Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Ribuan Panah Memecahkan



Dibawah guyuran salju tebal sesosok pria memandangi gundukan tanah dengan pancaran yang terikat oleh kepahitan tak berujung. Musim gugur dan musim dingin yang tak mungkin terlupakan.


Punggung kokoh yang biasanya menjulang tegak nan kuat menjadi sedikit membungkuk lesuh oleh kesedihan. Ada apa dengan hidup dan mati, saat pikiran menjadi putus asa.


Seekor burung pengicau hinggap diatas batu nisan. Suara kicauannya menjadi musik kesedihan yang mengalun untuk menemani sosok itu.



"Xiao Bao, maaf." Suaranya serak dan tercekat oleh kesesakan di dalam dada.


"Gege tahu bahwa tidak pantas untukmu. Xiao Bao, terimakasih banyak. Mari bertemu lagi dikehidupan selanjutnya." Ucapnya dengan sendu menatap gundukan tanah yang membentuk sebuah makam.


Matanya terpejam seperti menahan semua emosi yang membuncah keluar. Dia segera mengepak lengan bajunya dan berlalu pergi.


Xuan'er, tunggu aku. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menyakitimu. Aku hanya ingin menyelamatkanmu. Kamu menyalahkanku dan meninggalkan aku sendiri. Bagaimana bisa kamu menyerah akan kita?


Pada saat ini, Sima Junke ingin mencari keberadaan sosok yang dirindukannya. Menjelaskan semua yang terjadi walaupun terdengar mustahil jika gadis itu terus mendorongnya pergi dan berlari menjauh.


Sima Junke, pria itu terposok jatuh kedalam lubang penderitaan yang di gali oleh Xiao Chun. Iblis wanita itu menyuruhnya untuk menegak darah kalajengking.


Itu adalah Kalajengking Iblis Pengikat, digunakan untuk mengikat roh dan pikiran membuatnya seakan menjadi boneka. Cara menggunakannya adalah orang yang menjadi pengikat kendali akan diisap darahnya oleh kalajengking kemudian kalajengking tersebut dibunuh untuk diberikan kepada budak yang akan diikat.


Secara sistematis Kalajengking Iblis Pengikat menjadi mediator atau perantara yang menghubungkan mereka lewat darah yang tercampur oleh kekuatan iblis.


Pada saat itu Xiao Bao yang bersembunyi dalam diam ingin melihat keadaan jiejie -nya dan tidak sengaja malah menyaksikan trik kejam yang diberikan oleh Xiao Chun kepada Sima Junke.


Dimata Xiao Chun, bocah kecil itu seperti lalat yang menyebalkan. Menjadikan iblis wanita itu memilih untuk menambahkan skema yang lebih kejam lainnya. Menyingkirkan lalat sekaligus memberi pukulan telak kepada Xiu Qixuan.


••••••••••


Ditempat lainnya.


Ruang besar bawah tanah dalam Sekte Xitian yang membentuk seperti bangunan istana kegelapan itu adalah markas pusat dari para orang berjubah hitam yang menyebut diri mereka sebagai Bintang Asura.


Sosok pria berambut hitam yang memiliki beberapa helai rambut berwarna putih itu sedang memandangi akar bunga liar yang tumbuh indah.


Tangannya terulur untuk meraih akar merambat dari puluhan bunga yang tumbuh diatasnya.



'Krekk' Dia mematahkan keindahan itu dengan menyeringai senang. Potongan batang dari akar merambat itu membentuk runcingan tajam yang dapat melukai tangan. Liar dan cantik tetapi jika tidak berhati-hati akan terluka.


Indra pendengarannya yang tajam itu sedikit bergerak ketika menangkap suara langkah kaki milik seseorang.


"Bagaimana? Sudah menemukannya?" Tanyanya tanpa menolehkan wajah sedikitpun seolah mengetahui orang yang sedang menghadapnya.


"Ban Xia begitu lalai dan bodoh. Sampai saat ini belum dapat menemukannya. Mohon ketua memberikan hukuman." Jawab Ban Xia dengan berlutut.


Sosok ketua itu melambaikan tangan dengan acuh tak acuh, "Sudahlah, tidak perlu diteruskan lagi. Kau bisa kembali untuk beristirahat." Balasnya dengan sedikit kemurahan hati.


"Terimakasih, Ketua." Ucap Ban Xia dengan memberi hormat kemudian berlalu pergi.


Seperti teringat oleh sesuatu yang begitu penting, sosok ketua itu segera berbalik, "Ban Xia!" Panggilnya menahan langkah sang bawahan setianya itu.


"Hadir," Jawab Ban Xia dengan cepat.


"Ingatlah kalau bertemu dengan gadis itu kalian harus langsung membunuhnya untuk segera mengambil akar kekuatan spritual." Perintahnya dengan tegas tanpa keperdulian di nada bicaranya.


"Ya, baik. Ban Xia, mengerti." Jawab Ban Xia dengan patuh.


•••••••••••


Semerbak bau dari banyak jenis tanaman obat herbal menyeruak kesegala penjuru halaman dalam Kediaman Hao Ning.


Raut wajah para pelayan terlihat tegang dan tidak nyaman karena tuan mereka bertindak begitu berbeda. Biasanya Kediaman Hao Ning adalah yang paling damai dan tenang di Ibukota Luoyang. Tetapi untuk saat ini, kemuraman hati dari sang tuan membuat mereka bertindak begitu hati-hati.


Kehadiran seorang tamu penting menambah ketegangan dalam Kediaman Hao Ning.


Mo Ji Gui berjalan beriringan bersama Xiu Huanran dengan ketenangan diraut wajahnya. Walaupun tenang tetapi malah terpancar berat.


Setelah memasuki celah pintu, terlihat sosok gadis yang terbaring kaku dengan wajah pucat dan tirus.


Xiu Huanran segera menghampiri sisi ranjang untuk melihat kondisi sang adik. Xiu Qixuan, gadis ini terlihat begitu menyedihkan. Wajahnya memucat dan tubuhnya bertambah kurus seperti tidak memiliki daging selain kulit dan tulang yang menghiasi.


Xiu Huanran meringis sedih, dia terduduk disisi ranjang dan meraih tangan dingin milik gadis itu. Mengusap dengan lembut dan sayang, samar-samar terlihat banyak bekas luka ditangan mungil itu. Begitu samar tidak akan ada yang menyadarinya sampai saat dia mengamatinya dari jarak dekat.


Tidak tahan untuk melihat lagi, Xiu Huanran beranjak dan menghampiri Mo Ji Gui yang berdiri dibalik tirai.


"Dapatkan kau menyembuhkannya?" Tanya Xiu Huanran dengan sirat emosi ketidaksabaran.


"Tidak." Jawab Mo Ji Gui dengan singkat nan tenang.


"Kau—!! Bagaimana bisa menyerah dengan kemampuanmu?!" Ucap Xiu Huanran dengan amarah mencengkeram erat kerah baju Mo Ji Gui.


Mo Ji Gui menghentak tubuh Xiu Huanran dengan keras melepaskan cengkeraman itu.


"Aku tidak menyerah. Hanya saja semua tergantung kehendak dirinya sendiri. Dia menolak untuk membuka kelopak matanya. Mungkin dia ingin cepat bereinkarnasi karena sudah muak oleh dunia ini." Balas Mo Ji Gui dengan setajam pisau yang membelah dada Xiu Huanran.


Xiu Huanran mematung dengan mengerjap tertegun. Helaan napas panjang terdengar keras dari bibirnya.


"Apapun yang terjadi aku tetap harus menyelamatkannya." Gumam Xiu Huanran dengan menunduk cemas dan kedua tangan yang mengepal erat.


Mo Ji Gui diam termenung, dia seakan sedang berpikir mengenai sesuatu hal lain. Perlahan bibirnya mengait keatas dan suara penuh keraguan terdengar, "Aku mempunyai satu cara tetapi cukup kejam."


Seperti mendapatkan suatu harapan, Xiu Huanran mengangkat pandangannya dan berucap tegas dengan wajah serius, "Jelaskan." Perintahnya.


"Aku dapat memakai jarum akupuntur untuk memaksa syaraf otaknya kembali berpacu. Itu akan sangat menyakitkan seperti ribuan panah memecahkan otakmu." Jelas Mo Ji Gui dengan menahan suatu perasaan ketidaknyaman dihatinya.


Xiu Huanran mematung, dia seperti sedang berusaha mencerna penjelasan Mo Ji Gui. Menimbang keberhasilan dari sebuah peluang.


"Apakah kau yakin akan berhasil?" Tanya Xiu Huanran dengan keraguan terukir jelas.


"Jika berhasil dia akan kembali sadar dalam dua kondisi yang memungkinkan, yaitu kembali bersikap normal atau tidak. Tetapi jika gagal dan dia masih menolak untuk terbangun, kita hanya dapat menerima." Jawab Mo Ji Gui dengan pancaran ketulusan memandangi wajah Xiu Qixuan yang tertidur tenang.


Xiu Huanran menarik napas panjang sebelum akhirnya berucap dengan tegas, "Lakukan!"


"Ji Gui, kumohon padamu untuk menyelamatkannya. Anggap hal ini sebagai permintaanku untuk kau membalas budi." Lanjutnya dengan sirat pahit yang mendalam.


Setelah mengucapkan hal itu Xiu Huanran membalikan tubuhnya dengan mata terpejam dan napas yang tak stabil karena emosi, dia berlalu pergi.


Ini adalah suatu keputusan yang sangat berat dan terbilang cukup nekat. Kalau tidak berhasil, Apa yang harus dia jelaskan pada ayah dan kakaknya? Apa yang harus dia katakan pada mendiang ibunya di surga?


Mo Ji Gui yang melihat itu hanya terdiam dan membiarkan Xiu Huanran berlalu seorang diri untuk merendam emosi.


Xiu Huanran memiliki keunggulan dalam kekuatan yang tidak dapat diremehkan. Dia dapat memperintahkan orang untuk mencari tahu ataupun membunuh Sima Junke. Tetapi untuk saat ini biarkan dia lupa akan membalas dendam. Kondisi tubuh Xiu Qixuan sangat kritis, bahkan dia tidak berani untuk memalingkan wajah karena takut sang adik menghilang dari pandangannya.


••••••••••••