Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kekonyolan Teh Hitam



Kejadian sebenarnya di balai pengobatan,


Mata indah dengan tahi lalat di bagian bawah kiri milik ilmuwan tampan bermonokel emas itu tampak melebar dan bergetar, menunjukan mentalnya yang terguncang cukup serius. Memandang kosong ke dalam ruangan seolah-olah dia kehilangan roh juga jiwa dalam tubuhnya.


"K-kau, bagaimana ini..." Shen Ruan Ye mencicit rendah tak bisa banyak berkata-kata karena terkejut oleh guncangan yang di buat oleh Yao Anran.


Dia berjalan memasuki ruangan, itu nampak begitu kacau. Tungku-tungku obat pecah berserakan, bubuk herbal bertaburan dan melimpah tercampur menjadi satu tak menentu. Dan, yang lebih membuat mentalnya tak karuan adalah buku catatan berisi semua penelitian terbarunya basah dan terpanggang hangus seperti seonggok daging.


Ini semua karena ulah mahluk berbulu putih kecil yang tak sengaja di lepaskan oleh Yao Anran.


Menegup ludahnya gugup, Yao Anran yang berada di sisi lain menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri, ia kemudian berbicara hati-hati penuh penyesalan.


"S-saya, maafkan saya Yang Mulia. Saya melihat kandang besar dengan para kelinci cantik yang terkurung di dalamnya, tanpa sadar jatuh terpesona dan hanya ingin menyentuh bulu-bulu lembut mereka." Menunduk takut dengan tangan yang memilin lengan bajunya, Yao Anran menjelaskan dengan gusar.


"...."


Hening. Shen Ruan Ye tetap mematung dan berdiri kosong seolah-olah dia tak mendengarkan suara apa pun.


Kelinci yang di lepaskan gadis itu adalah subjek percobaan banyak penelitiannya. Bukan hanya ada kelinci di tempat yang bernama balai pengobatan kekaisaran ini, banyak hewan lain seperti ular dan hewan liar lainnya, itu wajar ketika mereka bisa di pakai untuk di jadikan obat maupun racun.


Tidak mendapatkan jawaban, Yao Anran memberanikan diri untuk mendongak dan menatap raut wajah Shen Ruan Ye.


Yao Anran menambahkan kata-katanya lagi dengan getaran sedikit keras. "Tapi, sungguh! Saya hanya ingin membawa dan menyentuh satu ketika yang lainnya lolos dengan begitu lincah. Sungguh Yang Mulia, saya bersumpah—"


Brukk...


Shen Ruan Ye terduduk lemas meratap, matanya memerah marah seperti pisau menusuk para kelinci yang sedang berlarian.


"Urggh, anak-anakku!! Kelinci sialan, ku goreng kau!!"


Prang-prang!


Dia dengan geram berteriak dan melemparkan apa pun yang berada di dekatnya untuk menghunuskannya pada para kelinci kecil.


"Kau menghancurkan anak-anakku! Mati saja sana!"


Memusatkan amarahnya kepada hewan kecil imut yang tak berdaya membuat dia terlihat lucu, apalagi saat dia menyebut hasil penelitian sebagai anak-anaknya.


Yao Anran berteriak penuh kejutan ketika melihat satu kelinci terluka, tubuhnya ikut bergetar ketakutan ketika membayangkan Shen Ruan Ye berbuat seperti itu juga padanya.


"Hikk, Yang Mulia! Mohon tenangkan dirimu!!"


"Diam!" Balas Shen Ruan Ye dengan tatapan nyalak.


"Yang mu—"


"KU BILANG DIAM!!"


Berdiri di ambang pintu, mulut Xiu Qixuan terbuka lebar. "Wow, apa yang sudah ku lewatkan di sini?" gumamnya dengan menahan geli sendiri.


Dia melihat Shen Ruan Ye yang seperti orang gila sedang meraung-raung tampak terpukul putus asa menangisi buku yang terbakar hangus di pelukannya. Dan, di sisi lain Yao Anran yang menciut takut juga nampak terguncang.


Yah, begitulah akhir yang terasa konyol dari pertemuan mereka dengan pangeran ketujuh tersebut terjadi.


••••••••••••••••••


Dan, di sinilah mereka akhirnya, Aula Dian Yong Shi milik Shang Shufei. Dengan duduk menyesap teh sembari menikmati aroma segar tumbuhan dan kebun bunga yang mekar mempesona.


"Ini teh hitam pekat berkualitas yang sama. Namun, pelayan di Aula Dian Yong Shi membuatnya menjadi sedikit lembut dan terasa unik. Apakah Niang Niang memiliki racikan yang berbeda?"


Xiu Qixuan berbicara dengan melimpahkan senyum lembut menatap dengan binar meneliti pada cangkir teh di tangannya. Dia memulai lebih dulu dengan cerdik kala Yao Anran yang berada di sisinya terdiam gugup.


Mata Shang Shufei yang sejak tadi diam-diam mengawasi mereka pun sedikit membentuk kurva lurus kala dia memandang Xiu Qixuan dengan tatapan puas.


Bibir Shang Shufei melengkung ke belakang sambil tersenyum, dia berkata: "Seperti yang diharapkan, Nona Besar memiliki kepekaan menakjubkan. Kamu cukup bagus!"


Kemudian Shang Shufei kembali berbicara menambahkan. Jari-jemarinya elegan bergerak mengambil cangkir dan menghirup aroma teh yang menguar segar di tangannya.


"Racikan teh itu tidak baik untuk di perbarui secara acak, karena akan mengurangi kualitasnya. Jadi, sebagai gantinya adalah air yang di gunakan untuk merebus teh itu sendiri." Dia melanjutkan sembari melemparkan tatapan penuh makna pada Xiu Qixuan. "Para pelayan di sini pagi-pagi sekali akan mengumpulkan embun benang sari dari bunga-bunga yang kutanam. Airnya memiliki rasa yang lebih manis dan harum. Dan, Nona Besar bertanya tentang perbedaan teh hitam ini saja suduh cukup membuatku senang."


Dalam perasaan samar yang ambigu, Xiu Qixuan menaikan sudut alisnya. 'Hoh. apakah air teh juga bisa dijadikan sebuah ujian tertentu untuk wanita istana bisa menilai seseorang itu dapat menjadi musuh atau sekutu?' Dia berkedip halus ketika benaknya merenung bertanya-tanya.


Menarik pandangannya, Shang Shufei memusatkan perhatian pada Yao Anran yang memilih mengatupkan bibirnya dengan bijaksana. "Nona Ketiga Yao, kamu menikmatinya juga bukan?"


Tersenyum sopan, Yao Anran membalas: "Niang Niang begitu penuh perhatian. Ini teh yang unik dan langka untuk di temui ditempat lain, sebuah kebanggaan bagi saya dapat mencicipinya."


Menaruh cangkir teh ke atas meja, sekilas mata Shang Shufei terlihat menarik kedutan cemerlang pada bibirnya yang bergerak gusar. "Hmph, ini adalah teh kesukaannya. Kalian tahu bukan? Pangeran ketujuh, puteraku itu suka sekali mengurung dirinya dalam ruangan penuh obat. Dia membutuhkan sesuatu yang pekat untuk membuatnya tetap terjaga sepanjang hari."


Mendengar kalimatnya, Xiu Qixuan dan Yao Anran saling melirik. Jika ini adalah trik bermain Shang Shufei, mereka akan mengikuti alurnya dulu. "Ya, Niang Niang! Ketenaran Yang Mulia Pangeran Ketujuh dalam bidang medis begitu sangat mengagumkan."


Shang Shufei tersenyum, dia menerawang jauh ketika melanjutkan dengan nada cemas: "Ya, meskipun nampak begitu penyendiri—dia adalah anak yang berbakti. Setiap pagi dia akan menyempatkan diri untuk keluar menyapaku. Dan, terkadang aku akan menyuruh orang untuk membawakanya kue kesukaannya." Dia berbicara lemas dan bergetar khawatir yang nampak begitu rapuh, "Tapi, sudah hampir tiga hari ini dia mengusir orang-orang yang mendekati ruangannya di balai pengobatan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun, ada orang yang melihat kalian keluar dari balai pengobatan tiga hari yang lalu. Apakah kalian bertemu dengannya dan menemukan sesuatu yang janggal?"


Sudut alis Xiu Qixuan semakin berkerut meninggi. Dia sejenak merenung untuk berpikir. 'Oh, apa kamu sungguh tidak tahu apa yang terjadi? Seharusnya daripada langsung menemui kami, lebih baik kamu datang untuk mendidik anak konyolmu yang sedang merajuk itu dulu, 'kan.' benak Xiu Qixuan mendengus tak mengerti dengan isi pikiran para penghuni istana yang selalu rumit.


"Ya, Niang Niang! Ada beberapa kesalahpahaman saat itu." Suara Yao Anran menanggapi dengan lugas. "Saya berbuat kesalahan pada Yang Mulia Pangeran Ketujuh."


Sontak hal itu membuat Xiu Qixuan menoleh, dia menyenggol kaki Yao Anran dengan kode isyarat untuk bertanya, 'Bicara apa kau? apa yang ingin kau lakukan? Hindari bicara yang tidak perlu, bodoh!' ia memelototi Yao Anran.


••••••••••••••••••••


A/N:


Niang Niang: Yang Mulia / Sebutan khusus untuk para wanita yang memiliki status di istana.