
POV. Xiu Qixuan.
Dengan sengaja aku melukai diriku sendiri dengan cara membuat Zhai XinXin terpeleset tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dan belati mengarah pada lengan bagian atasku.
Bukan karena aku ingin membingkai-nya dan membuatnya dijatuhi hukuman. Tetapi, gadis itu terlalu semberono dan naif. Biarkan aku memberinya pelajaran agar dia lebih berhati-hati kedepannya.
Sebenarnya aku dapat merasakan Zhai XinXin ini bukanlah tipe perempuan yang sangat licik seperti Xiu Yue ataupun Chu Yu, tetapi gadis ini sangat ekspresif—saat dirinya tidak suka dengan seseorang dia akan langsung melawan tanpa berpikir.
Luka dilenganku ini memang mengeluarkan banyak darah tetapi dapat disembuhkan dengan aura kehidupan.
Sepanjang perjalanan aku berpura-pura tertidur di dalam dekapan Sima Junke, karena aku tidak ingin mendengar ocehannya dan juga biarkan nanti pria itu dengan cepat meninggalkan aku sendirian didalam ruangan agar aku dapat menjelajah keluar untuk mencari cara menghubungi Xiu Huanran—aku harus menemui kakak kedua-ku lebih dulu membahas semua hal yang ku lakukan sebelum kakak kedua-ku bertemu Aisin Fei.
Aku masih dapat mengetahui ketika Sima Junke menolak bantuan Kangjian dengan tajam dan sarkas. Kasian sekali pria itu mempunyai majikan yang tidak dapat diprediksi.
Dengan masih memejamkan kedua kelopak mataku, aku dapat merasakan Sima Junke meletakanku diranjang dengan lembut. Kemudian, pria itu menarik lenganku yang terluka untuk melihat lukanya.
"Panggilkan dukun untuk mengobati lukanya dan suruh pelayan untuk membersihkan luka terlebih dahulu." Perintah Sima Junke yang dapat diperkirakan kepada Kangjian.
Tetapi tunggu sebentar, kenapa sebutannya dukun? mbah dukun? seharusnya tabib kan? Apakah hanya panggilannya berbeda?
Perasaanku tidak enak, Suku Nanbao ini selalu tidak dapatku prediksi karena aku tidak mengetahui dengan pasti mengenai sistem politik, sosial dan budaya setempat.
Ingin terbangun dan menghentikan mereka tetapi sepertinya sudah terlambat, karena aku dapat mendengar langkah kaki Kangjian menjauh dan juga beberapa pelayan wanita merobek lengan pakaianku kemudian membersihkannya dengan air.
Aku membuka sedikit salah satu kelopak mataku untuk mengintip memastikan keberadaan Sima Junke.
Cih, ternyata pria itu masih berada disudut ruangan memperhatikan gerak-gerik pelayan yang membersihkan luka-ku. Sangat tidak ada kerjaan!
Beberapa saat kemudian Kangjian kembali bersama dengan seorang pria paruh baya yang memakai pakaian hitam berbulu dan juga memakai banyak perhiasan seperti kalung dan gelang dari gigi-gigi binatang buas.
Terlihat sangat tidak meyakinkan!
"Tuan Muda, bagian mana yang terluka? Biarkan saya memeriksanya," Ucap pria paruh baya yang bergelar dukun pengobatan.
"Tidak ada, periksa dan obati gadis itu." Jawab Sima Junke menunjuk dengan dagunya yang mengarah padaku diatas ranjang.
Pria paruh baya itu menghampiriku, dengan cepat aku kembali menutup kelopak mataku rapat-rapat.
Aku dapat merasakan dia memegang lenganku yang terluka,
"Tuan Muda, dilihat dari lukanya ini dapat menimbulkan bekas kemudian juga yang lebih parah adalah infeksi yang menjalar karena senjata yang digunakan untuk melukai sudah tumpul dan berkarat. Mungkin, Nona ini akan terserang demam karena tidak dapat menahan infeksi yang menjalar dilukanya." Jelas pria paruh baya itu.
"Bekas luka?" Tanya Sima Junke.
Aiyaa, aku dapat mengerti bahwa dia akan merasa malu kalau aku memiliki bekas luka dan memakai status sebagai tunangannya.
Tubuh wanita sangat berharga di dunia ini, wanita yang memiliki kekurangan tidak akan dipandang dan menjadi sangat rendah.
"Bagaimana menghilangkan infeksinya?" Tanya Sima Junke sekali lagi.
Tidakkah dia ingin menanyakan cara menghilangkan bekas lukanya, kenapa hanya bertanya mengenai infeksi.
"Lukanya cukup dalam, hanya ada satu pengobatan yang dapat menghentikan infeksi ini agar tidak menyebar. Yaitu, menambal luka menggunakan besi panas yang dibakar tepat diatas bara api untuk menutup dan menyembuhkan lukanya."
'Duar'
Seperti tersambar petir saat aku mendengarnya, tidak perlu sangat tidak perlu! Aku dapat sembuh dengan sendirinya. Suku Nanbao ini memang terlalu rumit! Dukun palsu!
Bagaimana bisa mengobati dengan cara menambal luka menggunakan besi panas, tidakkah mereka ingin membakar dagingku.
"Tidakkah itu akan menyakitinya?" Tanya Sima Junke yang terdengar cemas.
Bagus, sepertinya Sima Junke tahu bagaimana cara kerja besi panas itu, menjadikan dia sedikit khawatir dengan keadaanku.
"Tenang saja, saya akan memberinya obat penahan rasa sakit dan juga akan memberi obat tabur untuk menghilangkan bekas luka." Ucap dukun itu dengan yakin.
Cihh, dukun ini tidak menyerah juga. Bagaimana ini? Haruskah aku bangun dan menolak? tetapi, apa yang harus kukatakan?
Aku bergulat dengan pikiranku, sementara situasi disekitarku sudah menjadi hening dan tenang.
Sima Junke menyetujui ucapan dukun itu menyuruh Kangjian membakar besi dibara api tepat didepan sana. Para Pelayan keluar dari dalam ruangan hanya tersisa Sima Junke dan Dukun itu.
Saat Kangjian meyerahkan batang besi panas kepada dukun palsu ini, aku menggerakan sedikit jariku mengarahkannya kepada sang dukun.
Menggunakan kekuatan pesona Baijin Hu untuk mengontrol tindakannya.
"Mohon maaf, Tuan Muda. Dapatkah kau menunggu diluar? Sangat diperlukan kefokusan untuk menangani keadaan Nona ini." Ucap Dukun itu menyuruh Sima Junke dan Kangjian pergi.
Sebenarnya akulah yang sekarang mengontrol ucapan dan tindakan dukun itu agar Sima Junke pergi, aku harus cepat menyelesaikan ini untuk menjelajah keluar.
Sima Junke awalnya ragu tetapi pria itu dengan cepat menyetujui untuk menunggu diluar.
Saat sudah mendengar langkah kaki Sima Junke dan Kangjian menjauh, aku membuka kedua kelopak mataku.
Betapa terkejutnya saat batang besi panas sedikit lagi hampir mengenai luka-ku.
"Argh," Teriakku pelan menggeser tubuhku ke pojok ranjang untuk menghindar besi panas itu.
Aku kehilanganan kefokusanku untuk mengontrol dukun palsu ini.
"Jauhkan itu dariku, dasar dukun palsu. Haruskah Nona ini memberimu pelajaran medis modern?" Ocehku menatapnya sebal.
Dukun ini mengangguk mengerti dan menjauhkan besi panas itu.
Aku menghela napas lega dan kemudian berucap, "Lupakan kejadian ini, hanya ingatlah bahwa kau sudah melakukan tugasmu untuk menyembuhkanku. Dan bilang pada Tuan Muda bahwa Nona ini tidak dapat diganggu, biarkan Nona ini beristirahat."
Dukun itu mengangguk dengan tatapan kosong seperti terkena hipnotis.
Kekuatan pesona milik Baijin Hu ini sangat membuatku kelelahan, sepertinya tidak dapat digunakan terlalu sering.
Beberapa saat kemudian aku membaringkan tubuhku kembali, dukun itu sedang membereskan barang-barang pengobatannya kemudian berlalu keluar ruangan memberitahu Sima Junke untuk tidak menggangguku.
Aku mendengar langkah kaki mendekatiku kemudian elusan pelan dipucuk kepalaku.
"Gadis bodoh, sepertinya sekarang aku mengetahui kebodohan terbesarmu. Selalu melukai dirimu sendiri dengan menempatkan dirimu dalam bahaya." Ucap Sima Junke dengan pelan.
"Kedua bolamata-mu selalu memancarkan kepercayaan akan dirimu. Aku selalu bertanya, apakah kau tidak takut suatu hari kepercayaan dirimu hancur dan membuatmu putus asa?" Lanjutnya pelan kemudian melangkah meninggalkanku seorang diri.
Apa maksudnya? Ucapannya membuatku merenung sejenak. Memang benar seluruh perkataannya tetapi aku tidak akan semudah itu kehilangan kepercayaan diri yang ku punya.
Beranjak untuk berganti pakaian untuk menjelajah keluar melihat perkotaan Nanjing dimalam hari.
Tetapi, saat aku selesai berganti pakaian. Seseorang dengan pakaian penjaga dengan lancang memasuki ruanganku.
"Lancang!" Ucapku dengan marah kearahnya.
"Nona, tenanglah. Saya hanya ingin menyampaikan surat," Ucap Penjaga itu mengangkat tangan menunjukan secarik surat kecil dengan gemetar saat aku mengarahkan pedangku padanya.
Aku dengan cepat mengambil surat itu yang tertulis didalamnya,
^^^Teruntuk adik bodoh^^^
^^^Toko Kaibo tengah malam^^^
^^^Er'Ge^^^
Dengan binar bahagia aku membacanya kalimat singkat itu berulangkali untuk memastikan bahwa ini adalah dari Xiu Huanran.
Sangat jelas ini tulisan Xiu Huanran yang selalu ketat dalam mengajariku selama setahun ini.
"Darimana kau mendapatkan surat ini?" Tanyaku pada penjaga itu karena sangat jelas dia adalah orang Nanbao.
"Seorang pria asing memerintahkan saya untuk memberikannya pada Nona, dia memberikan saya mutiara dari Xia Utara yang sangat berharga." Jawabnya menunjukan mutiara berukuran sedang segenggam telapak tangan padaku.
"Apakah kau membaca surat ini?" Tanyaku sekali lagi dengan tatapan menyelidik.
"Tidak berani, saya tidak berani." Jawabnya dengan cepat.
"Aku mengerti, Terimakasih. Bisakah kau memberitahuku jalan keluar teraman untuk pergi ke pusat kota?" Ucapku
"Tentu saja, sudah tugas saya Nona." Jawabnya
Penjaga itu memberitahuku untuk keluar lewat gerbang utara menuju pusat kota karena beberapa saat lagi penjaga di gerbang utara akan berganti orang mungkin maksudnya seperti berganti shift.
"Er'ge, sepertinya sangat terbiasa menyuap orang dalam. Haha, seberapa banyak kekayaan kakakku itu." Kekehku menggelengkan kepala saat melihat punggung penjaga itu keluar ruangan.
••••••••
Dengan cepat aku menyelinap keluar dari dalam ruangan tempatku tinggal. Tidak ada penjaga di depan pintu ruanganku, mungkin karena Sima Junke memperintahkan mereka menjauh untuk memberi sedikit ketenangan. Sangat bagus!
Tetapi, penjaga itu tetap berpatroli disekeliling bangunan tempatku tinggal. Aku melirik penjaga yang sebelumnya menjadi pengantar surat dari Xiu Huanran.
'Brakk,' penjaga itu berpura-pura kehilangan keseimbangan dan menabrak rekan didepannya.
"Kau baik-baik saja? Berhati-hatilah," Sentak rekannya.
Keadaan itu membuat sedikit celah untukku menyelinap keluar. dengan cepat aku berlari menggunakan ilmu peringan tubuh untuk tidak membuat suara.
Menuju arah gerbang utara dengan menghindari penjaga yang berpatroli, kegelapan malam membantuku bersembunyi disudut manapun.
Sesampainya digerbang utara, benar saja apa yang dikatakan penjaga itu bahwa akan ada pergantian orang atau shift.
Saat prajurit penjaga sebelumnya keluar dari pos penjagaan dan melangkah menjauh, aku dengan cepat melangkah keluar gerbang. Sangat mudah!
Sesampainya dipinggiran kota, aku berjalan santai dan tidak terburu-buru.
Tentu saja, karena aku sedang menertawakan kebodohanku lupa menanyakan letak Toko Kaibo yang dimaksud oleh Xiu Huanran.
Sekarang aku hanya dapat menelusuri perlahan. Melihat sekitarku yang sangat sunyi sepi karena sudah jam malam apalagi aku masih berada dipinggiran kota yang tidak seramai pusat kota.
Angin berhembus kencang, membuatku menggosokan telapak tangan berusaha menghangatkan diri.
Aku melupakan satu hal penting lainnya dengan tidak membawa mantel, disiang hari memang akan sangat panas tetapi saat dimalam hari daerah Suku Nanbao akan terasa dingin.
Menyilangkan kedua lenganku diatas tubuh berusaha memeluk diri sendiri sambil berjalan perlahan melihat papan nama toko-toko yang kulewati.
Sesekali aku menikmati langit yang membentang luas dihiasi banyak bintang menyinar terang membuat langit Nanbao begitu indah dimalam hari.
Sudah hampir satu jam lamanya aku berjalan, kedua kaki-ku sangat pegal dan juga dingin menusuk tulang.
Sepertinya aku sudah berada dipusat kota karena masih ada beberapa toko yang buka dan banyak pengunjungnya.
Salah satunya adalah toko besar yang manyala terang dengan banyak tirai kain sebagai hiasan.
"Toko Baihua," Gumamku pelan menatap papan kaligrafi diatas bangunan toko besar yang sangat ramai.
Toko bunga putih, namanya saja sudah terkesan sangat vulgar. Sepertinya aku tahu ini toko apa.
"Rumah bordil," Gumamku pelan sambil tersenyum sumringah.
"Benar, Nona. Ini adalah rumah bordil terbaik di Suku Nanbao. Kami menyediakan berbagai jenis bunga sesuai permintaan tamu," Ucap seorang wanita berpakaian menggoda menghampiriku.
"Aku perempuan, rumah bordilmu tidak menyediakannya untuk tamu perempuan." Jawabku melangkah meninggalkan wanita itu.
"Nona, apakah kau baru tiba di ibukota Nanjing? Kami menerima tamu pria ataupun wanita. Nanbao sangat terbuka, para wanita juga bebas mengekspresikan diri—termasuk dengan datang kerumah bordil kami." Balas Wanita itu menghalangi jalanku.
"Benarkah? Berarti kau menyediakan pria tampan untuk melayani tamu wanita?" Tanyaku berbinar pelan sangat penasaran, rumah bordil Suku Nanbao ini sangat unik.
"Tentu saja, berbagai jenis pria tampan berada didalam Toko Baihua kami. Nona, silahkan masuk untuk menghangatkan diri." Jawab Wanita itu mempersilahkanku masuk.
Aku tersenyum sumringah, baru saja satu langkah masuk, suara seorang pria yang cukup familiar memanggilku.
"Xiu Qixuan," Panggilnya
Membalikan tubuhku kebelakang aku dapat melihat dari jarak beberapa meter didepanku Ji Gui berdiri dengan pakaian hitam membalut tubuhnya dan mambawa lampion untuk menerangi jalan disalah satu lengannya.
Kami bertatapan sejenak.
Sudah lama aku tidak melihatnya, sedikit rindu dengan guru tampanku. Tetapi, dia sangat menyebalkan tidak ada disaat aku membutuhkannya.
Aku terdiam dengan mata yang masih menatapnya. Sedikit kekesalan bercampur aduk dibenakku, pria ini tidak ada disaat perang berkecamuk, disaat aku sangat membutuhkan bantuannya.
Aku masih ingat bagaimana saat itu berusaha melawan rasa takut dan kecemasanku, setiap harinya bersama Yao Yunmei menunggu kabar Ayahku dan Kakak Pertamaku dimedan perang. Pertama kalinya aku mengalami kecemasaan saat seseorang terdekat berjuang dimedan perang.
Tetapi, pria ini menghilang entah kemana bersamaan dengan Xiu Huanran. Sangat menyebalkan!
"Xuan'er, Aku datang menjemputmu." Ucapnya sekali lagi melangkah mendekatiku.
"Berhenti disana," Balasku sedikit bergetar merentangkan tangan memperintahkannya agar berhenti melangkah.
Ji Gui tersentak dan menghentikan langkahnya.
"Nona, jangan hiraukan suamimu itu. Aku yakin kau disakiti olehnya kan? Didalam toko kami berbeda, semua pria sangat baik dan penurut." Ucap Wanita disampingku itu terkesan sok tahu dengan masih mempromosikan rumah bordil miliknya.
"Diam. Dia bukan suamiku," Sentakku tajam dengan masih menatap Ji Gui.
"Aiyaa, ternyata bukan. Berarti ia kekasihmu," Balas wanita itu tidak menyerah.
"Aku akan berkunjung besok, kau bisa kembali." Perintahku
"Cih, baiklah. Kau harus berkunjung, Nona." Ucap wanita itu berdecih sebal dan menjauh dariku.
Aku masih terdiam, Ji Gui pun sepertinya tidak tahu harus melakukan apa. Dia terlihat kebingungan.
"Xuan'er," Panggilnya pelan.
"Menyebalkan," Ucapku dengan kedua bola berkaca-kaca.
Semua hal melintas dikepalaku saat diriku dipaksa untuk menjadi berani oleh keadaan, karena tidak tahu harus bergantung kepada siapa.
Xiu Haocun dan Xiu Jierui bertaruh nyawa mempertahankan negara, kediaman hanya bergantung padaku dan Yao Yunmei yang sedang hamil.
Orang pertama yang aku percayai adalah Xiu Huanran tetapi orang itu tidak ada ada saat dibutuhkan. Dan Ji Gui pun sama, menghilang entah kemana.
Aku berlari kencang menubruk tubuhnya dan memeluknya erat. Dejavu, ini sama seperti saat pertama kali dia hadir menolongku dari para pembunuh. Sekarang dia datang untuk menjemputku pulang.
"Hikss, Guru. Kau sangat menyebalkan," Ucapku sedikit terisak sambil memejamkan kedua mataku.
Ji Gui terkejut tetapi kemudian dia balas memeluk dan mengelus kepalaku.
"Maafkan aku," Jawabnya
"Xuan'er, rindu." Ucapku spontan membuat tubuh Ji Gui menegang karena terkejut
"Aku—,"
"Tidak usah menjawab. Aku tahu," Ucapku menyela ucapannya karena aku tahu dirinya tak dapat berkata-kata.
Ji Gui menjatuhkan lampion dari lengannya untuk mendekapku semakin erat dan menaruh kepalanya diceruk leherku.
Selama beberapa saat kami saling berpelukan melepas kerinduan dan keluhan.
Kemudian saat dirasa sudah mendapatkan kembali ketenanganku, aku menjauhkan diri darinya dan mengusap bekas airmata dari kedua pipi-ku.
Ji Gui tersenyum tipis menatapku,
"Bukankah, kau tadi sangat senang ingin berkunjung ke rumah bordil? Kenapa saat melihatku kau menangis sampai menjadi jelek?" Ucapnya dengan tersenyum meledekku.
"Humph, aku—" Jawabku terjeda karena melihat senyumnya yang sedang meledekku.
"Guru, senyummu sangat indah jika tidak dibarengi dengan pancaran mata meledek." Ucapku dengan sungguh.
Ji Gui menyurutkan senyumnya dan berbalik melangkah pergi. Sepertinya dia malu.
"Cepat, Huanran sudah menunggumu. Atau kau ingin tetap berada disini dan menyuruhku untuk bilang padanya bahwa kau sedang berkunjung ke rumah bordil." Ucapnya dengan melangkah pergi, berusaha memalingkan wajah dariku.
Aku menunduk untuk mengambil lampion yang dilupakannya dari bawah kakiku dan melangkah cepat mensejajarkan diri dengannya.
"Aku belum masuk kedalam, kau juga akan sia-sia melaporkan hal itu pada Er'ge." Ucapku
"Tetapi aku memang ingin berkunjung kerumah bordil esok hari." Lanjutku bergumam pelan.
Ji Gui memberhentikan langkah dan menatapku tajam.
"Sangat berani,"
"Sepertinya kau harus menyalin kitab moral kembali," Lanjut Ji Gui tajam
•••••••••••
Author sedikit ngakak, ngumpulin feel biar suasana xuan ketemu ji gui lagi menjadi sedikit romantis layaknya pasangan. tetapi mengapa pemilik rumah bordil author sisipkan untuk mengganggu menghancurkan suasana haru dengan promosinya😂
Btw, gais mau nanya sama kalian.
Kalian lebih suka disatuin partnya menjadi banyak dan panjang atau dipisah dibagi setiap partnya menjadi masing-masing 1000 kata?
Aku menuruti kalian, wess sok dijawab.