Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Trik Kecil Diluar Nalar



Sepasang mata yang indah nan jernih dengan bulu mata panjang terlihat bergetar. Pedang panjang dengan cahaya yang berpendar didalam genggamannya menambah pesona yang mematikan.


Xiu Huanran tersenyum dalam dan berucap, "Oh, darimana pedang itu berasal?" Tanya-nya dengan penasaran.


Pasalnya selama ini Xiu Qixuan tidak seberani itu menunjukan keistimewaannya dalam mengeluarkan pedang dari tangan kosong. Saat berlatih dia sudah membawa pedang ini dari dalam ruangan pribadinya.


Entah apa yang membuatnya begitu semberono. Kalau orang lain yang memiliki niat jahat melihat hal ini akan sangat berbahaya, bukan?


Sima Junke dengan posisi berlutut dan meringis karena terlukapun ikut mendongakkan wajah, keingintahuan juga terpancar dari kedua bola matanya.


"Rahasia," Jawab Xiu Qixuan dengan singkat dan balas tersenyum manis.


"Baiklah, selesaikan ini dan jelaskan nanti." Balas Xiu Huanran dengan menyeringai senang.


Sima Junke mengerutkan keningnya, Kakak dan adik ini sedang ingin bertarung atau ingin bermain? Kenapa mereka terlihat begitu gembira?


Sima Junke tidak perduli, yang paling penting sekarang adalah tidak membiarkan pria jelek ini membawa gadisnya. Dengan tergesa Sima Junke beranjak berdiri dengan kaki yang gemetar, Xiu Huanran yang melihat itupun menendang keras kaki Sima Junke dan menyebabkan pria itu terjatuh dengan menyedihkan.


"Er'ge! Kau sudah keterlaluan," Sentak Xiu Qixuan dengan memelotot marah.


Xiu Huanran mendengus masam dan melangkah cepat mendekati Xiu Qixuan, dia mengayunkan pedangnya dengan gerakan cepat kearah gadis itu, Xiu Qixuan dengan tanggap memotong serangannya.


Xiu Qixuan pengguna energi Yin dari Ilmu Xitian, dia kemudian mengalirkannya kepada pedang ringan yang memang memiliki kelebihan cepat tangkas nan tajam. Sedangkan Xiu Huanran menggunakan energi Yang, memiliki gerakan pukulan yang begitu padat, keras dan akurat.


Mereka saling berbenturan keras dan cukup seimbang, tetapi kalau orang yang memiliki pengalaman dan wawasan yang lebih luas, mereka akan melihat bahwa kemampuan Xiu Qixuan memang cukup mampu untuk bertarung melawan Xiu Huanran tetapi itu tidak akan bertahan lama sebelum kekalahan menghampirinya.


Kalian pasti akan bertanya mengapa, apakah kemampuan Xiu Qixuan dibawah Xiu Huanran?


Tentu saja jawabannya adalah benar dan salah, Xiu Huanran memiliki akar seni bela diri yang sudah di asah selama belasan tahun, sedangkan Xiu Qixuan memang termasuk cerdas dan langka tetapi akar yang kokoh dan pengalaman tidak dia miliki, gadis itu belum cukup.


Angin berdesir dari setiap langkah putaran dan gerakan pukulan yang ditimbulkan oleh mereka.


'Trang,' Pedang mereka saling berbenturan dan menghantam satu dengan yang lain.


Mereka saling bertatapan dan Xiu Huanran tersenyum dengan pancaran sedikit meledek, dia kemudian berucap "Berkembang dengan baik, tetapi belum cukup."


Xiu Qixuan mendengus tajam tetapi dia cukup tenang, seolah percaya kakak keduanya akan berbelas kasih dan mengalah. Entah mengapa dia sangat percaya diri padahal ini adalah seorang Xiu Huanran bukanlah seorang Xiu Jierui yang berpikiran sederhana.


Wajah Xiu Qixuan sangat pucat karena kurang istirahat dan energi nya terkuras habis saat mengeluarkan aura kehidupan, sekarang dia terpaksa bertarungan hanya menggunakan seluruh tenaga yang tersisa.


Xiu Qixuan tertangkap lengah, dan saat itu juga Xiu Huanran dengan cepat mengeluarkan gulungan seperti benang tipis yang memiliki pengait besi diujungnya, kemudian dia melemparkan benda itu kearah Xiu Qixuan.


Sima Junke yang melihat itupun berusaha memperingati Xiu Qixuan, "Hati-hati! Kaitan itu," Teriaknya.


Xiu Qixuan tersentak kaget, tetapi gerakannya tidak cukup tanggap untuk meloloskan diri.


'Sring,' Benda berbentuk besi kecil diujungnya dengan benang tipis dan tajam mengait dipedang Xiu Qixuan.


Xiu Huanran dengan kekuatan menarik keras kaitan itu, tidak membiarkan Xiu Qixuan meloloskan diri.


Xiu Huanran ingin membuat adiknya ini kehilangan pedang sebagai bukti kekalahan dan akan menyebabkan arogansi sepenuhnya hilang, membuat Xiu Qixuan mengerti bahwa dia masih tidak cukup kuat untuk membantahnya.


"Er'ge, kau bermain trik curang!" Sentak Xiu Qixuan dengan sebal dan pandangan permohonan untuk dilepaskan, tetapi dia masih berusaha mempertahankan pedang miliknya agar tetap berada didalam genggamannya.


"Bagaimana, bukankah benda ini sangat bagus? Kalau kau tertarik, ikut aku pulang dan mempelajarinya." Ucap Xiu Huanran dengan santai menawarkan.


"Tidak tertarik," Jawab Xiu Qixuan mendengus tajam.


"Baiklah," Ucap Xiu Huanran seakan mengerti, dia mengangguk.


Setelah mengucapkan itu, Xiu Huanran mengalirkan tenaga dalamnya kemudian dengan gerak cepat dan keras menarik kaitan itu.


Membuat pedang Xiu Qixuan berderak nyaring dan terlepas dari genggaman.


Xiu Qixuan beraksi terkejut dan tangannya sedikit memerah nyeri saat berusaha menarik pedang miliknya dengan kekuatannya yang tak terkendali, sedangkan Xiu Huanran juga ikut terkejut dengan alasan yang berbeda yaitu dia melihat pedang Xiu Qixuan hanya jatuh tetapi tidak terbelah.


Seharusnya pedang itu terbelah karena benang pemotong adalah benang tajam, ringan dan tipis dapat memotong tubuh maupun senjata.


Ekspresi Xiu Huanran dengan cepat berubah normal dan menunduk mengambil pedang itu, dia berdiri beberapa langkah dari Xiu Qixuan kemudian berucap tegas, "Kau sudah kalah, ikut aku pulang."


Benar, pertarungan ini adalah kesempatan yang diberikan oleh Xiu Huanran untuk adiknya, tetapi karena Xiu Qixuan tidak lolos dari ujian ini, dia tidak boleh membantah lagi.


Kalau Xiu Qixuan yang menang, tentu saja Xiu Huanran akan menghormati pilihan adiknya dan membiarkannya membuat keputusan seorang diri.


Mendengar itu Xiu Qixuan menghela napas panjang, terlalu rumit jika dia membantah lagi.


Xiu Qixuan yang memalingkan pandangan lebih dulu membuat Sima Junke sedikit merasa kehilangan.


Dengan galak Xiu Huanran menarik tangan adik perempuannya dan bersiap membawanya pergi, sebelum akhirnya tindakannya dihentikan oleh Sima Junke yang meraih tubuh Xiu Qixuan lebih dulu.


"Kau ingin meninggalkanku begitu saja?" Tanya Sima Junke dengan menatap dalam wajah Xiu Qixuan, seakan menelusuri niat hati gadis ini.


Xiu Qixuan mendongakkan wajah dan balas tersenyum dengan kesedihan yang terpampang nyata, "Maaf," Ucapnya.


Kemudian Xiu Qixuan melangkah melewati Sima Junke untuk menghampiri Xiu Huanran, membuat Xiu Huanran tersenyum penuh kemenangan.


Mereka berbalik untuk melangkah pergi, sebelum akhirnya Sima Junke berdiri dihadapan mereka dan berlutut menatap kearah Xiu Huanran, "Tuan Muda Kedua Xiu, mohon kemurahan hatinya untuk tidak membawa pergi Xuan'er." Ucap Sima Junke dengan menangkup kedua tangan didepan dada kemudian bersujud, gerakan yang disebut kowtow.


Xiu Qixuan menganga saking terkejutnya, pria ini berniat menunjukan ketulusan dan baktinya, betapa menyentuh.


Dengan cepat Xiu Qixuan menghampiri dan ikut berlutut untuk meraih tubuh Sima Junke agar kembali tegak.


Tetapi Sima Junke tetap bersikeras untuk bersujud sampai ucapan yang diinginkannya keluar dari mulut Xiu Huanran.


"Er'ge," Panggil Xiu Qixuan dengan memelaskan wajah. Seakan memaksa agar kakak keduanya berbicara.


Xiu Huanran memalingkan wajah tidak tertarik dengan menyilangkan tangan didepan dada, postur yang begitu angkuh.


Hal itu semakin membuat Xiu Qixuan kesal, sepertinya dia harus melakukan hal diluar nalar manusia lainnya lagi.


Ekspresi kesedihan dan airmata menggantung dimata indahnya, seolah-olah dirinya adalah mahluk yang paling menderita didunia, "Er'ge, kau begitu kejam. Kau boleh memisahkanku dengan A Jun tetapi kau tidak boleh memisahkan—, Huekk..Huekk.." Ucapnya dengan terisak dan menahan mual seperti ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya.


Sontak saja hal itu membuat mata Xiu Huanran memelotot tajam, sedangkan Sima Junke yang sedang bersujud mengerutkan kening bingung kemudian menyembunyikan senyum geli seakan mengetahui niat asli Xiu Qixuan.


"Er'ge, kau mengerti bukan? Huekk—," Lanjut Xiu Qixuan dengan satu lengan yang menutup mulutnya dan satu lengan yang lain mengelus perutnya dengan gerakan lembut.


Tubuh Xiu Huanran gemetar, entah karena terkejut atau amarah. "Xuan'er, itu tidak benarkan?" Tanyanya dengan pelan dan tersenyum mengancam, melirik tajam perut Xiu Qixuan.


"Benar, sangat benar." Balas Xiu Qixuan dengan cepat berusaha menahan tawa saat melihat wajah Xiu Huanran yang tersenyum seram.


"Jangan main-main lagi, cepat ikut aku pulang." Ucap Xiu Huanran menarik tangan Xiu Qixuan agar terbangun dari posisi berlutut.


Xiu Qixuan segera menepis dan meringsutkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Sima Junke dengan sangat erat, dia seperti membisikan sesuatu kepada Sima Junke yang membuat Sima Junke sedikit mengangguk dan menegakan tubuhnya kembali dari postur kowtow.


"Er'ge, kalau kau tidak percaya padaku. Kau dapat mencari tahu dari para pelayan ataupun tanyakan saja pada A Jun, apa yang sudah dia lakukan padaku." Sentak Xiu Qixuan dengan berusaha keras agar terisak dan menangis.


Sima Junke membalas dengan memeluknya penuh kasih, pria itu kemudian berucap pelan, "Tenanglah, aku akan bertanggung jawab padamu."


Interaksi itu membuat Xiu Huanran hampir saja menjatuhkan rahangnya, kemudian tawa miris terdengar nyaring, "Kalian," Ucapnya tersedak amarah.


Xiu Qixuan menundukan wajah berusaha untuk tidak tertawa karena melihat ekspresi jelek diwajah kakak keduanya.


"Hiks...Hikss...Er'ge maaf, jangan paksa aku lagi." Lanjut Xiu Qixuan meneruskan bakat aktingnya, dia membenamkan wajahnya dibahu Sima Junke.


Xiu Huanran tidak dapat berkata-kata lagi, seperti kehilangan kemampuannya dalam berbicara, saat berbicara dia akan tergagap saking emosinya.


Dengan menghela napas panjang, Xiu Huanran berucap kepada Sima Junke, "Jaga dia." kemudian dengan cepat mengepak lengan bajunya dan berbalik pergi.


Sima Junke yang mendengar itu menyeringai senang dan mengangkat ketiga jari tangan kanannya keatas seperti gerakan berjanji kepada langit kemudian dia berseru, "Aku akan menjaganya dan memperlakukannya dengan baik!"


Xiu Qixuan mengintip dari sudut ekor matanya dan saat melihat Xiu Huanran sudah menghilang pergi, dia dengan cepat melepaskan pelukan itu dan tertawa terbahak-bahak.


"Haha... Dia dikalahkan oleh trik kecilku ini," Ucap Xiu Qixuan dengan bangga terus tertawa.


Sima Junke yang melihat itupun juga ikut tertawa keras, mereka saling melirik dan tertawa sangat lepas. Sebelumnya saat Xiu Qixuan berjalan melewatinya untuk menghampiri Xiu Huanran, gadis ini sudah memberi intruksi dengan cara berbisik pelan, 'Memohonlah,' ucapnya saat itu yang membuat Sima Junke berkowtow sesuai intruksi.


Bukankah, kemampuan berakting tanpa persiapan seperti mereka layak mendapatkan penghargaan?


Walaupun Xiu Qixuan mengetahui bahwa Xiu Huanran tidak semudah itu percaya, sebenarnya pria itu berbalik pergi untuk mencari kebenaran akan ucapannya.


Tapi setidaknya mereka dapat menghindari perpisahan untuk hari ini, siapa yang perduli kalau Xiu Huanran cepat atau lambat akan mengetahui bahwa dirinya sudah dibodohi oleh dua sejoli gila ini.


Lagipula Xiu Qixuan tidak akan menanggung kesalahan, bukan? Sima Junke ataupun dia tidak pernah berucap jelas bahwa dirinya sedang hamil, jadi kedepannya dia sudah memiliki rencana untuk membalikan semua ucapan tajam Xiu Huanran.


••••••••••••


Author ngakak banget yaampun, dikata hamil dong padahal belum ngapa-ngapain😂


Kowtow (Hanzi: 叩頭) adalah suatu cara memberi hormat dalam budaya Tionghoa. Kowtow dilakukan dengan cara berlutut dan bersujud sampai kepala menyentuh tanah.