
Kekaisaran Shen membangun kembali kota-kota perbatasan selatan yang sempat dijarah oleh Suku Nanbao. Para penduduk asli kota perbatasan yang masih hidup diberikan sebidang tanah dan lahan pertanian untuk menyambung kembali kehidupan mereka.
Dua bulan yang sangat kacau akibat perang sebelumnya dengan Suku Nanbao membuat ladang pertanian rusak dan jumlah pengungsi melonjak naik.
Saat kota-kota diperbatasan Selatan sedang ramai karena Kekaisaran mengirim banyak bantuan dan rakyat bersorak gembira perang telah usai, berbeda dari itu semua—suasana Kediaman Utama Xiu sangat suram dan mencekam.
Xiu Haocun sang Jenderal Besar Kekaisaran Shen terduduk lemas diaula utama kediaman. Pria paruh baya itu memijat pelipisnya kemudian menghela napas panjang. Terlihat sangat frustasi.
Sedangkan Xiu Jierui berlutut jatuh dilantai memohon hukuman pada ayahnya karena lalai menjaga adik perempuannya.
Kedua pahlawan negara itu terlihat sangat tak berdaya. Suku Nanbao meminta menukar Xiu Qixuan dengan Jenderal Zhuting tetapi mereka tidak dapat bertindak gegabah karena baru saja dekrit kaisar tiba yang memperintahkan untuk tetap menahan Jenderal Zhuting agar dapat mengendalikan Suku Nanbao. Sementara, Xiu Qixuan bukan seorang yang begitu penting untuk diselamatkan bagi Kekaisaran Shen.
'Brakk,' Pintu terbuka dengan menimbulkan suara yang nyaring. Terlihat seorang pria berlari tergesa-gesa menghampiri Xiu Haocun dan Xiu Jierui.
"Ada apa sebenarnya? Dimana Xuan'er?" Ucap Xiu Huanran yang baru saja kembali ke Kota Ping'an.
Saat menerima kabar buruk akan perang di kota perbatasan Selatan, Xiu Huanran tidak begitu panik karena baginya itu sudah biasa, ayah dan kakak pertamanya dapat mengatasi dengan cepat. Tetapi, saat dirinya menerima kabar kedua akan perang yang berkecamuk—dia dengan cepat bergegas kembali.
Memang membutuhkan waktu yang cukup lama diperjalanan dari Kekaisaran Mo menuju Kota Ping'an. Harusnya dia sudah sampai sejak kemarin tetapi dirinya tidak dapat memasuki gerbang Kota Ping'an dikarenakan perang sedang berlangsung menjadikannya memilih secara tersembunyi membantu bala bantuan Anming yang merebut Jizhou.
Xiu Huanran menerima surat kabar dari bawahannya yang mengawasi Kota Ping'an akan situasi buruk yang menimpa adik perempuannya, pria itu dengan cepat bergegas kembali ke Kediaman Utama Xiu. Surat yang diterima-nya hanya garis besar memberitahu bahwa Xiu Qixuan dijadikan tawanan Suku Nanbao membuat dirinya tidak mengetahui keseluruhan cerita.
Xiu Haocun dan Xiu Jierui terdiam tidak ada diantara mereka yang ingin menjawab pertanyaan Xiu Huanran. Karena pikiran mereka sedang sangat kalut dan tidak dapat merangkai kata untuk menjelaskan.
Xiu Huanran menggeram marah dia menarik kerah baju Xiu Jierui yang sedang berlutut untuk berdiri.
"Jawab aku!" Geram Xiu Huanran
"Lancang!" Balas Xiu Jierui menepis cengkeraman Xiu Huaran dikerah bajunya agar terlepas.
Emosi kedua pria itu sangat tidak stabil mereka berdua memiliki ego yang sama besarnya untuk mengalah. mereka berdua bertatapan dengan sangat sengit.
Xiu Haocun hanya diam karena tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Menghela napas panjang Xiu Jierui mengalah lebih dulu dan menceritakan semua detail kejadian yang terjadi pada Xiu Qixuan.
Tanpa ada yang menyadari Ji Gui juga hadir disana—menyusul setelah Xiu Huanran memasuki aula utama. Pria itu hanya diam melihat dan mendengarkan semua yang terjadi didalam aula utama. Kedua telapak tangan pria itu mengepal erat menahan kecemasan yang mendera dirinya.
Tiba-tiba Xiu Haocun yang sejak tadi sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri—beranjak berdiri dan berucap dengan keras,
"Xiu Jierui, Siapkan pasukan. Kita akan menjemput Xuan'er,"
Xiu Jierui, Xiu Huanran dan Ji Gui menolehkan wajah menatap Xiu Haocun.
Baru saja Xiu Jierui ingin menjawab dan menyetujui perintah—Xiu Huanran lebih dahulu menyela.
"Ayah, Tenanglah! Kita tidak dapat menggunakan prajurit tanpa izin militer yang jelas," Peringat Xiu Huanran padahal pria itu sebelumnya sangat panik tetapi entah bagaimana setelah mendengarkan penjelasan dari Xiu Jierui dia dapat mendapatkan ketenangannya kembali.
"Tidak bisa, kita harus cepat menjemput adikmu. Suku Nanbao terkenal dengan keterbukaan mereka tanpa etiket yang jelas. Xuan'er ditahan oleh Pasukan Militer Nanbao yang secara keseluruhan adalah pria, Bagaimana kalau adikmu—" Ucap Xiu Haocun tejeda diakhir kalimat. Seorang ayah tentu saja khawatir dengan anak gadisnya yang dijadikan tawanan militer.
Ucapan yang dilontarkan Xiu Haocun membuat Ji Gui semakin cemas, terlihat sedikit darah keluar dari kepalan tangan Ji Gui, kuku jari pria itu menacap dalam ditelapak tangannya karena kepalan yang semakin mengeras.
Sementara Xiu Huanran terdiam tetapi pria itu terlihat lebih tenang dari mereka semua yang berada diruangan itu.
Xiu Huanran percaya adik bodohnya itu tidak akan mudah ditaklukan oleh musuh yang sangat kejam sekalipun, karena dia tahu otak absurd Xiu Qixuan sangat membantu banyak disituasi rumit.
"Ayah, Beristirahatlah terlebih dahulu! aku akan menyuruh orangku untuk menjemput Xuan'er." Ucap Xiu Huanran menghampiri Xiu Haocun untuk menenangkannya.
******
Sementara di Kediaman Xiu sangat suram akan kecemasan. Pelaku utama kecemasan mereka sedang menyantap makanan dingin yang seharusnya memang untuk prajurit militer.
'Takk' Xiu Qixuan membanting alat makan keatas meja.
"Tidak enak, hambar. Semiskin apa mereka ini!" Gerutunya menatap makanan yang berada diatas meja kecil.
Beranjak berdiri untuk keluar tenda, baru saja dia membuka tirai dan melangkah keluar—dua orang prajurit menghadangnya dengan ekspresi seram.
'Humph,' Dengusnya sebal dan kemudian melangkah masuk kembali kedalam tenda.
Disisi lain.
"Kau yakin gadis aneh itu baik-baik saja?" Tanya Sima Junke kepada Kangjian
"Bukankah kau sudah lihat sebelumnya—bahwa gadis aneh itu tidak ingin aku memeriksanya, tetapi dilihat dari kondisinya sekarang tidak ada tanda dan gejala keracunan ditubuh gadis itu. Aku juga tidak mengerti," Jawab Kangjian dengan berpikir keras.
Kangjian memberi makanan kepada Xiu Qixuan yang terus mengoceh lapar dan kemudian pria itu ingin memeriksa denyut nadi Xiu Qixuan tetapi gadis itu malah menuduhnya yang aneh-aneh. Berteriak seakan Kangjian ingin melecehkannya.
Xiu Qixuan tidak ingin Kangjian mengetahui bahwa dirinya kebal oleh racun.
'Brukk' Suara nyaring dan kepulan tanah kering yang berterbangan dari arah tenda yang ditempati Xiu Qixuan membuat mereka berdua menolehkan wajah dan kemudian berlari kencang.
Sesampainya disana terlihat tenda megah yang sebelumnya berdiri kokoh menjadi hancur runtuh tidak beraturan.
"Sial! Apa yang kalian lakukan? Cepat cari gadis itu!" Teriak Sima Junke dengan amarah kepada dua penjaga yang terbengong kaget melihat situasi tenda dibelakang mereka—sebelumnya dua penjaga itulah yang menghadang Xiu Qixuan keluar.
Pelaku yang merobohkan dan membuat kekacauan ditempat itu tidak lain adalah Xiu Qixuan sendiri yang sekarang berjalan bebas dan terkikik geli.
******
Sebelumnya.
Xiu Qixuan masuk kembali kedalam tenda, gadis itu menghentakan kedua kakinya karena kesal.
Saat dirinya ingin menendang meja karena kesal—suatu ide pintar melintas dikepala-nya.
"Tidak usah begitu tanggung. Kalau ingin mengacaukan ya kacaukan sekaligus," Gumamnya pelan kemudian menelusuri setiap sudut tenda untuk mencari celah yang paling lemah dan merobohkan tenda.
'Brukk' Tenda megah dan besar itu hancur disertai barang-barang yang ada didalamnya dengan cepat Xiu Qixuan merangkak keluar kemudian berlari sambil terkikik—sekilas dia dapat melihat ekspresi tercengang kedua prajurit yang sebelumnya menghadangnya.
******
Xiu Qixuan berjalan tidak menentu arah menghindari setiap prajurit Suku Nanbao yang melintas, gadis itu ingin kabur tetapi kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Dia hanya ingin mencari makanan yang layak dimakan.
'Bukk' Dirinya menabrak dada bidang milik seorang pria.
"Aduh," Gumamnya pelan dan mendongakan wajah untuk melihat siapa pria yang dia tabrak.
"Berusaha kabur, heum?" Ucap Aisin Tianyi yang berada tepat didepan Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan berdecak pelan dan bergumam, "Memang musuh selalu bertemu dijalan sempit,"
Tanpa sengaja pandangan Xiu Qixuan melihat tenda besar dan megah yang hampir sama dengan tenda milik Sima Junke yang dia robohkan.
"Hei, Kau! Sebagai seorang pemimpin pasukan, kau pasti memakan makanan enak, bukankah begitu?" Tanya Xiu Qixuan menolehkan wajahnya kembali menatap Aisin Tianyi.
"Tentu saja," Jawabnya tanpa perlu berpikir banyak.
"Kau termasuk orang yang royal atau pelit? Kalau kau pelit—sangat tidak layak dijadikan pemimpin," Tanya Xiu Qixuan sekali lagi.
"Aku ini orang yang sangat royal," Jawabnya lagi.
Xiu Qixuan tersenyum puas dan kemudian menarik lengan Aisin Tianyi masuk kedalam tenda dan berucap, "Buktikan kelayakanmu, cepat berikan aku banyak makanan enak."
"Kau—" Ucap Aisin Tianyi terjeda karena Xiu Qixuan memotong ucapannya lebih dulu.
"Seorang pria dan pemimpin yang baik akan selalu memegang dan membuktikan ucapannya," Ucap Xiu Qixuan dengan mengangkat dagu terkesan angkuh.
Aisin Tianyi hanya mendengus kesal dan memperintahkan seseorang membawakan daging rusa untuk dibakar dan dijadikan sup.
"Kau ini tidak terlihat seperti tawanan perang, terlalu banyak keinginan bisa membuat kami bangkrut." Ucap Aisin Tianyi sangat kesal tetapi melihat wajah gadis ini membuatnya tidak dapat marah. Pria itu mendudukan diri disamping Xiu Qixuan yang sedang memakan buah dari atas meja kudapan.
"Yasudah kembalikan saja aku ke Kota Ping'an." Jawab Xiu Qixuan dengan enteng.
*******
Dua orang pria dewasa dan sangat gagah terduduk diatas kuda perang mereka masing-masing.
Para prajurit mereka berbaris dibelakang sudah siap melanjutkan perjalanan kembali ke Ibukota Nanjing.
Sima Junke berada diatas kuda perang berwarna hitam miliknya dan Aisin Tianyi berada diatas kuda perang berwarna putih miliknya.
Mereka berada dibarisan depan memimpin pasukan untuk kembali ketempat asal mereka.
"Hei, Kalian—! Dimana kudaku? Aku tidak ingin berjalan kaki!" Teriak Xiu Qixuan dengan keras.
Karena yang dia tahu tawanan perang akan diikat dan diseret mengikuti pasukan. dia tidak ingin melakukan hal yang melelahkan!
"Lancang!" Salah satu prajurit menghampiri Xiu Qixuan dan menodongkan pedang panjang kelehernya, sangat terlihat bahwa prajurit tersebut berusaha menjilat Aisin Tianyi dan Sima Junke.
Xiu Qixuan tidak takut—dia memberi tatapan malas kepada prajurit didepannya.
"Singkirkan!" Ucap Xiu Qixuan dengan nada rendah tetapi cukup menyeramkan karena prajurit itu terlihat kaget.
Melihat prajurit didepannya hanya diam saja Xiu Qixuan mengangkat salah satu lengannya mengapit mata pedang tersebut dengan kedua jarinya.
'Takk. Prang.' Pedang itu patah seperti terpotong oleh suatu benda yang lebih kuat dan tajam.
Xiu Qixuan mengeluarkan keistimewaan Lao Yong dan Baijin Hu dari kedua jari yang mengapit mata pedang. Dia memperlihatkan hal itu didepan semua prajurit agar tidak seenaknya bertindak padanya.
Situasi menjadi hening seketika. Sima Junke dan Aisin Tianyi juga ikut tercengang.
"Jangan melibatkanku direncanamu untuk terlihat baik didepan mereka. Mengangguku, kau akan tahu akibatnya." Ucap Xiu Qixuan dengan tajam
Prajurit yang menodongkan pedang panjang pada Xiu Qixuan sedikit gemetar ketakutan. Gadis ini entah titisan siluman apa?!
Mereka semua mengira Xiu Qixuan adalah gadis penakutan dan polos dengan tingkah anehnya tetapi tidak menyangka bahwa gadis ini memiliki sisi menyeramkan kalau dirinya terusik.
Pedang prajurit itu menjadi tumpul dan tidak berguna, sangat disayangkan sebagai seorang prajurit militer dia kehilangan muka dikarenakan menganggu seorang gadis kecil.
"Kangjian," Panggil Sima Junke memberi kode agar Kangjian memberi seekor kuda kepada Xiu Qixuan untuk mengakhiri situasi didepan mereka.
•••••••••
Aisin Tianyi
19 Tahun
Penerus Kepala Suku Nanbao
Sima Junke
21 Tahun
Memiliki Suatu Hubungan dengan Sekte Xitian karena mendiang sang ibu yang baru meninggal beberapa bulan yang lalu.
Dimanapun tempatnya asal masih tetap hidup Xuan sang titisan siluman koala dan beruang pemalas jg akan tetap menikmati hidupnya dengan membuat kerusuhan:-D