
Keesokan paginya, sebuah undangan datang dari istana. Ibu Suri Ning memanggil Xiu Qixuan secara pribadi. Berita menyebar dengan cepat membuat banyak orang berspekulasi.
Setelah selesai merias wajahnya, Xiu Qixuan mengikuti para kasim untuk segera menuju Istana Kekaisaran. Dalam kurun waktu ini, dia tidak lagi menggunakan tudung penutup wajah karena tuntutan dari sang Kaisar.
Tetapi, agar terlihat lebih baik dia menutupi noda diatas dahinya dengan menggunakan riasan aksesoris kepala seperti permata ataupun mutiara yang menjuntai indah.
Didalam kereta kuda, ia baru dapat leluasa dengan hanya Xiao Leng yang tinggal disisinya karena semua orang yang melayani di Kediaman Qi tidak dapat dipercaya.
"Angin musim gugur berhembus menerbangkan dedaunan yang jatuh ke sungai kuning. Aliran air begitu deras dengan yang cerdas memilih untuk mengikuti." Suaranya mengalun lembut menyembunyikan ketajaman.
Mendengar untaian kalimat yang dilontarkan sang majikan, Xiao Leng tersenyum dalam dan mengangguk samar, "Nubi mengerti!" Balasnya.
Xiu Qixuan mengingatkan bahwa mereka harus bertindak sesuai perubahan situasi karena tujuan Ibu Suri Ning belum terlihat jelas.
Padahal hari ini adalah waktu yang sudah ditentukan olehnya untuk melakukan pertemuan rahasia dengan Tuan Niao. Begitu kebetulan atau sebuah kesengajaan?
Kelopak mata Xiu Qixuan perlahan tertutup dengan punggung yang bersandar di dinding gerbong kereta. Pancaran yang begitu tenang dan damai seolah hiruk-pikuk dunia yang berisik ini tidak sedikipun berkaitan dengannya.
Helaan napas lolos dari celah bibirnya, ia jatuh ke renungan yang dalam. Jenis pemalas yang tidak menyukai kerepotan hidup telah berubah nyaris tak terkenali. Bertanya-tanya kemana perginya dia yang dulu? Ternyata hilang karena kekacauan takdir.
•••••••••••
"Hamba memberi salam kepada Ibu Suri. Semoga kolam kebahagiaan dan kesehatan yang berlimpah menyertaimu ribuan tahun!"
Dengan penyambutan yang homat ia memasang postur membungkuk.
Ibu Suri Ning duduk di posisi tinggi dalam aula Istana Yong Hua, raut wajahnya begitu tegas mengeluarkan tekanan. Kedua mata tuanya menatap Xiu Qixuan dari ujung kepala sampai kaki.
Keramahan dipertemuan terakhir kali hilang begitu saja, ia bahkan tidak membalas sapaan seperti tidak ingin membiarkan Xiu Qixuan untuk menegakkan tubuh.
"Ajia mendengar bahwa Nona Qi begitu dekat dengan kedua kembar naga dan phoenix. Bahkan seringkali Kaisar memanggilmu ke ruang baca." Itu adalah sebuah pernyataan yang menyembunyikan kesarkasaan.
Dalam diam dengan wajah cantiknya yang tertunduk, Xiu Qixuan tersenyum mengejek seolah sudah mengerti point yang sedang ditujukan Ibu Suri kepadanya.
"Menanggapi Ibu Suri, itu benar." Tidak berniat mengeluarkan sanggahan sedikitpun, ia begitu tenang dan lugas mengakui bahwa posisinya penting dimata sang Kaisar. Menekankan bahwa Ibu Suri tidak diizinkan untuk mengambil tangan.
Raut wajah Ibu Suri berubah masam kemudian ia berucap, "Oh.. Nona Qi sudah bekerja keras. Sepertinya Ajia harus memberikan hadiah besar yang pantas." Itu adalah kalimat pujian yang berbanding terbalik dengan kedua mata tua-nya yang menyembunyikan hinaan.
"Kamu berasal dari asal yang sederhana, tapi memiliki kemampuan. Kaisar saat ini memiliki kekosongan harem, bagaimana dengan gelar Selir Kehormatan?" Suaranya mengalir tenang dengan senyuman tipis ia terlihat begitu tulus menawarkan kemurahan hati.
Kilatan mata penuh ketidaksukaan tercetak samar diwajah Xiu Qixuan, dalam kemasaman hati yang membara dia berusaha untuk tetap tenang. Nenek tua ini jelas sedang meremehkan latar belakang keluarganya.
"Apakah Nona Qi merasa keberatan atau kamu merasa bahwa gelar selir terlalu rendah untukmu?" Tanya Ibu Suri dengan tajam penuh tekanan yang suram. Para pelayan istana yang berada dibalik tirai penutup aula seketika berkeringat dingin menyembunyikan getaran takut.
Xiu Qixuan dengan hormat berkowtow dan berucap, "Hamba bersyukur atas rahmat yang diberikan Ibu Suri. Akan tetapi, Kaisar sudah memberikan saya dekrit dan gelar khusus sebagai Guru Kekaisaran. Jika Ibu Suri menginginkannya, hamba hanya dapat menunggu perintah pencopotan dan penerimaan gelar baru dari Kaisar." Suaranya mengalir lembut dan dalam ketenangan menekankan berbagai point penting.
Ibu Suri Ning tercengang, selama beberapa detik terpana dengan dalam menatap kearah Xiu Qixuan. Tanggapan yang tepat, postur dan gerakan yang tepat, semua ini menunjukan etiket bangsawan kelas atas, benarkah gadis ini merupakan seorang Tabib yang berkelana?
Setiap kalimat yang dilontarkannya memang begitu masuk akal dan tanpa celah, menekankan bahwa dia sudah menerima gelar khusus dan tidak mudah untuk diganti tanpa pencopotan gelar dari dekrit.
Mungkin pada saat ini Ibu Suri Ning merasa bahwa dirinya sedang berada diatas puncak tertinggi dalam harem Istana, ia memiliki kuasa menarik berbagai wanita untuk naik keatas ranjang Kaisar. Tetapi, Ibu Suri jelas melupakan bahwa Xiu Qixuan sangat berbeda karena gadis itu dapat disebut juga sebagai pejabat negara yang melayani anggota Kekaisaran.
"Baik, sungguh bagus! Nona Qi begitu masuk akal. Ajia cukup terhibur." Suaranya begitu kaku menahan kecanggungan bahwa dia sudah dikoreksi oleh seorang gadis muda.
"Nona Qi, cepat bangun! Musim dingin menusuk tulang yang akan membuat tubuh tidak nyaman. Ajia tidak membiarkanmu berlutut terlalu lama." Perubahannya begitu cepat dengan kemurahan hati yang ramah ia lihai menyembunyikan kesalahan.
"Ya, terimakasih Ibu Suri!" Balasnya kemudian dengan gerakan elegan ia beranjak untuk berdiri.
Tiba-tiba dari balik layar penutup yang berada dibelakang tubuh Ibu Suri Ning keluar sesosok gadis muda yang anggun. Dia berjalan ringan untuk mendekati tempat dimana Ibu Suri berada kemudian dengan penuh kehati-hatian menaruh nampan yang berisi cawan yang terbuat dari porselen putih keatas meja kudapan.
"Xiaoyin secara khusus menyiapkan teh aroma kesukaan Bibi." Suaranya membawa aura halus yang lembut. Dia terlihat seperti dedaunan kuning dimusim gugur yang begitu rapuh tetapi juga indah. Wajahnya yang mekar dalam lapisan embun bunga dimusim semi.
Secara cepat menggunakan banyak informasi yang sudah ia cerna, Xiu Qixuan dapat langsung mengambil simpul benang yang terkait.
Ning Xiaoyin putri dari Ning Jing yang terobsesi dengan cinta juga kekuasaan. Didalam Kekaisaran Xia Utara hanya terdapat satu orang yang bisa mewujudkan semua keinginannya dan jelas itu adalah sepupunya, Xia Qian Che.
Tidak dapat menyembunyikan kegelian yang menggelitik hati, Xiu Qixuan menatap gadis itu penuh rasa iba yang mengejek.
Jelas bahwa Ning Xiaoyin sudah membuat banyak keluhan agar Ibu Suri mengambil tindakan tegas kepadanya. Sejak tadi Ibu Suri mengetes riak air dengan mencobainya untuk melihat ambisi yang dimilikinya.
Jika Xiu Qixuan memiliki ambisi untuk menjadi seorang Permaisuri, tentu saja Ibu Suri akan mengambil tangan untuk menghilangkannya. Itulah sebabnya Ibu Suri terus menekankan bahwa dia tidak memenuhi syarat.
Kecemburuan seorang wanita benar-benar menjengkelkan. Xiu Qixuan dalam hidup ini sudah menekankan bahwa dia tidak akan pernah berebut untuk satu pria manapun! Jadi janganlah libatkan dia dalam perseteruan memasuki harem Istana, dapatkah?
Xiu Qixuan menarik napas panjang untuk menguraikan perasaan jengkel yang membara. Dia merasa waktunya sudah terbuang sia-sia!
"Aiyaa, bukankah ini Nona Qi?" Ning Xiaoyin dengan cepat memasang wajah terkejut ketika melihatnya masih berdiri mematung. "Xiaoyin menyapa Nona Qi!" Dia terburu-buru memasang postur anggun untuk membungkuk. "Mohon Nona Qi bermurah hati karena saya tidak menyadari keberadaan Nona lebih awal." Ucapnya.
Xiu Qixuan balas membungkuk dengan tenang memasang senyuman manis dan penuh martabat berucap, "Nona Ning begitu sungkan!"
Ning Xiaoyin bertingkah cukup lihai dalam melemparkan sebuah umpan serangan. Tetapi sudah jelas bahwa Xiu Qixuan tidak ingin melanjutkan pertarungan harem menyebalkan ini, menjadikan dia tidak perlu bersusah payah mengambil sebuah umpan untuk melepaskan serang balik, kan?
Tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya menyudahi pertemuan ini secepat mungkin.
Seperti sebuah jawaban bahwa tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mungil yang berlari memasuki ruangan dalam aula Istana Yong Hua. "Ib—, Guru!!" Teriak Xia Zhiwen memanggil dengan sangat antusias.
Balita tampan itu langsung berlarian tanpa sedikitpun menghiraukan keberadaan orang lain untuk segera menghampiri tempat dimana Xiu Qixuan berdiri, "Guru, kamu disini?" Suaranya riang yang menggemaskan.
Dalam binar penuh kebahagiaan dikedua bola matanya, dia mendongakkan wajah untuk menatap Xiu Qixuan.
"Hamba memberikan hormat kepada Pangeran Mahkota." Ucap Xiu Qixuan dengan cepat membungkuk anggun.
Tanpa disadari siapapun bahwa gadis itu sedang berusaha menyembunyikan kelicikan dan kesenangan dari pancaran kedua bola matanya, dia jelas ingin menggunakan Xia Zhiwen untuk lolos lebih cepat dari cengkeraman kedua harimau betina ini.
"Xiao Wen, kamu jelas datang keistana Ajia dan malah melupakan keberadaan Ajia?!" Sentak Ibu Suri yang memasang raut wajah tegas.
"Salam kepada nenek!" Xia Zhiwen dengan cepat bergegas untuk memberi salam. Tetapi kemudian balita tampan itu malah berbalik untuk datang lagi mendekati Xiu Qixuan daripada sang nenek yang sedang masam, "Guru, tugasku sudah selesai dengan sempurna. Kau berjanji untuk menemaniku bermain, kan?" Suaranya menutut dengan binar polos penuh permohonan.
Tangan Ning Xiaoyin terkepal sangat erat menyaksikan interaksi mereka yang menurutnya cukup memuakkan. Ia menjadi transparan dan tidak terlihat sedikitpun dimata sang Pangeran Mahkota hanya karena gadis dari kalangan rendahan ini.
••••••••••••••
Ajia: Saya/aku (khusus untuk digunakan oleh Ibu Suri)
Ning Xiaoyin
17 tahun
Mereka gatau aja yaa siapa xuan wkwk:v