
POV. Xiu Qixuan
Tubuhku terasa pegal dan sakit. Aku ingin membuka kedua kelopak mataku tetapi terasa berat dan sangat sulit untuk terbuka.
Sangat lelah!
Samar-samar aku dapat mendengar suara dua orang pria sedang berbicara.
"Kangjian, kenapa kau menembakan anak panah beracun?! Kau tentu saja tahu—gadis ini sangat berguna," Ucap suara berat pria yang sedikit familiar.
"Sima Junke, kau tentu saja juga tahu—bahwa anak panah yang biasanya saya tembakan dimedan perang adalah panah api ataupun panah beracun." Balas pria lainnya dengan lugas dan tidak mau kalah—yang disebut dengan nama, Kangjian.
Aiyaa! Aku sudah ingat, pria pertama yang berbicara tadi adalah pemimpin pasukan Nanbao yang menyerang pertahanan timur. Pria itu yang membawaku pergi, pantas saja suaranya terkesan familiar. Ternyata pria itu bernama, Sima Junke. Nama yang bagus!
"Seharusnya dia sudah terbangun," Ucap Sima Junke dengan penuh keluhan.
"Sial! Bagaimana kalau gadis ini mati, Keluarga Xiu tidak akan melepaskan Paman Zhuting dan juga Suku Nanbao dalam bahaya." Lanjutnya dengan frustasi.
Sepertinya aku mengerti arah pembicaraan mereka yang ternyata sedang membicarakanku. Hei, Kalian tenang saja aku tidak akan mati hanya karena panah beracun yang sedikit menggores punggungku ini.
Aku ini kebal oleh racun, hanya saja karena kelelahan kemudian energiku ini habis terkuras saat bertarung dan menyembuhkan To Mu dengan mengeluarkan aura kehidupan—membuat penyembuhan ini menjadi terkesan sangat lambat. Hanya butuh penyesuaian saja untuk ternetralisir.
Kedua pria yang membicarakanku itu sepertinya sangat panik. Sayangnya, tubuhku masih sangat lemas dan kedua kelopak mataku berat untuk terbuka.
Lama-kelamaan kesadaranku menghilang kembali, semuanya menjadi gelap dan hening.
POV END.
******
"Kangjian, cepat carikan penawar racunnya." Perintah Sima Junke
Pria itu berdiri sembari menatap tubuh Xiu Qixuan yang dia letakan diatas kursi panjang di dalam tenda militer miliknya. Kedua bola mata Sima Junke terlihat menerawang sepertinya pria itu sedang memikirkan kemungkinan yang akan terjadi dan mengatur beberapa rencana.
"Junke, aku tidak akan segan lagi untuk mengingatkanmu agar tetap tenang. Kau kehilangan ketenanganmu dan bertindak gegebah sejak Jenderal Zhuting menjadi tawanan." Ucap Kangjian mencoba memberi nasihat kepada atasan sekaligus sahabatnya semasa kecil.
Kangjian tidak sungkan dengan Sima Junke saat mereka sedang berkomunikasi berdua tanpa orang lain yang terlibat dan melihat.
"Kau memangnya tahu apa?!" Teriak Sima Junke dengan marah kepada Kangjian. Dibeberapa waktu pria ini memang sulit mengontrol emosinya karena beberapa alasan tertentu.
"Aku tahu—! Aku tahu Jenderal Zhuting sangat penting untukmu, tetapi kalau ingin menyelamatkannya kau harus memegang lebih banyak kendali akan dirimu." Balas Kangjian
Situasi diantara dua pria itu terlihat cukup sengit saat mereka saling menatap tajam.
Kangjian yang mengalah terlebih dahulu dengan mengalihkan pandangannya dan menghela napas panjang untuk meredam emosinya.
"Penawar yang kau minta berada di Ibukota Nanjing. Kalau kau ingin menyelamatkan gadis itu—kita segera bergegas menemui Aisin Tianyi untuk berkumpul dan kemudian kembali dengan cepat ke Ibukota." Ucap Kangjian dan melangkah pergi membiarkan Sima Junke untuk menenangkan pikiran.
Lagipula apa salah Kangjian? Dia saat itu hanya menerima perintah untuk menembakan dua anak panah sekaligus kepada To Mu dan Xiu Qixuan.
Rencana Sima Junke berubah—itulah yang menyebabkannya menjadi pelaku yang bersalah disini.
Ibukota Nanjing adalah kota besar milik Suku Nanbao tepat diselatan Daratan Ca Li yang menjadi pusat aktivitas penduduk Suku Nanbao.
Suku Nanbao memang memiliki daerah kekuasan yang sangat sempit dan kecil dibandingkan tiga kekaisaran besar yang memerintah saat ini.
Jizhou sudah diambil alih kembali oleh bala bantuan Kekaisaran Shen. Suku Nanbao hanya mendapatkan keuntungan dari perang ini dengan menjarah dan mengirim semua hasil jarahan kota-kota yang sempat mereka duduki sebelumnya ke Ibukota Nanjing.
Sayangnya, Rencana mereka merebut kota perbatasan selatan gagal. Tetapi ini cukup terbilang prestasi besar karena membuat Kekaisaran Shen tidak lagi meremehkan kemampuan Pasukan Suku Nanbao.
******
Didalam sebuah tenda mewah dan besar khas milik seorang pemimpin terlihat dua orang pria dewasa berdebat dengan pendapat mereka masing-masing.
Matahari sudah naik kepermukaan tetapi seorang gadis cantik yang bersandar dikursi kayu kecil masih terlelap. Padahal posisinya terduduk dan sangat tidak nyaman untuk tertidur pulas. Sepertinya gadis itu bukan tertidur tetapi kehilangan kesadarannya.
"Aisin Tianyi, Kau memang pengecut! Bagaimana bisa kau menarik kembali pasukan ditengah pertarungan yang sebenarnya dapat kita menangkan!" Ucap Sima Junke dengan membara.
'Brakk'
"Lancang! Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku! Sima Junke, kau kehilangan kewarasanmu." Balas Aisin Tianyi sembari membanting gelas arak yang sedang dia minum keatas meja.
"Bala bantuan Anming saat itu telah sampai di Jizhou dan menuju Ping'an, kalau aku tidak dengan cepat menarik kembali pasukanku akan kalah telak karena terkepung oleh dua sisi musuh." Jelas Aisin Tianyi dengan menatap tajam Sima Junke.
"Aku tahu, tetapi kalau kau tetap menyerangnya dengan cepat—kita dapat memenangkan pertarungan dan berlindung di dalam Kota Ping'an, saat bala bantuan Anming tiba-pun kita tetap dapat menghadapinya." Ucap Sima Junke
"Lalu bagaimana dengan kau?" Balas Aisin Tianyi dengan angkuh bertanya.
"Bukankah kau adalah pria paling berbakat di Suku Nanbao? Bagaimana bisa kau membutuhkan waktu yang lama hanya untuk menyerang pertahanan lemah yang sangat mudah ditaklukan," Lanjut Aisin Tianyi
Aisin Tianyi adalah pewaris sah dari mendiang Kepala Suku Nanbao sebelumnya yang tewas karena suatu penyakit aneh.
Sedangkan, Sima Junke juga memiliki garis hubungan darah dengan Aisin Tianyi dan mendiang Kepala Suku.
Nenek Sima Junke adalah Kakak perempuan mendiang Kepala Suku. Itulah yang menyebabkan marga mereka berdua berbeda. karena Sima Junke mengikuti marga kakek dan ayahnya.
Secara garis keturunan Sima Junke adalah keponakan Aisin Tianyi tetapi mengenai umur—Sima Junke lebih tua duatahun dari pewaris sah itu.
Nenek Sima Junke bernama Aisin Fei dan Kakeknya bernama Sima Hong. Ayahnya bernama Sima Xiahou yang bertemu dan menikah dengan gadis dari luar Suku Nanbao sendiri kemudian melahirkannya.
Mendiang Kepala Suku memiliki nama Aisin Boyu dan menikah dengan salah satu gadis yang sangat terkemuka di Suku Nanbao, yang bernama Yu Chuchu.
Entah apa yang membuat Aisin Fei mengambil tindakan dengan merebut kekuasaan dan otoritas dari tangan Aisin Tianyi saat mendiang Kepala Suku sudah tiada.
Sima Xiahou—ayah Sima Junke sudah tiada sejak dirinya masih sangat kecil dan sejak saat itu pula sang nenek, Aisin Fei sifatnya berubah karena kehilangan putra kesayangannya.
Jadi sebenarnya belum ada pergantian pemimpin suku karena belum terjadi penobatan secara sah untuk kepala suku yang baru.
Dilihat dari cara Aisin Fei sepertinya nenek tua itu mencoba untuk mendorong cucunya naik ke posisi Kepala Suku.
Lagipula di Suku Nanbao sekarang terbagi menjadi dua kubu, banyak yang memilih mendukung Sima Junke dibandingkan Aisin Tianyi karena bakat dan kemampuan pria itu lebih baik.
Tetapi sebenarnya Sima Junke tidak memiliki niat menjadi Kepala Suku, dirinya dekat dengan Aisin Tianyi— mereka sebenarnya saling menyayangi sebagai saudara tetapi juga saling melawan satu sama lain.
Aisin Tianyi sendiri baru kali ini terjun kedalam medan pertempuran secara langsung tetapi pria itu dengan cepat menyesuaikan keadaan. Terbukti sebenarnya dia juga cukup berbakat.
Saat ini Sima Junke terlihat bertindak sangat gegabah dikarenakan pria itu sangat mengkhawatirkan Jenderal Zhuting yang notabennya memiliki hubungan saudara dengan sang ibunda yang baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu. Dia tidak ingin kehilangan paman sekaligus sosok ayah kedua baginya cukup kehilangan orang yang dia sayangi. Sekarang dia hanya memiliki Nenek dan Paman Zhuting.
'Brak,' Xiu Qixuan yang memang berada disisi lain tenda tersebut mengangkat salah satu kakinya keatas meja kudapan menghasilkan suara yang cukup nyaring.
"Berisik sekali!" Ucap Xiu Qixuan yang sudah dapat memulihkan kesadarannya.
Kedua mata gadis itu masing mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam rentina-nya.
Sima Junke dan Aisin Tianyi terkejut mendengar gadis yang sedang keracunan terbangun dan memiliki tenaga untuk mengoceh. Kedua pria itu langsung menolehkan wajah dan menatap intens Xiu Qixuan.
"Hei, kalian—! Apakah kalian semiskin ini? Kekurangan tenda militer dan menempatkanku bersama kalian dibangku kecil. Aiyaa—Tubuhku pegal sekali." Oceh Xiu Qixuan sembari merenggangkan tubuhnya.
Kedua pria itu yang mendengar ucapan Xiu Qixuan hampir saja menjatuhkan rahangnya. Gadis ini tahu kalau dirinya sedang bersama dua orang asing dan menjadi tawanan tetapi reaksinya menghadapi hal ini sungguh diluar nalar manusia.
"Apa lihat-lihat?!" Ucap Xiu Qixuan saat dirinya tidak sengaja bertatapan dengan kedua orang itu.
"Kau mendapatkan gadis ini dimana?" Tanya Aisin Tianyi dengan skeptis.
"Dia anggota keluarga Xiu." Jawab Sima Junke tidak sesuai konteks.
"Kau yakin?" Tanya Aisin Tianyi sekali lagi. Pasalnya dia tidak cukup percaya karena gadis Kekaisaran Shen terkenal dengan etiketnya yang baik dan juga kelembutannya.
"Sangat yakin," Jawab Sima Junke
"Apakah dia benar-benar keracunan?" Ucap Sima Junke yang sekarang bertanya.
"Sepertinya tidak," Jawab Aisin Tianyi dengan yakin padahal pria itu tidak tahu mengenai Xiu Qixuan.
"Kalian cukup berani juga. Membicarakan seseorang didepan orang itu dengan cara terbuka." Ucap Xiu Qixuan, secara tidak sengaja pandangan gadis itu melihat nampan kue kering dipojok atas meja kudapan dan langsung mengambil kemudian memakannya dengan tenang.
"Aku lapar—!" Ucap Xiu Qixuan memberitahu bahwa dirinya sedang kelaparan sejak kemarin belum makan karena terlibat langsung dalam konflik perang.
"Kau tidak takut kue yang dimakanmu itu beracun?" Tanya Aisin Tianyi cukup tertarik dengan gadis didepannya.
"Tidak, Kalian membutuhkanku yang hidup untuk dijadikan tawanan. Jadi tidak mungkin kue ini beracun, lagipula kue ini sebenarnya disediakan untuk kalian." Jawab Xiu Qixuan dengan mulut yang penuh kue.
"Oh iya, kalian tidak melanjutkan perdebatan? Aku ingin memberi tahu satu pepatah yang cukup bagus—Ketika para ikan bertengkar, nelayan yang mendapatkan untung." Lanjut Xiu Qixuan dengan santai dan tenangnya dia melontarkan isi pikirannya.
Dari keseluruhan perdebatan mereka yang dia dengar, Xiu Qixuan mengetahui satu hal bahwa mereka saling memiliki kekuasan dan juga saling melawan untuk menjadi yang terbaik.
Saat suatu negara memiliki konflik internal—musuh negara tersebutlah yang mendapatkan untung.
Guratan ekspresi wajah Sima Junke dan Aisin Tianyi terlihat menggelap setelah mendengar ucapan Xiu Qixuan.
Sima Junke beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Xiu Qixuan. Pria itu berdiri tepat dihadapan Xiu Qixuan yang mendongakan kepala untuk menatapnya. Mereka saling bertatapan dengan dalam.
Sima Junke mencengkeram erat dagu Xiu Qixuan dan menelusuri sudut bibir gadis itu dengan jarinya untuk menghapus sisa kue kering yang tertinggal.
"Kau memang cerdas, tetapi manusia yang terlalu cerdas didunia ini akan sangat cepat musnah." Ucap Sima Junke dengan suara rendah
"Dan aku ingin memberitahumu satu hal lain, kau memang berguna tetapi jangan terlalu memandang tinggi dirimu. Aku dapat membungkammu tanpa membuatmu harus menjadi mayat," Lanjut Sima Junke dengan ancaman.
Xiu Qixuan terkejut—tubuh gadis itu menegang dan setelah beberapa saat dia mendapatkan ketenangannya kembali.
Gadis itu masih menatap Sima Junke kemudian memberi pria itu senyuman dan pandangan meremehkan.
Trik mengancam dan memanipulasi dengan ketakutan seperti ini, bukankah sangat pasaran!
"Mencoba menakutiku, Heh?" Ucap Xiu Qixuan mengambil kue dari nampan ditangannya dan menyumpal paksa mulut Sima Junke dengan kue tersebut.
"Maksudmu seperti ini? Membungkamku tanpa membuatku menjadi mayat? Aiyaa— dengan senang hati aku menerimanya," Ucap Xiu Qixuan dengan terus memasukan paksa kue-kue kedalam mulut Sima Junke.
Sima Junke tidak dapat menghindar karena gerakan reflek yang membuat dirinya membuka sedikit bibirnya memberi ruang kepada Xiu Qixuan menyumpal mulutnya dengan kue-kue tersebut—kecepatan dan kekuatan tangan Xiu Qixuan tidak dapat diremehkan.
'Uhhukk—' Sima Junke terbatuk-batuk memuntahkan banyak kue didalam mulutnya.
Xiu Qixuan tersenyum puas dan bergumam didalam hati, 'Rasakan itu,'
"Kau—" Ucap Sima Junke mengangkat salah satu lengannya menunjuk Xiu Qixuan diiringi tatapan membunuh yang kental.
Xiu Qixuan yang ditatap seperti itu hanya memasang wajah polos dan menaikan kedua sudut alisnya.
Aisin Tianyi yang juga berada didalam tenda hanya menonton pertunjukan itu dengan tenang.
••••••••••