Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Salam Perpisahan Untuk Ping'an!



Langit biru yang cerah berawan, matahari menyorotkan kehangatannya dengan semilir angin membawa embun pagi menyegarkan. Menandakan hari baru saja akan di mulai.


Selusin penjaga dan pelayan mulai sibuk memuat barang bawaan kedalam gerbong bagasi.


Pada saat ini, gerbang utama kediaman Xiu di penuhi dengan gerbong dan orang. Itu ramai dan padat.


Disisi kiri, Kasim Teng dan rombongannya sudah berbaris menunggu Xiu Qixuan sang tokoh utama yang terlambat.


Sedangkan untuk Xiu Haocun, Xiu Jierui, dan Yao Yunmei—mereka berdiri kosong dengan raut wajah lemas tak bersemangat di seberang sisi kanan jalan.


"Selamat pagi!" Sebuah suara yang berdering jernih tiba-tiba datang dari pintu gerbang.


Semua orang menoleh. Melihat Xiu Qixuan yang masih mengatur napasnya yang tersenggal karena berlari tergesa-gesa. Xiao Taoli dan Xiao Rou terlihat menyusul dari arah belakang.


Dia terlambat karena sepanjang malam terus memikirkan diskusi dadakan yang terjadi dengan Baijin Hu dan Lao Yong.


Menyapa dengan hormat semua orang terlebih dahulu, Xiu Qixuan meminta maaf karena terlambat.


Perjalanan dari Kota Ping'an ke Ibukota Anming membutuhkan waktu hampir setengah bulan. Xiu Qixuan melirik sekilas kearah gerbong yang terparkir di badan jalan, di sana terdapat sekitar delapan hingga sepuluh gerbong yang membentuk rombongan.


Wajah Xiu Qixuan menjadi kaku ketika matanya tertuju pada satu gerbong kereta kuda yang terbalut lebih mewah daripada yang lainnya.


Dengan nada menyebalkan, Kasim Teng tiba-tiba berkata; "Secara khusus kereta kuda ini dikirim dari Istana untuk Nona Besar Xiu."


Itu adalah kereta giok berlapis tembaga dan perak, ditarik oleh empat ekor kuda sekaligus. Ini dapat membuat siapapun yang melihat kemewahannya dapat jatuh terpukau.


Mata Xiu Qixuan menahan kedutan geli, dengan sedikit kikuk dia berkata; "Aku berterimakasih. Namun, ini—terlalu berlebihan ketika banyak bandit di luar yang berkeliaran!" Dia mengutarkan keberatannya dengan jelas.


Siapa juga yang ingin menaiki suatu bentuk kemewahan namun menempuh banyak bahaya yang mengancam nyawa. Itu terlalu merepotkan dan membuang waktu untuknya jika bertemu bandit di tengah jalan.


"Putriku tidak ingin menaiki benda berkilau itu. Ganti!" Suara Xiu Haocun tiba-tiba berujar keras memerintah penjaga untuk mengganti dengan gerbong yang baru.


Menoleh. Xiu Qixuan melihat wajah Xiu Haocun yang memerah menahan suatu getaran emosi.


Dia terkekeh kecil saat tatapannya berbenturan dengan mata berembun milik Xiu Haocun.


"Xuan'er!" Xiu Haocun berkata dengan kedua tangan terangkat, meminta pelukan.


Dengan tersenyum cerah, Xiu Qixuan bergegas dan melemparkan dirinya secara sukarela kedalam pelukan hangat dari sepasang tangan yang kokoh.


"Xuan'er..."


Xiu Haocun memanggil dengan mata yang terkulai memancarkan ketidakrelaan.


"Ya, ayah?" Xiu Qixuan langsung menjawab.


"Kamu tidak perlu pergi jika tidak ingin." Xiu Haocun melanjutkan dengan sedikit menggebu. "Biarkan ayah yang membereskan semuanya untukmu, baik?!"


Mata Xiu Qixuan terpejam, ia menggelengkan kepala dan mengeratkan pelukannya. "Bukankah terlambat untuk berubah pikiran sekarang?" Dia berujar melanjutkan dengan lembut untuk meyakinkan. "Maaf. Aku harus tetap pergi, ayah. Ada yang harus kulakukan di sana."


Terdiam. Xiu Haocun menghela napas tajam dengan nada berat hati, dia berkata; "Baiklah. Ayah sudah memberi kabar pada bibi dan nenekmu di Ibukota, mereka bersedia membimbing dan menjagamu selama berada di sana. Pastikan dirimu tetap aman dan cepat pulang!"


Mendengarkan perkataannya. Secara alami wajah Xiu Qixuan berkerut tidak menyukai ide tersebut. Dia tidak suka tinggal dengan orang asing yang akan mengatur-aturnya. Namun, dia hanya bisa mengangguk untuk sekarang membiarkan sang ayah tenang.


Yang dimaksudkan oleh Xiu Haocun adalah saudari tiri dan ibu tirinya yang tinggal di Ibukota.


Lu Ningya, ibu kandung dari mendiang Xiu Hongyu. Sekaligus selir utama dari mendiang jenderal sebelumnya. Dia saat ini masih hidup dan tinggal dengan nyaman dalam Kediaman Jenderal di Ibukota Anming.


Sedangkan, Xiu Lingze anak perempuan Lu Ningya sekaligus saudari tiri Xiu Haocun, dia menikah dengan salah satu menteri terkemuka di Ibukota, hidupnya makmur sebagai nyonya rumah.


"Selamat ulang tahun, putriku!" Xiu Haocun berkata lembut. Dia mencium kening Xiu Qixuan. "Ini musim panas keempat untukmu, bukan?"


Dengan tertawa ceria, Xiu Qixuan mengangguk. "Ya, tapi ini belum hari kelima belas untuk ulang tahunku."


"Kita tidak bisa merayakan hari itu bersama sesuai rencana." Xiu Haocun berkata dengan mendengus kesal. "Jadi, ayah mengucapkan lebih dulu. Hadiah untukmu sudah ayah kirimkan ke Ibukota." Dia berkata memberitahu dengan kerlingan mata misterius yang sengaja di buat-buat.


Melihat tingkah laku yang kekanakan. Xiu Qixuan menutup mulutnya sambil cekikan.


"Ekhm..." Suara batuk yang ikut di buat-buat terdengar dari arah samping. "Sudah?" Terlihat Xiu Jierui yang bertanya dengan polos. "Giliran kita sekarang, 'kan?" Yao Yunmei di sebelahnya ikut berkata.



(Yao Yunmei & Xiu Jierui)


Xiu Qixuan mengerjap. Dia hampir melupakan keberadaan pasangan ini.


Wajah Yao Yunmei terlihat khawatir, matanya berkaca-kaca oleh air mata. Entah apa yang dia pikirkan, namun firasatnya mengatakan bahwa gadis ini tidak akan kembali dalam waktu dekat. "Xuan'er, jangan membuat onar." Dia mendengungkan nasihat yang bersifat omelan. "Kau ingat perkataanku, bukan? Wanita—,"


"Wanita yang bijak tahu batasan aturannya." Xiu Qixuan berkata memotong, dia terkekeh lembut. Menatap Yao Yunmei dengan pancaran penuh rasa terima kasih.


Yao Yunmei mengatupkan gigi, dan tanpa kata menatap Xiu Qixuan. Secara refleks Yao Yunmei mendekat untuk memeluk Xiu Qixuan. Kemudian setelah beberapa saat dia mundur untuk memberi ruang pada Xiu Jierui.


Dengan menarik napas dalam-dalam seolah begitu berat, Xiu Jierui berkata tenang; "Xuan'er, tidak perlu menahan diri. Jika mereka mencoba mempermalukan, tunjukanlah siapa dirimu."


Dia melanjutkan dengan nada bengis yang menakutkan. Matanya menggelap dengan serius. " Aku akan menggantung siapapun yang menyinggungmu di depan gerbang kota. Setelah kering terkena sinar matahari dan basah kuyup karena hujan. Biarkan kawanan burung disiang hari memakan daging mereka. Dan, dimalam hari kawanan serigala menggoyak tubuh mereka. Jadi kau bisa mengatakan apapun padaku, mengerti?"


Bergidik. Xiu Qixuan meringis kikuk. "Itu terdengar menyeramkan." Dia melanjutkan dengan mengangguk. "Tapi, ya—aku mengerti!"


Tangan Xiu Jierui terangkat, dia mengelus lembut pucuk kepala Xiu Qixuan. "Bagus. Lakukan itu agar siapapun mengerti dan tahu nilaimu bagi kami." Suaranya seringan kepingan bulu, begitu lembut dan hangat.


Setelah salam perpisahan selesai di lakukan, Xiu Qixuan segera menaiki kereta yang di kemudikan oleh Xiao Taoli dengan Xiao Rou yang ikut di dalam mendampinginya. Sebenarnya dia di berikan dua momo dan dua gadis pelayan lain yang akan menemai perjalanannya. Namun, mereka dengan sengaja dia tempatkan di gerbong lain.


Kereta melaju menuju gerbang utama kota dengan kekuatan penuh. Xiu Qixuan menyingkap tirai memandangi keramaian jalan.


Jalanan penuh dengan kerumunan orang bergegas melihat rombongan gerbong mewah yang melintas.


Sepanjang jalan ketika kereta Xiu Qixuan mengemudi di jalan, orang akan memandangnya. Dalam samar, ada diskusi tanpa akhir yang menjadi perbincangan. "Dia adalah Nona Besar dari Keluarga Jenderal Xiu."


"Lihat wajahnya benar-benar cantik."


"Tapi terlalu buruk jika melihat usianya."


"Kudengar dia bertubuh lemah."


"Kaisar sangat memperhatikannya."


Orang-orang saling berbisik membicarakan.


Didalam kereta kuda Xiao Rou dengan hati-hati menaruh secangkir teh panas dan kudapan ringan keatas meja kecil yang terbuat dari kayu cendana. Dia menatap sekilas Xiu Qixuan yang memancarkan aura kesepian dari orang yang berpergian.


Merasakan tatapan cemasnya, Xiu Qixuan segera menutup kembali tirai dan menoleh dengan senyum sederhana mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


Ini semua hanya permulaan untuk sebuah perpisahan.


Tiba-tiba, teringat oleh sesuatu yang hal yang terasa kurang. Xiu Qixuan bangkit dan memunculkan wajahnya kearah pengemudi luar untuk bertanya; "Ah, Xiao Taoli! Kau tahu dimana er'ge? Dia tidak akan menyusul dan menyeretku pulang, 'kan?" Nadanya bergetar cemas membayangkan kegalakkan Xiu Huanran.


•••••••••••••