Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Seperti Seutas Benang Takdir III



Sima Xiahou melangkah masuk dan pintu itu langsung tertutup rapat. Semua abdi dalam Sekte Xitian mengetahui bahwa kuil itu adalah tempat suci yang istimewa.


Tidak akan ada orang yang diperbolehkan dan berani datang kecuali Ketua Sekte bermarga Shi.


Semua orang yang nekat akan terpental mati atau menjadi cacat seumur hidup.


Tetapi semua hal menjadi berbeda untuk Sima Xiahou. Pria itu yang memang selalu ditunggu kedatangan oleh -Nya.


Tidak ada orang yang mengetahui dengan jelas apa yang ada di dalam kuil emas itu. Selain Sima Xiahou dan keturunan Ketua Sekte bermarga Shi.


Sejak saat itu Ketua Sekte membebaskan keberadaan Sima Xiahou dan Kun Qi Bo, dia malah mengangkat kedua orang itu menjadi murid luar yang mengabdi pada Sekte Xitian.


Dan sejak saat itu pula Sima Xiahou menjadi sering berkunjung ke kuil tersebut, perilakunya menjadi misterius dan tertutup pada Kun Qi Bo.


Bahkan Ketua Sekte tidak akan bisa melarang semua tindakan Sima Xiahou. Seakan dia sudah diperingati oleh kekuatan yang lebih besar diatasnya.


Kun Qi Bo terpanah karena keheranan dia tidak mengerti keadaan seperti apa yang dilalui dan disembunyikan oleh Sima Xiahou. Berkali-kali bertanya dan berkali-kali juga dia gagal, mungkin malah akan memperburuk hubungan persahabatan mereka.


Pernah sewaktu-waktu Kun Qi Bo mengikuti Sima Xiahou dengan rutinitas pria itu biasanya yang selalu berdiam diri di dalam kuil emas.


Tetapi usahanya gagal dan malah menderita pukulan keras dari Sima Xiahou. Sejak saat itu Kun Qi Bo lebih pendiam dan tidak banyak bertanya. Dia memilih mempelajari kemampuan baru sebagai murid luar Sekte Xitian.


Akhirnya setengah tahun berlalu dan seorang utusan dari salah satu Kekaisaran besar datang berkunjung.


Sekte Xitian memang memiliki kuasa sendiri yang tidak bergantung pada Kekaisaran. Tetapi, mereka tidak akan menolak seorang utusan yang memang ingin mengikat hubungan baik.


Semua orang pada saat itu tidak akan mengira bahwa utusan tersebut adalah sosok pendatang bencana yang tak berujung.


Saat kedatangan utusan tersebut semua berjalan mulus dan riang. Sampai seminggu berlalu sejak kehadiran utusan tersebut.


Salah satu benda peninggalan leluhur yang berasal dari langit surgawi dinyatakan hilang.


Kun Qi Bo yang sebagai murid luar saat itu sedang bertugas patroli kesalah satu desa kecil, dia tidak dapat mengetahui lebih jelas kegunaan benda surgawi yang hilang.


Dia dipanggil untuk kembali ke Sekte Xitian. Saat disana keadaan sudah sangat kacau, sang utusan ikut menghilang.


Para murid dalam dan luar diperintahkan untuk mencari ataupun menelusuri keberadaan benda yang hilang itu dan ternyata adalah sebuah mutiara hitam laut surgawi.


Tidak ada yang mengetahui kegunaan dan bentuk mutiara hitam itu selain Ketua Sekte.


Kun Qi Bo bersama tiga murid lainnya menelusuri dengan kepayahan karena benda itu hilang tanpa jejak. Bahkan sang utusan juga menghilang tanpa meninggalkan sedikitpun jejak.


Dapat dipastikan bahwa utusan itu bukanlah orang biasa. Bagaimana mungkin dapat mengetahui keberadaan benda penting yang dijaga ketat? Kecuali sejak awal itulah niat asli kedatangannya kedalam Sekte Xitian.


Hanya Shi Min yang hadir menangani penelusuran dan mengatur para murid, Ketua Sekte tidak terlihat keberadaannya.


Mungkin Ketua Sekte sedang menuju kuil emas. Sama halnya dengan Sima Xiahou yang ikut menghilang entah kemana.


Pada saat itu Kun Qi Bo sangat linglung, dia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Sebuah konflik yang rumit!


Kalau saja bukan karena ingin menemani sahabatnya disini, mungkin dia akan lebih memilih kembali ke Nanbao secepat mungkin.


Keesokan harinya hal mengejutkan lagi dan lagi terjadi dalam kurun waktu dekat.


Sima Xiahou ditemukan bersikap tidak senonoh menodai Shi Peiyu sang putri Kepala Sekte.


Sejak awal keberadaan Shi Peiyu terlihat transparan karena dia merupakan putri yang dilatih di dalam pintu tertutup.


Tetapi yang Kun Qi Bo temukan adalah Kepala Sekte berwajah datar tanpa ekspresi dan Sima Xiahou yang berlutut dengan linglung.


Saat Sima Xiahou kembali kedalam kesadaran penuh, pria itu berlari tergopoh-gopoh untuk ke kuil emas.


Ketua Sekte yang melihat itu hanya membiarkannya, Kun Qi Bo hanya dibiarkan menunggu disana berdiri mematung.


Saat Kun Qi Bo bertanya Ketua Sekte hanya menjawab, "Biarkan dia melihat sendiri apa yang terjadi di dalam Kuil itu."


"Tunggu saja, dia pasti akan kembali dan menikahi anak perempuanku." Lanjutnya dengan acuh tak acuh.


Kun Qi Bo tidak mengerti! Apakah dia tidak memiliki perasaan iba pada kemalangan yang menimpa anaknya?


Benar apa yang dikatakan Ketua Sekte, Sima Xiahou kembali dengan raut kesedihan dan keputusasaan.


Tidak ada yang mengetahui apa yang dia temukan dikuil emas, selain dirinya dan Ketua Sekte.


Sejak hari itu Sima Xiahou memutuskan untuk kembali ke Nanbao membawa Shi Peiyu sebagai istrinya.


Dan sejak saat itu pula Ketua Sekte tidak memperbolehkan orang untuk membicarakan mutiara hitam laut surgawi dan kejadian yang menimpa putrinya. Bahkan untuk membicarakan sang utusan yang ikut menghilang juga tidak diperbolehkan.


Kemudian setahun berlalu sejak kepulang mereka kembali ke Nanbao, Kun Qi Bo menerima sebuah kabar mengejutkan yang aneh. Bangunan kuil emas Sekte Xitian dinyatakan lenyap seperti menghilang begitu saja tak bersisa dalam semalam. Tidak terdapat satupun sisa reruntuhan bangunan kuil itu menghilang dalam sekejap begitu tak kasat mata.


•••••••••••••


Hening.


Mereka jatuh dalam keheningan. Sima Junke mengerjap linglung membuat Xiu Qixuan yang berada disebelahnya mengelus punggung tangan pria itu dengan lembut berusaha menyalurkan sedikit ketenangan.


Sima Junke terlihat sangat sulit untuk mencerna cerita itu. Banyak teka-teki rumit, pertemuan juga hubungan ayah dan ibunya sangat sulit dimengerti.


Ayahnya menyimpan begitu banyak rahasia yang akan membuat orang lain linglung. Sebenarnya apa yang ada di dalam Kuil Emas? Apa yang terjadi di malam hilangnya mutiara hitam laut surgawi?


"Paman Kun, aku—" Ucap Sima Junke terjeda.


"Kau tidak dapat mengerti dan mencerna cerita ini." Sergah Paman Kun dengan tersenyum tipis.


"Aku juga tidak kunjung mengerti hingga saat kini," Lanjutnya dengan mendengus kesal.


Sima Junke mendongakkan wajah dan menatap Paman Kun dengan dalam yang teduh.


"Bagaimana kematian ayahku? Apakah itu berkaitan dengan Kepala Suku Aisin Boyu?" Tanya Sima Junke dengan bergetar.


"Ya dan Tidak," Jawab Paman Kun dengan acuh tak acuh.


"Paman!" Ucap Sima Junke dengan tajam seperti memaksa kejelasaan.


Paman Kun menarik napas panjang dan berkata, "Aisin Boyu memang berwaspada tetapi dia tidak memiliki keberanian dan masih memandang tinggi ayahmu."


••••••••••••


Note: ini cerita dalam sudut yang diketahui oleh Kun Qi Bo, tentu tidak akan langsung terpapar dengan jelas.



Shi Peiyu