicara."


"... Masuklah." Sebuah suara berat terdengar dari balik pintu, mengizinkannya datang.


Tangan Xiu Qixuan terulur membuka daun pintu dengan perlahan sampai membuat suara kriet yang pelan.


Setelah pintu terbuka, Xiu Qixuan dapat melihat sosok Guru Biyan yang terduduk di bantalan kursi sedang menuangkan teh kedalam cangkir.


Guru Biyan mengangkat pandangannya, menatap Xiu Qixuan dengan lebih hangat. "Kemari, cobalah teh yang bagus ini."


Xiu Qixuan tersenyum canggung dan mendudukan diri di bantalan kursi seberang Guru Biyan. Jari-jari lentiknya terulur mengambil cangkir teh dari atas meja dan menyesapnya perlahan.


"Kau sudah lebih tenang sekarang?" Guru Biyan menatapnya dalam dan bertanya memulai pembicaraan.


Xiu Qixuan menaruh cangkir kemudian menggeleng pelan, menatap kosong kearah Guru Biyan; "Aku begitu terkejut sampai merasa sakit. Maaf jika sikapku sudah menyinggung anda, Guru."


Guru Biyan tersenyum simpul, tatapannya yang lembut mengeluarkan kebijaksanaan tertinggi; "Mengetahui sesuatu akhirnya menyakitimu. Kamu bisa marah, nak. Kamu juga bisa memendam kebencian sekarang."


Suara Guru Biyan menjadi lebih serius memberat tajam. "Tapi, hanya ada dua pilihan... ambil bagian dalam petualangan yang Dewi berikan padamu atau menyerah dan mati dengan membawa Daratan Ca Li yang akan ikut hancur bersamamu."


Xiu Qixuan tertawa kosong yang dingin dengan suaranya bergetar; "Dulu aku penuh energi. Aku terus berlari tanpa istirahat hingga sekarang. Aku menjalani hidupku dengan sungguh-sungguh..." Ia tidak bisa berbicara lebih jauh, suaranya serak dan sedikit tercekat.


"Aku berjuang menjalani setiap hari. Berusaha sekuat tenaga. Namun, hidup macam apa yang tersedia untukku?" Xiu Qixuan berkata dengan susah payah, "Aku benar-benar... tidak bisa. Aku tersiksa, aku merasa sangat tersiksa karena menjalani hidup yang tidak sesuai kehendak dan keinginanku."


Tangan Xiu Qixuan menggenggam dadanya dengan tatapan bengis amarah. "Setiap hari kulalui seperti berjalan di jurang es yang tipis. Aku bertahan dan memperkuat diriku dengan cara membunuh. Sakit sekali melihat kehidupan yang menghilang di bawah pedangku."


Dia mengeluarkan kata-kata yang selama ini tertahan. Membuat pengaduan. Emosi dan perasaan yang membuncah membuat napasnya hampir berkabut habis. Ia menarik napas tajam berusaha menguraikan sesak.


••••••••••••••••••


Embun pagi menghiasi kebun murbei yang bermekaran, buah-buahnya menggantung membawa aroma ranum.


Terlihat bahwa dia sudah bersiap untuk bergegas pergi. Tangannya dengan erat memegang tali kekang kuda yang berada tepat di sampingnya.



"Hoh, kamu terlihat begitu senang meninggalkan Er'ge -mu memderita sendiri." Guru Biyan menyeringai dengan kerlingan jahil.


Xiu Qixuan terkekeh kecil. "Dia selalu mengikutiku kemanapun. Aku hanya membiarkannya untuk melakukan sesuatu yang lebih baik."


Guru Biyan tersenyum hangat dengan mengelus jangutnya. "Baik, sekarang pergilah. Kamu bisa kembali kemari kapanpun jika membutuhkanku."


"Kalau begitu sampai jumpa, Guru." Xiu Qixuan segera menaiki punggung kuda dengan sekali tarikan. "Ayo pergi." Dia berkata sambil menendang kuda di tulang rusuk. Kuda perlahan berlari lurus ke depan atas perintahnya menuruni bebatuan di jalan setapak.


Guru Biyan memandangi punggung Xiu Qixuan yang perlahan-lahan hilang menjauh. Matanya kosong memikirkan sifat keras namun memiliki kegigihan yang menganggumkan dari sosok gadis kecil itu.




*Percakapan sebelumnya*....



*Guru Biyan terdiam memandang Xiu Qixuan dengan guratan muram. "Tidak apa-apa, menangislah nak. Menangislah sepuasmu, mengapa kamu begitu berusaha menahannya*?"



*Xiu Qixuan mendongak dengan matanya yang menggantung gelap dan suram. "Tidak, airmataku sudah kering." katanya datar*.



*Guru Biyan tersenyum simpul. Gadis kecil ini masih bisa berkata penuh percaya diri dengan mata yang berkabut oleh airmata*.



"*Lalu, apa pilihanmu? apa yang ingin kau lakukan sekarang?" Guru Biyan bertanya dengan tekanan lembut*.



*Xiu Qixuan terdiam serius selama beberapa saat*.



*Kedua mata Xiu Qixuan terangkat, ekspresinya menjadi kokoh tak memiliki goyah retakan. "Hidupku bukan takdir. Melainkan hanya aku. Terkadang aku harus membantu untuk membuat kebahagianku sendiri. Jadi, aku akan berusaha lebih keras menyelesaikan semuanya. Untuk hidup sesuai kehendak milikku." Dia berbicara rendah dengan tidak tergesa-gesa, "Memastikan bahwa Daratan Ca Li bertahan dengan memiliki ketenangan yang damai*."



*Guru Biyan terhenyak oleh kata-katanya*.



••••••••••••••••



***N/T***:



***Sedikit penjelasan***:



\-***Gelang dan Kalung Giok milik Qixuan dan Qiaofeng itu memilili fungsi utama untuk terhubung atau membentuk koneksi mengelola energi kehidupan. Sebelumnya dimilik oleh Wen Liu yang berguna agar wanita itu tetap terhubung dengan tempat asalnya, bumi***.



\-***Qiaofeng di kirim ke Desa Kui memang karena tubuhnya lemah, tetapi selain itu alasan utamanya adalah agar dia tetap terhubung dengan ibu juga saudarinya***.



\-***Kipas Emas adalah pemberian Dewi Nuwa. Jadi, Baijin Hu dan Lao Yong itu juga pemberian yang ditugaskan untuk membantu Xiu Qixuan sampai perang terakhir. Mereka hanya dimiliki oleh Xiu Qixuan, ya. Karena mereka berada di dalam kipas—bukan di kalung ataupun gelang giok***.