
Sinar matahari yang hangat di musim semi tengah hari menyembul masuk melalui jendela kayu yang di biarkan terbuka oleh pemiliknya.
Seorang wanita hamil yang di perkirakan berusia pertengahan awal dua puluhan dengan sopan bersedia menyajikan secangkir teh dan sedikit kudapan sederhana untuk sang tamu yang tak diundang.
"Sudah lama rumah ini tidak menyambut tamu terhormat, mohon pengertiannya Nona."
Kata wanita hamil tersebut dengan tenang namun tersirat kesarkasan yang samar dari nada bicaranya.
"Tentu saja. Saya sangat berterimakasih atas kesopanan yang dapat Anda berikan ini, Nyonya."
Xiu Qixuan segera memasang senyuman formalitas yang santun. Kemudian bibirnya mengatup untuk menyentuh cangkir secara perlahan menyesap teh dengan etiket sempurna yang halus dan anggun.
"Jadi, angin seperti apa yang mengarahkan Nona untuk datang berkunjung ketempat saya yang terpencil ini?"
Mata wanita hamil tersebut menyipit tajam untuk langsung bertanya pada inti yang ingin dia ketahui.
Xiu Qixuan hanya balas tersenyum hangat dengan mengedarkan pandangannya yang penuh rasa keingintahuan khusus secara terbuka mengamati seluruh furniture ruangan tempat wanita tersebut tinggal.
Dia tidak menemukan keanehan yang mencurigakan. Semua terlihat biasa dan normal, mungkin dia sendirilah yang mencurigakan jika dilihat dari sudut pandangan lawan bicaranya.
"Maafkan ketidaksopanan saya, Nyonya. Jadi, bagaimana bisa kita melewatkan sesi perkenalan yang merupakan dasar dari inti pembicaraan."
Kata Xiu Qixuan dengan tersenyum sopan.
"Biarkan saya yang memperkenalkan diri terlebih dahulu." Xiu Qixuan beranjak berdiri kemudian membungkuk halus membuat postur elegan. "Saya Rongrong dari Ibukota Anming milik Kekaisaran Shen."
Jika sedang memakai identitas palsu, Xiu Qixuan tentu saja harus memakai nama samaran yang tepat sepanjang waktu sampai dia membuang kembali identitas tersebut.
Aturannya adalah dia akan menjadi Nona Xiu yang asli hanya jika dia pulang ke Kota Ping'an.
Mendengarkan perkataan Xiu Qixuan, wajah wanita hamil tersebut terlihat berkedut kaku dengan bola matanya yang sedikit bergetar samar.
Wanita hamil tersebut memang memasang kewaspadaannya terhadap orang asing. Apalagi sejak awal, ia sudah menyadari bahwa gadis yang merupakan tamunya ini adalah orang dari Shen yang harus dia hindari.
Dilihat dari tutur bicara Xiu Qixuan yang halus dan etiket sikap dasar yang begitu khas, itu hanya dapat dipelajari aristokrat di Shen dan dia sangat mengetahui hal tersebut.
"Baiklah, Nona Rongrong." Ia menghela napas dengan mengelus lembut perutnya yang membesar. "Saya adalah Mengjia." katanya begitu datar.
"Nyonya Meng."
Xiu Qixuan bersuara untuk memanggilnya. Kemudian tangannya terulur untuk menaruh sebuah benda berbentuk liontin giok berukiran burung merak milik Rui Jizhang diatas meja yang sengaja dia perlihatkan.
Mata Mengjia terlihat bergetar kosong. Wajahnya yang membeku terlihat goyah karena tidak dapat menjaga ketenangannya.
"Reaksi yang berlebihan dan terkejut ini. Sepertinya Nyonya Meng sangat mengenali pemilik dari liontion giok tersebut." gumam Xiu Qixuan dengan tajam mengamati.
Mengjia mendongakan wajah untuk melihat Xiu Qixuan yang masih berdiri di seberang tempatnya duduk.
"Darimana Anda mendapatkannya? Apakah dia yang mengirim Anda?" tanya Mengjia dengan menyipit tajam.
"Nyonya, saya akan menjawab semua pertanyaan apapun. Tetapi, bisakah Nyonya menjawab satu pertanyaan saya."
Kata Xiu Qixuan dengan tenang mendudukkan diri kembali diatas bantalan kursi untuk menatap dalam kearah Mengjia.
"Rui Jizhang merupakan siapa bagimu?" tanyanya dengan tajam yang menuntut.
Mengjia balas memandang kosong, terlihat kehilangan arah.
Selama beberapa saat kemudian keheningan yang tenang menyelimuti mereka.
akhirnya, bibir Mengjia mengait keatas untuk berbisik rendah. "Ayahku."
'Ah.' Xiu Qixuan terlihat sedikit tersentak ketika ia tidak sengaja mengeluarkan suara yang samar.
Mata Xiu Qixuan terlihat berkedut bingung dan tidak nyaman. Bagaimana ia harus menjelaskan keadaan Rui Jizhang kepada Mengjia?
Mengjia tersenyum lembut seolah mengerti dan dapat membaca kedalam pikiran Xiu Qixuan.
"Nona, aku dan ayahku terakhir kali bertemu adalah dua bulan yang lalu. Aku sangat memahami kondisinya yang saat itu begitu buruk. Entah apa yang terjadi padanya sekarang sampai mengirimmu datang menemuiku, tetapi, aku sangat mengerti." kata Mengjia dengan tersenyum simpul walaupun langit mendung tidak dapat dia sembunyikan dari wajahnya.
"Nyonya Meng, paman mengirimku untuk bertemu denganmu karena dia ingin menunjukan sesuatu padaku yang sengaja dia titipkan padamu." jelas Xiu Qixuan dengan serius menatap Mengjia.
"Tunggulah sebentar."
Kata Mengjia kemudian beranjak kedalam kamar tidur untuk mengambil sesuatu.
Xiu Qixuan menatapnya dengan rasa tercengang yang begitu kentara. Heh, bagaimana bisa kewaspadaannya hilang begitu saja? Dia langsung bergegas untuk mengambil barang?
Beberapa saat kemudian, Mengjia datang dengan membawa kotak kayu kecil yang terbuat dari batang pohon cendana.
Ukiran bunga mawar diatas papan kotak kayu yang menonjol membuat kita tahu bahwa itu adalah pekerjaan dari pengerajin yang terampil.
"Nyonya Meng, tidakkah Anda penasaran kondisi ayah Anda? Alih-alih langsung memberikan saya barang." kata Xiu Qixuan dengan kerutan penuh selidik.
Bukannya dia tidak menyukai hal inti tanpa basa-basi tersebut, hanya saja bukankah kalau terlalu mudah didapatkan akan terlihat lebih mencurigakan?
Mengjia balas menyeringai.
"Percaya diri sekali ya, nona."
"Aku hanya mengambil barang saja, kok. Bagaimana bisa aku langsung memberikannya begitu saja sedangkan aku belum mempercayaimu." ucapnya dengan santai dan mendengus tak acuh.
Xiu Qixuan mengerjap tertegun. Ternyata Mengjia memiliki sisi menyebalkan juga.
"Baiklah, baiklah. Jadi bagaimana?" balas Xiu Qixuan dengan mata yang berkedip polos.
Mengjia tersenyum hangat.
Kedatangan Xiu Qixuan mengisi rasa kesepiannya di siang hari saat suaminya sedang bekerja diluar.
Disatu sisi, gadis ini mengingatkannya pada adik perempuan yang sudah tiada karena titah hukuman pembantaian kekaisaran untuk seluruh anggota keluarga Rui beberapa bulan lalu.
"Jelaskan semua yang kamu ketahui tentang ayahku. Bagaimana kondisinya sekarang?"
Suara Mengjia begitu serius penuh otoritas tekanan yang khusus. Matanya yang cemerlang bersinar tajam. Ia terlihat seperti seorang bangsawan yang mengeluarkan pancaran wibawa yang selama ini berusaha dia sembunyikan.
••••••••••••
Garis-garis merah muda dan ungu mewarni langit. Matahari segera berada di bawah sang cakrawala langit, hari sudah senja.
Terlihat Xiu Qixuan yang sedang berada di pelataran belakang rumah kelima di jalan kecil Chongyue.
Dia sedang merapihkan tudung jubahnya untuk mengikatnya erat.
Segera setelah itu dia meloncat naik keatas pelana kuda yang berada disisi kiri tubuhnya.
"Tuan dan Nyonya Meng, saya pamit. Terimakasih atas keramahannya!" riang Xiu Qixuan dengan menganggukan kepala.
Dipelataran rumah, sepasang suami dan istri terlihat berdiri berdampingan melepaskan kepergiannya dengan hangat.
"Terimakasih, Nona Rongrong. Mohon berhati-hati!"
"Ya, Rongrong. Datanglah berkunjung lagi." jawab Nyonya Meng dengan tersenyum senang melambaikan tangan.
"Tentu, aku juga akan sering mengirim surat. Aku pergi!" balas Xiu Qixuan kemudian segera memacu kecepatan kudanya untuk keluar dari gerbang belakang rumah sederhana tersebut.
Rui Mengjia adalah putri ketiga Rui Jizhang. Satu tahun yang lalu, wanita tersebut keluar dari Kediaman Rui untuk menggembara bersama cinta sejatinya.
Suaminya merupakan rakyat petani biasa, dia mendapatkan begitu banyak pertentangan dan dia segera di keluarkan dari silsilah keluarga besar Rui akibat noda tersebut.
Tetapi, berkat itu hanya dialah yang berhasil lolos dari hantaman maut yang menyapu bersih seluruh anggota keluarga Rui.
Pada saat dua bulan yang lalu, ayahnya datang menemuinya dengan menangis meminta maaf sembari menitipkan sesuatu di dalam kotak tersebut. Dia tidak mengerti apapun yang terjadi kepada keluarganya karena ayahnya tetap bungkam sampai akhir.
Dalam kurun waktu setengah hari ini, Xiu Qixuan berhasil dekat dan mendapatkan sebuah kepercayaan. Kotak kayu kecil tersebut segera Mengjia serahkan pada Xiu Qixuan.
Mungkin, isi di dalamnya tidak akan seberapa. Tetapi, sesuatu yang penting tercatat disana.
•••••••••••••