
Kapal terus mengeluarkan deru bergerak perlahan. Cahaya rembulan dan bintang menjadi penerang untuk makhluk fana ketika malam, terpantul di permukaan air yang jernih. Cakrawala langit begitu megah. Semegah kemeriahan besar yang gemerlap saat ini.
"Kakak ketiga, apa kamu baik-baik saja? Tubuhmu bergetar dan mengeluarkan keringat dingin." Shen Zongshun, Pangeran Kelima, dia melontarkan pertanyaan perhatian, tangannya terulur hendak sangat baik memberikan sebuah sapu tangan pada Shen Yuan Zi.
Tapi, seperti orang ketakutan tubuh Shen Yuan Zi menyusut dan menjauh. Seolah alergi dengan sentuhan apa pun dari orang asing.
Alis tajam Shen Zongshun terangkat tinggi. Dia berdeham dan berusaha memaklumi. "Kutaruh di sini, kau bisa memakainya." Ujar Shen Zongshun menaruh sapu tangan tersebut di atas meja milik Shen Yuan Zi.
Mengambil cangkirnya, Shen Zongshun menyesap arak dengan gerakan elegan. Sudut matanya lurus, tetapi, bibirnya bergerak mengeluarkan pernyataan yang cukup menukik: "Kau takut dengan ayah." Dia berbicara seolah-olah pada dirinya sendiri.
Tentu, Shen Yuan Zi yang berada di samping mendengar itu. Mengangkat sedikit wajahnya, Shen Yuan Zi melirik untuk diam-diam mengamati Shen Zongshun.
Sudut bibir Shen Zongshun membentuk senyum tipis. Dia tidak memusatkan perhatian atau menatap langsung pada Shen Yuan Zi, itu pilihan tepat karena membuat Shen Yuan Zi merasa lebih aman.
Sepertinya Pangeran Kelima ini memiliki setidaknya sedikit pengetahuan terkait menangani kondisi mental seseorang.
"Kakak ketiga...," Shen Zongshun memanggil, suaranya seperti gemuruh yang membentur tenang. "Jangan takut. Meski takut, jangan sampai ketahuan." Dia tersenyum sempit diakhir.
Mendengar perkataannya, Shen Yuan Zi kembali menurunkan pandangan sedikit merasa terkejut.
Suara tawa seseorang tiba-tiba terdengar menyapu telinga seperti dentingan lonceng perak menambahkan rasa manis di udara.
Diatas panggung pertunjukan, sosok Xiu Qixuan tertawa hambar pada dirinya sendiri. Ia berkata menanggapi pujian Kaisar yang sebelumnya diutarkan padanya; "Saya belum melakukan apapun. Tapi, Kaisar sudah membuat nama pujian untuk saya. Bukankah itu akan tidak adil bagi para saudari saya lain?"
Meremas tangan, Kaisar menahan kedutan di wajahnya. "Ouh, Nona benar. Kau memang putri Haocun, begitu jujur!" Balas Kaisar ikut terkekeh palsu.
"Nona Besar memang berbakat. Pujian juga termasuk benar. Jadi, apa yang akan kau perlihatkan pada kami untuk ini pasti tak mengecewakan." Suara Permaisuri menyela dan angkat bicara. Dia tersenyum cerah.
Xiu Qixuan menahan kecut. Melengkungkan jari terlunjuknya sebagai isyarat, seorang pelayan benar-benar datang membawakan sikat, kuas, dan perlengkan tulis lain. Dia mengambil kuas berukuran sedang. Sebelum benar-benar melanjutkan, dia menatap kearah Kaisar.
Dengan postur angkuh menopang dagu, Kaisar melipat dahinya ketika dia merasa alarm tubuhnya tiba-tiba berdering tanpa alasan. Ada apa dengan mata gadis kecil itu? Dia merasa seperti ada kekuatan misterius di dalamnya, itu membuat dia merinding.
'Seekor bangau yang hilang diantara kawanan.
Tertembak peluru bisu.
Ruangan tahanan yang memenjarakan.
Mengikatkan tali merah seumur hidup.'
Semua orang saling memandang pemandangan ini dengan mata tidak percaya. Menunggu respon Kaisar, Permaisuri dan Kedua Selir.
Xiu Qixuan, gadis itu, membuat puisi dengan kaligrafi tangannya yang membentuk anggun. Namun, yang menjadi pembicaraan adalah isinya. Sebuah cibiran untuk pernikahan, dia seperti sedang berkomentar pedas bahwa menikah adalah penjara.
"Bagus! Kata-kata bagus! Puisi yang tajam! Aku sudah lama mendengar tentang kelugasan Nona Besar Xiu, akhirnya aku menyaksikannya hari ini."
Tawa megah Kaisar terdengar bergema. Itu menakjubkan ketika dia merasa sangat terhibur dan bersorak cerah.
Dia bisa meloloskan diri hanya dengan begitu mudah, karena Kaisar seperti memang tidak mempermasalahkannya.
•••••••••••••••••
Akan datang saat-saat orang merasa terpojok setidaknya sekali dalam hidup mereka. Mungkin seperti itu yang dirasakan Xiu Qixuan sekarang.
"Apa anda ingin saya menghubungi Tuan Muda Kedua untuk meminta bantuan? Kita akan berangkat ke acara berburu dua hari lagi." Xiao Rou menyarankan dengan cemas. Dia berdiri kosong matanya mengikuti Xiu Qixuan yang seperti gasing berjalan dengan pusing.
Melipat kedua tangan di depan dada, Xiu Qixuan menjawab dengan dengusan: "Menurutmu apa yang bisa Er'ge-ku itu lakukan? Dia saja sudah sibuk mengurus istri baru yang datang dari desa."
Xiu Qixuan berhenti bergerak, dia memekik dengan memaki sembari menendang kursi di depannya sampai terbelah.
Brak! Krak!
"Sial! Sejak awal mereka memang tidak ingin melepaskanku. Apa pun yang kulakukan tetap saja aku harus menikahi salah satu pangeran."
Memutar tubuhnya dan berjalan dengan marah meninggalkan Xiao Rou sendiri di kamar tidurnya. "Aku pergi dulu! Jaga Chao momo agar tidak berulah." Dia memerintah dengan nada rendah yang dingin.
"Anda ingin kemana Nona?" Pekik Xiao Rou bertanya.
Langkah Xiu Qixuan berhenti di ambang pintu, gadis itu menoleh. "Setidaknya aku harus berbuat sesuatu kalau tidak ingin hidupku dilahap secara penuh oleh kebusukan ini, 'kan." Ia berkata begitu sinis.
••••••••••••••••••••••••
Pasir di permukaan padang yang luas tampak bergerak ketika terlihat seorang pria meloncat turun dari atas kudanya dan langsung berlari cepat untuk menyampaikan berita yang begitu penting untuk hidup dan mati seolah-olah tidak ada hari esok.
"Tuan, Tuan Sima!" Dia meneriaki nama satu sosok sembari mengitari bangunan kediaman, "Di mana Tuan Muda?" Ia bertanya segera pada salah satu penjaga dengan napas tersenggal ngos-ngosan.
"Tuan berada di kolam pemandian." Jawab penjaga itu memberitahu. "Hei, Kangjian! Tidak ada yang boleh masuk kesana!" Penjaga itu berteriak kala melihat pria yang di panggil sebagai Kangjian itu langsung berlari tanpa berkata apapun lagi padanya.
Sebuah bangunan yang menjadi kolam pemandian pribadi. Di dalam berkabut tipis dengan udara mengepul yang datang dari air kolam panas. Membuat penglihatan sedikit kabur oleh adegan suram dari kabut dan gelap. Yang asing di sini adalah aroma herbal tercium sangat menyengat. Pemilik tidak memakai wewanggian, hanya ada dua jenis spekulasi yaitu dia sakit atau memang tidak suka saja.
Kangjian berdiri di sisi kolom. Dia memandang tuannya dengan kasihan. Di dalam kolam, sosok pemuda tampan memiliki bahu yang lebar dengan dadanya yang berotot, terlihat di bawah tulang selangka yang tebal, begitu indah. Namun, itu begitu menyedihkan kala kita memandang matanya yang tak memiliki sinar kehidupan. Dia menerawang jauh seolah-olah pikiran dan jiwanya tidak berada di tempat ini.
Kangjian menarik napas dalam-dalam, tuannya selalu begini. Merenung sampai itu terlihat menakutkan ketika dia tidak memiliki hal lain untuk dikerjakan.
"Tuan, sebuah surat datang untuk anda dari Tuan Muda Kedua Xiu." Kangjian berkata dengan menekan kata demi kata untuk tuannya dengar.
Tangan yang sedang memegang sebuah benda merah seperti kelereng itu jatuh lemas tanpa daya menyentuh air. Dia menoleh dengan sedikit tersendat, "Cepat.., cepat bacakan itu untukku, Kangjian!" Ia memerintah dengan terburu-buru.
••••••••••••••••••
Tali merah: Ikatan Pernikahan
A/N: Yang kangen A Jun harap bersabar, pasti kalian tidak puas, author mengerti;)