
Berjarak beberapa meter didepan sana, terlihat sosok Xiu Huanran yang memasang wajah tanpa dosa. Ia tersenyum ringan berjalan menghampiri Xiu Qixuan dengan tatapan hangat.
Angin sepoi-sepoi berhembus dengan langit biru berkilauan, sinar matahari menyinari wajahnya yang tampan sampai terasa begitu menyilaukan.
Xiu Qixuan yang melihat itu tidak tahan untuk mendengus jengkel. Curang sekali, memasang wajah seperti itu ketika sifatnya begitu buruk.
"Ada apa dengan ekspresi jelekmu itu?" Xiu Huanran bertanya dengan nada menggoda seolah-olah tidak mengerti mengapa Xiu Qixuan memasang wajah kusut penuh ketidaksenangan.
"Er'ge, kau menguntitku. Bukankah dirimu terlalu luang disaat para bawahanmu bekerja keras." gerutunya dengan cemberut, ia benar-benar kesal.
"Tentu saja, karena itulah aku memperkerjakan mereka yang kompeten. Tidak seperti seseorang yang seenaknya meminta cuti tanpa persetujuan atasan."
Xiu Huanran balas menyeringai dengan nada menyindiri.
Ia kemudian dengan tak acuh mendudukkan diri disebelah Xiu Qixuan dan dengan tidak sopan mengambil sisa perbekalan yang ada untuk dia makan.
Xiu Qixuan yang melihat itu dengan cepat merampas perbekalan miliknya kembali. "Kau pencuri, ya?! Pergi sana."
"Pelit sekali." gerutu Xiu Huanran dengan wajah memelas. "Aku lapar. Kau tahu, aku tergesa-gesa mencarimu ketika surat cuti sialan itu sampai ditanganku. Kau ini, yaa. Selalu saja sesuka hatimu berlarian tanpa pendamping." omelnya dengan keras menjentikkan jari diatas dahi Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan mengerjap kesal dan hanya terdiam memelototi sang kakak yang terus mengoceh.
"Apa-apaan, sih. Aku kan tidak memintamu untuk mencariku. Jika datang hanya untuk mengomeliku bisa nanti saja, kan. Karena aku tidak ingin mendengarnya sekarang." jawab Xiu Qixuan dengan tak acuh memalingkan wajah menatap kearah lain.
Sebenarnya dalam benak Xiu Qixuan, ia sedang menahan banyak kegelisahan dari ketakutan yang tak berdasar.
Bagaimana jika Xiu Huanran bertanya dia ingin pergi kemana. Bagimana jika Xiu Huanran terus-menerus mengikutinya yang saat ini ingin pergi mencari jawaban atas hubungannya dengan Wen Liu dan Qiaofeng.
Ini akan sangat merepotkan.
"Dasar gadis nakal. Ketika aku membiarkanmu berkeliaran sendiri, kau selalu pulang dengan terluka. Tidak ingatkah kau, bagaimana kalutnya aku dua tahun yang lalu melihat kondisimu yang seperti mayat hidup. Si brengsek Nanbao itu—,"
"Cukup, Er'ge. Aku mengerti." Xiu Qixuan menghela napas dengan tatapan terluka tidak ingin mendengarnya.
Melihat ekspresi wajahnya yang terdistorsi, membuat hati Xiu Huanran melembut.
"Jadi, kemana tujuan adikku ini pergi?" tanyanya dengan tersenyum lebar. Ia mencubit pipi Xiu Qixuan dengan gemas untuk mencairkan suasana yang sebelumnya memberat.
Xiu Qixuan merengut berusaha menepis jari-jari besar Xiu Huanran di pipinya.
"Aku ingin pergi ke Desa Kui. Lebih tepatnya menuju Kuil diatas lereng Gunung Kuang." Suaranya yang entah mengapa terasa bergetar ragu menjawab pertanyaan Xiu Huanran.
Xiu Huanran mengerutkan kening karena mendengar pernyataan yang terkesan asing dari Xiu Qixuan.
"Kau ingin pergi bertemu Guru Biyan yang dulu mengajarimu pengobatan medis?" tanyanya memastikan.
Xiu Qixuan terdiam cukup lama.
Gadis itu termenung menunduk dengan wajah sedih. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tetapi, kita dapat melihat bahwa terdapat jenis keraguan untuk dirinya berbicara.
Perlahan bibirnya terbuka.
"Er'ge..."
"..." Xiu Huanran memiringkan wajah, tidak menjawab.
"Tidakkah kamu merasa aneh?" Suaranya rendah terdengar nyaris seperti berbisik.
"Apa?" kerut Xiu Huanran semakin tidak mengerti.
Xiu Qixuan perlahan mendongakkan wajah dan menatap kedalam mata cerah yang memantulkan sinar menyilaukan matahari musim semi.
Mata yang selalu menatapnya dengan hangat dan penuh kasih. Bagaimana jika mata ini berubah menatapnya dengan kebencian karena mengetahui bahwa dia adalah penipu yang menyamar menjadi Qiaofeng.
"Xiu Huanran..."
Hari ketika mereka bertemu kembali teringat dalam benak Xiu Qixuan. Ketika suaranya yang begitu asing menyapa indra pendengaran sekarang sudah terasa sangat akrab. Ketika dekapan pertama yang dia sematkan memberinya rasa terlindungi di dunia yang aneh ini.
'Dan, tanpa sadar sejak awal aku sudah bergantung padanya.'
Xiu Qixuan terkekeh miris dengan mata yang berkabut. Ekspresinya begitu terdistorsi oleh emosi yang sendu.
"Xuan'er, ada apa? Apakah ada sesuatu yang menganggumu?" Xiu Huanran memegang kedua bahunya dengan khawatir.
Tiba-tiba raut wajah Xiu Qixuan berubah menjadi datar tanpa emosi. Itu mengagetkan ketika melihat perubahannya.
Dia menatap lurus kearah mata Xiu Huanran dengan intens.
"Xiu Huanran, aku mengetahui kamu mengerti maksudku. Karena kamu adalah orang peka yang cerdas. Sampai kapan kamu menutup matamu dan terus berpura-pura?"
"Sejak awal bukankah kamu sudah merasa aneh dengan aku yang berstatus sebagai adikmu ini. Tidakkah kamu ingin menyangkalnya lagi dibenakmu dengan berkata setiap manusia dapat berubah kearah yang tidak kami mengerti."
Suara Xiu Qixuan terdengar mengalir begitu tenang, tetapi, wajahnya terlihat seperti menahan tangis.
"Maafkan aku. aku bukan dia. Qiaofeng—,"
"Cukup, Xuan'er!"
Mendengar perkataannya otot diwajah Xiu Huanran mengeras dengan kaku.
Xiu Qixuan dapat merasakan cengkeraman Xiu Huanran dibahunya mengencang membuatnya dalam diam meringis nyeri.
Seperti mendapatkan kewarasannya kembali, Xiu Huanran buru-buru melepaskan cengkeraman kemudian memalingkan wajah dengan menarik napas panjang.
Dia terdiam cukup lama.
Melihat hal tersebut membuat Xiu Qixuan menundukkan wajah dengan menghela napas. Tangannya dengan gelisah memilin rok yang sedang dikenakannya.
Suasana disekitar menjadi canggung.
Tiba-tiba suara Xiu Huanran terdengar dengan jernih yang menenangkan.
"Aku tidak tahu ada apa denganmu. Tetapi, apa bedanya semua itu sekarang. Sejak awal kamu memang bukan Qiaofeng, kan. Apakah sejak awal kamu memakai nama itu dan berpura-pura menggantikan untuk melakukan semua atas namanya?"
Mendengar perkataan yang sungguh menggejutkannya, tubuh Xiu Qixuan menegang kaku, ia menolehkan wajah dengan matanya yang terbelalak.
Xiu Huanran balas menatap lurus kearah wajah Xiu Qixuan untuk kembali berkata.
"Aku juga sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi. Apakah kamu adikku atau bukan. Kau tahu, itu menyakitkan mendengar perkataan tersebut langsung darimu."
"Tidak peduli kamu Qiaofeng atau Qixuan. Tidak peduli kamu Xuan'er atau Feng'er. Bukankan marga kalian tetap sama yaitu, Xiu. Bagian dari keluargaku, adikku, sekaligus bawahanku yang sesuka hati."
Suaranya lembut seperti udara musim semi. Menatap hangat kearah Xiu Qixuan yang tenggelam hingga kedasar.
'Huweee....hiks...'
Airmata menggenang disekitar mata Xiu Qixuan yang membuatnya seketika menangis, meraung begitu keras dengan jelek.
"Eh? Xuan'er, kenapa menangis? Aku tidak bermaksud begitu. Maksudku—," Xiu Huanran tergagap panik dengan reaksi sang adik yang tak terprediksi.
Ia berusaha menghibur tanpa tahu bagaimana cara untuk menghibur. Sungguh menggemaskan!
Raungan tangis Xiu Qixuan yang memekak sekitar membuat kawanan burung yang hinggap di pepohonan terkejut segera mengepak sayap mereka untuk kabur.
Selama beberapa menit Xiu Qixuan akhirnya dapat kembali tenang. Ia sedang bersandar dengan nyaman di bahu lebar milik Xiu Huanran.
"Minumlah, kau menangis sampai airnatamu kering." oceh Xiu Huanran mendekatkan sebuah botol yang terbuat dari bambu berisi air bersih ke bibir Xiu Qixuan.
Mata Xiu Qixuan berkedip dan dia menurut patuh dengan membuka bibirnya untuk meminum suapan air tersebut.
Setelah menyelesaikan dahaga nya, Xiu Qixuan melirik sekilas dengan masih bersandar untuk tiba-tiba bertanya.
"Er'ge, apa kamu mempercayai perkataanku sebelumnya?"
"...Entahlah, aku hanya masih tidak mengerti. Tapi, jika itu benar aku perlu bukti dan penjelasan."
"Apa yang terjadi jika itu benar? Aku membuktikan bahwa aku bukan Qiaofeng adikmu."
"..." Xiu Huanran terdiam sejenak.
"Ah, tidak usah menjawab. Aku hanya akan—," Terjeda Xiu Qixuan. Ia mengira bahwa Xiu Huanran kesulitan karena dirinya. Tetapi, tiba-tiba Xiu Huanran mulai kembali membuka suara dengan mencelah perkataannya.
"Seperti perkataanku sebelumnya. Tidak ada yang berubah. Kamu tetap Xiu Qixuan. Keluarga dan adik yang kujaga." tegasnya.
Senyuman merekah diwajah cantik Xiu Qixuan. Ia mengulurkan tangan melingkari pinggang Xiu Huanran memeluknya dengan manja.
"Hoho, aku akan memegang perkataanmu ini sebagai janji. Tetapi, Er'ge... tidakkah kamu ingin mendengar ceritaku?" tanyanya dengan binar cerah.
Dia ingin berbagai cerita yang biasanya hanya dapat disimpan untuk dijadikan beban. Dia ingin menjelaskan bahwa takdir juga lah yang membawanya masuk kedalam Keluarga Xiu.
Dia ingin menyampaikan kisah dan perasaan rindu Qiaofeng akan keluarganya. Dia ingin mengajak Xiu Huanran berdoa bersama dan menyiapkan papan peringatan untuk melepas kepergian Qiaofeng.
Tunggu sampai mereka tiba di Kuil. Guru Biyan, mungkinkan beliau dapat menjelaskan jenis tali apa yang mengikat hubungan Alesha yang asing dengan Keluarga Xiu?
•••••••••••••••••