
Seorang gadis cantik terduduk lesuh dengan mengerutkan bibirnya kesal, tidak bersemangat untuk menorehkan pewarna ke kanvas lukisan yang berada didepannya. Kalau kekesalan dapat membuat seseorang mati mungkin dia sudah mati sejak tadi.
"Jangan memasang wajah seperti itu, kau akan bertambah jelek," Ucap Seorang Pria Tampan dari arah samping belakang mengawasi tindakannya sejak tadi.
"Guru, sungguh caramu menghibur seorang gadis sangat aneh. Bagaimana bisa kau menyuruh seseorang yang dalam kondisi tidak baik untuk tetap belajar kesenian yang bukan kegemarannya." Eluh Xiu Qixuan, memegang kuas tinta saja dia sudah tidak niat bagaimana mungkin menghasilkan suatu gambar yang indah.
Sebelumnya Xiu Qixuan menangis dipelukan Sang Guru meluapkan keresahan yang sejak awal menghantuinya. Tetapi, saat akal sehatnya kembali gadis itu langsung menyadari tindakannya akan membuat Ji Gui tidak nyaman padanya. Xiu Qixuan dengan cepat melepaskan dekapannya, dan menjauhkan tubuhnya.
Situasi disaat itu sungguh canggung, keduanya saling terdiam. Xiu Qixuan hanya diam menatap lantai dan menghapus airmata dari kedua pipinya. dan Ji Gui saat itu juga sedang berusaha mengkontrol perasaannya tidak karuan dan berusaha menyembunyikan rona merah dikedua pipinya, beberapa kali pria itu berdeham canggung.
"Xiao Rou, siapakan keperluan untuk melukis," Perintah Ji Gui kepada bawahan muridnya itu.
Xiu Qixuan mendongakan kepala dan memasang wajah penuh tanya kearah Ji Gui.
"Kenapa?" Tanya Ji Gui dengan acuh, sebenarnya dia tahu arti dari guratan yang tercetak jelas diwajah Xiu Qixuan--yang seakan-akan ada tulisan yang sangat besar dikening gadis cantik itu 'SIAPA YANG INGIN MELUKIS DIKONDISI SEPERTI INI!'
"Aku ini siapamu?" Tanya Ji Gui dengan menaikan kedua alisnya.
"Guruku," Jawab Xiu Qixuan dengan cepat tanpa berpikir.
"Kau tahu apa tugas seorang guru?" Tanya Ji Gui untuk kedua kalinya.
"Mengajar dan membimbing muridnya," Jawab Xiu Qixuan singkat,
"Yasudah sekarang aku ingin menyelesaikan tugasku untuk mengajar," Jelas Ji Gui kemudian berjalan mendudukan diri dikursi panjang yang terdapat diruangan itu, dengan santai menunggu Xiao Rou membawakan peralatan melukis.
"Aku tidak ingin melakukan apapun untuk hari ini," Elak Xiu Qixuan menolak untuk belajar disaat pikirannya baru saja tenang.
"Melukis dapat membuatmu mendapatkan ketenangan pikiran kembali, anggap saja itu adalah salah satu caraku untuk menghiburmu." Ucap Ji Gui dengan mengedikan bahunya acuh.
Begitulah awal sumber kekesalan Xiu Qixuan hari ini, mendapatkan guru yang kaku--tidak dapat diajak bersantai dan bersenang walaupun sejenak.
'Aku dapat mentolerinya karena ketampanannya,' Gumam Xiu Qixuan dalam hati terus melafalkan kalimat itu untuk menahan kekesalannya.
Ji Gui mendapatkan kesenangan dan kepuasan tersendiri melihat wajah Xiu Qixuan yang mengerut kesal dan mencebikan bibir sebal.
Senyum tipis terlihat dibibir Ji Gui, aura yang dikeluarkan lelaki tampan ini terlihat semakin berbeda dari hari ke hari. Sebelumnya, Ji Gui yang misterius memiliki aura acuh tak acuh seakan semua hal didunia ini tidak berkaitan dengannya tetapi untuk saat ini dia cukup berbeda karena aura lembut dan ceria menyelimuti tubuhnya saat bersama Xiu Qixuan.
"Aku tidak habis pikir bagaimana nasib istrinya nanti, mungkin saat sedang merajuk malah dikasih kuas tinta bukannya perhiasan atau makanan," Gumam Xiu Qixuan dengan pelan dia terus mengeluh.
Ji Gui yang mendengar kalimat itu senyuman diwajahnya semakin memperlebar dan terlihat jelas. Gadis ini apakah sudah kembali seperti sediakala lagi? Ji Gui sebenarnya penasaran akan keluhan atau masalah sang murid--tetapi dirinya tidak nyaman kalau bertanya terlalu banyak.
*****
"Lukisan apa ini?!" Tanya Ji Gui dengan keras melihat lukisan abstrak milik Xiu Qixuan.
"Bagus sekali bukan? Kau tahu guru, aku tidak dapat menggambar dan melukis, sudah beberapa kali mencoba belajar tetapi perkembanganku dibidang itu sangat lambat. dan aku hanya dapat melukis dengan menggunakan Aliran Abstraksionisme." Jelas Xiu Qixuan bangga dengan hasil kerjanya. Heh, bukankah sudah bagus dirinya tidak hanya menggambar sawah dan gunung?
"Aliran apa?" Tanya Ji Gui memperjelas indra pendengarannya.
"Aliran Abstraksionisme atau seni abstrak (tanwujud) yaitu salah satu jenis kesenian kontemporer yang tidak menggambarkan objek dalam dunia asli, tetapi menggunakan warna dan bentuk dalam cara non-representasional." Jelas Xiu Qixuan dengan bersemangat karena hanya itu pengetahuan yang dia ketahui tentang seni lukisan di Bumi.
Xiu Qixuan mengangguk mengiyakan pertanyaan Ji Gui. dan sang guru itu terdiam beberapa saat memandangi kanvas milik Xiu Qixuan mencoba untuk menelaah pengetahun baru.
"Guru, tidakkah kau memiliki pekerjaan lain diluar sana?" Ucap Xiu Qixuan yang sebenarnya sedang mengusir Ji Gui secara halus, gadis itu yakin Ji Gui mengerti maksud kalimatnya.
Ji Gui mengerutkan kening tidak suka tetapi dia kemudian beranjak berdiri menggulung kertas kanva dan melangkah pergi membawa hasil lukisan Xiu Qixuan. Sebelum Ji Gui sampai diambang pintu ruangan Xiu Qixuan berseru dari arah belakangnya.
"Xuan'er, Tidak dapat mengantar! memberi Salam kepada guru. Semoga guru diberkahi oleh langit," Ucap Xiu Qixuan dengan menundukan tubuhnya sedikit dan tersenyum senang.
Xiao Rou dan Xiao Taoli yang mendengar teriakan ceria majikannya menjadi sangat senang, sebelumnya dada mereka terhimpit rasa cemas tak berujung menjadi lebih lega dan dapat bernapas tanpa kekhawatiran.
******
"Aiya, akhirnya dapat bersantai!" Gumam Xiu Qixuan merebahkan diri diranjang miliknya.
Xiu Qixuan memejamkan kelopak matanya, kilasan bayangan lelaki asing tersebut tidak terlihat lagi.
Tetapi, Gadis itu mengingat suatu hal bahwa dirinya perlu bantuan Baijin Hu dan Lao Yong untuk memberi arahan di Dunia yang kacau ini.
Kelopak mata dengan bulu yang lentik itu kembali terbuka, Xiu Qixuan mendudukan dirinya dan mengangkat sebelah tangannya memanggil Kipas Emas yang tergeletak diatas meja rias untuk menghampirinya.
Kipas Emas ini sudah terhubung dengan dirinya, tidak sulit mengendalikan benda tersebut tetapi mungkin kedepannya Xiu Qixuan akan menemukan banyak kesulitan mengubah Kipas cantik ini menjadi senjata mematikan.
Kipas itu melayang dan terjatuh digenggaman Xiu Qixuan, Gadis itu memejamkan mata dan menetralkan isi pikirannya membayangkan Dunia Kecil tempat tinggal Lao Yong dan Baijin Hu.
Jangan khawatir bahwa Xiao Rou atau Xiao Taoli memasuki kamarnya, Xiu Qixuan sudah memperintahkan kedua bawahan sekaligus temannya itu untuk membiarkannya beristirahat.
Cahaya putih dan emas menyelimuti tubuh Sang Nona Besar Xiu.
Xiu Qixuan merasakan hangat dan nyaman menyelimuti tubuhnya. Dirinya membuka kelopak matanya perlahan.
Terlihat Dunia Kecil yang masih sama indahnya--tidak ada hal yang berubah tetapi entah mengapa waktu terasa berhenti disini.
Langit di Dunia kecil ini gelap seperti malam hari, seharusnya di Daratan Ca Li masih siang menuju sore hari.
•••••••••••••
Selamat hari pendidikan nasional, 2 mei 2021.
telat yaa ngucapinnya, gpp deh yaa.
Btw, Author boleh minta tolong kepada kalian yang membaca cerita ini, kan?
Readers ku yang baik, tolong bantu memberi penilaian bintang karya ini agar naik kembali seperti semula. Entah orang seperti apa yang membuat penilaian turun drastis. kalau ada yang kurang dari karya ini lebih baik memberiku saran dan kritik. jangan diam-diam menghanyutkan🙌
Kedepannya Xiu Qixuan akan mulai berlatih agar menjadi kuat dan bakal ketemu event menyingkap tabir misteri milik Qiaofeng.
Stay Tuned 😉