Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Sentimental Yang Manis!



Mata Xiu Qixuan mengandung sinar hangat, ada jejak rasa kepedulian yang langka dalam raut wajahnya. Ia perlahan beranjak untuk berdiri, tapi, itu mengejutkan ketika jari-jemari kurus tiba-tiba menarik-narik pelan lengan bajunya secara menggemaskan.


"Sebentar..., tunggu sebentar." Shen Yuan Zi mengangkat suaranya yang bergetar pelan. Namun, dia tetap mempertahankan pandangannya yang menunduk tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk menatap gadis cantik di depannya.


Siapa sangka Xiu Qixuan akan tersenyum simpul. Gadis itu kembali berjongkok dengan menangkup kedua pipinya sendiri, matanya memandang lekat pada sosok Shen Yuan Zi. "Apakah anda takut saya tinggalkan?" Dia melontarkan pertanyaan dengan alisnya yang menukik bergerak percaya diri.


Dalam diam, Shen Yuan Zi tampak mengerjap malu oleh tingkahnya.


Menggulum senyuman yang dalam, Xiu Qixuan melanjutkan: "Karena kita melupakannya, saya tadi beranjak hanya karena ingin memperkenalkan diri sesuai etiket yang berlaku." Ada sedikit jeda ketika dia kembali berbicara dengan ritme menyenangkan. "Anda belum mengenal saya, bukan? Saya Qixuan. Tolong jangan tanya mengapa saya ada di gunung belakang saat tengah malam." Ujarnya.


Dia mengira bahwa pria menawan ini tidak bisa mengenalinya. Karena pertama kali mereka bertemu itu adalah saat dia sedang menyamar sebagai Xiao Rou yang merupakan seorang pelayan.


Mendengar kata-kata tersebut, Shen Yuan Zi tanpa sadar mengangkat wajahnya. Dia menatap Xiu Qixuan dengan begitu lekat. Bibirnya bergumam rendah mengulangi, memanggil nama gadis cantik ini dengan nilai sentimental yang manis. "Qixuan...," Cicitnya.


Dalam perasaan yang menggelitik samar, Xiu Qixuan tersenyum lebar menunjukan deretan gigi putihnya yang tersusun rapih. "Ya, Yang Mulia." Balasnya.


"Bukan Yang Mulia." Shen Yuan Zi berbicara.


"Eh? Apa...?" Xiu Qixuan memiringkan wajahnya, bingung.


"Aku Yuan Zi. Bukan Yang Mulia." Ujar Shen Yuan Zi dengan tenang namun lucu secara bersamaan kala dia ikut berusaha memperkenalkan dirinya sendiri.


Pada saat ini, entah mengapa Xiu Qixuan merasa dia sangat manis. Dia seperti anak laki-laki dalam mitos. Begitu polos tanpa celah. Apalagi pahatan wajah menawannya yang tampak luar biasa itu seperti patung suci yang dapat menghapus dosa-dosa dari orang yang menatapnya.



Xiu Qixuan tidak bisa untuk tidak merasa kikuk akan ini. Dewi Yinxi warisanmu yang hidup ini luar biasa!


Mengusap tengkuknya gugup, Xiu Qixuan berbicara setelah membereskan pikirannya yang mengembara. Sebenarnya dia menyimpan minat penasaran akan apakah Shen Yuan Zi mewarisi kekuatan surgawi atau tidak.


"Eum, yaa. Tapi, saya tidak bisa memanggil anda menggunakan nama anda begitu saja, 'kan." Xiu Qixuan menjelaskan dengan rasa kikuk yang sungkan.


Mendengar penolakan. Wajah Shen Yuan Zi nampak mengembang penuh rasa terluka yang muram. "Mengapa?"


Tertegun dan membeku. "Eh...?" Xiu Qixuan sejenak kehilangan kata-kata kala melihat wajah terluka milik pria itu.


"Kamu takut aku?" Shen Yuan Zi menjadi begitu sensitif ketika dia merasa keberadaannya tertolak lagi. "Kamu takut jika menyebut namaku akan membawa bencana untukmu." Simpulnya dengan kecut pada diri sendiri.


Tangan Xiu Qixuan mengepak gusar. Dengan spontan dia berbicara terburu-buru tanpa arah. "Bukan..., bukan begitu. Saya tidak bisa memanggil nama anda. Itu, itu karena anda seorang pangeran." Celotehnya gugup. Dia sangat bersiaga, takut-takut pria menyedihkan ini tiba-tiba menangis.


Tanpa di duga, rasa sakit malah semakin tampak di mata Shen Yuan Zi. "Monster bukan pangeran." Dia bergumam pedih pada dirinya sendiri kala ingatan tak menyenangkan ingin merenggutnya kembali.


Xiu Qixuan menepuk jidatnya, frustasi. Pria di hadapannya ini terlalu sensitif. Bisa-bisa dialah yang akan selalu salah bicara. Bukankah dia saat ini sudah terlalu sabar mengurusi pangeran yang memiliki penyakit mental?


Menghela napas kasar. Xiu Qixuan menjentikan jari-jemari tangannya membuat bunyi untuk menyadarkan kembali pria itu. Dia berbicara lembut dengan nada menghibur: "Baiklah. dimengerti. Hanya Yuan Zi. Bukan seorang pangeran. Bukan Yang Mulia. Hanya Yuan Zi. Itu saja, 'kan?" Ujarnya dengan gemas.


Diam-diam bibir Shen Yuan Zi membentuk lengkungan kurva yang tipis. Dia tersenyum sadar. Sungguh langka melihat wajah kosong itu sedikit memiliki ekspresi alami.


Tapi sangat disayangkan, Xiu Qixuan tidak melihat ini. Gadis itu sedang melirik sekilas bulan di langit untuk memperkirakan waktu dari sang rembulan malam yang memudar layaknya kelopak yang terhembus angin.


"Sudah terlalu lama, saya harus pergi...," Xiu Qixuan perlahan beranjak, dengan menggunakan bahasa formal—dia menjelaskan begitu lembut. "Ada yang menunggu saya. Jadi, saya akan menghibur anda lagi lain kali." Tambahnya.


Shen Yuan Zi mendongak menatap lekat sosok Xiu Qixuan yang sudah berdiri. Mulut Shen Yuan Zi membuka dan menutup tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun, seolah-olah dia tercekik tak rela.


Tapi, Xiu Qixuan hanya tersenyum simpul. Gadis itu mengetahui bahwa Shen Yuan Zi tidak ingin ditinggalkan. Namun, ada sesuatu yang harus dia lakukan.


Perlahan merendahkan sedikit tubuhnya dengan tangan terulur, Xiu Qixuan menyodorkan ikan bakarnya yang berharga pada Shen Yuan Zi.


"Untuk anda, makanlah." Dia berkata santai, matanya mengerjap ketika bergumam tak enak. "Ah, tapi mungkin ini sudah dingin. Apa tidak usah aku berikan?" Timpalnya keruh. Perlahan dia menarik kembali tangannya yang terulur. Namun...,


Settt...


Shen Yuan Zi sudah lebih dulu mengambil tusukan ikan bakar itu dan menggenggamnya erat seolah-olah itu adalah porselen mahal.


Dengan reaksi yang mengejutkan tersebut, Xiu Qixuan hanya tersenyum geli. Wajahnya selalu dipenuhi jejak menyenangkan kala dia pamit dan berbalik pergi.


Shen Yuan Zi memandangi punggung ramping yang perlahan bergerak untuk menghilang di tepi kabut malam. Perasaan aneh yang tak dia mengerti memenuhi batinnya yang tersiksa. Dia selalu merasa tubuhnya memanas dan akan terbakar ketika melihat gadis itu berjalan menjauhinya. Dia tidak bisa untuk tidak menjadi serakah. Dia menjadi rakus, sangat amat rakus akan kehangatan asing yang diberikan oleh gadis itu.


Seperti waktu di sekitar mereka membeku, tiba-tiba punggung ramping itu berhenti bergerak seolah-olah langit mendengarkan doanya. Jarak mereka tidak terlalu dekat namun juga tidak terlalu jauh. Masih bisa untuk menatap dan mendengar suara satu sama lain.


Xiu Qixuan yang menghentikan langkah kakinya tersebut berangsur-angsur membalikan tubuh. Dia memandang Shen Yuan Zi dari jauh: "Yuan Zi...," panggilnya. Matanya yang tersenyum memancarkan ketenangan yang hangat. Kala ia berbicara dengan ritme jernih yang menukik tajam: "Rasa takut adalah kematian kecil yang membawa kehancuran. Di tempat penuh rasa takut, takkan ada apapun. Yang ada hanya kamu. Jadi, jangan lari lagi. Jangan meringkuk lagi. Atau aku tidak bisa menemukanmu." Ingatnya.


Deru angin beresonasi membawa suaranya melayang dari tempat yang begitu jauh, seperti terbentang garis jarak sebuah kehidupan. Suara itu membawa suasana hati yang tak karuan, Shen Yuan Zi tidak bisa untuk tidak merasa aman.


Xiu Qixuan mengerti. Dia sengaja melontarkan kalimat tersebut. Mungkin Shen Yuan Zi berpikir ke mana pun dia pergi, hanya ada rasa sakit. Tapi, ada hal-hal yang tak bisa kita hindari. Dunia memang tempat seperti itu. Dan kita harus menjalani hidup dengan baik karena cepat tersadarkan.


Karena kehidupan terus berlanjut selama kau masih hidup. Seperti ketika rasa ketakutan itu datang dan tetap harus menghadapinya. Hingga akhirnya semua itu menjadi kebiasaan.


Jangan terus-menerus lari, atau nanti kamu akan lupa makna hidup. Jangan terus-menerus bersembunyi, karena orang tidak bisa menemukanmu kala kamu sendiri lebih memilih meringkuk.


••••••••••••••••••••••