
Kawanan burung camar bernyanyi dengan mengepakkan sayap di langit. Matahari yang menggantung berwarna jingga keemasan menandakan hari menuju senja. Ladang perbukitan muncul di balik jendela dengan lahan pertanian yang memanjakan mata. Pohon-pohon tinggi diujung pemandangan memberi kesejukkan untuk menghilangkan penat.
Paduan suara kuda meringkik terdengar berhenti. Perlahan orang-orang turun dan para bawahan mulai mendirikan tenda dengan sebagian yang lain mengumpulkan dahan kayu untuk membuat perapian.
Para wanita bangsawan yang turun dari kereta, telah berkumpul untuk bersosialisasi, mengoceh kegirangan mendiskusikan para pangeran, terutama Pangeran Kelima yang sejak perjalanan terlihat begitu gagah dengan kuda militernya. Mereka sibuk seperti itu.
Tapi ada satu kungkang betina pemalas yang hanya merenggangkan tubuhnya di dalam kereta dan kembali memejamkan mata, tak peduli oleh keramaian di luar.
Bukk... Bukk...
"Aauwss, sakit! Hentikan! Kau wanita kolot gila!" Ia memaki ketika merasakan perih.
Sebuah tongkat bambu panjang memukul paha kakinya dengan kekuatan mematikan yang diiringi oleh celotehan tua.
"Berhenti merutuk, Nona pemalas. Waktunya bangun..." Segera setelah suara ini menampilkan wajah menghitam Chao momo dengan tangan keriputnya yang memegang tongkat bambu sebagai senjatanya. "Kita sudah sampai di perkemahan. Dan, anda hanya tidur? yang benar saja? Ini seperti anda berbaik hati memberikan jatah daging anda untuk dilahap orang lain." Chao momo berbicara tanpa henti membuat telinga berdegung. Di waktu-waktu tertentu seperti saat ini, dia bisa leluasa karena memiliki kewajiban untuk mendisplinkan nona mudanya.
"Berisik!" Si kungkang mulai bangun dengan marah. Dia merasa kesulitan membuka matanya yang lengket, namun dia tetap terduduk bangun sambil terus bergumam dan memaki. "Tch.., kalau para rubah liar itu mau daging bagianku itu ambil saja. Aku ini kaya raya, kau tahu 'kan?" Dia berucap sangat bangga dengan muka bengkak dan suara serak khas bangun tidur. Itu lucu ketika kita melihatnya berbicara melantur, tetapi, Chao momo sepertinya tidak terpengaruh.
Dengan kain basah yang meneteskan banyak air ke lantai seolah dia sengaja untuk tidak memeras kainnya dengan benar, itu seperti dia sengaja memoles wajah Xiu Qixuan dengan banjiran air. "Baiklah, Nona Besar Xiu yang kaya raya. Saya akan membantu anda menyeka wajah." Chao momo bergerak mendekat.
Tapi, tiba-tiba perkataan dan lirikan tajam seseorang membuat dia seketika menjadi kikuk.
"Chao momo...," Panggilnya.
"Kudengar di pasar gelap banyak yang menjual organ tubuh manusia termasuk tangan yang tidak digunakan dengan benar. Sepertinya aku bisa menambah kekayaan dengan cara itu, kan." Gadis muda itu mengerjap dan berbicara dengan nada rendah yang terdengar malas seolah bukan apa-apa.
Dengan tersenyum kaku dan gerakan yang canggung Chao momo segera berbalik dan memeras kain basah itu dengan benar dan sepenuh hati. Dia terkekeh garing untuk menanggapi dengan manis, "Sangat bagus kami wanita untuk menambah kekayaan. Tapi, pasar gelap terlalu buruk untuk menampung keindahan Nona kami."
Mereka selalu seperti ini. Berselisih secara terbuka. Xiu Qixuan bukan orang sabar tapi dia membutuhkan Chao momo untuk sementara, jadi dia akan mengganti pelayan tua itu nanti. Chao momo adalah orang yang mengikutinya dari Kota Ping'an, ayah dan kakak iparnya memilihkan bawahan untuk menemaninya ke Ibukota dengan hati-hati. Namun, itu menjengkelkan ketika mengetahui Chao momo menjadi lebih banyak bertingkah di Ibukota karena terpengaruh kata-kata Xiu Lingze yang sama kolotnya.
Mengubah topik ketika dia menjadi malas. Sambil menguap, Xiu Qixuan bertanya. "Di mana Xiao Rou?"
"Menjawab, Nona. Xiao Rou sedang mengawasi pemindahan kotak barang milik anda ke dalam tenda." Ucap Chao momo sembari sibuk merapihkan penampilan Xiu Qixuan sebelum mereka harus turun dari kereta kuda.
•••••••••••••••••••
Matanya sejak tadi bergerak menelisik jauh kedalam, dia tenggelam dalam pikirannya. Area perburuan ini dipakai sejak berdirinya kekaisaran itu berlangsung sejak puluhan generasi dan ratusan tahun yang lalu, menandakan tempat ini terorganisir dan dijaga dengan teliti oleh pihak istana. Tapi, siapa yang tahu? Kebetulan dan kecelakaan sangat umum bukan?
"Apakah anda merasa kesepian karena tidak ada Nona Su?" Xiao Rou tiba-tiba melemparkan pertanyaan.
Langkah Xiu Qixuan melambat, dia menoleh dan tersenyum masam setelah menghela napas kasar. "Ini bagus karena Kaisar tidak menargetkannya untuk dijerat. Su Yiyang, bocah itu, dia pasti sedang bersenang-senang sekarang." Ujarnya.
Dalam kompetisi terakhir yang dimana bermaksud untuk memenangkan hati Kaisar melalui pertunjukan bakat atau memberikan sesuatu,—Su Yiyang, gadis itu tidak lolos.
Dia menampilkan nyanyian indah dengan baik, hanya saja dengan kepribadian berantakan yang dimilikinya sudah begitu menyebar di ketahui seluruh kalangan bangsawan, menjadikan dia sebagai Istri Pangeran adalah sesuatu pilihan yang merugikan. Sangat jelas Kaisar dan Permaisuri hanya sekedar berusaha menghargai Menteri Su dengan membiarkan Su Yiyang ikut berkompetisi diawal.
Dekrit Kekaisaran mengatur dan mengizinkan beberapa pejabat membawa keluarga untuk hadir di perburuan, namun sebenarnya itu sudah dipilih ketika undangan dikirimkan untuk siapa yang hadir. Su Yiyang, pasti tidak dapat hadir di acara ini.
Tujuh gadis pemenang sudah terpilih. Apakah kita harus menyebutkan nama mereka? Ya, baiklah kita akan sebutkan para berlian ini.
Tiga utama adalah mereka yang sekarang terkenal, Yao Anran, Helan Qianyu, dan Nona Hai. Empat lainnya adalah Yao Chiyun, Fan Jingran, Duan Maiqiu, dan terakhir Xiu Qixuan.
••••••••••••••••
Suara gemericik air terdengar seperti alunan musik merdu yang menyenangkan. Sinar bulan seperti batu giok berkilau memantulkan cahaya di atas permukaan sungai. Di sekitar adalah tanaman hijau yang berembun segar. Tidak ketinggalan suara kawanan binatang kecil seperti jangkrik yang saling menjerit bersautan.
Di atas batu besar, sosok cantik itu duduk dengan damai. Gaun formal dan riasan membalut tubuhnya dengan keindahan.
Di seberangnya, sosok pria berambut merah yang membara terlihat begitu mencolok mata. Tangan pria itu menyilang di depan dada dan dengan tatapan yang menelisik tajam kearah sang gadis, dia menarik napas panjang seolah kehilangan kata-kata untuk berbicara. "Berkat seseorang—, Kediaman Xiu di Ping'an sudah terbalik panik. Dan, penyebabnya begitu tenang di sini." Ujarnya.
"Huanran mendesakku kemari, tapi kau punya caramu sendiri." Pria berambut merah itu sibuk menggerutu. "Kenapa juga aku harus berada di antara kalian?! Hei, Xiu Qixuan! Dari semua orang yang pernah kutemui, kau adalah orang yang paling tak masuk akal!"
Gadis itu, Xiu Qixuan, menoleh dengan tenang, namun gletser es di matanya yang bergerak halus memberi tekanan dan kesan dingin. "Duan Bian Jian, sejak kapan mulut digunakan hanya untuk menggerutu? Perlu kubantu menutup mulutmu selamanya?" Ia berbicara sarkas.
"Kau datang kemari karena Er'ge-ku menyuruhmu menyelamatkanku. Tapi..., apa yang perlu diselematkan?" Ada sedikit jeda ketika kelereng hitam jernih yang terpantul cahaya bulan itu menembus dalam mata sang lawan bicara di depannya. Bibir merah yang di rias indah kembali bergerak perlahan dengan nada rendah dia berkata, "Ini adalah permainan. Setengahnya taruhanku dan setengahnya lagi..." Xiu Qixuan beranjak dari batu besar yang menjadi tempat duduknya, dia menepuk lembut bahu Duan Bian Jian. ".... milik orang lain. Jangan khawatir, lakukan saja dengan baik." bisiknya kemudian dengan tenang berjalan menuju pepohonan hutan untuk kembali ke perkemahan seolah tak ada yang terjadi.
•••••••••••••••