
Srukk
Beruang besar menurunkan tubuhnya diatas tanah bebatuan.
Mata Xiu Qixuan mengerjap dengan binar melihat sekitar.
Wow!
Aroma bunga yang menyeruak masuk ke indra penciuman begitu memabukkan. Aroma hangat musim semi ditengah hari yang cerah ini terasa menenangkan kekalutan hati manusia.
Kemerahannya daun pepohonan musim semi mengakar diatas puncak gunung yang tertutup setengah awan kabut begitu menyejukkan.
Tempat ini dibuat seolah-olah sengaja di jauhkan dari hal duniawi karena begitu tenang dan damai. Xiu Qixuan juga merasa energi alam yang berbeda seperti sedang berada di dalam Dunia Kecil Kipas Emas miliknya.
Matanya yang menggembara kesekitar tiba-tiba berkedut ketika ia merasakan perutnya berputar mual.
Ugh..
Xiu Qixuan beranjak berdiri mencari tempat untuk membuang semua isi sarapan yang dia makan tadi pagi. Ia melihat pohon besar di dekatnya kemudian bergegas kesana.
Hoek..
Beruang yang membawanya kemari masih berada di dekatnya. Beruang itu berguling-guling sembari menggeram dengan menimpuki punggung Xiu Qixuan menggunakan batu kerikil kecil.
Grrr...krrrr...
Beruang tersebut seolah-olah mengutarkan ketidak-setujuan dan ingin berbicara bahwa Xiu Qixuan tidak boleh mengotori tempat ini sembarangan. Tetapi, Xiu Qixuan tidak dapat mengerti itu.
"Hei, teman besar. Berhenti menimpukku!" Xiu Qixuan menolehkan wajah dengan menggerutu kesal.
Kemudian ketika selesai dengan urusannya. Ia berjalan mendekati beruang tersebut dan terduduk tak bertenaga dengan mata berkaca-kaca yang sayup sehabis memuntahkan seluruh isi perutnya.
".... Kenapa kau membawaku kesini? Kau tahu siapa aku?" Xiu Qixuan bertanya tanpa sadar mengajak beruang itu berbincang.
Grrr...
Beruang itu tentu saja menjawab dengan geraman yang tidak dimengerti oleh manusia.
"... Dimana letak Kuil Suci Biyan?" gumam Xiu Qixuan berusaha mengedarkan pandangannya sekali lagi.
Wooshh
Tiba-tiba, angin yang berhembus kencang membawa aliran udara yang berbeda. Debu terangkat terbang ketika pusaran angin menyala tanpa tujuan.
Xiu Qixuan dengan gerak reflek menutup matanya yang terasa perih dengan punggung tangan kirinya.
Sedangkan, tangan kanannya sudah menyala bersiap mengeluarkan pedang dalam genggaman.
".... Hoho, tamu yang kutunggu sejak lama akhirnya tiba." Suara tawa berat milik seorang pria paruh baya terdengar menggema memenuhi udara disekitar mereka.
Mendengar perkataan asing tersebut, Xiu Qixuan segera menurunkan punggung tangan yang menutupi setengah bagian wajahnya untuk melihat sosok yang saat ini sedang berada di hadapannya.
Satu sosok berdiri di bawah sinar lembut matahari, ia memancarkan aura kemuliaan yang menekan membuat orang akan merasa segan ketika menatap kedalam matanya.
Sesosok pria paruh baya dengan setengah bagian dari wajahnya sudah ditutupi oleh kerutan yang entah mengapa malah terasa begitu mengintimidasi dengan tongkat kayu sederhana berada di dalam genggaman tangannya.
Itu terlihat biasa tetapi jika dilihat lebih jauh,— kekuatan luar biasa berada di dalam tongkat kayu tersebut.
Ketika melihat kedatangannya, beruang yang berada disebelah Xiu Qixuan segera berlari menghampirinya seperti hewan peliharaan yang senang bertemu dengan sang majikan.
Grrrrr....
Pria paruh baya tersebut mengelus surai sang beruang dengan lembut. "Kerja bagus, Lili kecil." Kemudian ia mengibaskan tangan kirinya yang berisi daging merah segar ketika berkata, "Sekarang pergilah." Ia melemparkan daging ke pekarangan yang lebih luas.
Sang beruang segera berlari menjauh dengan kaki-kaki raksasanya membuat suara gedebuk keras.
Ketika beruang tersebut sudah tidak ada, sosok pria paruh baya itu kembali terfokuskan pada Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan yang sedang terduduk ditanah juga ikut mendongak untuk menatapnya.
Keduanya tampak tenang di luar tetapi mengamati satu sama lain dengan cerdik.
Bibir Xiu Qixuan perlahan mengait keatas dengan benturan suara rendah yang datar bertanya ragu.
"Ya, nak. Ini aku. Kamu akhirnya datang. Kemarilah!"
Guru Biyan berkata dengan tersenyum lebar menyambut Xiu Qixuan dengan lebih hangat.
"...."
Xiu Qixuan hanya terdiam. Ia terlihat sangat kebingungan untuk menerka-nerka bahwa Guru Biyan sedang menyambutnya sebagai sosok Qiaofeng.
"Kemarilah! Aku tahu, nak. Kau Alesha bukan?"
Ketika mendengar nama aslinya disebutkan, Xiu Qixuan tidak dapat lagi menahan sebuah getaran perasaan yang begitu aneh.
".... Ya, aku Alesha."
Dia berkata pelan sembari menunduk dengan meremas jari-jarinya diatas dada.
"Kamu datang untuk mendengar sebuah cerita dariku, kan?" Guru Biyan berkata sembari berjalan mendekat. "Jadi, kemarilah dan akan kuceritakan sebuah kisah istimewa untukmu." ia mengulurkan tangan besarnya yang terbalut kulit keriput.
Mata jernih Xiu Qixuan berkedip. Benar,— bahwa dia datang untuk hal tersebut. Tetapi, mengapa sekarang dia malah merasa ragu dan takut untuk mendengarkan kejelasannya.
Dia segera beranjak mengangkat satu tangannya untuk menyambut uluran hangat dari Guru Biyan dengan wajah yang mengeras penuh tekad kuat.
"... Ya, mohon bantuannya guru."
Xiu Qixuan berkata sembari memasang postur membungkuk untuk memberi salam hormat sesuai etiket kekaisaran seperti yang seharusnya dia lakukan sejak awal.
"Hoho, pengendalian diri dan perubahan ekspresimu cukup cepat. Hebat, hebat."
Guru Biyan tertawa begitu keras dengan satu tangan mengelus janggutnya yang lebat. Ia memandang Xiu Qixuan dengan binar kagum.
Xiu Qixuan hanya tersenyum canggung dan mengatakan terimakasih.
"Nah, sekarang ikut aku." Guru Biyan berbalik sembari berkata memerintah Xiu Qixuan agar mengikutinya.
"Tunggu sebentar, Guru."
"Ada apa?"
"Eum, itu. Bagaimana dengan Er'ge -ku? Maksudku kau mengenalnya, kan. Dia pasti akan kesulitan. Tidak bisakah kau membawanya kemari bersama denganku?"
Xiu Qixuan berkata dengan nada ragu di awal tetapi dia menjadi lugas di akhir. Menandakan bahwa dia benar-benar mengkhawatirkan Xiu Huanran yang mungkin sedang kalut.
"Lili -ku akan kelelahan jika harus menjemput dan membawanya juga." Guru Biyan bereaksi dengan tak acuh.
Dia merujuk pada beruangnya yang akan menderita kelelahan jika harus mengurus Xiu Huanran secara bersamaan.
"Hoh, sifat Anda sangat tak terduga." Xiu Qixuan bergumam pelan dengan meringis.
"Apa maksudmu?"
Mendengar perkataan yang tidak sengaja terdengar tersebut Guru Biyan bereaksi tidak senang.
"Ah, maksud saya. Binatang peliharaan Guru sangat tak terduga." ralat Xiu Qixuan dengan tergagap, "Saya jadi ingin beruang sebagai peliharaan untuk menjemput paksa orang. Ha. Ha." Ia menggaruk telingannya gatal kemudian tertawa begitu kaku.
"Hmph.. Tidak usah dipikirkan. Biarkan kakakmu itu datang menggunakan kedua kakinya sendiri." dengus Guru Biyan mengibaskan tangannya dengan malas. "Toh, pada akhirnya dia pasti akan datang menyusul kemari jika itu berkaitan dengan adik perempuannya." Suaranya begitu tak acuh tetapi terdengar meyakinkan.
Ketika mendengar kata-katanya, Xiu Qixuan mau tidak mau mengangguk pasrah. Ia kemudian melangkah mendekati Guru Biyan untuk mengikutinya dari belakang.
Guru Biyan kembali melangkahkan kaki kedepan dengan ringan sembari mengedarkan pandangan menikmati pemandangan yang rimbun.
Di saat seperti ini dia terlihat seperti seorang paruh baya biasa yang sedang menikmati hari pensiun.
"Ah, cuaca musim semi yang cerah. Kebunku menjadi bermekaran dengan sangat indah dan lebat. Aku ingin memetik murbei untuk—," Ia berkata terjeda ketika matanya terbelalak mengarah pada salah satu pohon besar yang kotor oleh muntahan seseorang.
"... Pohon murbei -ku! Siapa yang berani mengotorinya!"
Xiu Qixuan meloncat kaget.
'Mati aku. Dimana lubang tikus terdekat?'
••••••••••••••••