Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kubus Teka-teki



'Kriet...' Gadis cantik itu menutup pintu dengan sangat perlahan berusaha untuk tidak menimbulkan suara keras karena dapat menganggu tidur sang bocah yang berada di dalam kamar.


Dia terlonjak kaget saat membalikan tubuhnya seusai menutup pintu kamar sang bocah, terlihat sosok pria tampan yang menjulang tinggi berdiri menatapnya.


"Mengagetkanku saja!" Dengusnya sebal dengan menepuk dada seolah memastikan keadaan jantungnya.


Pasalnya pria ini tidak menimbulkan suara seperti hantu yang tiba-tiba muncul begitu saja.


Pria itu melangkah maju untuk menghampirinya dan dia mengulurkan tangan kearah wajah sang gadis. "Darimana luka ini?" Tanyanya lembut dengan mengelus pelan luka yang terdapat di kening sang gadis.


Napasnya terasa begitu menggelitik karena ini terlalu dekat dan hidung mereka nyaris bersentuhan.


"Apa? Oh ini.. Tidak sengaja terbentur," Jawab Xiu Qixuan dengan mengerjap kebingungan sebelum akhirnya dia mengerti dan mengangkat lengannya untuk menyentuh luka di keningnya.


Gadis itu baru saja ingin menyembuhkan luka di keningnya ini dengan aura kehidupan tetapi Sima Junke malah hadir dan mengintrupsinya.


Sejak tadi dia menemani dan menyuapi Xiao Bao untuk makan malam sebelum akhirnya bocah itu jatuh tertidur kembali.


Xiu Qixuan memutar tubuhnya kesamping dan melangkah melewati tubuh Sima Junke, "A Jun, apa yang kau dapatkan?" Tanyanya dengan berjalan kearah ruang santai untuk berdiskusi.


Sima Junke berjalan mengekori dari belakang dan mendudukan dirinya diatas kursi tepat disamping tubuh Xiu Qixuan.


"Apa yang kau dapatkan?" Tanyanya lagi melirik Sima Junke dengan sudut ekor matanya, gerakannya sibuk menyeka lukanya dengan sapu tangan.


Sima Junke hanya diam menatapnya dengan pandangan sangat dalam, pria itu seperti malas menjawab.


"Jangan menatapku seperti itu. Ini baik-baik saja," Sentak Xiu Qixuan


"Ceroboh! Tunggu disini, aku akan mengambil peralatan untuk membalut lukamu." Ucap Sima Junke dengan cepat beranjak.


Xiu Qixuan dengan terburu-buru menahan dengan menarik keras lengan Sima Junke yang menyebabkan pria itu jatuh terduduk kembali, "Tidak perlu, ini hanya luka kecil. Cepat ceritakan padaku, apa yang kau temukan mengenai para bandit dan keluarga Xiao Bao?" Tanyanya dengan tidak sabar.


Sima Junke menghela napas pasrah, ia mengetahui bahwa Xiu Qixuan tidak ingin dibantah, kalau gadis ini sudah berkata bahwa dirinya baik-baik saja berarti dia memang baik-baik saja.


Gadis ini tidak akan berpura-pura karena dia memiliki sifat yang sangat berterus terang.


"Xiao Bao?" Gumam Sima Junke dengan bingung.


"Ya, Xiao Bao. Bocah itu bernama Bao Yu, aku akan memanggilnya Bao kecil." Jelas Xiu Qixuan


"Bocah itu tinggal di sebuah pemukiman yang letaknya tidak jauh dari pasar ikan dekat pelabuhan Nanhai, dan informasi yang kudapatkan bocah itu hanya memiliki ibunya sebagai keluarga." Ucap Sima Junke dengan lugas menjelaskan.


"Xiao Bao yang malang," Gumam Xiu Qixuan mengerlipkan matanya sedih.


"Sepertinya kau sudah dekat dengan bocah kecil itu," Ucap Sima Junke menatapnya dengan menyeringai menggoda.


"Humph, kau tidak tahu saja. Aku sejak tadi berjuang melewati bukit dan samudra, melewati ribuan panah bola api untuk berinteraksi dengannya." Ucap Xiu Qixuan dengan kalimat hiperbola yang sangat dramatis.


Sima Junke terkekeh geli dan menganggukan wajah kemudian berucap yakin, "Ya, benar. Aku percaya, karena penampilanmu sudah sangat berantakan." dengan geli.


"A Jun," Sentak Xiu Qixuan tajam.


"Baiklah... baiklah.." Balas Sima Junke berusaha menghentikan tawa gelinya.


Setelah menarik napas panjang kemudian Sima Junke berucap kembali, "Para bandit itu sudah sejak lama membentuk sebuah kelompok, tetapi tindakan mereka dalam kurun waktu terakhir lebih meresahkan rakyat Nanbao. Aku sudah memberi kabar mengenai ini kepada Kepala Suku, mereka tidak akan bertahan lebih lama lagi."


Xiu Qixuan mengangguk puas dan menguap terserang kantuk karena hari semakin larut.


••••••••••••


Dua Hari Kemudian


Matahari bersinar sangat cerah menggantung diatas cakrawala. Teriknya seperti membakar bumi, dan kebanyakan orang menghindari dengan berdingin di dalam rumah atau di bawah naungan pepohonan.


Tetapi sangat berbeda kebanyakan orang, terlihat ketiga orang manusia berbeda jenis dan jarak umur ini sedang menghabiskan waktu dengan bermain ditepi pantai.


"Xiao Bao, jangan terlalu jauh!" Teriak sang gadis mengingatkan seorang bocah yang menyelupkan setengah badan kedalam air asin lautan.


"Xuan'er, dia lahir dan tinggal di dekat lautan, hal seperti ini sudah biasa untuknya. Apa yang kau cemaskan," Ucap sang pria yang sedang bersantai duduk dipelataran bangunan.


"Tetap saja, dia masih anak-anak!" Balas Xiu Qixuan tidak ingin kalah.


Dalam kurun waktu dua hari ini mereka mengikat kedekatan satu dengan yang lain, Xiao Bao sudah dalam kondisi kesehatan pulih tetapi mungkin akan butuh waktu lama untuk memulihkan kesehatan mentalnya.


Sima Junke masih memiliki sedikit jarak dengan bocah itu, berbanding terbalik dengan Xiu Qixuan yang sudah dapat berinteraksi lebih banyak.


Tadi pagi mereka membawa Xiao Bao ke makam sang ibunda dan mengajak bocah itu untuk berdoa disebuah kuil kecil. Entah karena bocah itu masih terlalu kecil untuk mengerti, dia hanya diam dengan wajah datar tanpa jiwa dan mengikuti semua intruksi yang diberikan oleh Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan berjalan untuk menghampiri Sima Junke yang terduduk santai dipelataran bangunan, dengan cepat dia mendudukan dirinya tepat disebelah Sima Junke.


Gadis itu menghela napas kelelahan dan menyeka keringat yang mengalir di keningnya yang kembali mulus, "Huh, sangat panas." Keluhnya.


"Minumlah," Ucap Sima Junke menyodorkan segelas air.


Xiu Qixuan menerima dan meneguknya dengan kecepatan kilat.


"Hati-hati, tidak akan ada yang mengambilnya darimu." Ucap Sima Junke terkekeh pelan melihat gadis ini sangat menggemaskan dengan wajah yang memerah dan mengembung seperti seekor babi kecil. Entah itu sebuah pujian atau makian.


Xiu Qixuan yang sudah selesai mendinginkan tubuhnya menolehkan wajah kesamping tepat mengarah pada Sima Junke yang sedang menunduk terlihat sangat sibuk berkutat dengan sebuah benda berbentuk kubus persegi.


"Kau sedang apa?" Tanya Xiu Qixuan melongokan wajah penasaran.


"Bermain menyelesaikan susunan teka-teki dari kubus kayu ini," Jawab Sima Junke tidak menoleh sedikitpun.


"Mainan itu sudah terlihat sangat tua," Ucap Xiu Qixuan dengan ringan karena memang benar ukiran kayu dikubus teka-teki itu sudah terlihat mengelupas.


Tangan Sima Junke seketika berhenti saat mendengar ucapan yang dilontarkan gadis itu.


Dia mendongakkan wajah dan menatap Xiu Qixuan kemudian berucap pelan, "Benar, ini sudah sangat tua. Ibuku memberikannya padaku dan sampai sekarang aku belum menyelesaikan permainan ini."


Xiu Qixuan meringis dalam hati, dia berucap sesuatu hal yang tabu dan salah untuk kesekian kali.


Sima Junke melengkungkan senyum manis, pria itu seperti mengetahui bahwa Xiu Qixuan merasa tidak bersalah dan tidak nyaman. Kemudian dia berucap menenangkan, "Kau tahu, aku baru saja ingin memberikan ini pada Xiao Bao sebagai bentuk penghiburan. Mungkin saja dia dapat menyelesaikan apa yang tidak dapatku selesaikan,"


Xiu Qixuan seketika ikut tersenyum dan mengangguk mengerti. Tetapi, dengan penasaran dia meraih kubus teka-teki itu dari lengan Sima Junke, "Kalau begitu, aku juga harus mencoba untuk menyelesaikannya." Ucapnya dengan keangkuhan.


Sima Junke membiarkan gadis itu sibuk mencoba, dia beranjak melangkah untuk menggantikan Xiu Qixuan menjaga Xiao Bao yang sedang asyik bermain ditepi pantai.


*********


Waktu berlalu begitu cepat, keindahan senja sudah berpendar menghiasi langit. Matahari akan segera terbenam diufuk barat, desiran angin dan suara ombak begitu menenangkan hati manusia.


Sejak tadi Xiu Qixuan masih terduduk dipelataran bangunan berkutat dengan mainan kubus kayu itu, berusaha menyelesaikan teka-teki dan tidak ingin menyerah.


Sima Junke menggendong tubuh Xiao Bao yang sudah selesai bermain, tubuh mereka basah dan kotor oleh pasir.


Dia bergegas melangkah menghampiri Xiu Qixuan yang sedang menunduk sibuk seorang diri. Saat sampai dia berdiri dihadapan gadis itu, "Xuan'er, sudah hampir gelap. Xiao Bao—," Ucapnya terjeda.


"A Jun, diamlah! Sebentar lagi, aku hampir selesai." Sergah Xiu Qixuan dengan tegas tanpa menolehkan wajah sedikitpun.


Sima Junke menghela napas pasrah dan menggelengkan wajah pelan, Dia tidak akan percaya bahwa Xiu Qixuan dapat menyelesaikan kesulitan itu.


Tubuh Xiao Bao sudah mengerut kedinginan karena angin yang berhembus kencang.


Sima Junke yang memang perduli dengan keadaan bocah ini langsung bergegas untuk melangkah masuk dan dengan cekatan membantu membersihkan juga menggantikan pakaian yang dikenakan Xiao Bao.


Beberapa jam kemudian, Xiao Bao sudah tertidur di dalam kamarnya. Sima Junke sedang membereskan peralatan makan yang dia dan Xiao Bao pakai untuk makan malam tadi.


Sedangkan Xiu Qixuan masih sibuk berkutat dengan mainan kubus teka-teki itu, dia sudah melewatkan begitu banyak waktu untuk menyelesaikan sebuah permainan. Benar-benar tidak layak!


Sima Junke berjalan menghampiri gadis itu dengan membawa sepiring makan malam, kemudian mendudukan dirinya tepat disamping Xiu Qixuan.


"Kau ingin merusak tubuhmu, ya?" Tanyanya tajam


"Tidak," Jawab Xiu Qixuan begitu singkat.


"Cepat makan dan masuk kedalam, angin malam sangat dingin!" Perintah Sima Junke dengan tegas


"Sebentar lagi, nyaris dikit lagi." Ucap Xiu Qixuan dengan tidak perduli.


'Prang,' Sima Junke menaruh piring itu dengan keras membuat timbulnya suara nyaring.


Sepertinya pria itu sudah sangat kesal, "Kembalikan!" Pintanya mengadahkan tangan.


Xiu Qixuan hanya melirik sekilas dan tidak memberi respon apapun.


Sima Junke dengan kesal mengulurkan tangan untuk mengambil paksa mainan itu.


Sebelum akhirnya sebuah suara nyaring memekak telinga dan menghentikan tindakannya, "Yeahh... berhasil, sangat hebat! A Jun, lihatlah aku sudah menyelesaikannya," Teriak Xiu Qixuan dengan ekspresi sangat bahagia seperti menang lotre.


Mata Sima Junke terbelak tak percaya, dia perlahan menyorotkan pandangannya kearah tangan Xiu Qixuan yang mengulur memperlihatkan mainan kubus teka-teki yang sudah tersusun rapih.


"Bagaimana mungkin?" Gumamnya tak percaya.


"Tentu mungkin, aku sangat pintar." Balas Xiu Qixuan dengan bangga.


'Krek,' tiba-tiba mainan kubus kayu itu mengelupas dengan cepat dan hancur berjatuhan.


Xiu Qixuan memelotot bingung dengan gerak reflek menarik lengannya membuat benda itu jatuh ketanah berpasir. Sedangkan, Sima Junke yang juga melihat itu sedikit terkejut dan mengerutkan kening bingung.


Hening.


Mereka saling berpandangan tidak tahu apa yang terjadi, Sima Junke bereaksi lebih dulu menundukan tubuh dan menelusuri sisa-sisa benda yang hancur itu dengan tangannya.


Tangannya terhenti ketika melihat sesuatu yang janggal. Dia perlahan meraih sebuah gulungan kecil yang terbuat dari kertas minyak.


Xiu Qixuan juga melihat itu dengan penasaran, mereka saling berpandangan penuh tanya.


"Bukalah," Perintah Xiu Qixuan menganggukan wajahnya berusaha meyakinkan Sima Junke.


Sima Junke menghela napas dan mengangguk menyetujui, dengan perlahan penuh keraguan dia membuka gulungan kertas itu.


•••••••••••••