Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Pengkhianatan Yang Melukaimu, Ayah!



"Xiao Rou, yang benar saja!" Xiu Qixuan memilah dengan asal satu demi satu proposal lamaran yang menumpuk membentuk gundukan seperti sebuah bukit diatas meja, "Kamu sungguh sudah menyeleksi yang terbaik atau hanya mengurangi sampah-sampah ini. Tuan Ma, Jiu, Situ—"


"...Darimana asalnya keberanian mereka ini? Tuan Ma memiliki sejumlah besar aliran dana gelap di barat wilayah kekaisaran, Tuan Jiu mengambil empat selir dalam satu waktu di bulan yang sama, Tuan Situ maniak dengan mentalnya yang tak stabil." Dia membaca dengan terus mengoceh. Itu informasi yang mudah dia dapatkan ketika menjalankan misi dengan Divisi Rubah.


Perkataan Xiu Qixuan hanya seperti angin lalu di telinga Xiao Rou yang sedang sibuk menyalin untuk membantu meringankan hukumannya.


Xiao Rou sudah bosan mendengar keluhan yang di lontarkan sang nona jika terkait lamaran dan pernikahan.


Tiga puluh menit kemudian, lembaran proposal yang sebelumnya bertumpuk tersebut benar-benar menjadi robekan sampah yang tak terbentuk.


Xiu Qixuan menarik napas dalam-dalam dengan tangan yang di silangkan depan dada. "Haa, sudahlah. Lagipula, aku tidak bisa menghindari titah kaisar dengan cara bodoh seperti tiba-tiba bertunangan. Karena jika salah-salah, Keluarga Xiu akan langsung di curigai sebagai pemberontak." Dia menutup matanya, tawa bergema dari mulutnya yang sarkas.


Tangan Xiao Rou yang memegang pena itu tiba-tiba terhenti. "Xuanxuan, apakah memiliki sebuah pernikahan dalam hidup adalah hal yang begitu buruk untukmu?" Ia terdiam sejenak kemudian menghela napas panjang ketika melontarkan pertanyaan.


Sejak Xiu Qixuan kembali dari menjadi tawanan perang di selatan, Xiu Qixuan lebih menjadi berhati dingin. Memang ini sangat bagus ketika dia lebih cerdas dan berwaspada, tapi ada saatnya Xiao Rou merindukan hal-hal absurd yang begitu leluasa mereka lakukan bersama.


Xiu Qixuan membuka kelopak matanya, menatap Xiao Rou dengan datar. "Tidak buruk tapi merepotkan untuk dilakukan." Ia kemudian melanjutkan, "Bagaimana denganmu Xiao Rou? Apakah kau sudah menemukan pria yang kau inginkan? Aku bisa membantumu."


Mendengar perkataannya, Xiao Rou hanya menghela napas pasrah. "Ugh, saat ini pikiran saja masalah anda terlebih dahulu wahai Nona Besar Xiu yang berbudi luhur." Dia melontarkan ejekan yang cukup menusuk.


••••••••••••••••


Tiga Hari Kemudian.


Cuaca di pertengahan akhir musim semi sudah mulai terasa hangat. Sulur dahan pepohonan yang pecah membentuk berbagai macam bunga, mengeluarkan semburan aroma unik.


"Nona, tunggu sebentar." Salah satu penjaga berkata dengan mendesak. Terlihat dia dan kelima rekannya berjalan cepat dalam koridor untuk menyusul seorang gadis kecil dari arah belakang.


"Pergilah, kembali ke pos jaga kalian masing-masing." Xiu Qixuan dengan dingin mendengus, tidak acuh.


Penjaga itu balas berkata dengan nada yang tertekan; "Tuan Besar belum mengizinkan anda keluar dari dalam aula leluhur. Jika—"


Akhirnya, Xiu Qixuan menghentikan langkah dan berbalik badan; "Aku akan segera menemuinya. Jadi, enyahlah!" Wajahnya berubah gelap dengan tatapan nya menjadi lebih tajam, ia jengkel.


Para penjaga yang sedang mengawasinya sontak terdiam, mereka adalah prajurit yang terlatih menghadapi berbagai tekanan. Tetapi, tekanan yang di berikan oleh Xiu Qixuan tidak bisa mereka anggap remeh. Karena dalam tatapan sang nona seperti tersirat kalimat, aku bisa menghilangkanmu jika ingin.


"Baik, kami mengerti. Mohon Nona memberi penjelasan kepada Tuan Besar." Setelah memutuskan dengan segera mereka membungkuk hormat kemudian berbalik meninggalkan Xiu Qixuan.



Suara tapak kaki kuda dan ringkikan terdengar dari arah depan gerbang utama kediaman.



Xiu Haocun dan Hai Bing segera melompat turun dari atas pelana kuda. Kemudian menyerahkan kuda mereka pada penjaga pintu yang sedang bertugas.



Mereka berjalan menuju ruang baca sembari berbincang,



"Bandit yang menyerang pedagang sudah di amankan. Kami akan memperketat penjagaan kota." Hai Bing memberi laporan singkat.



"Hm, kerja bagus. Lakukanlah seperti itu untuk kedepannya." Xiu Haocun menanggapi.



Kali ini, Hai Bing dengan sedikit ragu berkata; "Jenderal, bagaimana perihal Nona Besar? Tidak ada yang bisa kita lakukan tentang itu." Dia tiba-tiba bertanya, suaranya terdengar prihatin.



Ekspresi Xiu Haocun menajam, ia mendengus dingin; "Aku sudah memikirkannya. Kalau kita tidak menerima dekrit tersebut, kaisar tidak akan berkata apapun lagi 'kan?" Dia menoleh kemudian melanjutkan dengan nada penuh otoritas, "Hai Bing. Segera kirim prajurit pembawa pesan tercepat kepada Xiu Huanran. Aku ingin dia melakukan sesuatu..."




![](contribute/fiction/2125469/markdown/10367472/1641489373387.jpg)



Di depan penghubung jalan utama kediaman menuju ruang baca, sosok Xiu Qixuan terduduk dengan wajah berkerut masam dan matanya yang tajam memprovokasi.



Sudut mulut Xiu Qixuan membentuk cibiran, dia sudah terkurung selama tiga hari. Itu sudah cukup baginya untuk patuh.



"Saya sudah menunggu anda sejak matahari berada di puncak sampai hampir terbenam, Tuan Jenderal."



"... Xuan'er."



Xiu Haocun menarik napas tajam. Melihat Xiu Qixuan yang tampak begitu marah.



Sedangkan, Hai Bing yang berada di antara perseteruan ayah dan anak itu hanya menunduk canggung berusaha menutup semua indranya sebagai seorang manusia. Dia ingin sekali segera melarikan diri. Udara di sekitar mereka terasa lebih mencekam daripada latihan militer di jurang hutan.



"Sepertinya kita harus segera berbicara, A.y.a.h." Xiu Qixuan menekankan. Kemudian beranjak untuk menuju ruang baca milik Xiu Haocun terlebih dahulu.



Ruang Baca Kepala Keluarga, Kediaman Xiu.


Suara pintu tertutup, menyisakan atmosfer lenggang yang memberat mengisi sekitar ruangan.


Xiu Haocun memandang punggung Xiu Qixuan yang sedang berdiri membelakangi nya dengan mata yang nyaris tenggelam.


"Xuan'er." Dia memanggilnya lembut. "Kamu pasti mengerti bahwa ayah begitu menyayangimu. Ayah hanya ingin menjagamu. Ayah tidak ingin kamu terkurung dan menderita di tempat itu." Ekspresi wajahnya tergantikan oleh kilatan tertekan ketika mulutnya tidak bisa langsung menyebut Istana Kekaisaran.


"Lelucon macam apa ini? Ayah tidak ingin aku terkurung tapi malah mengurungku di aula leluhur." Xiu Qixuan menyeringai sedih sembari menggelengkan kepala, tidak percaya.


Pandangan Xiu Haocun bergetar, hatinya terasa tertusuk. "Kebiasaan mundur saat menghadapi perangkap yang bernama kekuasaan adalah kebijakan yang ayah pilih untuk melindungimu dan seluruh Keluarga Xiu." Suaranya mengalir tegas tetapi sedikit bergetar menahan perasaannya yang masam.


Tiba-tiba, Xiu Qixuan berteriak marah; "JANGAN MENJADI SEORANG PENGECUT LAGI, AYAH!!" Dia berbalik menatap Xiu Haocun dengan pandangan kecewa yang mendalam. Matanya berkaca-kaca, untuk kembali berkata dengan suara berbisik pedih; "Itu adalah kebiasaan yang berusaha kamu tanam dalam hatimu, karena kamu ketakutan sampai nyaris mati 'kan, ayah."


Xiu Haocun tersentak.


"Kamu takut jika aku berada di ibukota dan berakhir menderita karena ulah orang itu, sama seperti istrimu yang kehilangan nyawa karenanya." Xiu Qixuan melanjutkan. "Kamu memutuskan tinggal di perbatasan untuk melindungi keluargamu—menjaga anak-anakmu, menjauh dari kekejaman orang yang dulunya kau anggap sebagai saudara... Pengkhianatan dua orang itu yang melukaimu, ayah."


Tangan Xiu Haocun terkepal erat. Napasnya tersendat oleh rasa tercekat. Emosi menjeratnya sampai ke akar pikirannya.


••••••••••••••


N/T:


Hayo tebak dungs siapa orang yang mengkhianati ayah haocun? kalo ada yg bisa nebak, author bsk up dua bab atau tiga bab deh.