
Pada saat ini mereka sudah berada diruang tengah yang terletak di dalam bagian sebuah kediaman kecil yang juga menjadi toko penempaan senjata.
Terlihat di depan pelataran ruangan beberapa peralatan penempa dengan hawa panas api yang menyerbak keluar dari bara yang masih menyala membuat orang berkeringat tak nyaman.
"Jiejie..." Bisik Xiao Bao dengan gelisah tidak nyaman di dalam pangkuan Xiu Qixuan, bocah itu tidak ingin melepaskan genggaman eratnya dari sang gadis cantik ini.
"Tenanglah, Xiao Bao. Kita akan segera kembali jika memang Jun Ge sudah menyelesaikan urusannya," Jelas Xiu Qixuan dengan berbisik pelan ditelinga Xiao Bao.
Sosok pria setengah baya terlihat bergegas memasuki ruang tengah dengan membawa nampan yang berisi kudapan sederhana dan dia berkata dengan suara baritonnya yang menggelegar keras, "Tuan Muda Kecil, maafkan ketidaksopananku karena hanya dapat memberikanmu jamuan sederhana ini."
"Paman, sungkan." Balas Sima Junke dengan singkat, pria itu sejak tadi hanya diam dan jatuh termenung.
Setelah itu Paman Kun mendudukan diri dihadapan mereka, suasana seketika menjadi hening dan berat, dia menatap Xiu Qixuan dan juga Xiao Bao dengan tatapan setajam pedang yang baru saja ditempa olehnya.
Sejak awal kedatangan mereka Paman Kun memang tidak menghiraukan keberadaan Xiu Qixuan ataupun Xiao Bao, dia seperti hanya menganggap Sima Junke saja.
"Paman kenapa kau mempalsukan kematianmu? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Sima Junke dengan tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Paman Kun kembali mengalihkan perhatiannya kepada Sima Junke, dia tersenyum misterius dan bertanya dengan tenang, "Darimana kau menemukan alamatku ini?"
"Ibuku," Jawab Sima Junke dengan singkat tak ingin menjelaskan lebih detail.
"Sudah dapatku duga," Gumam Paman Kun dengan menarik napas panjang.
Tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya lagi pada Xiu Qixuan dan Xiao Bao kemudian berkata dengan tajam dan tegas, "Sebelum aku menjelaskannya padamu, orang yang tak berkepentingan tidak diperlukan kehadirannya."
Terdapat sirat kewaspadaan dan ketidaksukaan di nada bicara Paman Kun, yang membuat Xiu Qixuan balas tersenyum tipis dibalik cadar yang menutupi wajahnya. Dia dapat mengerti jenis kewaspadaan itu, mungkin ini adalah suatu hal penting yang memang tidak pantas untuknya ikut campur lebih dalam.
Xiu Qixuan berdiri dan menggandeng lengan Xiao Bao untuk segera bergegas keluar, "Aku mengerti!" Balasnya menunduk hormat kemudian melangkah cepat.
Tetapi saat Xiu Qixuan berjalan melewati Sima Junke, pria itu segera menahan lengannya dan berbicara sangat tegas, "Mereka bukan orang asing," dia menatap Paman Kun dengan tidak kalah tajam.
"Tuan Muda, ini—," Terjeda Paman Kun
"Paman Kun, dia adalah kekasihku. Aku tidak akan menutupi sesuatu darinya, karena dialah yang membawaku bertemu denganmu." Ucap Sima Junke seperti sedang menyatakan deklarasi yang sangat penting, ketegasan dan ketenangan tersirat dari tatapan dan juga nada bicaranya.
Xiu Qixuan yang mendengar itu tidak dapat menahan perasaannya yang membuncah senang, dia merasa keberadaannya sangat dipedulikan oleh seseorang.
Helaan napas terdengar dari bibir Paman Kun, pria setengah baya itu melambaikan tangannya dan berkata pasrah, "Baiklah, baiklah... Nona, kau boleh kembali duduk."
"Terimakasih. Ayo, Xiao Bao!" Balas Xiu Qixuan dengan sungkan membungkukan sedikit tubuhnya dan membawa Xiao Bao untuk kembali ke kursi tempat sebelumnya mereka duduk.
"Paman silakan bicara," Ucap Sima Junke dengan dalam.
"Tuan Muda, aku akan menjelaskan semua yang kuketahui padamu karena semuanya saling berkaitan layaknya seutas benang takdir yang saling mengikat." Balasnya
"Tetapi kau sendirilah yang harus mencari tahu kebenarannya dan mengisi celah yang kosong ini.' Lanjutnya
Kemudian Paman Kun menarik napas panjang dan matanya seperti menerawang jauh, "Pada tahun itu..."
•••••••••••••••••••
Musim gugur hari pertama udara masih sangat panas, kebanyakan orang akan memilih tidak keluar dan beraktivitas.
Itu tepat di salah satu dari tiga kekaisaran besar, terlihat kedua orang pria muda menggendari kuda mereka yang gagah dibawah teriknya matahari, seolah mereka memang terbiasa dengan panas yang membakar bumi.
Perawakan mereka terlihat sangat berbeda daripada orang kebanyakan di Kekaisaran Mo, seperti seorang pengelana jauh dari negeri asing.
Mereka melewati gerbang pemeriksaan untuk keluar dari Ibukota Luoyang milik Kekaisaran Mo dengan taat dan teratur mematuhi.
Sesaat berlalu sampai akhirnya mereka diperbolehkan melanjutkan perjalanan, dengan cepat mereka memacu kudanya.
Suasana diantara mereka begitu ceria dan hangat, sesekali mereka akan menjahili satu dengan yang lain layaknya saudara yang tak terpisahkan.
"Qi Bo, kudengar terdapat sebuah Sekte besar dibawah lereng Gunung Kong, mereka mempelajari ilmu pemberian seorang dewi yang jatuh ke Daratan Ca Li saat menerima hukuman langit." Jelas seorang pria yang memiliki perawakan lebih tampan dari atas kudanya.
"Gunung Kong terletak di dekat Kekaisaran Mo, bukan?" Balas Sima Xiahou dengan balik bertanya.
"Ya, jangan bilang kau baru mengetahui letak gunung suci itu." Jawab Kun Qi Bo dengan acuh tak acuh.
"Kalau begitu kita akan mengunjungi Sekte tersebut," Ucap Sima Xiahou dengan ringan memacu kudanya agar lebih cepat.
Kun Qi Bo tercengang dan saat kesadarannya pulih, dia segera menarik tali kekang kudanya dengan sedikit hentakan keras membuat kuda itu segera berlari menyusul Sima Xiahou.
"Xiahou, kita tidak dapat kesana! Hanya orang tertentu yang diterima dan dapat pergi," Ucap Kun Qi Bo dengan keras memberi peringatan.
"Apa salahnya mencoba?" Balas Sima Xiahou dengan kukuh tetap memacu kudanya mengarah ketimur.
Kun Qi Bo tidak dapat membantah lagi dan tetap mengikuti sahabat yang berstatus majikannya saat berada di Suku Nanbao.
Mereka mengendarai kuda dengan kecepatan rata-rata yang menempuh waktu dua hari dua malam diperjalanan.
Sesampainya mereka ditempat tujuan, terlihat gerbang tanpa pintu yang melengkung indah.
'Sekte Xitian'
Ukiran indah dan nyata dari kaligrafi diatas sebuah papan besar.
Kerutan dikening mereka dapat terlihat jelas, Sekte besar dengan pengamanan yang seharusnya sangat tinggi dan ketat tidak memiliki pintu gerbang dan hanya menyediakan sebuah gapura sebagai bentuk penyambutan.
Sima Xiahou bergegas memasuki gerbang tersebut dengan berjalan kaki, sementara kuda mereka diikat disebuah pohon besar yang letaknya tidak jauh.
Kun Qi Bo ikut melangkah dibelakangnya, saat menyampai gerbang tersebut terlihat cahaya samar yang menembus tubuh Sima Xiahou tetapi pria itu masih dapat melangkah dengan tenang seakan tidak terganggu oleh sesuatu dari cahaya tersebut.
Sementara, hal lain terjadi pada Kun Qi Bo. Pria itu terpental jauh seperti ada kekuatan tak kasat mata memukul dan membanting tubuhnya saat berusaha melintasi gerbang tak berpintu itu.
Sima Xiahou yang mendengar derakan suara keras dari tubuh Kun Qi Bo yang terpelanting itu, langsung bergegas keluar dan menghampiri sang sahabat dengan raut wajah khawatir.
Setelah memastikan bahwa Kun Qi Bo baik-baik saja, mereka saling terdiam dan bertatap tak mengerti. Apa yang sedang terjadi? mengapa hanya Sima Xiahou yang dapat melewati gerbang Sekte Xitian? Seolah memang dia diizinkan dan ditunggu kedatangannya.
Sebelum akhirnya ide keluar untuk mereka mencoba memasuki gerbang dengan berbagai cara, tetapi tetap saja hanya Sima Xiahou yang dapat berjalan masuk dengan sangat mulus.
"Apa yang kau lakukan?" Sentak Kun Qi Bo geli saat tangannya di genggam oleh Sima Xiahou.
"Diam," Balas Sima Xiahou menarik tangan Kun Qi Bo untuk membawa sahabatnya itu masuk dengan tubuh mereka yang saling berdekatan.
'Splash,' Cahaya samar berkekuatan gaib itu tembus, Dia berhasil! Mereka berhasil memasuki gerbang tak berpintu yang memiliki kekuatan supranatural ini.
Kemudian mereka melanjutkan langkahnya dan berjalan dengan mengedarkan pandangan kesekitar. Entah mengapa mereka dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan saat berada di dalam wilayah ini.
Melangkah dengan perlahan dan begitu teratur melintasi sebuah jembatan lebar, diujung jembatan terdapat sebuah bangunan menjulang kokoh dan tinggi. Ikon bangunan yang begitu mulia nan megah.
Sebuah pelataran besar dari wilayah Sekte Xitian di Gunung Kong. Aksen ungu, putih dan emas yang melambangkan spritualitas, kesucian dan kemewahan.
Kedua orang itu terpesona melihatnya, mereka jatuh kedalam kekaguman yang tak kunjung habis.
Sampai akhirnya sebuah suara mengintrupsi mereka, kehadiran seorang pria tampan dengan pakaian yang terbuat dari gulungan sutra putih, kedatangannya membawa angin sejuk yang mulia.
Dia perlahan berucap penuh kewibawaan yang mengalir sejernih air, "Siapa kalian?!"
Sima Xiahou dan Kun Qi Bo tertegun kaget saat melihatnya, sebelum akhirnya Sima Xiahou balas menjawab dengan ketenangan luar biasa, "Sima Xiahou memperkenalkan diri. Kelancangan kami membuat suasana menjadi buruk, mohon Tuan memberi sedikit kemurahan hati." dia membungkuk hormat untuk memohon pengampunan tanpa sedikitpun merendahkan dirinya.
••••••••••••••••
Note: Semuanya berpusat pada satu titik yang terputus dan merambat hingga masa kini. Kehadiran Xiu Qixuan adalah seorang penentu diakhir cerita.